NovelToon NovelToon
The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Sistem
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
​Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
​Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
​Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
​"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Bab 27: Pelabuhan Air Mata

Angin laut di Pelabuhan Teluk Nibung malam ini terasa seperti sayatan sembilu—dingin, asin, dan membawa aroma solar yang memuakkan. Tanjungbalai biasanya riuh oleh suara mesin kapal nelayan, namun di sudut dermaga tua yang terbengkalai ini, kesunyian adalah ancaman yang nyata.

Arka berdiri di ujung dermaga, napasnya memburu, menciptakan uap kecil di udara malam. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, tapi karena sebuah video singkat yang masuk ke ponselnya lima belas menit lalu: Ibu Fatimah terikat di sebuah kursi kayu di dalam gudang kontainer, dikelilingi oleh bayang-bayang pria berjas hitam yang tak punya nurani.

[Status Sistem: Peringatan! Lonjakan Kortisol Terdeteksi.]

[Bisikan Insting: Jangan gunakan logika bisnis. Target bertindak di luar akal sehat. Peluang keberhasilan negosiasi: 5%.]

"Matikan bising itu," desis Arka, seolah bicara pada entitas di dalam kepalanya. Ia tidak butuh probabilitas. Ia butuh nyali manusia yang pernah rela lapar demi sepotong roti untuk anak panti lainnya.

"Kau datang sendirian. Sangat heroik, Arka. Atau sangat bodoh?"

Suara Thomas Van Heusen muncul dari balik tumpukan peti kemas yang berkarat. Sang taipan tidak lagi tampak elegan. Blazer sutranya berlumuran debu, rambut peraknya berantakan, dan matanya memancarkan kegilaan seorang pria yang baru saja kehilangan segalanya. Di sampingnya, sebuah kapal cepat—speed boat—dengan mesin yang masih menyala, siap melesat menuju perairan internasional.

"Lepaskan Ibu Fatimah, Thomas," suara Arka berat, tertahan di kerongkongan. "Kau sudah kalah. Dokumen itu sudah di tangan polisi. Kau melarikan diri pun, kau hanya menunda waktu."

Thomas tertawa, suara tawa yang pecah dan kering. "Kalah? Aku tidak pernah kalah. Aku hanya berpindah papan catur. Tapi kau... kau menghancurkan warisan yang kubangun dengan darah selama puluhan tahun! Kau pikir aku akan membiarkanmu merayakannya?"

Thomas memberi isyarat. Dua pria menyeret Ibu Fatimah keluar dari bayang-bayang gudang. Wanita tua itu tampak sangat rapuh di bawah lampu temaram dermaga. Bibirnya bergetar, namun saat matanya bertemu dengan mata Arka, ia menggeleng kuat.

"Pergi, Arka! Jangan pedulikan Ibu!" teriak Ibu Fatimah, suaranya parau.

Hati Arka seperti diremas tangan tak kasat mata. Ia teringat bagaimana Ibu Fatimah menjahit jaket kurirnya yang robek sepuluh tahun lalu dengan benang sisa, karena Arka tak punya uang untuk membeli yang baru. Wanita ini adalah pondasi jiwanya, jauh sebelum Sistem itu ada.

"Pilihan yang sulit, bukan?" Thomas mengeluarkan sebuah remot kontrol kecil. "Di kapal itu, ada semua sisa aset digital Future Horizon. Miliaran dolar yang bisa kugunakan untuk membangun kembali kekuasaanku di tempat lain. Jika kau mengejarku, aku akan menekan tombol ini, dan gudang tempat ibumu berada akan meledak dalam tiga puluh detik."

Thomas melangkah mundur menuju kapal cepatnya. "Pilih, Arsitek. Pilih kedaulatan bisnis yang kau puja, atau wanita tua yang tidak punya nilai ekonomis ini."

Arka terpaku. Di satu sisi, kapal itu membawa bukti sisa kejahatan Thomas dan modal yang bisa digunakan Thomas untuk kembali menyerang Sovereign di masa depan. Jika Thomas lolos, perang ini tidak akan pernah berakhir. Arka bisa saja menggunakan instruksi Sistem untuk mematikan sinyal remot itu dalam hitungan detik—secara teori.

