Sebuah kecelakaan kapal pesiar terjadi dan membuat 7 orang terdampar di pulau kecil tidak berpenghuni. Mereka dipaksa untuk bertahan hidup sampai bantuan tiba. Ren, salah satu dari 7 orang yang terdampar memimpin mereka dengan pengetahuannya yang luas.
Dia menggunakan keterampilannya untuk bertahan hidup di pulau yang hanya berisikan dia dan 6 orang lainnya. Banyak masalah yang dia temui, namun siapa yang menduga jika dia akan menemukan jodohnya di pulau terpencil?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YatoNime Crack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 — Boneka Mirai
Ren dan Theresia kembali ke perkemahan. Meskipun Zain dan yang lainnya berusaha membangun kembali, namun tidak ada banyak perubahan signifikan.
Lagipula mereka tidak memiliki banyak pengalaman dalam membangun sesuatu. Yah, setidaknya mereka telah membersihkan sesuatu yang telah hancur sehingga tidak perlu bersusah payah bagi Ren membersihkannya.
“Kerusakannya jauh lebih buruk, ya. Aku tidak berpikir Clarissa benar-benar menghancurkannya,” ujar Ren dengan sedih.
“Ya, akan butuh waktu tidak sebentar untuk membuat dari awal lagi. Namun untungnya saja cuaca tidak buruk, masih sama seperti sebelumnya.” Zain meregangkan tubuhnya yang lelah.
Laura dan Mirai tampak lebih lelah, mereka berbaring tanpa memperhatikan etika dan yang lainnya. Jelas bahwa para gadis memiliki kekuatan fisik yang lebih rendah ketimbang pria.
Selain itu, Zain jelas rajin melatih fisiknya sehingga kekuatannya lebih besar. Tidak mengejutkan dia tidak begitu kelelahan bahkan bila mengerjakan pekerjaan berat sekalipun.
Berbanding terbalik, Laura dan Theresia yang jelas tidak ahli di bidang jasmani mendapatkan rasa lelah yang lebih besar. Jika mereka terus memaksakan diri, ada kekhawatiran mereka terkena flu dan penyakit yang disebabkan kelelahan lainnya.
“Theresia, Laura, aku sarankan kalian besok beristirahat saja dari kegiatan yang ada. Akan buruk jika kondisi fisik kalian tidak baik di pulau terpencil ini. Aku juga menyarankanmu beristirahat jika kamu cukup lelah, Mirai.” Ren memberikan saran.
Tidak adanya dokter, obat-obatan dan fasilitas memumpuni untuk merawat mereka jika terserang penyakit. Bahkan penyakit seperti demam sekalipun berbahaya jika terjangkit di pulau ini.
“Aku baik-baik saja Ren, jika aku beristirahat tanpa melakukan apapun besok, tidak adil rasanya kepada kalian yang berjuang keras,” ujar Laura yang menyerukan penolakan.
“Aku sangat mengetahui kondisi tubuhku, Ren. Untuk saat ini aku yakin masih baik-baik saja, bila mana kelelahan berlebih terjadi, aku akan mengambil istirahat.” Mirai tidak menolak ataupun menerima.
Namun setidaknya dia tidak keras kepada dirinya sendiri. Mirai sangat sadar, jika saja dirinya jatuh sakit karena memaksakan diri, hal itu justru berakibat fatal dan menyebabkan kesusahan kepada kelompoknya.
Berbeda halnya dengan Laura, dia merasa tidak enak hati membiarkan yang lain bekerja sementara dirinya beristirahat. Tampak keras kepala, namun alasannya cukup baik dan sudah diduga.
“Sebaiknya kamu mendengarkan nasihat Ren, Laura. Bahkan aku merasa tidak enak hati dengan Ren dan yang lainnya, namun kita akan semakin merepotkan jika terserang penyakit,” Theresia mencoba membujuk Laura.
“Tetapi ...” Laura berniat membalas lebih jauh lagi, namun Zain segera memotong percakapan.
“Laura, aku pikir apa yang dikatakan Ren dan Theresia benar. Tidak perlu memaksakan diri, seperti perkataan Ren tentang hal penting untuk bertahan di pulau ini. Kita harus sebisa mungkin menghindari terserang penyakit, karena akan merepotkan dengan tidak adanya alat medis.”
Makanan, air, menjaga suhu tubuh dan menghindari cedera serta sakit. Ren sejak awal sudah menekankan hal itu kepada mereka. Cidera mungkin jarang terjadi, namun sakit adalah kasus lainnya.
