Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Detektif Rasyid dengan tanda tanya?
Detektif Rasyid duduk di depan monitor komputer. Di sampingnya, unit DVR milik toko Pak Jaya sudah terhubung dengan kabel-kabel yang sudah ia siapkan. Ia mulai memutar rekaman video dari beberapa hari sebelum kejadian.
Awalnya, tidak ada yang aneh. Video itu hanya memperlihatkan rutinitas harian di toko "Sumber Makmur". Rasyid melihat Pak Jaya sedang duduk santai di kursinya. Ada juga Aris yang sibuk memindahkan barang-barang berat dan melayani pelanggan layaknya penjual biasa. Beberapa kali, Liora juga muncul di dalam rekaman itu, tampak sedang berbincang dengan Aris di sudut toko.
Setelah mengamati selama beberapa jam, Rasyid melihat momen di mana Aris dan Liora pergi meninggalkan toko. Rasyid kemudian mempercepat durasi video tersebut.
Kamera menangkap sosok Pak Jaya yang berdiri dan berjalan perlahan menuju dapur kecil di bagian belakang toko. Namun, tak lama kemudian, langkah Pak Jaya terlihat goyah. Ia tampak sempoyongan, memegangi dadanya, lalu jatuh tersungkur di lantai.
Rasyid menahan napas saat melihat apa yang terjadi selanjutnya. Sama seperti yang pernah disaksikan Aris dan Liora, dada Pak Jaya tiba-tiba meletup dari dalam. Kejadian itu sangat cepat dan mengerikan hingga Pak Jaya tidak lagi bergerak.
Rasyid mempercepat rekamannya lagi. Beberapa jam kemudian, terlihat pihak kepolisian datang ke lokasi setelah mendapat laporan. Tak lama berselang, muncul Dokter Ferdi. Di dalam rekaman, Ferdi tampak sangat tenang. Ia melihat ke sekeliling ruangan dengan teliti, lalu jongkok untuk memeriksa jenazah Pak Jaya.
Ada gerakan yang terkesan aneh, Ferdi terlihat seperti sedang mengambil sesuatu atau memastikan sesuatu di area luka Pak Jaya sebelum petugas lain mendekat. Rekaman terakhir menunjukkan tubuh Pak Jaya ditutup kain, diletakkan di atas tandu, dan dibawa keluar oleh petugas rumah sakit menuju mobil ambulans.
Rasyid menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya terasa panas karena terus menatap layar, tapi pikirannya sekarang jauh lebih jernih. Rekaman ini membuktikan bahwa kematian Pak Jaya benar-benar tidak wajar, dan Dokter Ferdi sudah tahu hal itu sejak awal. Rasyid kini memiliki bukti kuat bahwa mungkin ada sesuatu yang berhubungan antara dokter Ferdi, Aris dan juga Liora.
...----------------...
Rasyid memutuskan untuk tidak langsung membawa bukti rekaman itu ke hadapan Ferdi. Ia ingin melihat sejauh mana dokter itu akan bertahan dengan alibinya. Ia segera menuju rumah sakit dan menunggu di area parkir sampai melihat Ferdi berjalan menuju mobilnya setelah jam kerja berakhir.
"Dokter Ferdi," sapa Rasyid dengan nada yang datar namun tegas.
Ferdi tersentak kaget, kunci mobilnya hampir saja jatuh. Ia menoleh dan melihat Rasyid berdiri tidak jauh di belakangnya. "Detektif?"
Rasyid berjalan mendekat, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket. "Maaf mengganggu, ada yang sedikit mengganjal Dok, saya merasa ada yang belum beres. Sebagai detektif, saya punya firasat kalau Anda tahu lebih banyak daripada yang Anda ucapkan soal Pak Jaya. Apa yang sebenarnya Anda lihat ketika hari kejadian itu?"
Wajah Ferdi berubah menjadi sangat pucat. Ia mencoba mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. "Saya... saya hanya menjalankan tugas saya, Detektif. Saya memeriksa tanda-tanda vital seperti biasa."
"Tapi mata Anda tidak bisa berbohong, Dok," potong Rasyid cepat. "Waktu Anda di toko itu, Anda melihat sesuatu yang tidak masuk akal, kan?."
Ferdi terdiam cukup lama. Ia melihat ke sekeliling area parkir dengan cemas, seolah takut ada telinga lain yang mendengarkan. Suaranya berubah menjadi sangat pelan, hampir seperti bisikan.
"Pak Detektif, dengarkan saya. Ada hal-hal di dunia medis yang terkadang lebih baik dianggap sebagai kegagalan organ biasa. Saya memang melihat kondisi fisik yang aneh pada tubuh Pak Jaya, sesuatu yang tidak pernah saya pelajari di buku kedokteran mana pun. Tapi saya diperintahkan untuk segera menyelesaikan pemeriksaan sampai jenazahnya ada yang mengambil."
"Perintah dari siapa?" tanya Rasyid tajam.
Ferdi menggelengkan kepala dengan cepat, matanya tampak berkaca-kaca karena ketakutan. "Saya tidak bisa menyebutkan nama mereka. Saya hanya tahu bahwa jika saya bicara lebih banyak, bukan hanya karir saya yang habis, tapi nyawa saya juga tidak akan aman. Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan."