Namun, Arka melihat tangan Ibu Fatimah yang kurus. Ia melihat keringat dingin di dahi wanita yang telah memberinya nama itu.

[Bisikan Insting: Kejar Thomas. Amankan aset. Panti asuhan bisa dibangun kembali. Logika ekonomi menyatakan...]

"Diam!" Arka berteriak keras, membuat Thomas tersentak di atas dek kapal.

Arka merogoh saku kemejanya, mengeluarkan bros perak yang sudah bengkok itu. Ia menatap benda murah itu, lalu menatap Thomas dengan tatapan yang membuat sang taipan merasa kecil.

"Kau tahu kenapa kau kalah, Thomas? Karena bagimu, segala sesuatu punya harga," ucap Arka, langkahnya mantap menuju Ibu Fatimah, membelakangi kapal Thomas. "Bagimu, Ibu Fatimah tidak punya nilai ekonomi. Tapi bagiku, dia adalah alasan kenapa aku tetap menjadi manusia saat sistem di kepalaku memintaku menjadi mesin."

Arka tidak menoleh ke arah kapal. Ia berlari menuju Ibu Fatimah.

"Arka! Jangan!" Ibu Fatimah menjerit.

Thomas, dengan wajah penuh kebencian, menekan tombol di remotnya. "Kalau begitu, matilah bersama kenanganmu!"

Bip. Bip. Bip.

Suara timer meledak di keheningan dermaga. Arka memeluk Ibu Fatimah, melindungi tubuh ringkih itu dengan punggungnya sendiri. Ia memejamkan mata, bersiap menyambut panas yang akan melahapnya.

Namun, ledakan itu tidak pernah datang.

Dari arah laut, puluhan sorot lampu kuat tiba-tiba menyambar dermaga. Raungan mesin motor laut dan kapal nelayan Tanjungbalai menyerbu pelabuhan tua itu. Di garis depan, sebuah kapal patroli air melesat, dan di atasnya, Elina Clarissa berdiri dengan megafon di tangan.

"Thomas Van Heusen! Sinyalmu sudah diblokir oleh tim siber Sovereign sejak kau memasuki area pelabuhan!" suara Elina menggema.

Ternyata, Arka tidak benar-benar datang sendiri. Ia telah menanamkan pelacak pada dokumen yang dibawa Sarah, dan ia tahu Thomas akan melakukan langkah nekat. Arka memancing Thomas untuk tetap di dermaga cukup lama agar tim Elina bisa mengunci frekuensi peledak tersebut.

Thomas panik. Ia mencoba menyalakan mesin kapal cepatnya untuk kabur, namun tiba-tiba, belasan kurir Sovereign yang dipimpin oleh Bang Jago muncul dari balik tumpukan kontainer dengan motor-motor mereka, memblokir jalan darat, sementara kapal nelayan menutup jalur laut.

"Mau lari ke mana, Tuan Besar?" Bang Jago melompat ke atas dek kapal Thomas, langsung melumpuhkan sang taipan dengan satu pukulan telak.

Arka melepaskan pelukannya pada Ibu Fatimah. Napasnya tersengal, namun ia tersenyum tipis saat melihat wanita itu selamat. Ia membantu Ibu Fatimah berdiri, lalu berjalan perlahan menuju Thomas yang kini sudah tersungkur di lantai dermaga, tangannya diborgol oleh petugas kepolisian yang baru saja tiba.

Arka berdiri di depan Thomas. Ia menjatuhkan bros perak bengkoknya tepat di depan wajah pria yang pernah menganggapnya debu itu.

"Ini adalah investasi terakhirku untukmu, Thomas," bisik Arka. "Simpan benda ini di selmu. Biarkan dia mengingatkanmu setiap hari bahwa seorang kurir yang kau remehkan, telah meruntuhkan menara gadingmu tanpa perlu menjadi sepertimu."

Thomas menatap bros itu dengan mata merah, tidak mampu lagi berkata-kata. Kejayaannya, asetnya, dan harga dirinya telah karam di pelabuhan yang amis ini.

Di tengah keriuhan itu, Sarah muncul dari balik barisan polisi. Ia berlari menuju Arka, namun langkahnya terhenti saat melihat Elina sudah lebih dulu berada di samping pria itu, memberikan jaketnya untuk menyelimuti bahu Arka yang gemetar.

