Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buronan Nasional
Bu Imroh memejamkan matanya rapat-rapat. Bibirnya yang bergetar hebat terus merapalkan zikir tanpa henti di dalam hati. Ia tidak lagi memohon nyawa pada manusia iblis di depannya. Ia hanya berserah diri pada Sang Khalik jika memang sore ini adalah akhir dari langkahnya di dunia.
Aris mengayunkan belatinya dengan sekuat tenaga ke arah dada Bu Imroh.
"HEI! APA YANG KAMU LAKUKAN DI SITU?!" sebuah teriakan keras tiba-tiba menggelegar dari arah pagar bambu di samping rumah.
Langkah Aris terhenti seketika. Ujung belatinya hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari permukaan mukena putih Bu Imroh. Aris menoleh dengan gusar ke arah sumber suara.
Dua orang pemuda warga desa setempat, Dadan dan Asep, sedang berjalan pulang dari sawah sambil memikul cangkul di bahu mereka. Mereka berdiri terpaku di dekat gerbang bambu, menatap pemandangan mengerikan di halaman belakang Bu Imroh dengan mata membelalak.
"Itu... itu buronan yang di televisi!" teriak Asep sambil menunjuk ke arah Aris. "TOLONG! ADA PEMBUNUH! WARGA, TOLONG!"
Teriakan histeris Asep memecah kesunyian desa. Dalam hitungan detik, gema teriakan itu bersahutan. Suara kentongan bambu mulai dipukul bertalu-talu dari arah pos ronda, tanda bahaya besar sedang mengancam kampung mereka.
Aris menggeram marah. Kegilaannya sesaat tertahan oleh kalkulasi dingin seorang buronan yang tidak ingin tertangkap lagi. Ia menatap Bu Imroh yang kini jatuh terduduk sambil menangis sejadi-jadinya, lalu menatap ke arah kedua warga yang mulai berlari mendekat sambil mengayunkan cangkul mereka.
"Sialan!" umpat Aris dengan suara rendah yang penuh dengan kebencian mendalam.
Ia menyadari bahwa dalam hitungan menit, ratusan warga desa yang marah akan mengepung tempat ini bersama dengan aparat kepolisian yang memang berpatroli di sekitar area desa tersebut. Waktunya habis untuk hari ini.
Aris menatap Bu Imroh sekali lagi dengan tatapan yang sangat tajam, seolah ingin menusuk jiwa wanita tua itu. "Hari ini kamu beruntung, Tua Bangka. Tapi ingat janjiku... maut tidak akan pernah melupakan alamat rumahmu. Aku akan kembali!"
Dengan kelincahan yang luar biasa seperti seekor macan tutul yang terpojok, Aris melompati pagar bambu belakang rumah Bu Imroh yang berbatasan langsung dengan rimbunnya hutan jati rakyat. Ia berlari kencang dan dalam hitungan detik, sosok bayangan hitamnya telah lenyap ditelan kegelapan pohon-pohon yang mulai meremang di bawah langit malam yang pekat.
Asep dan Dadan sampai di dekat Bu Imroh yang kini nampak sangat syok dan lemas. Mereka mencoba mengejar ke arah hutan, namun langkah mereka terhenti oleh kegelapan yang pekat dan rasa takut akan serangan balik dari pria bersenjata yang nekat tersebut.
"Bu Imroh! Ibu tidak apa-apa?!" tanya Asep sambil membantu wanita tua itu berdiri.
Bu Imroh tidak bisa menjawab. Tubuhnya bergetar sangat hebat, wajahnya pucat pasi tanpa setetes darah pun yang tersisa di kulitnya. Ia hanya bisa memeluk tasbih kayunya erat-rabat di dada, sementara air mata terus mengalir tanpa suara. Kematian baru saja mengelus keningnya, dan ia tahu, selama Aris masih menghirup udara bebas di luar sana, maka tidak akan ada satu pun tempat di dunia ini yang benar-benar aman bagi mereka yang dicintai dan mencintainya.
****
Fajar di langit Jakarta pecah dengan warna merah saga yang pekat, seolah-olah tumpahan darah raksasa sedang merayap di antara gedung-gedung pencakar langit yang dingin. Ibu kota bernapas dalam ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di setiap sudut jalan, di layar-layar digital raksasa Bundaran HI, hingga di stasiun televisi nasional yang menyala 24 jam, wajah Aris Wicaksana terpampang jelas dengan predikat yang mengerikan: Buronan Nomor Satu Nasional, Sangat Berbahaya.