Rasyid menatap mata Ferdi dalam-dalam. Ia bisa merasakan bahwa dokter ini sedang berada di bawah tekanan yang sangat besar. Ferdi mungkin tidak tahu tentang rencana besar Axel atau keberadaan Dr. Stela, tapi ia jelas-jelas adalah saksi yang sedang ketakutan.
"Pergilah, Dok," ujar Rasyid akhirnya sambil memberi jalan. "Tapi ingat, kebenaran tidak akan bisa ditutupi selamanya. Suatu saat, Anda harus bicara di depan hukum, suka atau tidak suka."
Tanpa bicara lagi, Ferdi segera masuk ke mobilnya dan memacu kendaraan itu lalu pergi dengan terburu-buru. Rasyid hanya berdiri diam memperhatikannya. Kini ia yakin, ada orang lain yang akan ia hadapi, ada sebuah kekuatan yang bisa membuat seorang dokter ahli sekalipun tidak berdaya.
...----------------...
Ferdi memacu mobilnya dengan tangan yang gemetar hebat di atas kemudi. Jantungnya berdegup kencang, setiap bayangan lampu jalan yang menerpa kaca mobilnya terasa seperti kilatan mata yang sedang mengawasinya. Ia menepi sejenak di jalan yang gelap untuk menenangkan diri, lalu membuka tas kerjanya dengan terburu-buru.
Di dalam tas itu, tersembunyi sebuah wadah kecil berisi sampel yang dulu dibawa oleh Aris, lengkap dengan lembaran hasil laboratorium yang ia cetak sendiri secara rahasia. Hasilnya sangat mengerikan. Sampel itu mengandung zat asing yang mampu memicu kegagalan jantung instan, namun yang lebih aneh, terdapat senyawa kimia aktif yang bisa memicu tekanan gas tinggi hingga menyebabkan ledakan jaringan disertai keluarnya cairan hitam pekat.
"Harus aku apakan benda ini?" bisiknya kalut. Ia bingung apakah harus menyerahkannya kepada pihak yang selama ini menekannya, atau menyimpannya sebagai senjata terakhir.
Tanpa pikir panjang, Ferdi kembali tancap gas menuju rumahnya. Sesampainya di sana, ia tidak menyimpan sampel itu di dalam brankas atau laci berkunci. Ia justru menyelipkannya di antara tumpukan koran bekas yang berdebu di pojok ruang tamu. Pikirannya sederhana: jika ada orang yang menggeledah rumahnya, mereka pasti akan mencari di tempat-tempat yang aman dan rapi, bukan di tumpukan sampah kertas.
Dengan napas tersengal, Ferdi mengeluarkan ponselnya. Akhirnya ia menghubungi markas kepolisian dan menggunakan identitasnya sebagai dokter forensik untuk bisa terhubung langsung dengan Detektif Rasyid.
"Halo... Detektif Rasyid? Ini Ferdi. Saya harus bicara..."
Baru sepatah kata terucap, suara ketukan keras terdengar dari pintu depannya. Ferdi tersentak. "Tunggu sebentar, Detektif. Nanti saya hubungi lagi," bisiknya. Ia mematikan panggilan dan meletakkan ponsel nya di atas meja, lalu berjalan menuju pintu.
Begitu pintu dibuka, dua pria berbadan tegap langsung merangsek masuk dan mendorong Ferdi hingga ia jatuh terduduk di kursi ruang tamu. Ferdi ternganga saat melihat sosok yang berjalan tenang masuk ke rumahnya. Itu adalah Walikota bernama Yunus.
"Dokter Ferdi," sapa Walikota Yunus dengan suara rendah yang berwibawa namun dingin. "Sampel yang saya minta... sudah ada?"
Ferdi menggeleng dengan wajah pucat pasi. "Be-belum, Pak Walikota. Pemeriksaannya belum selesai."
Yunus menatap Ferdi dengan tajam, lalu matanya beralih ke ponsel yang tergeletak di meja. "Jangan banyak bicara kalau masih ingin hidup, Ferdi," gertaknya. Ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menggeledah rumah itu.
Selama beberapa menit, suasana menjadi kacau. Lemari dibongkar, laci dibalikkan, namun mereka tidak menemukan apa-apa. Ferdi terus berkilah bahwa tes laboratorium itu butuh waktu lama karena zatnya sangat kompleks.
Walikota Yunus tersenyum tipis, lalu ia mengambil ponsel Ferdi. Matanya menyipit saat melihat daftar panggilan terakhir. "Pihak kepolisian?" gumamnya, lalu suaranya naik menjadi bentakan. "Kau menelepon siapa?!"
Satu pukulan keras mendarat di wajah Ferdi, disusul pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Siapa yang kau hubungi?!"
"Apa yang kau katakan pada mereka, hah?!" "Kau mau mati? Dasar sialan!"
Setiap pertanyaan dibarengi dengan hantaman fisik yang membuat Ferdi tersungkur lemas di lantai dengan sudut bibir berdarah. Walikota Yunus berdiri sambil mengatur napasnya yang memburu karena emosi. Ia menatap Ferdi yang sudah tidak berdaya.
"Bawa dia," perintah Yunus kepada dua pengawalnya.
"Jangan... tolong, jangan bawa saya!" rintih Ferdi saat kedua pria tegap itu menyeretnya keluar menuju mobil hitam yang sudah menunggu di depan rumah. Pintu mobil tertutup rapat, meninggalkan rumah yang berantakan.
...****************...