Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Pualam dan Permaisuri Kaca
Pagi itu, udara di lantai dua puluh lima Gedung Dirgantara terasa begitu pejal, seolah-olah sistem pendingin udara sentral telah berhenti menyirkulasikan oksigen dan menggantinya dengan partikel-partikel kecemasan yang membeku. Kanaya Larasati berdiri di depan meja kerjanya, menatap lurus ke arah layar monitor yang masih gelap. Di telinganya, suara bising Jakarta yang merembat melalui kaca jendela kedap suara terdengar seperti dengung lebah yang terperangkap.
Berita tentang pertunangan Arjuna Dirgantara dan Aline Wijaya bukan lagi sekadar desas-desus yang berputar di ruang pantry. Berita itu telah menjadi tajuk utama di setiap portal berita bisnis nasional pagi ini. Foto mereka berdua—Juna dengan setelan jas hitamnya yang sempurna dan Aline dengan gaun desainer yang memancarkan aura kemewahan turun-temurun—terpampang di layar ponsel setiap karyawan. Mereka disebut sebagai 'Power Couple' dekade ini, sebuah merger darah biru yang akan mengukuhkan dominasi Dirgantara Group di sektor properti Asia Tenggara.
'Lihatlah dirimu, Kanaya. Kau pikir pualam yang kau rancang itu bisa menjadi jembatan menuju dunianya?' batin Naya, bibirnya mengulas senyum pahit yang sarat akan cemoohan pada diri sendiri. 'Kau hanya seorang desainer yang ia gunakan untuk membangun monumen kesombongannya. Dan sekarang, permaisuri yang sebenarnya telah datang untuk mengklaim singgasananya. Sadarlah, kau tidak pernah punya tempat di dalam narasi hidup pria itu.'
Naya menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa menyiksa di dadanya yang sesak. Ia merapikan kerah blazer merah marunnya, memastikan zirah profesionalnya tidak memiliki celah. Ia menyalakan monitornya, membiarkan cahaya biru layar menyinari wajahnya yang pucat. Ia harus menjadi pualam hari ini—dingin, keras, dan tidak bisa ditembus oleh rasa sakit.
Tepat pukul sepuluh pagi, lift eksekutif berdenting nyaring. Namun kali ini, presensi yang keluar dari kotak logam itu tidak sendirian. Arjuna Dirgantara melangkah keluar dengan langkah panjangnya yang biasa, namun di sampingnya, seorang wanita dengan keanggunan yang melumpuhkan berjalan dengan lengan yang tertaut di siku Juna.
Aline Wijaya.
Wanita itu mengenakan setelan tweed berwarna putih gading yang tampak sangat kontras dengan setelan hitam kelam milik Juna. Rambutnya yang panjang ditata dengan wave sempurna yang memancarkan kilau sehat. Wajahnya adalah definisi dari kecantikan yang dirawat dengan biaya miliaran rupiah; halus, tanpa cela, dan memancarkan kepercayaan diri seorang wanita yang tidak pernah mengenal kata 'tidak' sepanjang hidupnya.
Seluruh lantai divisi desain mendadak hening. Para staf berdiri dengan gerakan mekanis, menundukkan kepala sebagai tanda hormat yang berlebihan. Naya tetap duduk di kursinya, jemarinya terkunci di atas keyboard, matanya menatap tajam ke arah fail AutoCAD di depannya meskipun pikirannya sedang meledak.
"Selamat pagi semuanya," suara Aline terdengar begitu lembut, seperti denting kristal mahal yang beradu. Ia tersenyum ke arah staf, sebuah senyum yang ramah namun tetap menjaga jarak kasta yang sangat jelas. "Arjuna bilang tim desain di sini adalah yang terbaik di industri. Saya sangat senang bisa bertemu langsung dengan orang-orang di balik kemegahan Grand Azure."
Juna tidak bersuara. Ia berdiri kaku di samping Aline, matanya yang tersembunyi di balik tatapan stoik menyapu ruangan hingga akhirnya berhenti tepat pada punggung Naya.
Naya bisa merasakan panasnya tatapan Juna merambat di tengkuknya. Ia tahu Juna sedang memperhatikannya. Ia tahu Juna sedang menunggu reaksinya. Namun Naya menolak untuk memberikan kepuasan itu. Ia tetap membelakangi mereka, berpura-pura sangat sibuk menghitung koefisien bias cahaya pada pilar kelima.