Drama perburuan manusia terbesar dalam sejarah kepolisian modern Indonesia sedang berlangsung. Ribuan personel gabungan dari Brimob, Densus, hingga unit K-9 dengan anjing pelacak terbaik dikerahkan menyisir setiap jengkal wilayah Jawa Barat hingga sudut-sudut kumuh Jakarta. Garis polisi dipasang di puluhan lokasi yang diduga pernah disinggahi Aris, namun yang ditemukan petugas hanyalah jejak-jejak dingin yang menguap.
Aris membuktikan dirinya sebagai hantu yang sangat licik. Ia tidak menggunakan ponsel, tidak menyentuh ATM, dan tidak pernah menetap di satu tempat lebih dari tiga jam. Ia bergerak di antara gorong-gorong kota, melompat dari truk logistik yang berjalan lambat, dan menyamar dengan berbagai pakaian yang ia curi dari jemuran warga. Kepolisian seperti sedang mengejar bayangan di tengah badai; bayangan itu nyata, namun setiap kali tangan hukum hendak mencengkeramnya, ia meloloskan diri melalui celah-celah kegelapan.
****
Jauh dari hiruk-pikuk kepungan polisi di ibu kota, di sebuah desa yang biasanya damai di kaki gunung Jawa Barat, suasana sunyi mencekam terasa begitu pekat. Di dalam rumah kayunya yang kini dijaga ketat oleh empat orang polisi bersenjata lengkap di halaman luar, Bu Imroh duduk bersandar di kursi bambunya.
Wanita tua itu tidak lagi menyiram melati. Ia tidak lagi melihat ke arah kebun mawarnya. Tubuhnya yang kecil nampak semakin ringkih, terbalut mukena putih yang ia kenakan sejak salat subuh tadi. Tangannya yang dipenuhi kerutan usia terus menggenggam tasbih kayu, namun gerakannya tidak lagi ritmis. Tangannya bergetar hebat.
Setiap kali angin malam berembus dan menggoyangkan daun pintu, atau setiap kali terdengar derit bambu dari atap rumahnya, Bu Imroh akan tersentak dengan mata membelalak penuh ketakutan. Kejadian sore kemarin, saat ujung belati Aris hampir saja merobek tenggorokannya, telah menanamkan trauma yang teramat dalam di jiwanya yang sudah renta.
"Ibu... minumlah teh hangat ini sedikit," pinta seorang polwan muda bernama Briptu Sarah yang ditugaskan khusus untuk menemani dan menjaga kondisi psikologis Bu Imroh di dalam rumah.
Bu Imroh menoleh dengan perlahan. Tatapan matanya kosong, dipenuhi dengan sisa-sisa kengerian yang belum memudar. Air matanya mengalir tanpa suara, membasahi pipinya yang pucat pasi tanpa setetes darah pun yang tersisa di kulitnya.
"Dia ada di luar sana, Nak..." bisik Bu Imroh dengan suara yang parau dan bergetar. "Ibu bisa merasakan napasnya yang dingin. Ibu bisa mencium bau parfumnya yang bercampur darah. Dia tidak akan melepaskan kita..."
Briptu Sarah memegang tangan Bu Imroh yang sangat dingin. "Ibu aman di sini. Di luar ada rekan-rekan saya yang menjaga ketat. Aris tidak akan berani kembali ke desa ini, Bu. Seluruh jalur sudah kami blokade."
Bu Imroh menggelengkan kepalanya lemah. "Kalian tidak kenal dia, Nak. Jeruji besi Nusakambangan yang begitu angker saja bisa ia patahkan, apalagi hanya pagar bambu rumah ini. Dia bukan lagi manusia... dia adalah iblis yang sedang menagih janji setahun lalu."
Tasbih di tangan Bu Imroh kembali bergerak dengan cepat, diiringi bibirnya yang terus berkomat-kamit tanpa suara melantunkan doa perlindungan. Bagi Bu Imroh, malam kini telah berubah menjadi sebuah siksaan yang panjang; sebuah waktu di mana maut bisa saja mengetuk pintunya kapan saja dengan senyuman Aris yang mengerikan.