Aku seorang wanita yang harus memikul beban kehidupan yang amat sangat pahit, hanya demi gengsi dan ambisi untuk menguasi anak laki-lakinya untuk harta dan tahta karena ingin dipandang oleh semua orang.
Awalnya kusangat bahagia karena dipersunting seorang calon imam yang mumpuni dalam segala hal, namun dengan berjalannya waktu semuanya terbuka dengan sengaja yang mengakibatkan buta mata buta hati, jangankan untuk mengerti pedulipun sudah tiada arti lagi.
Hidupku dihiasi dengan rasa penuh pana dan derita, hatinyapun sudah tak sanggup menerima karena duka yang mendalam. Padahal kuhanya pengakuan saja bukan ingin dimanja dan dipuja, pengakuan itu sudah luar biasa. Harta ku punya keluarga ku punya tapi pengakuan sebagai menantu buatnya kini tinggal kenangan semata.
Walau kelihatanya bahagia padahal kami sangat menderita karena perlakuan yang berbeda dan perhatian yang penuh dengan kebencian semata. Hilanglah semua harapan kini tinggal kenangan batu nisan jadi saksi kebencian seorang mert
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PASKUD Official Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Umi
“Iya yah, umi ga apa apa cuman sakit hati aja.”
“Ya Allah, istriku maafkan keluargaku.” Gumam ayah .
Seminggu berlalu dari obrolan itu, ayah ijin sama kami untuk pulang dan menyampaikan niat baik memberangkatkan umrah keduanya. Kami pun memberikan ijin asal ayah harus pulang lagi kesini baik dalam keadaan apapun.
Dihari sabtu sore ayah berangkat menuju kota dimana kake dan nenek tinggal tepatnya di kota cangkuang bandung, ayah diantar oleh simamang supir pribadi umi karena khawatir takut kenapa napa.
Mamah
“Yah, kalau ada apa-apa tlp mamah ya, aku tak mau kamu kenapa napa.”
Ayah
“Baik sayang. Ayah berangkat dulu ya.”
Mamah
“Iya yah hati hati dijalan, sambil mencium tangan ayah.”
Aku hawatir dengen keadaan dan jawaban seperti kemarin sebenarnya, suamiku masih dianggap anaknya atau tidak ya, ku takut dia diusir dan tak lagi diangggap bagian dari keluarganya. Tapi mudah-mudahan Allah menjaga. Gumam mamah.
Minggu malam alhamdulillah ayah dah sampe rumah kake dan nenek, kami tahu karena ayah sudah tlp kami bahwa ia sudah sampe rumah dengan selamat.
Ayah
“Assalamualaikum, istriku sayang aku dah sampe rumah.”
Mamah
“Alhamdulillah kalau udah sampe umi ga hawatir, jaga diri baik baik ya ayah?.”
Ayah
“Iya istriku sayang, jangan hawatir ya. Iyang pokus aja sama kerjaan, biar yang disini ayah focus juga.”
Mamah
“Baik ayah, kalau begitu jangan lupa makan, terus kabarin kami.”
Ayah
“Baik sayang, dah dulu ya aku mau masuk gerbang rumah kake dan nenek. Assalamualaikum.”
Mamah
“Waalaikumsalam sayang.”
Ada perasaan lega dan hawatir dengan sampainya ayah ke ibu dan bapanya, tapi mudah mudahan tidak apa apa aku harus yakin.
Leganya karena sudah sampai dengan selamat, sedangkan khawatirnya takut tak diakui dimarahi dan bahkan diusir kembali seperti dulu yang terjadi sewaktu aku ikut dengan suamiku. Padahal kami ga pernah minta ga pernah memohon atau membujuk agar memberikan apa yang kita inginkan. Semoga ayah mengutarakan niat baiknya berhasil dan tidak ditolak seperti kejadian kemarin ditlp.
Kejadian di tempat kake.
Pagi harinya ayah menyempatkan ngobrol dengan kake prihal niat baik dan ada beberapa hal juga yang ditanyakan langsung ke kake (mengapa tidak mau mengakui istriku dan anaku sebagai menantu dan cucunya?
Kake
“Apa kabar usaha kamu?.”
“Alhamdulillah baik pah, (ko usaha yang ditanyakan bukan cucu dan istriku bagimana gitu).” Gumam ayah .
Kake
“Syukur kalua baikmah, kapan mau ngirim lagi uang, papah dah ga nerima lagi uang, sewaktu kamu kerja masih jadi konsultan tiap bulan papah nerima tapi ga semua, apa kamu bagi dua dengan istrimu, padahal kan papah pegang rekeningnya.”
Ayah
“Maaf pah uang untuk apa, dan selama aku kerja jadi konsultan uang 100% diambil papah, anak dan istriku hanya makan dan minum dari gaji ibunya sebagai Aparatur Sipil Negara. Mereka ga pernah makan gaji aku pah sepeserpun.”
Kake
“Ah yang bener, aku terima toh cuman 50% kemarin terus yang setengah lagi kemana. Papah sebenarnya masih marah dan kesel sama kamu apalagi istrimu yang ga pernah peduli, aku sakit, aku senang, cuek aja, istri kamu itu malu kali mengakui aku sebagai orang tuanya.”
Ayah
“Setahu aku pah, mereka e’wer sama papah dan umi ga pernah ga nanyain kabar seminggu sekali rutin, bahkan mereka menyisihkan uang untuk ditabung dipakai untuk daftar umrah papah dan umi ?.”
semangat terus berkarya 👍👍
itu apa ya 🤔🤔
Sahur
sahuuuurrr
Terpaksa menikahi kepsek kejam hadir memberi like...
di tunggu ke hadirannya di karya ku ya...