Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 : Kepusingan Pak Arga
Sebuah gedung perkantoran megah berdiri di kawasan pusat bisnis kota. Di lantai paling atas, tepat di ruang kerja utama keluarga Agrasa, suasana justru terasa sangat berbeda.
Ruangan itu sunyi.
Pak Arga Agrasa terlihat terduduk lemas di balik meja kerjanya yang besar. Jas yang sejak pagi dikenakannya kini sudah dilepas dan disampirkan di sandaran kursi.
Kedua tangannya menutupi wajah.
Sementara di atas meja berserakan berbagai dokumen keuangan, laporan perusahaan, hingga proposal acara ulang tahun putrinya.
Ia mengusap wajahnya perlahan. “Astaga...” Suara desahan panjang memenuhi ruangan.
Sudah semalaman ia hampir tidak bisa tidur. Isi kepalanya terasa terus menumpuk hanya dengan satu masalah yang belum ada solusinya.
Gedung milik Xavier, adalah gedung yang diinginkan mati-matian oleh putronya untuk pesta ulang tahun.
Pak Arga mengangkat sebuah map berwarna hitam. Di dalamnya terdapat brosur mengenai ballroom mewah yang berada di bagian kawasan timur kota.
Gedung itu memang luar biasa. Bangunannya modern, luas, menghadap langsung ke laut, bahkan memiliki dermaga pribadi untuk kapal pesiar.
Dan tidak heran banyak keluarga konglomerat berlomba-lomba ingin menyewanya.
Namun yang menjadi masalah adalah... gedung itu bukan milik orang sembarangan. Melainkan milik si anak bungsu keluarga Volkov.
Dan kemarin Pak Arga baru saja pulang dari pertemuannya dengan si pemuda itu. Ia masih mengingat jelas setiap kalimat yang diucapkan Xavier.
"Harga lima belas miliar sudah sangat rendah."
Dan satu kalimat lagi yang mampu menghancurkan harga dirinya.
"Saya memiliki saham yang nilainya jauh lebih besar daripada seluruh saham keluarga Agrasa."
Pak Arga mengepalkan tangannya. Kata-kata itu memang terdengar dingin. Tetapi memang tidak ada satu pun kata yang salah. Justru itulah yang paling menyakitkan. Karena semuanya adalah fakta.
Ia menoleh ke arah jendela besar kantornya. Pemandangan kota terlihat begitu indah dari lantai atas.
Namun sama sekali tidak mampu menenangkan pikirannya. Perusahaan Agrasa saat ini memang sedang berada di ujung tanduk.
Beberapa proyek banyak yang gagal. Banyak juga investor yang sudah mulai menarik dana mereka kembali. Arus kas perusahaan semakin memburuk dari bulan ke bulan.
Bahkan untuk membayar operasional perusahaan saja mereka mulai kesulitan. Lalu bagaimana mungkin ia sanggup mengeluarkan uang sebesar belasan miliar hanya demi menyewa sebuah tempat untuk pesta?
Pak Arga menghela napas panjang.
"Bagaimana ini..." ia meremas pelipisnya.
Seandainya saja kemarin Jenny tidak terburu-buru memilih tempat itu. Dan seandainya saja istrinya tidak ikut mendukung. Mungkin masalah ini tidak akan sebesar sekarang.
BRAK!
Tiba-tiba pintu ruang kerja terbuka, dari balik sana terlihat seorang wanita bergaya mewah masuk dengan wajah penuh kesombongan, tidak lain dan tidak bukan ia adalah istri Pak Arga.
Ia terlihat memakai gaun yang glamor, emas yang berada hampir di setiap badannya, serta di tangannya terlihat ia memenggenggam tasnya yang mahal.
“Hai sayang,” katanya sambil berjalan menghampiri suaminya itu.
Pak Arga hanya dapat menghela nafas pasrah, karena ia tahu maksud kedatangan istrinya itu apa.
Wanita itu kemudian berdiri di samping Pak Arga sambil menaruh tasnya di meja kerjanya. Kemudian ia memegang baju sang suami dengan nada yang hampir menggoda.
“Sayang... kamu tahu bukan apa yang ingin aku ucapkan?” katanya sambil tersenyum penuh permintaan.
Pak Arga tidak melirik istrinya sama sekali. “Apa tentang penyewaan ballrom itu?” tanyanya.
Sang istri tersenyum senang. “Benar sekali, jadi bagaimana kabarnya? Kamu pasti sudah menyewanya kan?” tanganya dengan penuh harapan.
Pak Arga kemudian menatap istrinya sekilas. “Aku... aku belum bisa menyewanya.”
