NovelToon NovelToon
Dokter, Heal Me Please! (My Sweet Banana)

Dokter, Heal Me Please! (My Sweet Banana)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Anak Yatim Piatu / Identitas Tersembunyi / Dokter / Tamat
Popularitas:3.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: mbu'na Banafsha

Blurb :

Seorang dokter muda, tanpa sengaja bertemu dengan gadis SMA.
Gadis tanpa orang tua itu diam-diam mengidap satu gejala penyakit yang berbahaya jika terlambat ditanganinya.

Mereka kembali dipertemukan sebagai pemilik dan penyewa rumah yang akhirnya terpaksa harus tinggal bersama.

Bukan hanya cerita tentang Dokter dan pasien-nya, melainkan ada kisah cinta di antara dua manusia yang berbeda usia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Bucin

Di sore hari yang hanya menyisakan beberapa percik cahaya Surya, langit yang mulai berubah menjadi jingga menebar corak berwarna redup pertanda hari akan segera berganti menjadi malam. Di balkon berdiri dua orang pria tampan, masing-masing membentangkan pandangannya lurus ke depan.

"Adik lo masih tidur?" tanya Luthfie seraya memutar kepala mengarah ke dalam rumah. "Emang, sih, kalau anak itu tidur nggak ada yang bisa ganggu," ucapnya seperti menjawab pertanyaan sendiri.

"Mungkin dia kelelahan," jawab Zidan, tetapi tiba-tiba dia memutar wajahnya dengan dahi berkerut. "Lo tau banget Shasha tidur kaya apa?"

"Nggak penting dia tidurnya kaya apa," kilahnya. "Lo tahu nggak, apa yang dia lakukan seharian ini?" Luthfie balik bertanya sambil membalas tatapan Zidan. Ekspresi wajahnya jauh berbeda dibanding ketika dia baru saja tiba di rumah Zidan.

"Ya, enggaklah. Shasha 'kan gak selalu melaporkan setiap detil kegiatannya sehari-hari. Gue percaya dia."

"Tapi masih ingat 'kan, kapan terakhir ketemu sama adik lo?"

"Mungkin sekitar 2-3 bulan yang lalu. Entahlah gue lupa. Apaan sih Fie, nanya-nanya kaya gitu?"

"Pantesan. Lo nggak pernah tau apa yang dialaminya." Sambil mendengkus, Luthfie mengalihkan pandangan ke arah lain. Nada sinisnya membuat Zidan menarik pundak Luthfie untuk meminta penjelasan.

"Apaan, sih? Lo mau bilang, kalau gue nggak peduli sama adik gue sendiri? Terus lo lebih peduli sama dia, gitu? Hei! Emangnya lo siapa?"

"Lama-lama, gue hajar beneran, nih orang!" Luthfie menggeram dengan tatapan seakan ingin menerkam. "Nggak tau gue lagi murka."

Zidan coba menurunkan egonya, bersikap lebih tenang setelah menghela napas. Dia juga menepuk pundak kawannya itu demi memulai arah pembicaraan yang belum dia fahami.

"Fie, lo marah sama siapa? Gue?"

"Ya iyalah. Kesal gue!" bentaknya dengan muka masam.

"Gue salah apa sama lo? Ketemu aja baru sekarang, tiba-tiba lo kesal sama gue. Bukannya lo kangen sama gue, makanya lo dateng ke sini?"

"Yang ada, kecewa gue sama, lo!"

"Ck!" Zidan berdecak sambil meraih sebuah gelas berisi teh hangat buatan istrinya. "Minum dulu, biar nggak muter-muter ngomongnya. Lo yang nafsu, gue yang cape jadinya."

Luthfie mengambil cangkir yang disodorkan Zidan sambil menatap sinis lalu meneguk isi cangkir tersebut hingga tandas.

"Lo..." Rasanya, Luthfie mengalami kesulitan untuk mengutarakan alasan kenapa dia harus kesal dengan sahabatnya, tetapi dia harus tetap mengetakannya. "Kenapa lo telantarin adik lo? Lupa sama pesan gue?"

"Pesan yang mana? Jangan ngadi-ngadi. Pusing pala gue, ini."

"Jagain dia!" Luthfie menirukan ucapannya yang dulu selalu dianggap pesan basa-basi oleh sahabatnya itu.

"Eh! Lu mah dari dulu, lebay!" Zidan malah terkekeh. Kenapa sedewasa ini, sahabatnya masih mengungkit guyonan masa lalu. "Inget, ya, gue kan kakaknya Shasha, sodara dia satu-satunya. Udah pasti gue jagain adik gue. Jangan khawatir, ya, sahabat gue yang paling baik hati." Zidan kembali menepuk pundak Luthfie sambil memicingkan mata.

"Bulshit! Khawatir aja gak pernah, malah ninggalin dia sendiri di rumah. Lo nggak tau 'kan kalau dia sakit? Brengsek lu!"

