Vita adalah seorang gadis jenius yang merupakan anak angkat, yang sering
mendapatkan perkataan tidak bersahabat dari ibunya. Pada kelas tiga SMA dia
pindah dari Surabaya ke Jakarta dan bertemu dua laki-laki populer yang
menyukainya. Andra dan Rafka. Andra adalah penerima juara umum selama
bertahun-tahun, dan Rafka adalah siswa tukang bolos yang tak asing bagi Vita.
Kemudian Vita berteman dekat dengan keduanya, terutama dengan Rafka.
Di sekolah, bersama teman-teman barunya ini, Vita akan mengalami
pengalaman terasa begitu
manis. Vita akan bertengkar dengan sepupunya, dibully oleh teman sekelasnya,
tapi tidak ada yang dapat membuat Vita takut atau berhenti berteman dengan
Rafka juga dekat dengan Andra.
Hingga beberapa bulan kemudian Vita bertengkar dengan Rafka
setelah Vita menolak Andra. Namun, pertengkaran itu
tidak bertahan lama, Vita dan Rafka kembali bersahabat. Dan Vita pun pergi ke
London. Meninggalkan Rafka yang khawatir dan Andra yang menanti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Dalam keremangan cahaya kamarnya, Tiara bergelung di tengah tempat tidurnya. Ia sudah ratusan kali memejamkan mata, berharap bisa terlelap, tapi matanya malah tambah segar, pikirannya tambah jelas, namun tubuhnya tetap lelah. Ia ingin demam esok pagi, agar tak perlu repot-repot datang ke kelas bimbingan belajar. Ia kesal sekali pada ibunya yang terus memaksanya untuk ikut les di mana-mana, bahkan saat liburan. Teman-temannya yang lain beristirahat, mendinginkan kepala, tapi ia terus di siram rumus-rumus, di timpa angka-angka, terang sekali dua bulan lagi ia akan masuk klinik kesehatan mental.
Ini semua karena Vita! Seandainya Vita tidak terlalu pintar, ibunya tak akan sibuk menekannya agar terus belajar untuk mengalahkan Vita. Hidupnya jadi tak menyenangkan semua karena Vita. Sepupu tak tahu diri itu sudah membuat kebebasannya terikat dan merebut orang yang disukainya. Sepupu macam apa itu?
Gak nyesel gue kalo gak punya sepupu kayak Vita. Perusak kebahagian.
Tiara menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya, termasuk wajah. Gelap pandangannya sekarang. Segelap pikirannya. Tiara telah buta karena perasaan semu yang dirasakannya. Ia terlalu bodoh untuk memahami betapa kekanakkan sikap dan caranya menyikapi dampak yang ditimbulkan masa remajanya. Ia tak tahu akan menyesal kemudian.
Ponsel di ujung nakas berdering. Tiara menyingkap selimutnya. Dengan malas ia menghela benda tipis itu ke dalam genggaman. Siapa yang menghubunginya di tengah malam begini.
Andra? Tiara mendekatkan ponselnya ke depan matanya yang terbuka lebar. Kenapa laki-laki baik itu menghubunginya selarut ini? Apa yang betul-betul urgent?
“Halo?” suaranya serak menyapa Andra di seberang sana. Berjam-jam tak bicara membuat suaranya jadi seperti ini. “Belum. Kenapa memangnya?”
“Oh,” ucap Tiara. Memang siapa yang senang ada teman yang menghubungi hanya untuk menyampaikan orang yang sedang dimusuhinya sakit. Menjegkelkan sekali mendengar temannya sangat perduli pada Vita. “Dia itu memang hobinya bikin orang susah,” sewot Tiara, saat Andra mengatakan sepertinya Vita cukup sering sakit. Memang. Vita ‘kan waktu masih SD keluar-masuk rumah sakit, yang artinya menyusahkan orang tuanya. Alasannya mulai dari demam berdarah hingga kanker, mulai dari terkilir hingga patah tulang. Malang sekali. Gadis itu adalah satu-satunya orang paling sial yang dikenalnya. “Enggak. Aku gak berantem sama Vita,” jawab Tiara, berdusta.
Tiara muram, tersenyum, tak acuh dan tertawa selama percakapannya dengan Andra berlangsung. Andra menceritakan banyak hal, melontarkan lelucon, dan menggodanya. Mood-nya semakin baik setiap menitnya.
