Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.
Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.
Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Permainan Stefani
Suasana di rumah sore itu mendadak berubah sedikit kacau. Wajah Nadya yang semula cerah seketika pucat pasi, kedua tangannya mencengkeram perutnya yang terasa melilit hebat.
"Kenapa, Nad?" tanya Stefani (Kartika) dengan nada cemas yang dibuat-buat, segera mendekat dan merangkul bahu Nadya.
"Aduh... perutku sakit banget, Stef. Tadi aku baru datang bulan... rasanya seperti mau pingsan," jawab Nadya lirih. Ia mencoba mengatur napas, lalu menatap asistennya itu. "Eh... aku tetap panggil kamu Stefani saja ya? Sudah kebiasaan, lidahku kaku kalau panggil Kartika."
Stefani tersenyum maklum, mengusap punggung Nadya dengan lembut. "Terserah kamu saja, Nad. Apa enaknya di kamu panggil aku apa, aku nggak masalah. Mau aku pijiti biar sedikit meredakan sakit perut kamu?"
"Nggak usah, Stef. Aku mau rebahan saja di kamar, mau istirahat. Tolong nanti kalau Mas Erian pulang, siapkan makan malamnya ya," pesan Nadya sebelum melangkah gontai menuju kamar tidurnya.
Malam pun tiba. Begitu Erian melangkah masuk ke rumah, ia disambut oleh aroma masakan yang menggugah selera dari arah dapur. Namun, bukan Nadya yang ia temukan di sana, melainkan Stefani.
Kali ini, Stefani tampil sangat berani. Ia mengenakan pakaian rumah yang sangat sensual, potongan kain yang tipis dan ketat itu memamerkan lekuk tubuh serta kemulusan kulitnya yang sengaja ia ekspos di bawah lampu ruang makan yang temaram.
Sikap Erian malam ini pun sedikit berubah. Bayangan kemarahan tempo hari seolah luntur oleh rasa simpati yang muncul setelah mendengar drama "ayah sakit" kemarin. Ia merasa tidak enak jika terus bersikap sinis pada wanita yang baru saja tertimpa musibah.
"Nadya mana?" tanya Erian pelan sambil melepas dasinya.
"Nadya lagi istirahat di kamar, Mas. Katanya perutnya sakit karena datang bulan. Jadi aku yang siapkan semuanya," jawab Stefani dengan nada suara yang lembut dan penurut. "Makan dulu Mas Erian, ini makanannya sudah jadi. Aku masak spesial buat Mas sebagai tanda terima kasih karena sudah mengizinkan aku pulang kemarin."
Erian duduk di kursi makan, merasa sedikit lebih rileks. Ia tidak menyadari bahwa di balik senyum manis Stefani, ada rencana busuk yang sedang berjalan. Di dalam sayur dan minuman yang disuguhkan, Stefani telah mencampurkan obat perangsang dosis tinggi yang bereaksi cepat.
"Silakan, Mas," ucap Stefani sambil menuangkan air ke gelas Erian, matanya berkilat penuh kemenangan saat melihat Erian mulai menyuap makanan itu.
Erian mulai makan dengan tenang. Namun, baru beberapa suap, ia mulai merasakan suhu tubuhnya meningkat. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, dan ada sensasi panas yang menjalar dari perut menuju seluruh saraf di tubuhnya. Pandangannya perlahan mulai sedikit kabur, dan setiap kali ia melihat ke arah Stefani, sosok wanita itu tampak jauh lebih menggoda daripada biasanya.
Stefani yang menyadari reaksi obat itu mulai bekerja, sengaja mencondongkan tubuhnya ke arah meja, memperlihatkan belahan dadanya tepat di depan mata Erian yang mulai kehilangan fokus.
"Gimana Mas? Masakannya enak?" bisik Stefani dengan suara yang dalam dan serak, mulai memainkan jemarinya di atas meja, mendekat ke arah tangan Erian.
