Lima tahun. Sejak Markas Black Rose diserang dan dihancurkan, putra sulungnya Raka menghilang tanpa jejak, dan suaminya, Reyhan, masih terpuruk dalam koma tanpa kepastian. Di balik kesunyian yang mencekam, dendam Reyna justru semakin membara. Duka telah berubah menjadi amarah yang terasah; ia kini menyusun rencana dingin untuk menghabisi setiap musuh yang terlibat dalam penyerangan lima tahun lalu.
mampukah ia menemukan Raka sebelum terlambat?
Dan akankah Reyhan akhirnya terbangun untuk melihat wanita yang ia cintai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 027: AIR MATA DAN KECERIAAN BARU
MARKAS BLACK ROSE
Mobil Reyna melaju kencang meninggalkan keramaian kota menuju markas besarnya. Hatinya mendesak agar segera sampai untuk menemui suami tercinta yang masih setia memejamkan mata.
Sesampainya di sana, tanpa membuang waktu, Reyna langsung berjalan menuju ruang perawatan khusus Reyhan.
Ceklek.
Pintu terbuka perlahan. Di sana, sosok yang dicintainya terbaring tenang. Reyna duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan besar suaminya yang terasa dingin.
"Rey... kapan kamu bangun?" bisik Reyna parau. Air matanya tak kuasa dibendung, menetes perlahan membasahi punggung tangan Reyhan.
Dan saat itulah keajaiban kecil terjadi. Tanpa sepengetahuan Reyna, bulir bening juga keluar dari sudut mata Reyhan yang tertutup rapat. Hatinya merasakan kesedihan istrinya, meski raganya belum bisa bergerak atau berbicara.
Reyna mulai bercerita panjang lebar, menceritakan kegiatannya hari ini, kunjungannya ke rumah Ayah Dirly, hingga momen di pesta tadi malam. Saat ia menceritakan tentang sosok anak kecil bernama Rasya yang membuat jantungnya berdebar aneh, rasa lelah perlahan menyergap. Tanpa sadar, kepala cantik itu terkulai, dan Reyna tertidur pulas di kursi samping ranjang dengan tangan masih menggenggam erat tangan suaminya.
***
Pagi harinya, seorang dokter pribadi masuk ke dalam ruangan itu dengan langkah pelan. Ia terkejut melihat Reyna tertidur lelap di sana. Dengan sigap, ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun agar sang Queen tidak terbangun.
Dokter itu mulai memeriksa kondisi Reyhan dengan teliti, mencatat semua data vitalnya.
"Kondisi stabil, semua fungsi tubuh berjalan normal. Tidak ada yang membahayakan. Mungkin memang belum waktunya ia sadar sepenuhnya," batin dokter itu sambil memasukkan obat tambahan ke dalam selang infus.
Gerakan itu sedikit membangunkan Reyna.
"Dokter..." panggil Reyna dengan suara serak, matanya masih mengantuk. Ia segera duduk tegak. "Bagaimana kondisinya?"
"Seperti yang selalu saya katakan, Nyonya. Semuanya baik-baik saja, tidak ada yang membahayakan nyawanya. Hanya saja, kesadaran memang masih belum ingin kembali," jawab dokter itu lembut lalu pamit keluar.
Di ruang strategi lain, suasana terasa sangat serius. Dion sedang memimpin tim untuk melacak keberadaan Adrian dan Anggi yang semakin bersembunyi. Sementara itu, Brian dan Tiara mulai memetakan seluruh aset dan markas kecil musuh yang belum mereka hancurkan.
"Ra, periksa semuanya baik-baik. Jangan sampai ada satu pun yang terlewat. Kita habisi sarang mereka satu per satu," titah Brian tegas.
"Baik, Bri. Sedang aku proses semua datanya sekarang," jawab Tiara fokus tanpa menoleh, matanya tak lepas dari layar monitor dan berkas di depannya.
KEDIAMAN ATMAJA
Pagi yang cerah di rumah besar keluarga Atmaja. Arka sudah siap dengan setelan jas kerjanya. Sebelum berangkat menuju kantor untuk memimpin perusahaan, ia mendekati Rasya yang sedang duduk manis.
"Jangan nakal di rumah, ya. Ikuti apa kata Oma," pesan Arka lembut sambil mencium pipi gembil anak itu.
Rasya mengangkat jempol kecilnya dengan wajah ceria. "Ok Ayah! Pasti!"
Rasya memperhatikan mobil ayahnya pergi sampai hilang dari pandangan.
"Ayo masuk, Nak. Nanti kalau cuacanya bagus, Oma ajak jalan-jalan ke taman dekat sini," ajak Nyonya Marlina Atmaja, nama indah sang nenek.
"Iya Oma!"
"Sana mandi dulu, terus pakai baju yang paling keren supaya cucu Oma ini makin ganteng," goda Marlina.
Rasya pun berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya. Anak ini sudah sangat mandiri. Ia tidak suka dimandikan oleh pelayan.
"Rasya kan sudah besar, jadi harus mandi sendiri!" begitu prinsipnya. Ia hanya mau dibantu atau disentuh jika itu dilakukan oleh Ayahnya, Arka.
Di dalam kamar mandi, terdengar suara rengekan kecil yang bernyanyi riang. Rasya bermain air dan busa sabun di bak mandi dengan gembira.
"Aaa... segeeeer..." serunya puas.
Setelah puas bermain, ia menyiram badannya dengan shower hingga bersih. Keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe kecil yang pas di tubuh mungilnya, ia tersenyum cerah melihat setelan pakaian yang sudah disiapkan rapi di atas kasurnya.
semangat terus ya thor sukses selalu
next kk