Jangan lupa follow Ig noer_azzura16 for visualnya ya.
Diandra menjadi sugar baby seorang pria dingin selama tiga tahun lebih ketika dia berada di luar negeri. Selain nama dan nomor ponselnya, Diandra sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.
Namun, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya kembali, setelah mengasingkannya selama 7 tahun, ketika adik tirinya akan bertunangan.
Diandra yang memang punya dendam pada ayahnya dan keluarga baru ayahnya itu. Memutuskan kembali, ada dendam yang harus dia tuntaskan.
Namun, siapa sangka. Jika tunangan sang adik tiri, ternyata adalah seseorang yang mengenal Diandra luar dan dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26- MCI 26
Raez mencengkeram kuat tangan Diandra yang bermain di dadanya.
"Mandi dulu!"
"Eh, siapa yang mau..."
Raez mengangkat tubuh Diandra, lagi-lagi pria itu memanggulnya seperti karung beras. Dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku tidak mau mandi, aku mau pulang!" pekik Diandra berusaha memberontak, dan mendorong Raez sekuat tenaganya.
Raez mencengkeram kedua pergelangan tangan Diandra lalu menguncinya dengan satu tangan di atas kepala. Pria itu juga mencengkeram rahang Diandra agar mendengarkannya.
"Diandra, kamu akan pulang setelah aku bertunangan! paham!"
"Tidak paham! aku tidak mau, aku mau pulang sekarang! persetann dengan pertunanganmu. Lepaskan aku brengsekk!"
Diandra emosi, pria itu benar-benar seenaknya padanya.
"Ada apa denganmu? aku sudah katakan padamu, aku akan berikan apapun..."
"Yang ingin kamu nikahi itu adalah wanita berhati busukk!" sela Diandra.
Matanya sudah berkaca-kaca.
"Dia dan ibunya telah mengambil segalanya dariku. Aku benci mereka. Aku pulang untuk membuat perhitungan dengan mereka. Mereka yang sudah membuat ibuku, nenekku dah kakekku meninggal. Mereka membuat ayahku membuang ku. Mereka yang membuatku nyaris diperkosaa malam itu, ketika aku pertama kali bertemu denganmu. Jika kamu menikahi Genelia, kamu juga musuhku Raez!" pekik Diandra.
Wajahnya sudah merah padam, mataya bahkan sudah basah. Air mata itu mengalir seiring dengan luapan dendam dan kebenciannya pada Genelia dan Kamila.
Raez mendengar semua itu. Dia juga melihatnya. Tapi, dia tetap diam.
"Mandilah, lalu tidur. Aku akan pergi!"
Pria itu melepaskan tangan Diandra, setelah itu meninggalkannya begitu saja di kamar mandi.
Diandra terduduk lemas, bersandar di dinding kamar mandi yang dingin. Air matanya tumpah, dia kembali menangis. Bukan karena dia merasa lemah, dia merasa sangat marah.
"Agkkhhhh!" pekik Diandra.
Raez yang berada di luar pintu kamar mandi mendengar semua itu. Bahunya naik perlahan, tapi tak lama turun lagi perlahan.
'Diandra!' lirihnya.
**
Sementara itu di rumahnya, Dominic masih berusaha mencari jejak Diandra.
"2 jam dari kota, daerah pegunungan!" kata Dominic.
"Pasti si galak itu!" gerutu Celine.
"Kita kesana sekarang?" tanya Haikal.
"Pasti ada penjaga disana, berbahaya kalau tanpa persiapan. Kita pasang dulu GPS di ponsel kita, supaya terhubung. Aku punya jepit rambut, ini kamu bisa pakai, ujungnya ada tanda merah, tekan kalau dalam bahaya. Sinyalnya akan mengirim lokasimu padaku!" kata Dominic.
"Kalau begitu semua sudah siap kan? ayo selamatkan Diandra sekarang!" ajak Celine.
Dominic mengangguk.
"Masing-masing pegang ini. Ini alat kejut, aman hanya buat pingsan saja beberapa menit!"
Ketiganya mengangguk dan mereka segera pergi menyelamatkan Diandra.
Sementara itu di villa, Diandra mendengar suara mobil Raez sudah pergi. Dia juga terpaksa mandi karena pakaiannya basah. Diandra keluar kamar diam-diam, dia menuju ke ruangan lain. Bukankah kemungkinan besar ponselnya di sembunyikan oleh Raez di ruangan lain. Mungkin di kamar Raez, atau di ruang kerja. Tidak mungkin juga pria itu membawanya di sakunya kan?
Di luar sudah sepi, tentu saja karena udah lewat tengah malam. Diandra mengendap-ngendap masuk ke dalam ruangan lain. Sepertinya dia benar, ada sebuah ruangan, seperti ruang kerja. Diandra mencari tas dan ponselnya disana. Tapi tidak ketemu.