Hingga akhirnya, semua emosi di wajah Tiara sirna sedetik, dan digantikan oleh raut murka. Ia berharap sekali tak mendengar hal yang baru saja ujaran Andra. Perkataan laki-laki itu makin membuatnya membenci Vita. Membenci Vita hingga pada hal-hal yang disukainya dari sepupunya itu.
“Kamu yakin Rafka mau nyatain perasaannya sama Vita?”
***
Sinar matahari mengintip dari balik pepohonan, diam tanpa suara. Hanya kilat kuning hangatnya yang nampak, sedikit demi sedikit jatuh di atas permukaan tanah yang dingin oleh embun. Vita menahan napasnya, ia suka sekali mengamati proses awal hari.
“Cantik, ya,” bisik Vita. Ia berdiri di sisi kanan Rafka, bersama teman-teman Rafka yang menyenangkan.
“Iya,” ujar Rafka.
Vita menoleh.
“Kayak yang di samping.”
“Huuu!!!” riuh rendah teman-teman Rafka menyoraki ucapan laki-laki itu.
“Apaan, sih, Raf,” Vita setengah tertawa.
“Tenda, yuk! Tenda!” teriak Genta. Memimpin teman-temannya untuk mengikutinya kembali ke tenda, meninggalkan Vita dan Rafka berdua. Mereka cukup jauh jaraknya dari murid yang lain, yang juga menonton matahari terbit.
“Geer,” kata Rafka, “Siapa yang bilang, kalo yang aku maksud itu kamu? Orang yang aku maksud di sebelah kiri, kok.”
“Kamu bilang Genta cantik?”
“Iya,” ucap Rafka, meyakinkan Vita.
“Ishh...” Vita mendesis. Ada-ada saja. Mana mungkin Rafka menganggap Genta cantik. Rafka kira ia semudah itu percaya. Yang benar saja. Vita jelas-jelas tahu yang dimaksud Rafka adalah dirinya. Yang ia tak tahu, apakah Rafka serius atau tidak mengatakannya.
“Bye,” Rafka melangkah pergi dengan tertatih-tatih, “Aku mau benerin kesalahpahaman Genta dulu.”
Senyum tinggal di bibir Vita meski Rafka sudah menjauh. Ia lanjut memandangi matahari yang merangkak naik kian tinggi. Pelan namun pasti. Beberapa jam lagi, bola bercahaya raksasa itu akan berada di atas kepala, menjadikan bayangan berubah kerdil.
“Gak sarapan?”
Vita berpaling ke sisi yang ditinggalkan Rafka, kini Andra yang menghuninya.
“Nanti. Kamu sendiri, gak sarapan?”
“Sebentar lagi.”
“Semalam susah tidurnya, ya?” tanya Vita. Ia teringat semalam saat hendak kembali ke tendanya sehabis menguras isi perut, ia melihat Andra duduk di mulut tendanya yang ternganga. Semalam mereka hanya bertukan senyum basa-basi.
Butuh waktu dua detik sampai Andra berkata, “Oh, itu. Iya. Kamu sendiri dari mana semalam?”
“Cuma duduk-duduk di dekat api unggun. Nemenin Rafka. Dia susuh tidur gara-gara kakinya sakit.”
Hening sejenak.
“Semalam aku teleponan sama Tiara, dia.... Kalian berantem, ya?”
Vita mengangguk.
“Vita?” Andra menoleh. Ia tak melihat Vita mengangguk.
“Iya,” jawab Vita dengan sabar.
“Kenapa?”
“Karena Tiara nyuruh aku ngejauhin Rafka,” jawabnya, apa adanya. Ia merasa tak perlu menutupinya. Ia mungkin juga akan mengatakannya pada Rafka. Ia tak tahu apa reaksi teman baiknya itu, semoga Rafka tak merasa bersalah atau harus menjauhinya. Jika Rafka menjauhinya atau melakukan hal semacam itu, dia tak yakin itu sungguh Rafka yang dikenalnya. Ia menduga, Rafka sama praktisnya seperti dirinya.
Vita bisa merasakan tatapan Andra padanya. Andra pasti mengira dia lebih memilih Rafka dari Tiara. Kebanyakan orang pasti berpikir begitu. Bahkan yang membaca cerita ini pun akan berpikir seperti itu. Tapi tak masalah. Sebab Vita tahu apa yang benar. Ia tak memilih Tiara ataupun Rafka, ia melakukan apa yang menurutnya baik.
“Kamu lebih milih Rafka yang baru kamu kenal daripada Tiara?”
