Hidup mati setiap Manusia sudah digariskan oleh sang pencipta, meskipun kita tahu kapan kita mati namun kita tidak akan pernah bisa menghindar darinya.
Apakah salah mencintai seseorang yang berbeda dengan kita. Meskipun nyawa taruhannya, semuanya akan ku lakukan demi mendapatkan cintamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
*Ciiittt!!
*Braaakkkk!!
Motor Garra terguling ke samping hingga menabrak bahu jalan.
"Awww!!" seru Tiwi
Garra segera bangun dan menghempaskan sepeda motornya hingga menabrak mobil para penjahat itu.
"Kau tidak apa-apa!" serunya membantu Tiwi berdiri.
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit lecet saja!" seru Tiwi
"Tunggu di sini dan jangan kemana-mana," Garra segera berjalan mendekati anak buah Bram yang sudah berbaris di depannya.
"Dasar brengsek, beraninya kalian mengusikku
sekarang kalian harus membayar apa yang sudah kalian lakukan padaku!" ucapnya menyeringai.
Garra segera menggerakkan tangannya, dan seketika mobil-mobil milik para penjahat itu langsung berterbangan ke angkasa.
Anak buah Bramantyo berlarian menyelamatkan diri ketika Garra mengarahkan mobil-mobil itu kearah mereka.
Semua anak buah Bram tidak ada yang berani mendekati Garra, yang sudah berubah bak seorang mutan yang siap membunuh musuh-musuhnya.
Matanya yang memerah, kuku-kukunya yang tajam membuat mereka beringsut mundur dan melarikan diri.
"Serang dia, jangan lari, atau kalian akan mati ditangan Bos Bram!" seru sekretaris pribadi Bramantyo
"Lebih baik mati secara terhormat melawan musuh kita daripada mati di tangan Bos kita!" imbuhnya
Lelaki itu segera maju dan menyerang Garra.
Dalam satu pukulan saja lelaki itu langsung terhempas membentur tiang lampu jalan.
Garra langsung menebaskan kuku-kukunya yang tajam kearah para penjahat lainnya hingga satu persatu dari mereka berjatuhan.
Tidak lama terdengar suara sirine mobil polisi menuju tempat itu.
"Kita harus segera pergi dari sini Om!" seru Tiwi menghampiri lelaki itu
Garra segera mengarahkan bola matanya kearah kamera CCTV dan menghancurkannya.
Ia kemudian menggandeng lengan Tiwi dan menghilang dari tempat itu ketika polisi tiba.
Tidak lama kemudian keduanya sudah tiba di rumah Garra.
"Sekarang duduk dan diam di sini, aku akan mengobati lukamu," ucap Garra menyuruh gadis itu duduk di sofa dan meninggalkannya.
Tidak lama kemudian ia kembali lagi membawa sebuah kotak P3K.
Lelaki itu membersihkan luka Tiwi dengan menggunakannya alkohol, membuat Tiwi mengernyitkan alisnya menahan perih.
"Kenapa, apa masih perih?" tanya Garra
Tiwi hanya mengangguk pelan, membuat Garra langsung meniup bekas lukanya.
Terima kasih Om, kau adalah orang pertama yang memperlakukan ku engan penuh cinta, kau orang pertama yang begitu peduli dan tulus padaku meskipun diantara kita tidak saling mengenal. Tetaplah menjadi dewa penolongku, dan tetaplah berada di sisiku.
"Bagaimana, apa sekarang masih perih?" tanya Garra
"Ah, sudah mendingan!" jawab gadis itu gugup
"Kalau begitu sekarang kau bisa kan memasak untukku, aku lapar!" seru Garra
"Diih, bukannya kebalik, harusnya Om yang masakin Tiwi, secara tangan Tiwi masih luka jadi mana bisa masak," sahut Tiwi
"Hmmm, kalau begitu tunggu disini," Garra segera menuju ke dapur dan memeriksa bahan makanan di kulkas.
"Memangnya Bi Darsih kemana Om?" tanya Tiwi menghampiri lelaki itu
"Dia izin pulang kampung," sahut Garra
Lelaki itu segera mengambil celemek dan memakainya. Tidak lupa Garra mengambil beberapa sayuran dan memotongnya.
"Fiuh Om seksi banget sih kalau pakai celemek itu kaya chef Junaedi," goda Tiwi
"Hmmm," jawabnya acuh
"Om mau masak apa?" tanya Tiwi
"Entahlah, kamu tunggu saja hasilnya!" sahut Garra
"Sepertinya meragukan, ck, ck, ck!" ucap Tiwi
"Daripada repot-repot masak, Kenapa Om tidak pakai kekuatan Om saja untuk mendatangkan makanan," imbuh Tiwi
"Hmmm, kadang-kadang kau pintar juga. Kenapa aku gak kepikiran sampai ke sana," jawab Garra
"Sudah dari dulu Om," sahut Tiwi
"Hmmm, dasar narsis," celetuk Garra
Lelaki itu kemudian melepaskan celemeknya dan berjalan menuju meja makan.
