"Bantu aku, maka aku akan mengingat kebaikan mu ini!" Ujar seorang pria yang menodongkan sebuah senjata ke perut Laela.
Mata Laela tentu saja membelalak lebar.
"Ba... baik!" jawab Laela gugup.
Apa jadinya jika perjalanan liburan sekolah Laela malah membuatnya bertemu dengan seorang bos mafia yang baru saja terluka dan melarikan diri dari para pembunuh bayaran yang mengincar nyawanya?
Setelah menolong pria itu, bagaimanakah cara pria itu membalas kebaikan yang ia janjikan pada Laela?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Di peternakan, Maaz Adnan terus menerus menghubungi Kabir dan Zahra. Alasan rindu, menanyakan kesehatan Zahra dan hal lain yang terdengar bahkan tidak masuk akal bagi Kabir.
Sampai suatu kali, Maaz Adnan mengatakan dirinya masuk rumah sakit karena tekanan darah tinggi dan juga tak bisa tidur beberapa malam.
"Ayah harap kalian ada di sisi ayah saat ayah sakit begini. Tapi mau bagaimana lagi, ayah sudah janji membiarkan kalian liburan. Ada orang di sisi ayah pun seperti tak ada orang!" keluh Maaz Adnan saat melakukan video call dengan Kabir dan Zahra.
Dengan background ruangan VIP di rumah sakit terkenal di blok C. Benar-benar terlihat sangat parah sakit Maaz Adnan, sebab pria paruh baya itu sampai memakai selang oksigen untuk menandakan kalau sakitnya parah.
Zahra hanya menatap pria yang sudah menjadi suaminya selama 28 tahun itu dengan tatapan datar. Hal yang paling dia inginkan adalah jauh dari pria paruh baya itu, lantas untuk apa dia menyia-nyiakan kesempatan untuk itu. Kenapa dia harus kembali sedangkan dia masih punya waktu dua minggu lagi bisa bebas dari istana yang bagaikan penjara emas itu.
"Zahra, kamu lihat keadaan suami mu ini kan. Zulaikha dan Rosemary mengurus putra mereka yang sakit, tidak ada yang mengurusku Zahra!" ucap Maaz Adnan lagi pada Zahra.
Kabir hanya diam, dia tahu ibunya sama sekali tidak ingin bertemu dengan pria yang lain di mulut lain di hati itu.
"Ayah, aku akan telepon dokter Antonius. Dia dokter terbaik di kota itu. Dia akan menyembuhkan ayah dengan cepat. Dia akan memberikan obat terbaik untuk ayah!" ucap Kabir yang langsung menggeser kamera ponselnya ke arahnya.
Benar saja, setelah Kabir menggeser ponselnya ke arahnya. Dia melihat ibunya menghela nafas lega. Seperti baru saja terlepas dari beban berat yang membuat bahunya tidak bisa bergerak dan memalingkan pandangannya ke arah lain pun tak berani.
"Kabir Haris Adnan, ayah juga punya dokter terbaik. Tapi yang ayah butuhkan adalah kalian!"
Akhirnya Maaz Adnan berterus terang dengan apa yang dia inginkan sampai dia menghubungi Kabir dan Zahra terus menerus.
"Ayah rindu pada ibu? bukannya di sana ada kak Anneke. Kemarin malam dia baru saja menghubungi kami dan mengatakan kalau keadaan disana baik-baik saja. Ibu Zulaikha bahkan ikut bicara kalau perlu kami harus liburan lebih lama lagi, bahkan dua atau tiga bulan kalau perlu!"
Kabir mengatakan hal itu agar sang ayah berhenti meminta mereka pulang. Secara tidak langsung Kabir mengingatkan kalau di sisi Maaz Adnan masih banyak istri lain selain Zahra.
Sebenarnya yang Maaz Adnan butuhkan juga bukan Zahra. Dia hanya ingin Kabir kembali dan menyelesaikan semua kekacauan yang dibuat oleh Mukhtar. Semenjak peristiwa kerampokan yang lalu, sebenarnya bukan di bilang kerampokan juga sih. Karena sebenarnya semua emas itu memang milik Bondan. Dan sekarang semuanya kembali pada pemiliknya. Hanya saja Maaz Adnan tidak tahu kalau Kabir dan anak buahnya mendapatkan keuntungan dari semua hal itu.
"Mereka mengatakan seperti itu, mereka bahkan tidak pernah datang ke rumah sakit!" sela Maaz Adnan beralasan.