Menoleh Vita mendengar pertanyaan Andra. Ada nada tak percaya dalam suara laki-laki itu. Tidak hanya itu, begitu Vita memandang mata Andra, ada ekspresi yang kali pertamanya Vita lihat di mata remaja itu. Cara Andra menatapnya seperti itu, membuatnya tak nyaman.
“Aku gak milih siapa-siapa,” Vita berkedip, “Rafka temenku, jadi aku gak bakal ngejauhin temenku selama di gak bawa pengaruh buruk buatku, atau mengelakui hal yang bakal bikin aku rugi,” ucap Vita, datar. Ia kemudian membuang pandangnya dari Andra. “Aku juga tahu kapan harus ngabulin permintaan orang, Ndra,” tambahnya, dingin.
Selang beberapa lama, Andra bertanya, “Kamu marah, Vit?”
Sekali lagi, Vita beralih pada Andra, ia tersenyum kecil. “Emang aku keliatan marah?”
Andra tak menjawab.
“Aku gak semudah itu marah sama orang, Ndra, tenang aja. Aku bukan tipe yang dikit-dikit marah, kok.”
“Kamu gak ngerasa aku ikut campur urusan kamu sama Tiara?”
Vita menggeleng santai. “Pertanyaan kayak ‘gitu gak aku kategorikan sebagai usaha ikut campur. Lagian, kita temen, ‘kan?” Ia tersenyum lebar. “Kamu juga temennya Tiara. Jadi, kamu punya dua hubungan sama aku, sebagai temenku dan temen dari sepupuku.”
Andra tersenyum.
Mereka saling tersenyum.
Matahari sepenuhnya telah timbul dari persembunyian.
***
Ha! Rafka menjatuhkah bokongnya dengan keras di atas rerumputan yang lembap, bergabung bersama teman-temannya. Kakinya sakit sekali. Berdenyut-denyut. Sial sekali ia bisa jatuh dari atas bus. Atau dirinya yang bodoh? Entahlah. Yang penting ia sudah sampai dan tak harus melangkah dengan satu kaki lagi.
“Cepat juga lo, Raf sampe ke sini,” ujar Arya, yang cengirannya semakin lebar ketika Rafka memerhatikannya dengan pandangan tajam. “Gue kira lo perlu di seret dulu supaya gak nempel mulu sama Vita.” Semua teman-teman Rafka tertawa, terkecuali dirinya. Ini tak lucu.
“Lo, lo pada, kemaren-kemaren waktu gue gak deket sama cewek manapun diejekin mulu, sekarang gue dekat sama Vita masih tetep aja diejekin.”
“Itu karena lo gak kayak biasanya sama cewek lain. Biasanya lo biarin ceweknya ngejar-ngejar lo dulu, terus lo tinggal bilang ‘jadian yuk?’,” Genta yang berada di samping Rafka berucap. “Tapi sekarang lo yang ngejar-ngejar Vita. Pakek lama banget lagi pendekatannya. Bukan gaya lo banget tahu Raf,” ejek Genta.
“Itu karena Vita enggak ngejar-ngejar gue. Gue aja gak tahu ‘gimana perasaannya sama gue.”
“Kalo ‘gitu cari tahu—”
“Tapi gue khawatir di tolak, Genta. Gue belum pernah di tolak.”
“Sebelum keduluan orang lain. Banyak yang ngatri buat jadi pacar Vita.”
“Misalnya?”
Genta menunjuk ke belakang dengan ibu jarinya tanpa menoleh. Teman-temannya beserta Rafka mengikuti tunjukannya. “Dia...”
Betul-betul manusia satu itu. Ia langsung hadir begitu Rafka meninggalkan sisi Vita. Ke depannya nanti, tak akan ia memberi kesempatan Andra untuk mengambil posisinya di sebelah Vita. Ia akan mengikuti gadis itu seperti bayangan—mungkin tidak di tempat tertentu, WC misalnya. Ia saja tak akan mau ada orang yang mengikutinya sampai ke WC, apalagi Vita.
“Terus...”
“Siapa?” tanya Rafka cepat setelah pandangannya kembali ke depan.
“Ya... yang lain.”
Rafka berdecak.
“Semalem gue udah mau bilang kalo gue suka sama dia,” ucap Rafka, yang langsung ditatapi tak percaya.
“Serius lo?” tanya salah seorang teman.
Rafka mengangguk kecil, wajahnya muram. “Tapi sebelum gue sempat ngungkapin perasaan gue, dia mau muntah.”
“Maksud lo?” Kening Genta mengernyit.