Tiwi segera mengikuti lelaki itu dan duduk di sampingnya.
"Aku pesen makanan yang enak-enak ya Om," cetus gadis itu
"Ok, kalau begitu kamu tutup mata dan buka setelah ada aba-aba dari ku,"
"Siap Bos!" sahut Tiwi langsung memejamkan matanya
Garra segera menggerakkan tangannya dan tiba-tiba makanan sudah tersaji di depannya.
"Sekarang buka," ucap Garra
Tiwi segera membuka matanya.
Gadis itu terlihat begitu antusias dan penasaran dengan makanan yang akan disajikan oleh Garra.
"Selamat menikmati," ucap Garra
"Astoge!" seru gadis itu terkejut melihat makanan yang tersaji di depannya.
"Om nyomot sesaji dimana?" tanya Tiwi
"Ada deh, jawab Garra tersenyum simpul kearahnya.
"Diih, aku kira Om membawakan makanan dari restoran mahal, tahunya sesaji orang mati. Beginilah nasib kalau punya Om Iblis bukannya dikasih makan steak sapi tapi di kasih makan sesaji, nasib-nasih!" ucap Tiwi kemudian menyantap ayam bakar yang ada di depannya.
"Tapi enak juga Om, lumayanlah buat ganjel perut kosong. Asal jangan kesurupan aja sehabis makan sesaji ini," tambah Tiwi
"Kalau makan jangan sambil bicara," celetuk Garra
"Maaf Om," sahut Tiwi
"Awww!!" seru gadis itu
"Kenapa lagi?" tanya Garra
"Tanganku masih sakit Om kalau buat makan," jawab Tiwi
"Kalau begitu berhenti makan," sahut Garra, ia segera menyendok makanan dan menyuapi gadis itu.
Gadis itu benar-benar terpesona melihat ketulusan Garra.
Ternyata selain tampan kau juga sangat romantis Om, andai saja kau tahu perasaanku padamu, aku begitu mengagumimu dan mencintaimu,
"Terima kasih Om,"
"Kembali kasih," sahut Garra
"Om boleh nanya gak?"
"Hmmm,"
"Apa Om sudah punya pacar atau calon istri?" tanya Tiwi membuat Garra langsung tersedak.
*Uhuukk!
"Biasa aja kali Om, kalau kau sudah punya pacar, gak usah shock begitu," imbuh Tiwi
"Kenapa kau selalu saja berburuk sangka padaku, aku tersedak bukan karena aku sudah punya pacar, tapi aku kaget aja denger pertanyaan itu dari kamu," jawab Garra
"Apa itu berarti Om belum punya pacar, apa Om masih jomblo!" cetus gadis itu
"Memangnya kenapa kalau aku jomblo?" Garra balik
"Kalau gitu aku masih ada kesempatan untuk jadi pacar mu, apa kau mau berkencan dengan ku?" tanya Tiwi membuat Garra gugup
"Kenapa kau mau menjadi pacar ku, apa kau tidak takut denganku?" tanya Garra
"Om benar, aku memang takut kalau berhadapan dengan Om. Aku takut semakin cinta dengan Om," sahut gadis itu terkekeh
"Dasar bocah nakal, beraninya kau menggombal di depan ku!" seru Garra beranjak dari kursinya
"Om mau kemana?" tanya Tiwi
"Aku mau beli sesuatu untuk seseorang," jawab Garra
"Seseorang siapa?, apa pacar Om?" selidik Tiwi
"Bisa di bilang begitu," sahut Garra
"Diih Om bohong, katanya Jomblo kok tahu-tahu bilang begitu, Om PHP!" cibir Tiwi
"Kenapa kau marah, apa kau cemburu?" goda lelaki itu
"Diih siapa yang cemburu, kalau gitu aku juga mau keluar." sahut Tiwi
"Jangan bilang kamu mau bunuh diri karena patah hati," ledek Garra
"Diih siapa juga yang patah hati, gue mau keluar untuk beli kado ulang tahun buat cowok gue!" sahut Tiwi
"Tuh kan, siapa yang PHP coba, tadi aja gombalin gue, sekarang bilang punya pacar, dasar aneh!" Garra segera keluar menaiki motornya.
Sedangkan Tiwi melipir meninggalkannya.
*Ciiit!!!
Garra menghentikan motornya di depan Tiwi.
"Ayo naik!" sahut Garra
"Ogah, aku mending jalan kaki saja, daripada nanti pacar Om salah sangka sama aku," sahut Tiwi
"Tuh kan ngambek, cepat naik atau aku gendong," imbuh Garra
"Jangan maksa, jangan memaksa aku menjadi pelakor Om," sahut Tiwi membuat Garra terkekeh
Garra segera turun dari motornya dan menghampiri Tiwi,
"Tidak ada satupun wanita di dunia ini yang menarik hatiku selain dirimu, jadi jangan pernah menjauhiku," ucap Garra