Tiga tahun sudah Lisa menikahi kakak iparnya tanpa ikatan cinta. Berbanding terbalik dengan Galih Almarhum suaminya yang begitu tampan, humoris dan begitu perhatian. Sikap Angga justru kebalikannya. Dia lelaki yang abai, tak banyak bicara dan kaku. Lisa bak menikah dengan robot. Tak ada yang menarik dalam pernikahan kedua lisa ini. Lisa hampir gila, hingga mengajukan perceraian pada mantan kakak iparnya itu. Angga menolak, lelaki itu berubah. Akankah Lisa tetap bertahan atau kembali meminta berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Setelah setengah jam menempuh perjalanan ke rumah utama. Angga langsung keluar dari mobil saat mobilnya sudah berhenti di depan pintu. Dia langsung berlari mencari istrinya. Dia akan memulai dari awal lagi. Angga akan jujur tentang semuanya. Tentang seberapa besarnya dia mencintai Lisa.
Angga begitu bersemangat, dia tahu Lisa sedang berada di kamar pribadi Galih. Dulu Lisa sempat masuk ke kamar itu, namun dalam keadaan lampu mati, kaki Lisa menyenggol satu buku yang terjatuh dan terkena kakinya. Dia membawa buku diary itu Keluar. Lisa sempat membaca buku itu, dia juga melihat gadis di dalam foto yang tak lain adalah Gina. Angga sempat hawatir Lisa tahu kalau sebenarnya yang di sukai Galih adalah Gina, dia hanya pelarian. Angga takut Lisa sedih mengetahui kenyataan pahit itu, namun Angga lega karena Lisa mengira itu adalah diary miliknya. Angga pura-pura marah dengan membentak Lisa. Dia meminta Lisa agar tak masuk ruangan itu lagi. Karena Angga tidak mau Lisa hancur. Tapi sekarang Lisa harus tahu itu, ibunya benar, jika Lisa hancur, dia akan jadi penopang untuk Lisa. Jika Lisa sakit, dia akan jadi obat. Dia akan selalu ada untuk Lisa.
Karena begitu semangatnya, Angga sampai mendobrak pintu kamar Galih. Namun saat masuk ke ruangan itu, Lisa tidak ada di sana.
"Lisa?" Teriak Angga sambil mencari keberadaan istrinya, namun di tempat itu kosong.
Angga mencari ke tempat lain, seluruh rumah dia cari namun nihil, dia tidak menemukan Lisa maupun buk Sumi. Nafas Angga mulai tak beraturan, dia gelisah dan hawatir dengan Lisa. Lisa Pasti sedih. Apa Lisa sudah melihat kamar Galih? Apa yang terjadi padanya apa dia baik-baik saja? Semua itu membuat Angga kembali jadi lelaki bodoh. Dia bahkan lupa kalau istrinya membawa ponsel.
Angga mengambil ponsel di sakunya dan menelfon Lisa.
"Hallo? Assalamualaikum tuan"
"Lho bik? Lisa mana?"
"Non Lisa pingsan tadi den, Bik Sumi bawa ke rumah sakit terdekat"
"Rumah sakit mana bik? Saya segera ke sana"
"Tidak usah den, ini nyonya sudah baikan.Den Angga tunggu saja di rumah"
"Tidak bik, saya ke sana sekarang, kirim Share loc tempat nya sekarang"
"Tapi den, kami sudah dalam perjalanan ke rumah utama"
"Kalau begitu saya tunggu"
Angga mematikan sambungan teleponnya, malam ini hatinya gelisah sekali, apalagi akhir-akhir ini dia sering bermimpi buruk. Angga tidak pernah percaya dengan hal-hal seperti itu, tapi mimpinya terlalu sering. Tapi hatinya gelisah sendiri. Apalagi tahu Lisa pingsan, rasanya Angga ingin sekali memutar waktu, agar dia bisa menemani Lisa ke rumah sakit tadi. Andai saja dia tidak di kantor semalaman. Dia pasti sudah memeluk Lisa sekarang.
"Hari ini dan seterusnya, aku tidak akan lagi memendam rasa ini, aku tidak akan membiarkan kamu jauh dariku satu menit pun"
Angga dengan gelisah menunggu kedatangan Lisa, setelah satu jam akhirnya dia mendengar sebuah mobil masuk ke gerbang rumah utama. Angga sempat tersenyum, mengira itu Lisa dan Bik Sumi.
Namun begitu mobil itu masuk ke garasi, Angga tahu jika itu mobil pribadi mamanya.
Angga berdecak kesal, ini sudah satu jam lebih, harusnya jika Bik Sumi dan Lisa sudah di jalan, mereka pasti sudah sampai.
Tapi ini bahkan Mamanya sudah kembali dari kantornya yang berjarak lumayan jauh.
"Lho Angga? Lisa mana?" Tanya Bu Nada pada putranya. Bu Lisa sengaja mampir dulu ke resto agar tidak mengganggu waktu putranya dan sang menantu. Tapi kenapa Angga sekarang sendirian?