Sarah berdiri di kejauhan, memegang ponsel yang masih menyala—menampilkan data bahwa ia telah berhasil memulihkan seluruh aset Sovereign yang sempat dicuri. Ia telah melakukan tugasnya. Ia telah menebus dosanya. Tapi saat melihat Arka tersenyum pada Elina, Sarah menyadari bahwa ada satu hal yang tidak bisa ia pulihkan dengan kode komputer: posisi di hati Arka.

Sarah meremas dadanya yang terasa sesak. Ia teringat kembali hari kelulusan itu. Ia teringat kalimatnya: "Cinta tidak bisa membayar tagihan..."

Kini, Arka bisa membayar semua tagihan di dunia ini, tapi Sarah tahu, bukan uang yang membuat Arka berdiri tegak malam ini. Itu adalah cinta pada panti asuhannya, pada harga dirinya, dan pada orang-orang yang tetap setia saat ia tidak punya apa-apa.

"Ayo pulang, Arka," ajak Elina lembut.

Arka menoleh sejenak ke arah Sarah. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada kebencian di mata Arka, hanya sebuah kedamaian yang terasa seperti perpisahan yang abadi. Arka mengangguk kecil pada Sarah—sebuah pengakuan atas bantuannya—sebelum ia menuntun Ibu Fatimah menuju mobil Elina.

Kapal Thomas Van Heusen ditarik oleh pihak berwenang, tenggelam dalam kegelapan laut malam. Di pelabuhan itu, Arka Pramudya tidak hanya menyelamatkan ibunya, ia telah memenangkan perang terbesar dalam hidupnya: perang melawan bisikan Sistem untuk menjadi dingin.

Ia tetaplah Arka, sang kurir yang memiliki hati seluas samudera, namun setajam silet saat harga dirinya diusik.

1
marsellhayon
ceritanya menarik,melawan sistem.
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.
variable of ancient
banyak cingcong di kepalanya
variable of ancient
lama banget anjg
Manusia Biasa
Konsep Sistemnya menarik thor🫣
adib
banyak pengulangan... tolong dikoreksi lagi
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Founna: siap💪
total 1 replies
Founna
iya kaka, maaf ya🙏 belum lulus review
Wega Luna
ini cerita nya diganti kah Thor , perasaan kemarin GK gini deh
Founna: iya kak, maaf ya🙏 Belum lulus review kemaren
total 1 replies
Naga Hitam
"ayo sayang....."
Loorney
Pasar langsung kacau nih kalau ada yang begini, 100% terlalu gede.
Dewiendahsetiowati
Sarah sama Adrian tadi kan naik mobil pergi dari sana to
Founna: Halo Kak Dewi! Makasih banyak ya masukannya, sangat membantu Fonna memperbaiki cerita ini. 🙏 Fonna baru saja merevisi Bab 1 dan Bab 2 supaya alurnya lebih nyambung. Ternyata Sarah dan Adrian nggak langsung pergi, tapi mereka sombong mau pamer kamar suite dulu. Yuk, dibaca ulang revisinya, dijamin lebih greget! 🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Wega Luna
setuju, biar tahu rasanya di rendah kan ,untung 2 tobat , setidaknya sadar diri GK mengharapkan mantanya🤣🤣🤣🤣
Wega Luna
ehm dibuang sih,,,dia sejak awal bohong ,dia dapat transfer an terus ,
BaekTae Byun
Mending nanti aja thor cinta cinta an mah kan baru mulai move on kalau bisa nikmatin dulu waktu sendiri thor
Wega Luna
🙀 semangat
Jack Strom
Itu tergantung Sarah-nya Thor, kalau dia masih originil ya boleh sih baikan kembali sama Arka, tapi kalau sudah dol... ya jangan lah... 🤭😁😂🤣😛
Jack Strom
Seandainya Arka-nya jadi kaya pelan², tahap demi tahap, mungkin cerita ini lebih seru... 🙂😁😛
Jack Strom: Baik, tak tunggu ya Om... 🤭😁😁😛😛
total 2 replies
iky__
3 bab perhari thor
iky__
tes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!