Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.
Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejanggalan di Antara mereka
"Jelaskan!" seru Nagara dengan suara yang tegas dan menggelegar, memecah keheningan malam yang mencekam. Suaranya begitu keras hingga seolah membuat dinding ruang keluarga itu bergetar. Jam dinding di sudut ruangan sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, matahari masih lama untuk terbit, namun mata Nagara sama sekali tidak mengantuk. Ia tidak mau masalah ini berlarut-larut, tidak mau membiarkan luka di antara adik-adiknya semakin menganga tanpa ada kejelasan. Ia ingin mereka menyelesaikan masalah ini, malam ini juga, atau setidaknya sampai ia mendapatkan benang merahnya.
"Dia merebut kekasihku, Kak!" seru Nathan, suaranya parau dan penuh amarah yang masih tersisa. Pria itu sudah duduk di sofa besar, namun posturnya tampak sangat berantakan. Rambutnya acak-acakan, kemejanya terlihat kusut dan terbuka beberapa kancing atasnya. Bau alkohol yang menyengat masih menguar kuat dari tubuhnya, memenuhi udara di sekitarnya. Sesekali, Nathan memejamkan matanya erat-erat, rahangnya mengeras saat rasa pusing yang hebat menyerang kepalanya akibat minuman keras yang ia konsumsi tadi. Itu adalah efek yang menyakitkan, namun sepertinya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.
"Aku? Aku merebut kekasihmu?" seru Nick berdecih dengan tertawa sinis, tidak terima dengan tuduhan sang adik. Wajahnya memerah karena emosi yang meluap-luap mendengar tuduhan itu. Ia berdiri tegak di hadapan adiknya, matanya menyala penuh kemarahan. "Aku dan Arimbi sudah menjalin hubungan selama enam tahun! Enam tahun, Nathan! Bukan hitungan bulan! Sedangkan kau? Hubunganmu dengan dia baru berjalan beberapa bulan saja! Bagaimana bisa kau menuduhku sebagai pihak ketiga yang merebut kekasihmu?"
"Tapi Arumi lebih menyayangiku!" bantah Nathan tak kalah keras, ia mencoba berdiri namun kakinya lemas, membuatnya kembali terduduk di sofa dengan kasar. "Dia bahkan rela memberikan kehormatannya untukku! Dia memberikannya dengan tulus! Sedangkan kau? Kakak yang sudah bersama dengannya selama enam tahun pun tidak bisa membuat Arumi merelakan dirinya disentuh oleh kakak! Bahkan untuk sekadar memegang tangan pun dia enggan!"
Kata-kata itu seperti minyak yang disiram ke api yang sudah besar. Wajah Nick berubah pucat lalu merah padam, campuran antara rasa malu dan amarah yang luar biasa. Tanpa sadar, tangannya terkepal kuat, dan dengan gerakan cepat, ia melangkah maju, mengangkat tangannya hendak memukul wajah Nathan yang terus memprovokasi dan menyakitkan egonya itu.
"Nick!" seru Nagara dengan tegas, langsung berdiri dan menahan lengan Nick yang sudah terangkat di udara. Genggaman Nagara kuat, memberikan peringatan yang tak terucapkan.
Nick terhenti, napasnya memburu, dadanya naik turun menahan emosi yang masih meledak-ledak. Ia menatap tajam ke arah Nathan yang kini menatapnya dengan tatapan menantang meski matanya sayu. Akhirnya, dengan kasar Nick menarik lengannya dari pegangan Nagara, lalu kembali duduk di sofa dengan kasar, tangannya masih tetap terkepal erat di pangkuannya, menahan amarah yang belum reda.
Keheningan yang canggung kembali menyelimuti ruangan. Namun, di benak Nagara, sebuah pertanyaan besar mulai muncul. Nick bilang nama kekasihnya Arimbi, dan Nathan bilang namanya Arumi. Apakah mungkin mereka orang yang sama? Ada rasa janggal yang menggelitik hatinya. Dua nama yang mirip, namun berbeda. Apakah ini hanya kebetulan, atau ada sesuatu yang lebih rumit di sini?
"Kalian yakin wanita yang kalian pacari merupakan wanita yang sama?" tanya Nagara akhirnya, suaranya terdengar ragu namun penuh kehati-hatian. Ia perlu memastikan hal ini sebelum melangkah lebih jauh.
