Madu itu manis namun berbeda dengan madu yang aku rasakan, rasanya sungguh pahit, membuat hati yang baik-baik saja menjadi terluka, membuat hati dilema antara bertahan atau menyerah hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyerah dan mengakhiri semuanya.
Dari sinilah aku menjadi wanita kuat karena harus berjuang untuk sang buah hati dan akhirnya aku bertemu dengan pria yang tulus mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Viona Gila
Gejolak membara yang aku tahan selama ini seakan meletup-letup, kedua kalinya aku melayangkan tamparan di wajah Viona. Belum puaskah dia menghancurkan aku? dulu mungkin aku kecolongan namun untuk kali ini aku tidak akan kecolongan lagi, David milik aku sekuat tenaga aku akan menjaganya dari wanita seperti Viona.
"Beraninya kamu Mel!" Viona berteriak.
"Dua tamparan aku rasa masih kurang untuk wanita yang nggak tau diri seperti kamu,"
Viona nampak kesal lalu dia pun ingin membalas perbuatanku namun tiba-tiba sebuah tangan menghadang tangan Viona.
"Sedikit saja kamu menyentuh istri aku maka tangan ini yang akan mematahkan tangan kamu." David nampak marah pada Viona.
David menghempaskan tangan Fiona sehingga membuat Fiona hampir terjatuh.
"Selama ini aku menghormati kamu karena kamu adalah pasien aku jadi jangan besar kelapa," maki David.
Viona menatapku dengan tatapan tajamnya lalu dia pergi begitu saja.
Selepas kepergian Viona aku memberikan ponsel David yang aku pegang lalu aku membalikan badan dan pergi meninggalkan David.
Aku duduk di balkon kamar sembari menatap langit cerah pagi ini.
"Sayang," David memanggil aku.
Aku tak tau harus bagaimana, aku hanya heran saja kenapa Viona mengantarkan ponsel David.
"Iya mas." Aku menjawab panggilannya.
"Maafkan aku," ucapnya dengan menatapku yang berdiri melihat langit.
"Untuk apa mas? seharusnya aku berterima kasih padamu karena telah meloloskan pipiku dari tamparan Viona." Kini aku tatap David balik.
David memelukku dari belakang, dia memohon padaku agar aku mau memaafkannya.
Aku nampak tersenyum, jika memang benar kejadian di masa lalu terulang lagi, aku lebih baik mundur, tak sanggup aku jika harus bertahan dalam rumah tangga yang seperti dulu.
"Apa kamu semalam bersamanya?" tanyaku dengan air mata yang terus terjatuh.
David hanya diam, dengan tangan yang semakin erat memelukku. Dari pergerakan tubuhnya dapat dipastikan kalau memang semalam David bersama Viona.
"Jujurlah Mas aku nggak papa," kataku.
Aku berusaha melepas pelukannya namun David enggan untuk melepaskan tangannya sehingga aku hanya pasrah dipeluk olehnya.
"Apa kalian ada hubungan?" tanyaku lagi.
"Tidak, aku benar-benar minta maaf sayang." dia mengulangi ucapan maaf nya.
Air mataku sudah bercucuran, kenapa semua harus terjadi padaku, aku kira David adalah suami yang setia, suami yang menyayangiku sepenuh hati namun aku salah ternyata dia sama seperti Reza yang telah mengingkari janji sucinya. Pernikahan kami belum genap dua bulan tapi dia sudah bersama Viona.
"Kenapa Viona Mas?" Aku protes padanya.
"Apa maksud kamu sayang?" David malah melemparkan pertanyaan balik padaku.
Jujur aku sangat bingung, kenapa dia malah bertanya? bukankah semalam dia bersama Viona?
"Kenapa kamu berselingkuh dengan Viona," jawabku.
David langsung melepas pelukannya, dia membalikkan badanku dan menangkupkan tangannya di wajahku.
"Selingkuh?" tanyanya heran.
"Iya bukankah semalam kamu bersama Viona?" Aku menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan balik.
Mendengar pertanyaanku David pun tertawa, dia menepuk pipiku lalu menyingkap anak rambut yang menutupi keningku.
"Dengarkan Aku, aku bukan pria brengsek yang mudah sekali melupakan janji suci yang aku ucapkan pada Tuhanku, di depan banyak orang aku berjanji akan selalu mencintaimu, jadi mana mungkin aku berselingkuh?"