"Arjuna, siapa desainer yang duduk di pojok itu?" tanya Aline, suaranya mengandung nada ingin tahu yang ringan. Ia menunjuk ke arah kubikel Naya dengan gerakan jari yang sangat halus. "Sepertinya dia sangat fokus. Bahkan tidak menyadari kedatangan kita."
Juna menelan ludah yang terasa sepahit empedu. 'Jangan panggil dia, Aline. Biarkan dia tetap di dunianya yang aman,' bisik Juna di dalam batinnya yang hancur. Namun, tuntutan peran sebagai tunangan yang patuh memaksanya untuk bicara.
"Itu Kanaya Larasati. Senior Designer pengawas untuk interior utama," ucap Juna, suaranya terdengar kering dan kaku, seolah-olah ia sedang menyebutkan spesifikasi material beton.
Aline melepaskan tautan lengannya dari Juna dan melangkah menghampiri meja Naya. Suara ketukan sepatu hak tinggi Louboutin-nya di atas lantai karpet terdengar seperti hitungan mundur bom waktu bagi Naya.
Naya akhirnya memutar kursinya perlahan. Ia berdiri, menegakkan punggungnya, dan menatap Aline tepat di matanya. Di sana, di antara desainer lulusan lokal dan permaisuri konglomerat, sebuah medan perang baru tercipta tanpa suara.
"Selamat pagi, Nona Aline," sapa Naya dengan suara yang luar biasa stabil. Tidak ada getaran ketakutan. Tidak ada nada cemburu. Hanya profesionalisme murni yang telah ia asah menjadi pedang.
Aline tertegun sejenak. Ia melihat keberanian yang jarang ia temukan pada staf rendahan di perusahaan ayahnya. Ia memindai penampilan Naya—blazer merah marun yang tegas, mata cokelat yang tajam, dan aura yang entah bagaimana... terasa sangat familiar di dekat Juna.
"Jadi ini Nona Kanaya," Aline tersenyum manis, namun matanya yang jeli mulai melakukan penilaian. "Arjuna banyak bercerita tentang kejeniusanmu dalam memanipulasi cahaya. Kudengar kau yang merancang efek 'Breathing Stone' di pilar lobi. Ide yang sangat... berisiko, namun berani."
"Risiko adalah bagian dari inovasi, Nona. Tanpanya, Grand Azure hanya akan menjadi tumpukan marmer mahal tanpa jiwa," balas Naya dengan nada yang sarat akan makna ganda.
Aline mengangkat alisnya. Ia melirik Juna yang masih berdiri mematung di kejauhan, lalu kembali pada Naya. "Jiwa? Menarik sekali. Jarang sekali ada arsitek di Jakarta yang masih bicara soal jiwa di tengah tuntutan profit. Tapi tentu saja, sebuah bangunan membutuhkan perhiasan yang cantik agar orang-orang mau melihatnya. Dan kau... kau adalah perhiasan yang sangat berbakat bagi perusahaan ini."
'Perhiasan? Dia baru saja mereduksiku menjadi aksesori,' batin Naya, kemarahan yang panas mulai mendidih di balik kulitnya yang dingin. 'Dia melakukan hal yang sama seperti yang Juna lakukan saat menyebutku koleksi. Mereka memang terbuat dari bahan yang sama—arogansi dan uang.'
"Saya lebih suka menganggap diri saya sebagai struktur penyangga, Nona. Perhiasan bisa dilepas kapan saja, tapi jika struktur penyangga ditarik, seluruh gedung akan runtuh," sahut Naya, suaranya kini merendah menjadi bisikan yang mematikan.
Ketegangan di antara mereka begitu nyata hingga Riko, yang berdiri di belakang Juna, secara refleks menahan napas. Juna melangkah maju, memangkas jarak, dan berdiri di antara kedua wanita itu. Kehadirannya yang dominan seketika menghentikan adu argumen yang terselubung tersebut.