"Wait! Shasha sakit? Dia nggak pernah, tuh, bilang sama gue kalau dia sakit. Kalau gue tanya kabarnya, selalu sehat, baik-baik saja."

"Nyatanya dia nggak baik-baik saja. Kenapa nggak lu cek sendiri ke sana, eugh!" Tampaknya Luthfie benar-benar sedang menahan diri untuk tidak melayangkan pukulan.

"Gue udah titipin Shasha sama Tante Mira. Gue kirim uang tiap bulan sebagai tanda terima kasih sama dia. Cuma Tante Mira yang bisa gue mintai tolong selama gue ninggalin Shasha, karena anak itu bersikeras nggak mau ninggalin rumah peninggalan Ayah sama Ibu di Bandung. Lagipula, Tante Mira pasti bilang, kok, kalau Shasha kenapa-kenapa."

"Udahlah, gue nggak ngerti sama, lo." gumam Luthfie sambil menghela napas. "Mulai sekarang, biar gue aja yang jagain adik lo. Lagian gue sama adik lo itu sudah tinggal serumah sekarang."

"Apa!"

"Iya, gue tinggal di Bandung, di rumah lo."

"Tinggal berdua?"

Wajah Zidan mulai berubah. Dipenuhi rasa khawatir bilamana adik dan sahabatnya telah menempuh jalan yang salah. Apalagi setelah Luthfie menjawab pertanyaannya dengan anggukan. Tanpa berpikir panjang Zidan mendekat dan melayangkan pukulan ke wajah Luthfie. Namun, segera ditepis oleh tangan Luthfie karena sudah mengira ini akan terjadi.

"Jangan coba-coba lo rusak adik gue!"

"Kapan gue ngerusak anak orang? Tanya kek, kenapa gue tinggal sama Shasha?" Dengan santai, Luthfie menurunkan kembali tangan Zidan.

"Cepat bilang! Ngapain nunggu gue nanya?"

"Tante Mira yang lo percaya buat jagain Shasha, dia menyewakan rumah kalian tanpa sepengetahuan siapa pun sejak sebulan yang lalu. Abis itu lari ke kampung halamannya dengan membawa uang sewa dan sampai hari ini belum kembali. Kebetulan banget gue orang yang menyewa rumah itu dan gue nggak tau itu rumah lo.

Gue merasa bersalah sudah membuat pemilik rumah terlantar, gue lihat, adik lo bingung mau tinggal di mana karena sepupunya aja gak mau nampung dia meskipun hanya untuk sementara. Kurang ajar 'kan sepupu sama tante lo! Hhh, terpaksa gue bujuk adik lo supaya gak pergi ke tempat yang nggak jelas. Sejak itu, dia pindah ke lantai atas dan gue tinggal di bawah.

Sebelum ada gue, dia tinggal sendirian di rumah sebesar itu. Dia juga gak punya banyak teman kayaknya, pasti kesepian banget. Meski nggak dia tunjukkin, gue bisa melihatnya kalau dia menyimpan rapi rasa sepi, sedih dan rasa takutnya dari siapa pun.

Hanya karena pada malam itu, gue lihat foto keluarga di kamarnya. Wajar 'kan gue banyak tanya, karena gue kenal semua orang yang ada dalam foto itu. Seneng banget dong, ketemu keluarga lo setelah sekian lama. Tapi adik lo nangis karena gue tanya Ayah sama Ibu di mana. Gue nggak tau kalau ternyata mereka...." Luthfie tidak melanjutkan ucapannya. Dia hanya menunduk karena matanya telanjur berkaca-kaca.

Zidan menjawab dengan gelengan kepala, sementara dahinya masih berkerut.

"Shasha emang gak pernah nangis sekalipun di hari meninggal Ayah dan Ibu kami. Dia adalah orang yang paling tegar dan bisa menerima keadaan. Karena itulah gue pikir dia akan baik baik saja, karena dia sangat kuat."

"Lo salah!" Bentak Luthfie lagi.

"Iya, gue salah! Gue salah! Puas lo!"

"Meskipun lo tanya, gue yakin kalau adik lo gak bakal ngomong yang sebenarnya, padahal sesungguhnya dia rapuh. Dia butuh bahu buat bersandar supaya bisa menumpahkan tangisnya, tapi lo gak pernah ada buat dia.

Antara senang dan tidak, malam itu gue bikin dia nangis sejadi-jadinya. Paling enggak, gue ada disaat dia melepaskan sedikit beban di pundaknya."

"Nggak papa, luka karena kehilangan hanya waktu yang menyembuhkan. Gue mengalaminya juga waktu itu."