Semua memandang Rafka penuh tanya.
“Dia tiba-tiba bilang, ‘aku mau muntah’ terus lari ‘gitu aja.”
Meledaklah tawa keempat teman Rafka. Mereka nyaris berguling-guling. Tak perdulii bagaimana Rafka berteriak mencoba meredakan tawa teman-temannya, tak ada satu pun yang menanggapi.
***
Ramai suara siswa-siswi di belakang Vita yang baru saja mengakhiri sambungan dengan ayahnya. Tangannya masih berada di saku sesudah memasukkan ponsel. Ia melangkah mendekati keramaian yang mengitari api besar. Api unggun yang membumbung tinggi.
Malam ini sangat ramai karena ini adalah malam terakhir perkemahan. Besok pagi, mereka akan kembali ke rumah masing-masing dan melajutkan liburan secara personal besama keluarga yang sudah menanti. Vita sendiri akan menghabiskan liburan di rumah besama benda-benda mati yang sudah dianggapanya teman.
Vita memandang berkeliling, mencari celah yang dapat diisini. Ia melihat Andra melambai padanya, lalu menunjuk celah yang telah ia sisakan untuk Vita.
Dengan langkah ringan Vita menghampiri Andra dan menjatuhkan diri di sampingnya. Dibalasnya senyum Andra yang terlempar untuknya. Ia pikir, Andra terlalu murah senyum padanya. Ia sendiri sepertinya tidak. Tapi semakin lama ia makin menyukai senyuman laki-laki itu. Membuatnya nyaman.
“Seneng enggak di sini?” tanya Andra, mendekatkan wajahnya pada telinga Vita, mengingat betapa ramainya suasana saat ini. Semua bernyanyi dan bersorak tanpa menahan-nahan suara masing-masing. Tahu sendirilah bagaimana jadinya.
Vita mengangguk. “Lumayan,” jawabnya, pandangan berkeliling mencari sosok tampan Rafka.
Dimana Rafka?
Kencang sekali angin berhembus, membuat api tertuip ke sana kemari, memadamkan sendikit kobarannya. Tepat saat itulah Vita menemukan Rafka di seberang sana, seperti biasa, ditemani teman-temannya. Vita yakin Rafka juga menemukannya, tapi ia tak yakin ekspresi macam apa yang ditunjukan laki-laki itu padanya.
Api kembali menutup akses pandangan Vita pada Rafka. Ia menghembuskan napas pelan. Sudah hilang rasanya nyamannya sekarang. Lebih baik ia masuk tenda duluan.
“Ndra,” panggil Vita.
“Mm?” Andra menoleh. Ada senyum samar di wajahnya.
“Aku duluan, ya, ngantuk soalnya.” Ia sudah bersiap untuk beranjak.
“Vita,” cegah Andra menahan lengannya, “nanti aja, sih.”
“Aku ngantuk.”
“Sebentar aja.” Andra menarik tangan Vita, memaksanya untuk kembali duduk. Dan Vita menurutinya.
“Hadap ke sini, deh, Vit,” pinta Andra.
Vita mengikuti instruksi Andra tanpa keinginan menolak sedikit pun. Berbeda sekali jika yang meminta itu Rafka, ia akan punya banyak sekali kata-kata untuk menolak, membantah, dan sebagainya. Jika bersama Rafka, ada perasaan tak mau kalah yang tak terelakkan di dalam dirinya. Seperti perasaan antara...
Whus...
Udara beraroma mint yang sejuk behembus dengan lembut ke wajah Vita. Ia membeku. Jatungnya berdegup kencang. Ia akan terkena serangan jantung sekarang. Otaknya terasa hampa.
Andra meniup wajahnya...
Andra meniup wajahnya!
***
soal rahasia
gak sebuah rahasia cuma selama ini gak ada yang nanya,jadi gak ada yang tau
ternyata Vita anak angkat,pantes Bu Helena ke vita dah kayak ibu tiri
lihat dr profil nya kak Uci banyak cerita gak sampai ending.
padahal bagus banget lho karya2 dari kak Uci ini....pemilihan katanya oke,penataan kosakata-good,sama perbendaharaan katanya tuh banyak,ceritanya tuh jadi kaya karya penulis2 profesional tau gak.berkelas gitu.
wajib dicetak kedalam buku kak....kaya karya2 kak shephinasera bagus2 semua.
sayang ya q baru sekarang nemu karya sebagus ini....telat banget
jangan lupa feedbacknya 😊🙏😊
semangat up Thor 💪💪