Tapi sebenarnya itu juga benar, semua anggota keluarga Maaz Adnan memang tidak ada yang datang ke rumah sakit menjenguk atau menemani Maaz, tapi itu bukan karena kemauan atau keinginan pribadi mereka. Maaz Adnan lah yang tidak mengijinkan mereka datang.
"Tapi cuaca sedang sangat tidak bagus ayah. Jika ayah lihat di berita, maka daerah ini sedang sangat ekstrim cuacanya. Akan sangat berbahaya kalau kami melakukan perjalanan jauh. Begitu cuaca kembali kondusif dan baik. Kami akan segera pulang!"
Akhirnya Kabir mengatakan hal itu pada Maaz Adnan agar Maaz Adnan tidak lagi memaksanya untuk kembali secepatnya.
"Baiklah, kalau sudah membaik cuaca nya kalian harus cepat kembali!"
Seru Maaz Adnan mengakhiri panggilan video call dengan Kabir dan juga Zahra. Maaz Adnan bahkan tidak menyapa Zahra saat akan mengakhiri panggilan video call tersebut, apa itu yang namanya rindu dan ingin Zahra berada di sisinya.
Zahra pun terdiam, dia sendiri sadar. Kalau kehadiran dirinya untuk Maaz Adnan tidak lebih hanya seorang istri yang harus selalu menuruti semua kemauan Maaz Adnan dan sebagai ibu Kabir yang sangat di andalkan oleh Maaz Adnan.
Kabir lalu melihat ke arah dan ibu dan menepuk punggung tangan sang ibu yang terlihat sedih.
"Ibu, sudah jangan di pikirkan. Kita tetap akan di sini sampai waktu yang telah di tentukan. Membuat sebuah daerah hujan deras bukan hal yang sulit ibu. Tekhnologi sekarang sudah canggih, kalau ayah menghubungi kita lagi. Kita bisa buat hujan buatan yang deras bahkan di sertai petir!" jelas Kabir menenangkan hati sang ibu yang terlihat jelas dari wajahnya kalau sang ibu sangat gelisah.
*Memangnya tidak akan ada yang melapor
Tanya Zahra dengan bahasa isyarat pada Kabir. Setahunya anak buah Maaz Adnan ada dimana-mana dan bisa saja menyusup menjadi salah satu anak buah Kabir.
Kabir hanya tersenyum kecil, sangat tipis.
"Semua anak buahku adalah orang-orang yang sangat benci pada Maaz Adnan, ibu tenang saja!" jawab Kabir.
Zahra pun mengangguk paham, dia cukup lega mendengar jawaban dari anaknya itu.
*Lalu gadis itu, Laela?
Tanya Zahra kemudian ketika dia ingat pada gadis yang Kabir katakan adalah calon nyonya Kabir di masa depan.
Kabir terdiam, dia tidak mungkin mengatakan kalau gadis itu bahkan telah memblokir kontaknya.
"Dia pasti baik-baik saja Bu!" jawab Kabir.
Kabir bisa bicara seperti itu, meskipun dalam hatinya sendiri dia pun merasa sedikit keraguan.
"Hatciuu...!"
"Hatciuu...!"
"Eh, sono-sono jauh-jauh tante, nanti nular lagi!" keluh Ringgo.
Ringgo terus berusaha mendorong Laela yang terus bersin sejak tadi menjauh darinya karena takut ketularan.
"Apaan sih Ringgo! orang hidung kakak tuh cuma gatel, gak flu tahu!" jelas Laela.
"Gak percaya, Tante aja dari tadi mandi berkali-kali kata bibi. Terus baju Tante di belakang tuh bau banget gak enak, kasihan tuh si bibi nyucinya sampai empat kali. Pasti abis mainan gak bener tuh, jorok tuh, main sampah ya?" tanya Ringgo.
Sontak saja Laela langsung mengerutkan keningnya.
"Emang gak ada mainan lagi apa di dunia ini sampai kakak harus main sampah?" tanya Laela tak habis pikir adiknya berpikir seperti itu.
Maklum saja, dia baru kelas empat SD. Belum tahu ada acara ospek di sekolah baru dan semacamnya.
"Ya gak tahulah. Tante kan emang Freak!" seru Ringgo lantas berdiri dari duduknya di samping Laela dan memilih berlari ke arah kamar ibunya.
Laela hanya menghela nafasnya.
"Huh, capek banget deh. Semoga besok gak ada acara aneh-aneh lagi, hayati lelah bang!" gumam Laela sambil memeluk bantal sofa dan meneruskan menonton acara televisi.
***
Bersambung...
thanks ya atas karyanya
Mampir Thor 🙋
terimakasih author
👍👍👍👍👍👍