Aku seperti kambing congek, yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Lalu kenapa kalian bisa bersama?" tanyaku lagi.
Akhirnya David menjelaskan semua padaku, dia sangat tertekan dengan sikapku yang seakan tidak percaya padanya, dia ingin aku mempercayainya seperti dia mempercayaiku, dia juga bilang kalau dia bukan Reza yang dengan mudahnya menjatuhkan hati untuk wanita lain padahal sudah memiliki istri.
"Kemarin aku merasa tidak enak badan, awalnya aku ingin istirahat di rumah sakit namun takut kamu berpikiran yang negatif padaku sehingga aku memutuskan untuk pulang. Aku ingin istirahat supaya aku bisa cepat sembuh karena malamnya aku ada jadwal piket di rumah sakit tapi setelah di rumah kamu selalu bertanya padaku dengan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan sebelumnya,"
Aku merasa bersalah padanya lalu aku memintanya untuk melanjutkan ceritanya.
"Daripada ribut aku memutuskan untuk kembali ke rumah sakit tanpa bilang padamu kalau aku ada piket, dan lagi-lagi aku bertemu Viona, kali ini bukan dia yang periksa melainkan Reza, tanpa menyapanya aku langsung pergi ke ruanganku, beberapa waktu kemudian dia masuk begitu saja ke dalam ruanganku, aku yang sudah sangat pusing tidak bisa mengontrol tubuh hingga dia membantuku untuk tiduran di bed pasien, dia memberiku minum dan mengambilkan obat setelah itu aku tidak tahu lagi karena aku tertidur," ungkap David.
Aku menatap David dengan lekat, mencari kebohongan di matanya namun tak satupun aku temukan, yang aku temukan hanya kejujuran di matanya. Aku merasa bersalah karena telah meragukan cintanya, meragukan kepercayaannya dan meragukan kesetiaannya, kini aku sadar kalau David bukanlah pria brengsek seperti Reza.
"Pagi tadi saat aku bangun aku langsung keluar rumah sakit untuk pulang, saat di koridor aku bertemu dengan temanku dia bilang kalau ada operasi siang ini, karena badanku masih demam aku memutuskan untuk melanjutkan istirahatku di rumah, namun saat di rumah kamu sudah memberondongku dengan banyak pertanyaan, aku yang bingung harus menjawab apa memutuskan untuk diam dan langsung pergi ke kamar, kalau HP yang dibawa Viona sungguh aku tak tahu," David melanjutkan ceritanya.
Aku sungguh merasa bersalah padanya, suami sakit bukannya dirawat namun aku malah menuduhnya yang bukan bukan.
"Maafkan aku Mas, aku bersikap seperti ini karena aku takut kehilanganmu, sudah cukup Reza dan aku nggak ingin kamu, aku bisa gila bila tanpamu Mas," Aku menangis di depannya.
David memelukku lalu menghujani keningku dengan kecupan, dia juga meminta maaf karena telah membuatku tak nyaman.
Setelah saling memaafkan aku menyuruhnya untuk istirahat, mengingat siang ini dia ada jadwal operasi.
"Kamu istirahat ya aku siapkan makanan untuk kamu," kataku.
David malah menarik tanganku sehingga aku jatuh dalam pelukannya.
"Beberapa hari aku telah melewatkan kewajiban kamu sayang jadi pagi ini aku akan memintanya," bisik David yang membuat aku merinding.
Apakah setiap pertengkaran ujung penyelesaiannya selalu di ranjang? karena dulu Reza pun sama, sehabis kami bertengkar dia selalu mengajak aku ke ranjang dan kini David, apakah para suami seperti itu? entahlah.
Meski lemah namun tidak menyurutkan gairah David sedikitpun, dia memacuku dengan semangat membara sehingga aku terus merasakan kenikmatan di bawahnya.
"Kamu bener-bener mas," kataku yang diselingi dengan desa-han.
David semakin melajukan pinggulnya, membuat aku semakin melayang hingga aku mendapatkan kenikmatan dunia ini.
Dengan nafas terengah engah aku mengucap keningnya, sebagai ungkapan rasa terima kasihku karena telah membuat aku merasakan kenikmatan dunia.
"Makasih mas,"
Sehat dan semangat berkarya author...
Good job 😘😘