Hawa Hasnawi gadis penjual kripik singkong, yang dipaksa menikah dengan pemuda sombong, dingin dan angkuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama Kalinya, Hawa Dikasih Duit Papi
Anand dan Hawa sudah pulang sekitar pukul 16:30 sampai dirumah
Hawa berlari menuju kamarnya, untuk membersihkan diri, dan siap siap untuk berangkat kuliah. Begitupun dengan Anand
Anand yang biasanya apa apa disiapkan oleh Wahidah, kini dia membiasakan untuk melakukan dengan sendiri.
Biasanya, pulang ada yang menyambut. Sekarang tidak ada. Untung ada Hawa, yang mau menemani.
Anand mandi hanya sebentar saja. Takut kedinginan. Karena badannya yang sudah semakin rentah.
Anand sudah menggunakan baju koko dan sarung. Kebiasaannya, setelah mandi sore, ia berbalut pakaian muslim.
Kembali kepada aktifitas Hawa
Setelah beberapa menit, Hawa turun dari kamar. Ia melihat Anand sudah duduk dikursi malas sambil nonton berita sendirian
"Papi.. Papi sudah mandi?" Panggil Hawa, dan Hawa jongkok disamping Anand tiduran
Anand menoleh "Sudah, kau lihat papi sudah berganti bajukan" Anand membenahi, agar bisa duduk dengan tegak "Kau akan berangkat kuliah sekarang?"
"Iya pih. Papi, Hawa pamit ya.." Hawa mengambil tangan kanan Anand untuk ia cium "Bye papi" Hawa langsung berlari
"Tunggu"
Hawa berhenti dari larinya "Papi memanggil Hawa" Ucapnya agak bingung
"Iya, kemarilah"
Hawa berbelok
"Kamu berangkat naik apa?" Tanya Anand
"Angkot pih"
"Jurusan?"
"Blok M, lalu naik lagi jurusan Cimone"
"Kelamaan. Paling tidak, sejam setengah baru sampai ke Tangerang kan?"
"Iya pih"
"Sana minta dianterin sama pak Casbari, lalu kau hubungi Fariz, biar kamu pulang dijemput Fariz"
"Pak Casbarinya?"
"Habis nganter kamu, ya pulang"
"Oh iya ya ya. Kalau begitu, Hawa berangkat ya pih" Hawa berlari lagi
"Hei, jangan lari, kemari dulu" Cegah Anand
Hawa berhenti, berbelok menuju dimana Anand berada "Papi, jangan panggil Hawa terus. Nanti Hawa kesiangan" Rajuknya
"Kemalaman" Ucap Anand membenahi perkataan Hawa sambil tersenyum
"Terserah papi"
"Kemarilah. Wajah jangan ditekuk begitu. Papi sumpek melihatnya. Nanti papi nggak jadi ngasih duit kekamu"
"Hah? benarkah. Papi akan ngasih duit untukku?" Hawa sudah sumringah luar biasa
"Hahaha mata duitan juga kamu" Anand mengambil dompet
"Ish papi, jangan membuat Hawa sedih. Tadi pagi Hawa minta duit sama bang Fariz nggak dikasih" Hawa sedikit berkaca kaca
"Ya sudah ambillah" Anand memberi uang lima lembar pecahan seratusan ribu
Hawa menghitung jumlah uangnya "Wahaha lima ratus ribu, banyak sekali pih makasih" Hawa memeluk Anand spontan, karena kelewat senang
"Sudah jangan kenceng kenceng begini. Lepasin papi, papi sesak"
"Ehehe" Hawa mengurai pelukan "Lupa"
"Lupa kenapa?"
"Kalau papi, papinya abang. Jadi, Hawa kurang ajar sama mertua" Ucapnya jujur
"Hem kamu ini. Kalau sudah jadi mertua, ya jadi orang tuamu juga" Anand ikut berjalan keluar, dan mencari dimana pak Casbari berada
"Pak, anterin Hawa nyiduk Ilmu ditangerang sana" Teriak Anand
Casbari sedikit bingung, tapi iyain saja "Baik tuan"
"Sudah sana berangkat. sudah jam 17:00" Usir Anand
Hawa sudah masuk mobil, dan membuka kaca jendelanya "Baiklah, berangkat ya pih"
Anand mengangguk "Oiya, besok lagi ubah jadwalnya. Mending pagi berangkat kuliahnya. Jadi, jam segini, papi ada temannya"
Hawa tersenyum "Iya pih, akan Hawa ubah. dadaa papi, assalamualaikum" Hawa melambaikan tangan
Anandpun sama "Hati hati"
-
Malam hari
Sepulang kuliah, Hawa sengaja tidak menghubungi Fariz. Ia keluar mengabsen mobil yang menjemput, ternyata tidak ada Fariz disana.