"Menurut Kakak, apa mungkin ada gadis yang sangat mirip sampai ke tahi lalatnya pun sama persis?" jawab Nathan dengan nada sinis, matanya menyipit menatap kakak sulungnya. "Arumi memiliki tahi lalat kecil yang sangat khas di dekat alis kanannya. Itu ciri yang tidak mungkin dimiliki oleh dua orang yang berbeda."
Nagara menoleh ke arah Nick, mencari konfirmasi. Tanpa perlu kata-kata, Nick hanya mengangguk pelan namun tegas, membenarkan ucapan Nathan. Itu artinya... mereka benar-benar mencintai wanita yang sama. Wanita yang bermain di antara dua bersaudara ini selama bertahun-tahun.
Melihat suasana yang semakin tegang dan kedua adiknya yang sudah terlihat sangat lelah, baik secara fisik maupun mental. Nagara menghela nafas panjang. "Kalian istirahat saja dulu. keadaan kalian sedang tidak baik-baik saja sekarang. Besok pagi, saat keadaan sudah lebih tenang, kita bicarakan lagi masalah ini secara tuntas," nasihat Nagara dengan nada yang lebih lembut namun tetap tegas.
Mendengar itu, Nick segera berdiri dari duduknya, tidak berkata apa-apa, dan berjalan cepat menuju pintu keluar, seolah ingin segera lari dari ruangan yang menyesakkan ini. Entah apa yang membuat ia justru memilih berjalan menuju teras dan tidak memilih masuk ke kamar.
"Nick!" seru Nagara, membuat langkah Nick terhenti tepat di ambang pintu. Punggungnya kaku, tidak menoleh.
"Aku mau melihat keadaan Nayra," jawab Nick datar, suaranya tanpa emosi, seolah jiwanya sudah kosong.
"Nayra tidak apa-apa. Dokter bilang dia dan bayinya baik-baik saja. dia sedang berada di perjalanan. Sebentar lagi dia akan Sampai di rumah," ucap Nagara, berusaha menenangkan adiknya.
Nick diam sejenak, lalu perlahan ia berbalik badan, kembali berjalan ke arah sofa dan duduk kembali di tempatnya semula. Tatapannya kosong, menatap lantai, tidak berniat pergi lagi. Ia merasa bersalah terhadap sang adik. Dia ingin memastikan sendiri bahwa sang adik benar-benar baik dan tidak ada sesuatu yang serius karena kebodohannya yang di kuasai amarah tadi.
"Masuklah ke kamar, biar Kakak yang menunggu Nayra di sini," perintah Nagara pelan, ia tahu betul betapa sayangnya Nick pada Nayra, dan rasa bersalah yang mungkin menghantui adiknya itu.
"Tidak," jawab Nick tegas, mengangkat wajahnya sedikit. Matanya terlihat merah dan lelah, namun ada keteguhan di sana. "Aku mau menunggu dan melihat keadaan Nayra dengan mata kepalaku sendiri. Aku tidak bisa tidur sebelum memastikan dia benar-benar baik-baik saja."
Nagara hanya bisa mengangguk pelan, mengerti perasaan adiknya. Ia menoleh ke arah Nathan, yang kini sudah tidak lagi menatap mereka. Dengan langkah yang sempoyongan dan berat, Nathan berjalan meninggalkan ruangan, menuju kamarnya sendiri, meninggalkan Nick dan Nagara dalam keheningan yang panjang, menunggu kedatangan Nayra pulang.
Tidak ada percakapan di antara keduanya, mereka duduk dengan fikiran nya masing-masing. Nagara yang merasa gagal menjadi kakak, dan Nick sama halnya.
"Maaf pah. Aku Gagal menjadi kakak tertua, Nayra harus menikah muda karena kecerobohan ku yang tidak mengawasi nya, aku membiarkan dia berada di situasi seperti ini, dan aku juga gagal mengawasi kehidupan pribadi Nick dan Nathan sehingga mereka di perdaya oleh seorang wanita" batin Nagara dengan mata yang sudah beranak sungai
"Maaf Mah, Pah. Kak" batin Nick melirik ke arah Nagara
"Sebagai anak nomor dua aku justru egois, aku memilih mempertahankan Arimbi, aku tidak rela jika Arimbi di miliki Nathan. Nathan sudah menghancurkan masa depan Arimbi. Aku tidak mau Nathan memiliki Arimbi! Aku mencintai Arimbi meskipun Arimbi sudah di tiduri oleh Nathan" batin Nick yakin Ingin tetap memperjuangkan Arimbi meskipun ia harus di benci Nathan seumur hidup