Sangat mudah untuk seseorang terjangkit penyakit. Dimulai dari kelelahan berlebih, terlalu lama terpapar sinar matahari, kekurangan gizi dan hidup tidak sehat adalah contoh kecilnya.
Mungkin Laura meremehkan sakit seperti demam dan kawan-kawan, namun Ren justru khawatir terjangkit penyakit itu. Terutama ketika mereka semua tertular, alhasil perlu bagi mereka untuk beristirahat total.
Namun jika itu terjadi, siapa yang akan mengurus persediaan makanan dan lainnya? Tentunya akan sangat menyulitkan, bukan? Untuk itulah, diam dan memaksakan diri adalah salah satu hal terlarang di hutan ataupun pulau terpencil seperti ini.
“Kamu seharusnya yang paling tahu dengan kondisi tubuhmu, Laura. Jika kamu tidak merasa kuat, aku mohon jangan diam saja dan memaksakan diri. Hal yang kamu anggap kecil bisa saja menjadi besar di pulau ini,” Ren tersenyum masam.
Laura melihat Ren yang terlihat lemah. Dia ingat bahwa Ren mungkin yang paling berusaha keras diantara mereka, tanpa pernah lelah. Dia membimbing Laura dan yang lainnya untuk bertahan hidup, jadi siapa yang sebenarnya memaksakan diri di sini?
“Baiklah, aku mengerti. Untuk besok aku akan beristirahat penuh selama satu hari.” Laura sedikit menundukkan kepalanya.
“Aku juga, seluruh tubuhku terasa sakit belakangan ini. Jadi aku akan beristirahat seperti halnya Laura, kalian tidak keberatan kan?” tanya Theresia.
Ren dan Zain mengangguk setuju, Mirai juga tidak menunjukkan penolakan dan semacamnya. Dia segera menghampiri Theresia dan memeluknya dengan erat.
“Hehe, bagaimana jika aku menjamah— memijat seluruh tubuhmu, Theresia? Namun untuk itu kamu perlu membuka seluruh pakaianmu. Jika kamu mau, aku juga bisa memijat kamu, Laura.” Senyuman Mirai dapat membuat Zain dan Ren salah paham.
Untuk beberapa alasan, Mirai membuat wajah seperti om-om beruang yang mengincar mangsanya!
Ren dan Zain saling memandang dan menggelengkan kepala segera. Akan jauh lebih baik tidak memikirkannya lebih jauh dan hanya menyebabkan sakit kepala tambahan.
“Ti-tidak mau! Setiap kali kamu melakukannya, tanganmu tidak bisa untuk tidak menyentuh tempat sensitif! Terutama buahku!” bentak Theresia yang berusaha melepaskan diri dari pelukan Mirai.
Jelas bahwa Theresia sudah memiliki pengalaman dipijat oleh Mirai, tampaknya bukan pengalaman yang bagus. Fakta bahwa dia menolak dengan sangat menunjukkan bahwa tidak ada hal baik dari menerima bantuan Mirai.
“A-aku bisa memijat tubuhku sendiri! Tidak ada masalah, kamu urus saja Theresia!” Laura menolak dan melempar umpan kepada Theresia.
Theresia terkejut bukan main, dia tidak menduga Laura berbuat demikian. Melemparkan Mirai kepadanya adalah cara bagi Laura menyelamatkan diri sendiri.
“Baiklah, aku akan menjagamu dalam pengawasanku besok, The-re-si-a,” bisik Mirai dengan lembut.
“Ti-tidak mau! Ren, Zain! Tolong bantu aku melepas diri darinya!”
Mendengar permintaan Theresia, Ren dan Zain membuang muka dengan canggung. Lebih dari apapun, mereka sangat tidak ingin terlibat dengan urusan para gadis saat ini.
“Be-benar juga! Ren, mari kita cari kayu bakar untuk menyiapkan makan malam! Aku cukup takut bila harus pergi sendirian!” Zain menarik Ren untuk pergi dari situasi terkini.
“Ka-kamu benar! Berbahaya pergi ke hutan sendirian, kalau begitu ayo pergi bersama! Sisanya kami serahkan kepadamu, Mirai, Laura!” Ren dan Zain segera menghilang dari perkemahan.
Malam itu, teriakan Theresia tidak dapat dihindari dan setelah sekian lama dia kembali menjadi boneka mainan Mirai. Ren dan Zain tidak berpikir untuk kembali dalam waktu dekat.
Bukan karena takut melihat hal buruk, justru mereka tahu bahwa itu surga. Namun sebagai pria, mereka memiliki hewan yang sulit dikendalikan di balik celana. Akan repot jika segelnya terlepas di hadapan Mirai dan yang lainnya.