Hawa mengutak atik ponsel untuk memesan taxi online. Tiba tiba
"Wa, kau belum pulang?" Hadi Sumarto, sang dosen tiba tiba muncul.
"Eh, pak. Ini mau pulang. Saya sedang menunggu jemputan" Jawab Hawa jujur
"Oh, kok tumben, biasanya pulang sendiri. Kemana motornya?"
"Kebakar"
"Kebakar ?! kebakar dimana?" Hadi terkejut, karena dia tidak mendengar, kabar terkini tentang Hawa
"Sudahlah pak, jangan tanya tanya. Taxiku sudah datang" Hawa berjalan mendekati drivernya
"Hawa Hasnawi" Ucap sang sopir, menunjukkan notifikasi orderan
"Iya pak betul"
Hadi berjalan mendekati Hawa "Hawa, kamu pulangnya kemana?"
Hawa tidak menghiraukan Hadi, karena Hawa sudah masuk kedalam mobil, dan sudah duduk dijok belakang
Hadi yang penasaran, iapun mengikuti kemana taxi yang telah membawa Hawa
Setelah melewati jalan besar dan jalan layang yang sudah masuk dikota Jakarta, Hadi mulai bertanya tanya
"Jauh amat tinggalnya. Katanya tinggalnya dekat didaerah Tangerang. Kenapa dia malah di Jakarta" Hadi bermonolog
Hadi masih tetap sabar mengikuti kemana mobil itu membawa Hawa. Setelah masuk didaerah pemukiman elit, Hadi mulai bertanya tanya lagi
"Apa benar, Hawa tinggal disini. Dia ikut saudaranya tinggal disini atau... Bukan dijadikan istri kesekian kan??"
Taxi yang membawa Hawa berhenti. Dan Hawa keluar dari Taxi
Hadi masih memperhatikan dari jarak lumayan dekat, karena tadi dia sedikit melamun
Interaksi antara satpam dan Hawa, sepertinya sangat akrab
"Berarti ini rumahnya Hawa dong. Tadi bilangnya motor kebakar, gimana sih. Apa Hawa bekerja disini?" Hadi mulai pusing
Hadi sengaja tidak langsung cabut dari lokasi pengintaian.
Tiba tiba ada sebuah mobil mewah yang masuk kedalam pekarangan rumah tersebut. Dan keluarlah seorang pria bertubuh tegap, keluar dari mobil.
Hadi belum tau itu pria tua apa muda,dari belakang, pria itu masih kelihatan muda, masuk kedalam rumah elit itu.
"Siapa dia. Apa dia majikannya Hawa. Apa malah suaminya Hawa. Ah nggak mungkin Hawa mempunyai suami. Apa kakaknya? nggak mungkin juga. Katanya Hawa anak tunggal"
beberapa menit kemudian, lampu lampu banyak yang dimatikan. Tandanya, Hawa menginap dirumah mewah ini bukan?
Hadi akhirnya pulang, dengan kebingungannya
-
Dikamar
Fariz masuk kekamar, tujuan pertama yang ingin ia lihat, adalah Hawa. Tapi nyatanya, Fariz melihat kamarnya, tidak ada orang disana. Dikasur kosong "Kemana dia"
Fariz masuk kekamar mandi, untuk membersihkan diri.
Fariz keluar sudah menggunakan kaos, dan bawahnya menggunakan celana pendek
Setelah beres berpakaian, Fariz baru melihat, kalau Hawa sudah tidur dengan keadaan ngaplang ngaplang disofa.
"Ya Tuhan, sampai segitu nggak mikirin badan"
Fariz mendekati Hawa, lalu menyingkirkan tasnya yang masih nyantol, dan menjulur kelantai.
Fariz melihat wajah Hawa begitu lelah. Mengusap wajah cantiknya yang terlihat kinclong karena keringat.
Fariz mulai meletakkan tangannya dibawah paha, dan dibawah punggung Hawa pas pada ketiak, lalu ia mengangkat Hawa hingga kekasur
Fariz tidak berani membangunkan, tapi dia juga menginginkan
"Dibangunkan kali ya? tapi dia terlihat capek"
Fariz mulai mengganggu dengan sentuhan bibirnya, yang mengendus endus diarea wajah Hawa.
Hawa menggeliat, tangannya menyingkirkan wajah Fariz yang bikin sumpek pernafasannya
Masih belum bangun
"Hawa, bangun dong. Kangen nggak sama abang?" Fariz berbisik tepat ditelinga Hawa
"He em" Hawa tidur lagi
"Eh, ini anak malah pules tidurnya"
Tangan Fariz menjulur masuk kedada Hawa. Hawa langsung menarik tangan Fariz, dan ia buang sembarangan
Glubrak
ZzzzzZzzzzZzzzzzzzz Hawa tambah molor
"Hawaaaaaaaaaa...."
BERSAMBUNG......
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....