Menceritakan Kayla Eleody Seorang gadis kaya raya dengan kehidupan glamour sempurna, gadis pemberani ini tiba tiba saja bertukar jiwa dengan Zara seorang gadis miskin yang menjadi korban bully di sekolah, mampukan Kayla hidup dalam raga Zara dengan segala kesulitannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourbee Lebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Bukti surat
Hari ini Harris mengadakan pertemuan dengan para guru di sekolahnya, ia ingin membahas tentang kejadian yang menggemparkan kan sekolahnya kemarin.
"Saya sama sekali tidak berniat untuk menunduh siapapun tapi saya mengumpulkan kalian di sini adalah untuk melindungi murid murid kita yang lain, saya tidak ingin ada seseorang yang memiliki niat seperti saudari mimi lagi, kita semua harus menjaga kestabilan mental anak kita, berlaku adil pada mereka dan tidak membanding bandingkan dengan yang lain" Kata Harris.
"Mengerti pak"
"Bukan hanya di mengerti, tapi harus dijalan kan, saya yakin ada alasan lain kenapa mimi melakukan nya di sekolah, dia seperti ingin menunjukkan sesuatu, dan saya tidak mau ada sesuatu yang di sembunyikan dari saya, jika ada di antara kalian yang mengerti tolong bicaralah, saat ini saya sedang menunggu hasil otopsi" Lanjut nya.
"Baik Pak"
Saat Harris tengah berbicara tiba tiba saja pintu ruangan terbuka dan zara juga Leon masuk tanpa permisi.
"Zara?!" Panggil arini guru bk.
"Kamu tidak sopan masuk tanpa izin zara" Tambah salah seorang guru.
"Saya kesini ingin menyampaikan sesuatu tentang kematian mimi, saya ada bukti tertulis, mimi menulis pesan untuk kita semua" Zara mengulurkan selembar kertas tersebut langsung pada Harris.
"Zara? apa itu? kamu jangan sembarangan" Kata sang kepala sekolah.
"Kenapa kalian semua menutup mata tentang keadilan!" teriaknya marah.
Semua guru yang hadir di sana tercengang dengan sikap Zara yang berani.
"Saya dan mimi adalah orang yang sama! kami miskin dan ditindas!" Katanya.
Harris mengambil uluran kertas tersebut dan membaca isinya, butuh beberapa menit pria itu untuk memahami surat mimi.
"Dimana kamu temukan ini?"
"Ini di rooftop, tempat mimi lompat" Ujar Zara.
"Gak mungkin, setelah kejadian itu saya udah minta guru dan anak anak buat ngecek TKP tapi tidak ada yang menemukan apapun" Sangkal kepala sekolah.
"Saya udah dateng lebih dulu daripada kalian! kenapa bapak ketakutan?! bapak tau sesuatu?!" Tuduhnya.
Harris melirik ke arah sang kepala sekolah dengan curiga, ada sesuatu yang tidak beres ia rasa.
"Di sini tertera bahwa michele, windi dan ruri membully mimi, Ryan dan angga memperkosanya" Ungkap Harris.
"Mereka juga sempat merencakan hal yang sama pada zara!" Tambah Leon.
Semua orang di sana amat terkejut dengan apa yang baru saja Harris ungkapkan.
"Hubungi orang tua mereka semua!" Perintah Harris.
"Tapi pak? bisa saja surat ini di manipulasi" Seorang guru wanita berdiri mencela.
"Lalu menurut kamu apa yang harus saya lakukan bu Linda? apa saya harus diam saja dan menganggap Zara dan juga anak ini berbohong? untuk apa?" Tanya Harris menunjuk Zara dan Leon.
"Tapi pak?"
"Bagi saya setiap orang berhak berbicara di sini, saya merasa ada yang di sembunyikan dari saya, siapa tau mereka ingin mencari keadilan untuk temannya atau bahkan hanya sekedar mengungkapkan kebenaran, panggil michele dan teman temannya kesini!" Perintah Harris.
"Baik Pak"
Zara berlinang air mata, ia merindukan ayahnya, andai saja pria itu tau bahwa seorang gadis yang berdiri di depan nya ini adalah putrinya.
"Terimakasih Zara kamu sudah berani mengukap ini" Katanya.
Zara menerjang tubuh Harris dan memeluknya erat, semua yang melihatnya pun merasa heran dengan apa yang di lakukan nya.
"Jangan biarin mereka pi" Isaknya tiba tiba.
Entah mengapa Harris membalas pelukan Zara, ia merasa sangat dekat dengan gadis yang sedang memeluknya ini.
"Jangan biarin mereka ngebully orang lagi" Katanya lagi.
"Iya, saya tau, saya akan coba selesaikan ini ya?"
Leon meringis kaku melihat interaksi Zara dan juga harris, ia merasa canggung dan malu dengan apa yang dilakukan oleh teman nya itu.
...****************...
"Halo?" Widya mengangkat telepon seorang guru yang merupakan wali murid michele.
"Selamat pagi bu widya?" Sapanya.
"Ada apa bu linda?"
Widya bergusar gelisah, entah mengapa perasaan nya jadi tidak enak saat menerima panggilan ini.
"Gawat bu!" Katanya.
"Ada apa? jangan buat saya takut"
"Tentang kematian mimi, michele dan teman teman nya terseret, anak itu mengungkap kan bahwa selama ini michele membully nya dan bahkan michele menyuruh siswa untuk memperkosa mimi, dia menulis surat yang sekarang berada di tangan pak Harris bu, ibu di panggil kemari" Ungkap nya.
"Terus?"
"Zara mengadu pada pak Harris dan pak Harris memang mencurigai ada sesuatu yang tidak beres ibu, beliau memaksa untuk menunggu hasil otopsi atas luka yang di dapat oleh mimi, beliau ingin menyelidiki kasus ini" Ungkapnya.
jantung widya terasa berpacu cepat, ia menengguk segelas air berharap bisa menetralkan perasaan nya.
"Siapa yang menemukan surat itu?" Tanya widya.
"Zara" Ungkapnya.
Widya memutus panggilan secara sepihak, dadanya naik turun dengan napas yang tak beraturan.
"Aaarrhhh!" Teriaknya kuat.
Teriakan itu mengundang jaya , pria itu datang dan bertanya. "Ada apa sih?"
"Hancur semuanya hancur!" Teriak widya.
"Jelasin kenapa?!"
"Anak itu nulis surat kalau michele membully dia, dia meninggalkan bukti!" Katanya.
"Apa?!" Kaget jaya.
"Gimana ini?! semuanya hancur berantakan, reputasi yang selama ini aku bangun dengan baik musnah gitu aja gara gara anak sialan itu!" Ucapnya frustasi.
"Emang anjing tuh anak" Gumam jaya.
"Kita harus lakukan sesuatu cepat mas!"
"Gak mungkin kita bisa sentuh Harris, dia orang yang bersih, kita gak akan bisa berurusan tentang uang dengan nya" Kata jaya.
"Kasus ini pasti akan di polisikan, itu artinya kamu tau kita harus kemana"
Jaya mengangguk paham.