"Tidak ada disini, apa pria galak itu mengantonginya? menyebalkan sekali!" omelnya.
Tapi ketika bergerak ke arah jendela. Jendela yang ada di ruangan itu bisa di buka dari dalam. Tidak seperti yang ada di kamar, tidak bisa di buka karena di luar di beri pengaman supaya Diandra tidak kabur.
Klik
Wajah Diandra berseri, ia perlahan membuka jendela ruangan itu. Sedikit melakukan gerakan celingak-celinguk mengawasi keadaan. Dan ketika tidak terlihat penjaga disana. Dia pun naik ke jendela itu untuk melompat keluar.
Brukk
"Ya ampun, tinggi juga ternyata!" keluh Diandra yang merasa tumitnya agak sakit ketika menapak tanah.
Diandra segera berjongkok, dia kembali mengamati situasi. Tapi sejauh mata memandang, yang dia lihat hanya pohon Pinus yang banyak sekali.
"Ini benar-benar di hutan. Aku harus kemana?" gumamnya bingung.
Kalau masih daerah perkotaan, bukankah akan ada kendaraan yang bisa dia tumpangi. Kalau di hutan, masa dia mau menumpang pada gajah yang lewat?
Diandra diam di tempatnya, dia masih menimbang-nimbang jadi kabur atau tidak. Dan pada akhirnya, daripada dia nyasar, dia menunggu saja di tempat itu. Dia yakin kalau Celine pasti akan mencarinya dan menemukannya.
Benar saja, beberapa menit kemudian, dia melihat ada cahaya senter dari hutan.
Entah kenapa dia yakin saja kalau itu Celine. Ya, karena tidak mungkin ada orang yang sengaja jalan-jalan di tengah hutan lewat tengah malam begitu kan?
Diandra bergerak pelan ke arah hutan, ke tempat dimana dia melihat cahaya senter tadi.
Semakin ke dalam, ternyata semakin gelap. Diandra menghentikan langkahnya.
"Agkkhhhh!" pekiknya ketika dia melihat dua mata menyala merah di depannya.
Brukk
Diandra terjatuh, di depannya ada seekor serigala yang berjalan pelan, dan menatapnya dengan tatapan yang lebih menyeramkan daripada tatapan Raez.
Grrrrr
Diandra menelan salivanya.
"Ya ampun, ini sih keluar dari sarang buaya ketemu serigala, gimana ini?" gumamnya panik.
Serigala itu semakin maju mendekat. Ya Diandra mundur dong.
Hingga pada akhirnya, Diandra harus kembali tak bisa berkutik. Karena dia belakangnya ada sebuah pohon besar. Dia sudah bisa mundur.
"Habislah aku..."
Grrrr
Shutttt
Brukk
Diandra melebarkan matanya, serigala itu jatuh tak sadarkan diri di depannya.
"Diandra!" teriak Celine.
Diandra terjatuh, dia lemas sekali. Tapi dia lega, Celine benar-benar menemukannya.
Berapa saat kemudian mereka sampai di dalam mobil.
"Terima kasih banyak, kalian kalian tidak ada..."
"Jangan bicara begitu! kamu juga banyak membantu kami, Diandra!" sela Dominic.
Dalam perjalanan pulang, Diandra terus melihat ke arah jendela. Hari sudah berganti, malam ini, Raez benar-benar akan bertunangan.
"Oh ya, apa ada anak panti asuhan yang jadi dokter kandungan?" tiba-tiba saja Diandra menanyakan hal itu pada Celine dan yang lain.
"Kenapa, kamu...?" Celine sebenarnya sudah bisa menebak, tapi kalau dia ketahuan itu terlalu beresiko.
Diandra menganggukkan kepalanya.
"Tidak ada cara lain, aku harus pura-pura hamil. Supaya pertunangan Genelia dan Raez batal!" kata Diandra bertekad, "jadi ada tidak?" tanya Diandra.
Masalahnya, kalau dia mencari dokter lain. Bayarannya pasti akan sangat mahal. Kalau dari teman-teman Celine kan lumayan, orang-orang yang jelas bisa dipercaya dan tidak akan pernah berkhianat padanya.
"Ada" jawab Dominic, "mau bertemu dia sekarang?"
Diandra menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Iya, apa dia punya klinik?" tanya Diandra detail.
Dominic mengangguk.
"Bagus sekali!" girang Diandra.
'Raez, apapun yang terjadi. Kamu tidak boleh bertunangan dengan teh hijau itu. Sampai aku bertemu dengan pengacara Lukman, mereka tidak boleh dapatkan tambahan kekuatan dan dukungan!' batin Diandra.
***
Bersambung...
Ternyata Raez sudah tau jika Diandra berbohong soal hamil palsu.. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ucapan Diandra bikin ngakak.. Raez lagi esmosi, bisa² nya di ngelece..🤣🤣🤣🤣🤣
Takdir mereka di tangan author, aku mah pasrah aja bacanya 🤣