Seketika wajah wanita itu berubah. "Maksudmu?" katanya sambil langsung menurunkan tangannya dari bahu suaminya.
Pak Arga kembali menghela napas. "Tuan Xavier tetap tidak mau menurunkan harga, dan itu sangat mahal."
Wanita itu langsung membelalakkan mata. "Lalu bagaimana dengan pesta Jenny?!” katanya.
Pak Arga tetap menjaga emosinya agar tidak meledak di depan sang istri. "Aku masih harus mencari jalan."
"Mencari jalan?" nada suaranya meninggi. "Apa kamu tahu? Aku sudah memberitahu semua teman arisanku Mas!”
Pak Arga terdiam.
"Mereka semua sudah tahu kalau acara pesta ulang tahun Jenny akan diadakan di ballroom milik keluarga Volkov itu!” Wanita itu berjalan mondar-mandir dengan gelisah. "Bahkan mereka sudah memuji-muji kita tahu!”
Pak Arga memejamkan mata. Belum sempat ia menjawab. Sang istri kembali berbicara. "Jenny juga sudah menyebarkan undangan ke seluruh teman-teman dikampusnya! Kalau sampai nanti acaranya batal bagaimana? Mau di taruh di mana wajahku ini, Mas?!”
Pak Arga menggertakkan giginya pelan. "Itulah yang sedang kupikirkan."
Wanita itu kembali berkata dengan nada tinggi. "Kalau begitu kita pinjam saja uang dibank, atau jual beberapa aset kan bisa!”
Pak Arga hanya dapat terdiam sambil berpikir.
"Pokoknya aku mau pesta itu harus tetap diadakan di sana!" katanya.
Pak Arga perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya terlihat lelah. "Kamu pikir semudah itu? Sekarang kondisi perusahaan kita saja hampir bangkrut, Vina.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi. Wanita itu membeku, dan kemudian ia kembali berbicara. "Lalu sekarang bagaimana? Masa kau tidak bisa mencari solusi sih!”
Pak Arga masih terus memijat pelipisnya, kepalanya benar-benar pusing saat ini. Tuntutan dari istri dan anaknya sudah sangat membuatnya hampir gila.
Perlahan Pak Arga kembali berkata. "Keuangan perusahaan saat ini sangat turun drastis, bahkan untuk membayar setengah uang sewa saja aku belum bisa.”
Wanita itu mulai panik. "Tidak mungkin..."
Pak Arga kembali menatap tumpukan laporan keuangan dihadapannya. Ia terus menatap angka keuangan perusahaannya yang hanya mencapai lima ratus enam puluh tujuh juta.
Ibu Vina terlihat terdiam di depan mejanya sambil berpikir sejenak. “Bagaimana... kalau kita secara diam-diam memakai gedung itu?”
Pak Arga langsung terdiam, ia langsung menatap istrinya degan tatapan tajam, “apa kau gila? Kau mau perusahaan kita langsung bangkrut dalam sekejap?”
“Lagipula hanya sebentar, tidak akan jadi masalah juga dong. Tuan Xavier juga mungkin fokus pada urusannya yang lain, mana mungkin ia akan memperhatikan salah satu gedungnya itu,” kata Ibu Vina dengan santai.
Mata Pak Arga menyipit. “Vina dengar ini, walau aku tidak bisa menyewanya, lebih baik pesta Jenny di batalkan daripada akibatnya akan sangat fatal kemana-mana.”
“Lalu apa kau punya rencana? Sedangkan acarannya tinggal besok malam, mana mungkin kita undur, Jenny nanti akan sangat malu dengan teman-temannya, begitupun aku,” kata Ibu Vina dengan kesal.
Pak Arga kembali menghembuskan nafas. “Aku akan pikirkan rencana lain.”
Ibu Vina hanya dapat duduk di sofa sambil terus memasang wajah kesalnya.
Sedangkan pikiran Pak Arga masih memikirkan ide istrinya itu. Kalau saja mereka nekat menggunakan gedung itu tanpa izin ia bahkan tidak berani membayangkan akibatnya.
Keluarga Volkov bukanlah keluarga yang dapat dipermainkan dengan mudah. Apalagi pemiliknya adalah Xavier Volkov. Seseorang yang dikenal selalu bertindak tegas dalam urusan bisnis mana pun.
Dan kalau sampai mereka menggunakan properti itu tanpa sepersetujuan, bukan hanya kehilangan seluruh sahamnya, namun keluarganya juga akan dicap keluarga paling jelek di kota.
Pak Arga memejamkan mata. Ia berharap dalam hatinya bahwa ada keajaiban yang akan terjadi datang kepada keluarganya.