"Aline, kita sudah terlambat untuk rapat koordinasi dengan Dewan Direksi," ucap Juna datar. Ia sama sekali tidak menatap Naya. Ia merangkul pinggang Aline dengan gerakan yang sengaja dibuat posesif di depan umum, sebuah tindakan yang membuat jantung Naya terasa seperti diremas oleh tangan besi.
"Tentu, Sayang," Aline menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Juna, sebuah klaim kepemilikan yang absolut. Ia menatap Naya sekali lagi dengan senyum kemenangannya. "Senang bertemu denganmu, Nona Kanaya. Saya harap kerja kerasmu tidak terganggu oleh... berita bahagia kami."
Aline dan Juna berjalan menjauh menuju lift eksekutif. Begitu pintu lift tertutup, seluruh lantai divisi desain mendadak riuh dengan bisikan yang lebih keras dari sebelumnya.
Naya jatuh terduduk di kursinya. Tangannya gemetar hebat di bawah meja. Ia merasa baru saja ditelanjangi di depan publik, bukan fisiknya, melainkan harga dirinya. Setiap pasang mata di lantai itu kini menatapnya dengan rasa kasihan yang menjijikkan—rasa kasihan untuk seorang gadis yang mungkin sempat bermimpi tinggi namun baru saja dijatuhkan ke tanah oleh realitas.
'Cukup, Kanaya. Berhenti merasa terluka,' ia memarahi dirinya sendiri, meskipun air mata amarah mulai menggenang di pelupuk matanya. 'Kau sudah tahu ini akan terjadi. Pualam tidak punya perasaan. Pualam hanya bisa diam saat dipahat. Maka diamlah. Dan selesaikan desainmu.'
Di dalam lift yang meluncur naik ke lantai tiga puluh, Juna melepaskan rangkulannya dari pinggang Aline seolah-olah tangannya baru saja menyentuh bara api. Ia melangkah ke sudut lift, menjauh dari tunangannya.
"Arjuna? Ada apa?" tanya Aline, wajahnya yang tadi ceria kini berubah menjadi sedikit bingung dan tersinggung.
"Jangan pernah melakukan itu lagi," desis Juna, suaranya terdengar seperti gemeretak es yang pecah.
"Melakukan apa? Menyapa stafmu? Aku hanya mencoba bersikap ramah—"
"Kau tidak sedang menyapa. Kau sedang mengintimidasi," potong Juna tajam. Ia menatap Aline dengan mata elangnya yang mematikan. "Kanaya Larasati adalah aset intelektual paling berharga di proyek ini. Dia bukan perhiasan, dan dia bukan bawahan yang bisa kau remehkan hanya untuk memamerkan posisimu sebagai tunanganku. Jika kau merusak kondisi mentalnya, kau sedang merusak investasiku. Paham?"
Aline terbelalak. Ia tidak menyangka Juna akan membela seorang desainer junior dengan kemarahan yang begitu murni. "Kau membentakku hanya karena gadis itu? Arjuna, kita akan menikah! Ayahmu dan Ayahku sudah—"
"Kita akan menikah karena kontrak bisnis, Aline. Jangan mencampuradukkan profesionalisme dengan sentimen pribadi," Juna memalingkan wajahnya ke arah pintu lift yang terbuka. "Masuklah ke ruang rapat. Aku butuh waktu sepuluh menit untuk menenangkan diri."
Juna berjalan keluar menuju balkon pribadinya di lantai tiga puluh, mengabaikan Aline yang berdiri terpaku di dalam lift dengan wajah yang memerah karena marah.
Di balkon, Juna menyandarkan lengannya ke pagar besi, menatap Jakarta yang tampak seperti labirin tanpa akhir di bawahnya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga urat-uratnya menonjol. Ia merasa seperti seorang pengecut yang paling hina di dunia. Ia baru saja menggunakan Aline untuk menyakiti Naya, namun ia juga baru saja menggunakan otoritasnya untuk melindungi Naya dari Aline.
'Aku adalah monster yang diciptakan Ayah, Kanaya,' batin Juna, air mata yang tidak pernah ia izinkan jatuh kini terasa menyumbat tenggorokannya. 'Aku mengurungmu di gedung ini, aku membiarkanmu melihatku bersama wanita lain, hanya agar Ayah tidak melihat betapa aku sangat membutuhkanmu. Aku menjadikanmu musuhku di depan dunia, agar aku bisa tetap menjagamu tetap hidup di dalam hatiku.'