"Tapi bukan cuma itu beban adik lo. Ada prestasi yang gagal dia pertahankan, ada nilai ulangan yang gagal dia perjuangkan. Apalagi kondisi badan yang tak bisa dia paksakan. Frustasi nggak, kalau lo yang ngalamin itu?" Tatapan Luthfie semakin tajam. "Dia butuh support. Makanya, lo usir gue sekuat apa pun, nggak bakal pernah gue pergi selangkah pun dari sisinya. Ingat itu!"

"Oke, gue akan tebus kesalahan gue selama ini. Gue akan urus kepindahannya, karena mulai sekarang gue gak mau jauh dari Shasha jadi dia akan tinggal bareng gue di sini."

"Dia gak bisa pindah ke mana-mana. Shasha harus tetap tinggal sama gue."

"Kenapa enggak? Gue juga bisa urus dia."

"Dia akan menjalani pengobatan dengan dr. Jefry di Bandung. Gue sudah atur semua. Shasha juga akan menjalani ujian dalam beberapa bulan ke depan jadi tidak boleh pindah ke mana-mana."

"Pengobatan? Maksudnya? Shasha sakit apa? Gue kira tadi cuma sakit biasa?"

Luthfie menunjukan hasil Medical Check Up pada Zidan dan dia menceritakan semua tentang penyakit Shasha beserta komplikasi yang sudah dan mungkin akan menyerang tubuh kecil gadis itu. Semua itu membuat Zidan kehilangan kata-kata. Rasa bersalah memenuhi isi kepalanya.

"Fie, gue bisa lakuin apa buat Shasha? Iya, lo bener, gue jahat karena menelantarkannya. Apa gue harus pindah ke Bandung supaya gue selalu ada buat dia, Fie?"

"Lakukan saja apa yang menurut lo baik karena ada ataupun tidak ada lo, gue terlanjur janji pada diri sendiri. Gue yang akan merawatnya. Sembuh atau tidak, gue akan berada di sisinya."

"Lo emang sahabat terbaik gue dari dulu, Fie." ucap Zidan sambil memeluk Luthfie karena terharu.

"Tunggu! Gue lakuin ini bukan buat lo, bukan karena gue temen lo." Luthfie berupaya melepas pelukan Zidan.

"Iya, pasti karena lo seorang dokter lo peduli dan bersimpati. Apa pun alasan lo, thanks, ya, Bro."

"Lo setuju? Sekali gue berada di sisinya, berarti tak boleh ada lelaki lain yang mendampingi adik lo."

Zidan kembali mengerutkan dahi. "Maksud lo?"

"Ya gitu. Gue jadi adik ipar lo berarti. No debat!"

"Meski lo cowok keren paling populer di kampus tapi lo pria dewasa. Ngapain ngejar-ngejar Shasha yang masih ingusan? Kasian adik gue."

"Lo kan tadi nanya, apa yang bisa lo lakuin buat Shasha? Its very very simple, Bro! Lo cuma harus terima aja lamaran gue. Beres!

Lo sendiri bilang bakal bantu sampe lamaran gue diterima. Jangan sampai lo jilat kembali ludah lo, jijik tau."

BERSAMBUNG.

1
albyan
hadir membaca baru nih
albyan: yahh si dia..huum ini😁
total 2 replies
anna
entah lah, sudah kali ke berapa yg ku baca, belum bisa move on dari cerita mu ini Thor 😅
Ryana Ana
assalamualaikum mbu..apa kbr ny... aku mengulang membaca lgi... dan ini sudah kesekian kali ny aku baca..dan tetep aja aku senyam senyum membaca.. " kita mau tunangan apa konser sih sbnr ny?"
ᴹᴮ𝓕𝓐𝓜✿𝔐𝔟𝔲𝔫𝔞: Waalaikumussalam.
Terima kasih sudah baca ulang novel ini. 🙏😘
total 1 replies
Anonimous
👍👍👍
Memyr 67
tidak ada zidan dan junaedi di "terjebak cinta polisi"
Memyr 67
akad nikah langka. mahar setengah gelas air putih
Memyr 67
boomerangnya seperti apa? nggak kebaca?
Memyr 67
kok nggak ada keterangn. alasan tante mira menyewakan rumah sasha. dan kemana uang sewa rumah keponakannya? nggak jelas gini ya?
Memyr 67
memang bodoh itu banana. kenapa nggak dilaporin ke kakaknya, zidan? kelakuan sadis tante mira?
Rosmawati/jnr
Bagus
Indri Ani40
awal cerita kynya seru👌👌👌
Samsuna
maharnya Laen dr yg Laen 😂luar binasa😂🤭
Yani Ladutana
gimana dengan mimin siapa suaminya
Yani Ladutana
langsung lamar aja
Yani Ladutana
janju ciritanya bagus
Yani Ladutana
ceritanya bagus
Yani Ladutana
kerkini bangat
Yani Ladutana
kirkin
Yani Ladutana
tante tidak baik
Yani Ladutana
mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!