NovelToon NovelToon
SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: hai el

Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ORANG-ORANG YANG DATANG

Pameran dibuka jam dua siang.

Jam dua lewat lima menit sudah ada dua puluh orang di dalam. Jam tiga ada antrian di luar. Jam empat Ibu Sari menelepon Arsa dengan suara yang untuk pertama kalinya dalam perkenalan mereka tidak terkelola sama sekali: *"Arsa, ada tiga ratus lebih orang di luar. Ini melebihi semua estimasi."*

Arsa berdiri di sudut galeri mengamati.

Ia tidak berdiri di pintu menyambut — bukan caranya. Ia lebih suka mengamati dari tepian, memperhatikan bagaimana orang-orang bergerak melalui ruang, di mana mereka berhenti, di mana mereka melambat, di mana mereka tidak bisa bergerak sama sekali.

Ruang foto Dito: kebanyakan orang berdiri lama di foto hujan dengan siluet di pojok. Persis seperti yang Wren prediksi — mereka harus mendekat untuk menemukannya, dan ketika menemukan, mereka tidak segera pergi.

Ruang surat Raka: ada beberapa orang yang membaca sambil menangis tanpa upaya menyembunyikannya — jenis menangis yang terjadi bukan karena sedih yang menghancurkan tapi karena sesuatu menyentuh tempat yang sudah lama tidak disentuh. Ada seorang perempuan tua yang berdiri di panel berisi satu baris surat keempat — *"ada orang-orang di dunia yang kehadirannya membuat ruangan jadi lebih terang bukan karena mereka melakukan sesuatu, tapi hanya karena mereka ada"* — dan tidak bergerak selama hampir sepuluh menit.

Ruang jurnal Pak Wahyu: orang-orang lebih pendiam di sini. Lebih dalam ke diri sendiri. Kursi di tengah ruang yang selalu ada seseorang di sekitarnya, tidak pernah kosong — tapi orang-orang tidak duduk di sana, mereka hanya berdiri dekat-dekat, memandangnya.

Dan ruang *Akhirnya* — Arsa tidak bisa masuk ke sana pada jam pertama karena selalu penuh.

Wren ada di sana. Ia memilih untuk berada di ruang itu sepanjang pameran — bukan sebagai pemandu, bukan sebagai host. Hanya duduk di salah satu kursi meja, kadang menulis sesuatu sendiri, ada jika seseorang ingin bicara. Beberapa orang memang bicara kepadanya — ia tidak tahu siapa Wren, tidak tahu bahwa perempuan yang duduk tenang di pojok ruang adalah orang yang suaranya mengisi seluruh galeri. Wren tidak memberitahu. Hanya mendengarkan.

Pada jam ketiga pameran, Arsa akhirnya masuk ke ruang *Akhirnya*.

Meja panjang sudah penuh orang yang menulis. Beberapa sudah memasukkan surat ke kotak merah di dekat pintu keluar. Ada yang menulis lama, ada yang selesai dalam dua menit — satu kalimat, amplop, tempel, masuk kotak.

Arsa berdiri di samping kotak merah itu dan memperhatikan seseorang — laki-laki muda, dua puluhan, dengan cara memegang pena seperti seseorang yang belum menulis dengan tangan dalam waktu lama — memasukkan amplopnya ke kotak dengan gerakan yang cepat, seperti kalau ia tidak melakukannya cepat ia tidak akan melakukannya sama sekali.

Laki-laki muda itu berbalik. Melihat Arsa. Tidak mengenal siapa ia. Tapi mengangguk — anggukan kecil yang tidak perlu penjelasan.

Arsa membalas anggukan itu.

---

Wren menemukannya di sudut ruang foto Dito menjelang penutupan galeri — jam tujuh malam, beberapa pengunjung terakhir masih berkeliling, staf galeri sudah mulai mempersiapkan penutupan.

"Kotak pos sudah hampir penuh," kata Wren.

Arsa menatapnya. "Sudah?"

"Sari akan ke kantor pos besok. Kami tidak mengira perlu pengosongan sebelum pameran selesai." Wren berdiri di sebelahnya, keduanya menghadap foto hujan dengan siluet di pojok. "Hari ini ada berapa orang?"

"Ibu Sari bilang empat ratus tujuh puluh."

"Di luar kapasitas."

"Jauh di luar kapasitas." Arsa menatap foto itu. "Wren — ada seseorang tadi di ruang Dito. Perempuan, tujuh puluhan mungkin. Ia berdiri di depan foto ini hampir setengah jam. Saya perhatikan tapi tidak mendekati." Ia berhenti. "Waktu ia akhirnya pergi, ia menyentuh bagian pojok foto — di mana siluet itu — dengan satu jari. Pelan sekali."

Wren mendengarkan.

"Saya tidak tahu ceritanya. Tapi ada seseorang di foto itu yang mengingatkannya akan sesuatu yang sangat personal." Arsa mengambil napas. "Ini yang selalu saya percaya tentang kisah — kisah yang cukup spesifik akan menjadi universal. Karena spesifisitasnya yang membuat orang-orang menemukan diri mereka di dalamnya."

"Raka sangat spesifik," kata Wren.

"Raka sangat spesifik. Dan karena itu, jutaan orang merasa seperti Raka menulis untuk mereka."

Wren menatap foto itu. "Siluet di pojok bawah — saya masih percaya itu Raka."

"Saya juga."

Diam sebentar. Di luar, Jakarta sore hari mulai menuju malam — suara kota yang turun volumenya sedikit dari puncak jam pulang kantor tapi tidak pernah benar-benar tenang.

"Arsa," kata Wren pelan. "Hari ini — apakah Raka ada di sini?"

Arsa tidak menjawab segera. Ia memikirkannya dengan sungguh — bukan sebagai pertanyaan metafisik tapi sebagai pertanyaan tentang kehadiran, tentang apa artinya ada.

"Dalam artian yang paling penting," katanya akhirnya, "ya. Kata-katanya ada. Caranya melihat dunia ada. Cara ia mencintai seseorang ada." Ia menatap foto hujan itu. "Raka selalu lebih baik dalam hadir dari jauh daripada langsung. Hari ini ia hadir dari jauh — dari kertas, dari suara, dari dinding galeri. Dengan cara yang justru bisa menjangkau lebih banyak orang dari yang pernah ia bayangkan."

Wren mengangguk pelan. Sesuatu di matanya bergerak — tapi kali ini ia tidak menyembunyikannya, dan Arsa tidak pura-pura tidak melihat.

"Hari yang baik," kata Wren.

"Hari yang sangat baik."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!