Juna merogoh saku jasnya, mengambil sebuah flashdisk kecil berwarna perak. Di dalamnya terdapat salinan data cadangan yang ia pulihkan secara ilegal dari server Siska semalam. Ia memutar-mutar benda kecil itu di jemarinya.
'Siska sudah pergi, tapi Aline... dia jauh lebih berbahaya. Dia adalah perpanjangan tangan Ayah yang paling cantik sekaligus paling mematikan. Kanaya, kumohon, tetaplah menjadi pualam yang dingin. Jangan hancur. Karena jika kau hancur, aku tidak akan punya alasan lagi untuk berpura-pura menjadi manusia.'
Sore harinya, Naya diminta untuk melakukan presentasi detail pilar keenam di gudang teknis Jakarta Utara. Ini adalah tugas yang Juna berikan agar Naya memiliki alasan untuk menjauh dari hiruk-pikuk berita pertunangan di kantor pusat.
Gudang teknis yang luas itu sunyi, hanya terdengar suara dengung lampu neon yang redup. Naya berdiri di depan prototipe pilar yang kini sudah dilapisi pualam tipis. Ia sedang memeriksa kelancaran arus listrik pada sistem LED yang tertanam di balik batu.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah terdengar dari luar. Naya menegang. 'Apakah Juna datang bersama Aline lagi?'
Pintu gudang terbuka. Namun yang masuk bukanlah Juna. Melainkan Bastian.
Pria itu berjalan mendekat dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran. "Naya? Kau ada di sini?"
Naya menghela napas lega, namun ia tidak tersenyum. "Kak Bastian. Ada masalah dengan fabrikasi baja pilar ketujuh?"
Bastian menggeleng. Ia berhenti di depan Naya, matanya memindai wajah gadis itu yang tampak sangat lelah. "Aku sudah dengar beritanya, Naya. Seluruh site sedang membicarakan pertunangan Pak Arjuna. Aku... aku tidak menyangka dia akan melakukannya secepat ini."
Naya memalingkan wajahnya ke arah pilar pualam. "Itu bukan urusan kita, Kak. Pak Arjuna bebas menentukan masa depannya. Kita di sini hanya untuk menyelesaikan tugas kita."
"Jangan berbohong padaku, Naya," Bastian melangkah maju, meraih bahu Naya dan memutar tubuh gadis itu agar menatapnya. "Aku melihat caramu menatapnya di Bali. Aku melihat bagaimana kau gemetar saat dia ada di dekatmu. Dan aku melihat bagaimana dia menatapku dengan kebencian hanya karena aku dekat denganmu. Kalian punya sesuatu, bukan?"
Naya melepaskan tangan Bastian dengan kasar. "Kami tidak punya apa-apa, Kak! Dia atasan saya, dan saya adalah karyawannya! Kejadian di Bali itu hanya kesalahan teknis! Hanya anomali!"
"Anomali tidak akan membuatmu menangis sendirian di gudang yang kotor ini, Naya!" bentak Bastian, suaranya menggema di seluruh hanggar. "Dia sedang menghancurkanmu! Dia menarikmu ke dunianya yang gelap, membiarkanmu melihat sedikit cahayanya, lalu dia melemparmu kembali ke kegelapan sambil memamerkan tunangannya! Pria itu adalah racun!"
"Hentikan, Kak!" teriak Naya, air matanya akhirnya jatuh. "Hentikan! Aku tidak butuh ceramahmu! Aku hanya butuh menyelesaikan pilar ini dan pergi dari sini!"
Bastian menarik Naya ke dalam pelukannya. Naya mencoba memberontak, namun rasa lelah dan hancurnya harga diri membuatnya menyerah. Ia menangis sesenggukan di dada Bastian, meluapkan seluruh rasa sakit yang ia tahan sejak pagi tadi.
Di luar gudang, di dalam mobil Maybach-nya yang tersembunyi di balik bayangan truk logistik, Arjuna Dirgantara menyaksikan adegan itu melalui monitor tablet yang tersambung ke kamera keamanan gudang teknis.