"Kata Bik Sumi tadi Lisa pingsan ma, Angga mau nyusul ke rumah sakit, tapi kata Bik Sumi mereka sudah perjalanan pulang, tapi kenapa mereka belum kembali ya? dari tadi ponsel Lisa juga tidak bisa di hubungi. Bik Sumi juga"
"Mungkin kena macet Ga, tadi mama denger dari berita ada kecelakaan tapi itu terjadi setelah mama lewat tadi, katanya sih jalan macet total"
Angga makin gelisah sendiri, dia ingin sekali menjemput Lisa sekarang.
"Apa Angga susul pakai sepeda motor aja ya ma?"
"Nggak usah, kasihan Lisa. Ini sudah malam, kalau dia naik motor, bisa tambah masuk angin nanti. Di tungguin aja dulu"
Angga mengagguk pelan, meski hatinya masih gelisah memikirkan sang pujaan hati.
"Kalau begitu mama masuk dulu"
"Iya ma"
Bu Nada berjalan ke arah pintu, tepat saat dia ingin membuka pintu itu, ponsel Angga berdering. Bu Nada menunggu sebentar dan tak jadi masuk. Dia ingin mendengar keadaan Lisa juga. Siapa tahu ada kabar positif dari menantunya itu, ini sudah satu bulan lebih semenjak dia mengganti obat itu. Mungkin saja Lisa pingsan karena di dalam tubuhnya sudah tumbuh calon cucunya.
Bu Nada sengaja mendengarkan percakapan Angga. Pasti yang menelepon Bik Sumi.
"Halo?" Gumam Angga.
"Maaf apa ini dengan Pak Angga?"
"Iya benar, saya Angga"
"Maaf pak, Saya dari pihak kepolisian. hari ini ada kecelakaan parah di jalan Cermai, korban bernama Lisa putri sari dan seorang paruh baya bernama Sumi, apa bapak mengenal mereka?"
'Dar dar da dar'
Rasanya bumi ini runtuh mendengar kabar itu, Angga lemas seketika. Suaranya parau saat dia menjawab Iya pada seseorang yang menelfon di sebrang sana.
"Mohon anda segera datang ke rumah sakit Medika"
"Baik pak"
Melihat putranya berwajah murung, Bu Nada segera mendekat. Angga hampir saja tidak bisa menjaga keseimbangan. Kakinya lemas, namun dia harus tetap kuat, agar bisa ke rumah sakit Medika.
"Kenapa nak?" Tanya Bu Nada ikut hawatir.
"Lisa ma, Lisa kecelakaan"
"Innalilahi, kalau begitu ayo kita ke rumah sakit"
Angga mengagguk cepat, dia mengambil kunci di dalam sakunya. Namun Bu nada segera meraih kunci itu.
"Kamu jangan menyetir dulu, kita pakai supir"
Angga mengagguk, mereka buru-buru ke rumah sakit medika.
***
"Pak cepat jalannya!" bentak Angga, dia tidak sabar ingin segera sampai ke rumah sakit.
"Jalanan padat pak, kita tidak bisa berjalan lebih cepat"
Angga memukul kaca mobil, kalau begini caranya, mereka akan makin lama sampai ke rumah sakit. Angga menoleh ke sebrang jalan , dia melihat seorang ojol online yang sedang duduk di tepi jalan. Tanpa fikir panjang, Angga langsung keluar dari mobilnya. Dia berlari menghampiri ojek itu.
"Pak tolong antar saya ke rumah sakit Medika"
"Tapi pak, saya sudah mau pulang, ini sudah hampir tengah malam"
"Saya beri satu juta" Ucap Angga sambil langsung naik ke sepeda motor ojol itu.
Tukang ojol itu tentu tak menolak, satu juta dalam semalam? Siapa yang bisa menolak itu.
Pak Ojol memberikan helm pada Angga, dia juga hendak memakai helmnya.
"Cepetan sedikit pak! " Bentak Angga, membuat kang ojok kaget setengah mati, helm di tangannya bahkan nyaris jatuh.
"Iya pak, ini baru Makai helm"
"makainya cepetan! Saya buru-buru"
"Siap pak"
Kang ojol pun segera menghidupkan mesin, namun tiba-tiba Angga turun.
"Bapak yang di belakang"
Kang ojol itu mengaggap begitu saja.
"Untung satu juta" batin kang ojol sambil mundur ke belakang.
Angga langsung mengeras motor itu dengan kecepatan tinggi, dia mantan pembalap di kampusnya dulu.
Kang ojol hampir saja terjungkal kebelakang, untung saja dia langsung berpegangan pada Angga.
"Gila! Rasanya seperti naik pesawat jet Ey"
instingmu kuat Lis, itu suami kamu btw..
masih di fase sad ya men temen 🤭🙏
btw smg lisa n bik sum ga kenapa2
gws ya🙏
mungkin besok tidak up dulu 🙏🙏