Juna mencengkeram kemudi mobilnya hingga plastik pembungkus kemudi itu berderit. Matanya berkilat penuh amarah yang bercampur dengan keputusasaan yang paling dalam. Ia melihat Naya menangis di pelukan Bastian. Ia melihat kehangatan yang Bastian berikan—kehangatan yang sangat ingin Juna berikan namun ia terlalu takut untuk melakukannya.
'Pergilah padanya, Kanaya,' bisik Juna di dalam kabin mobil yang gelap, suaranya hancur dan parau. 'Pergilah pada pria yang bisa memberikanmu pelukan tanpa rasa takut. Pergilah pada masa depan yang tidak akan membuatmu menangis setiap hari. Karena aku... aku hanyalah nisan pualam yang akan mengubur siapa pun yang berani mencintaiku.'
Juna menyalakan mesin mobilnya dan melesat pergi meninggalkan gudang teknis. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan gila menembus jalanan Jakarta yang mulai diguyur hujan, seolah-olah ia sedang mencoba melarikan diri dari bayangannya sendiri.
Malam itu, di kediaman ayahnya, Arjuna Dirgantara menandatangani dokumen kesepakatan pra-nikah dengan Aline Wijaya tanpa membaca satu kata pun. Baginya, hidupnya telah berakhir di depan gudang teknis sore tadi. Yang tersisa hanyalah sebuah mesin korporat yang akan membangun hotel termegah di Asia Tenggara di atas puing-puing hatinya sendiri.
Fase Penyangkalan telah mencapai puncaknya. Dinding es Juna kini bukan lagi sekadar pelindung; ia telah menjadi peti mati bagi perasaannya. Dan bagi Kanaya, pualam yang ia rancang dengan begitu indah kini terasa seperti beban beton yang akan menyeretnya ke dasar laut terdalam.
[KILAS BALIK SINEMATIK]
Kamera bergerak pelan menyusuri sebuah taman labirin yang terbuat dari tanaman pagar yang tinggi di sebuah kastel tua di Prancis. Suara tawa seorang wanita dan anak kecil terdengar samar di balik rimbunnya dedaunan.
Enam belas tahun yang lalu.
Arjuna yang baru berusia dua belas tahun sedang bermain petak umpet bersama ibunya, Maria, saat mereka sedang berlibur musim panas. Juna berhasil menemukan ibunya yang sedang bersembunyi di tengah labirin.
"Ketemu!" seru Juna kecil dengan riang.
Ibunya memeluk Juna, mencium keningnya dengan penuh kasih sayang. "Juna pintar sekali. Tidak ada tempat di dunia ini yang bisa menyembunyikan Ibu dari mata Juna."
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat ayahnya, Sang Chairman, terdengar dari kejauhan. Ibunya seketika melepaskan pelukannya, wajahnya yang tadi ceria berubah menjadi kaku dan pucat. Ia merapikan pakaiannya dan menyuruh Juna berdiri tegak.
"Jangan pernah terlihat tertawa terlalu keras di tempat terbuka, Arjuna," bisik ibunya dengan suara yang bergetar ketakutan. "Ayahmu membenci emosi yang tidak terkontrol. Jika kau ingin Ibu tetap berada di sini bersamamu, berpura-puralah tidak bahagia. Berpura-puralah kau tidak butuh pelukanku."
Ayahnya muncul di ujung lorong labirin, menatap mereka dengan tatapan yang sangat dingin. "Liburan sudah selesai, Maria. Arjuna harus kembali ke asrama untuk memulai kelas kalkulus lanjutannya. Jangan buang-buang waktunya dengan permainan kekanak-kanakan."
Juna kecil menatap ibunya yang hanya bisa menunduk pasrah. Di detik itu, Juna menyadari bahwa di dunianya, kebahagiaan adalah sesuatu yang harus disembunyikan agar tidak dimusnahkan. Sebuah pelajaran tentang 'kebahagiaan yang tersembunyi' yang kini ia terapkan kembali dengan cara yang paling menyakitkan pada Kanaya Larasati.
Kamera melakukan close-up ekstrim pada wajah Juna kecil yang mulai kehilangan binar matanya, tatapan yang sama yang kini ia gunakan saat ia menatap cincin pertunangannya dengan Aline, menyadari bahwa ia telah menjadi arsitek dari labirin penderitaannya sendiri.