Erian mencoba melonggarkan kerah kemejanya yang mendadak terasa mencekik. Napasnya mulai memburu, dan butiran keringat dingin muncul di pelipisnya. Pengaruh obat perangsang dosis tinggi itu mulai membakar kesadarannya dari dalam, membuat setiap saraf di tubuhnya berdenyut menuntut sesuatu yang ia sendiri sulit kendalikan.
"I-iya... enak Stef.... aku... aku cuma.... merasa.... panas.... lanjutin makanmu Stef...." ucap Erian terbata. suaranya berat dan serak, matanya mulai memerah dan tatapannya tampak tidak fokus, terus-menerus teralih pada kemulusan bahu Stefani yang terpampang nyata di depannya.
Stefani menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat tipis. Ia tidak melanjutkan makannya, melainkan berdiri perlahan dan melangkah memutari meja makan. Aroma parfumnya yang sensual sengaja ia dekatkan ke indra penciuman Erian yang kini sedang sangat sensitif.
"Mas Erian keringatan banget... wajah Mas juga merah," bisik Stefani sambil berdiri tepat di belakang kursi Erian.
Dengan gerakan yang sangat halus dan natural, Stefani meletakkan kedua tangannya di bahu Erian, lalu perlahan memijatnya. Jemarinya yang lentur sengaja menyentuh kulit leher Erian, memberikan sensasi dingin yang kontras dengan panas tubuh pria itu.
"Mungkin Mas kurang enak badan karena kecapekan kerja. Mau aku bantu lepas kemejanya biar agak adem? Nadya lagi tidur lelap, Mas... nggak usah khawatir," lanjut Stefani, suaranya kini terdengar seperti nyanyian siren yang menggoda di telinga Erian yang sedang kehilangan kewarasan.
Erian mengerang pelan. Logikanya berteriak bahwa ini salah, bahwa ada istrinya di kamar sebelah. Namun, kimiawi di dalam darahnya berkata lain. Sosok Stefani di matanya kini tampak seperti oase yang sangat ia butuhkan untuk memadamkan api yang membakar tubuhnya.
Dapur yang remang itu mendadak terasa seperti oven raksasa bagi Erian. Keringat membanjiri pelipisnya, dan setiap tarikan napasnya terasa berat, membawa aroma parfum sensual Stefani yang kini seolah menyatu dengan sirkulasi darahnya. Efek obat perangsang dosis tinggi itu benar-benar mengunci akal sehatnya, menyisakan insting purba yang terus berteriak menuntut pelepasan.
Gairah Erian benar-benar berkobar hebat. Di matanya, sosok Stefani yang mengenakan pakaian rumah tipis dan sensual itu tampak berkali-kali lipat lebih menggoda. Kulit bahu Stefani yang mulus di bawah sorotan lampu ruang makan seolah menjadi magnet bagi tatapannya yang mulai liar.
Melihat mangsanya sudah kehilangan pertahanan, Stefani melangkah maju dengan gerakan yang sangat halus. Ia berdiri tepat di belakang kursi Erian, membiarkan tubuhnya sedikit bersentuhan dengan punggung pria itu agar Erian bisa merasakan kehangatan yang menyesatkan.
"Mungkin Mas Erian capek.... sini aku pijitin pundaknya biar rileks...." ucap Stefani dengan suara yang dibuat selembut sutra, nyaris berbisik di dekat telinga Erian.
Jemari Stefani yang lentur mulai mendarat di pundak Erian. Ia memijit lembut, namun dengan tekanan yang sengaja diseret, memberikan sensasi gesekan yang membakar saraf-saraf Erian. Setiap gerakan tangannya bukan sekadar pijatan, melainkan undangan terbuka bagi pria yang sedang kehilangan kewarasannya itu.
Erian mengerang rendah, kepalanya terkulai ke belakang, tanpa sengaja bersandar pada perut Stefani. Sensasi lembut dari kain tipis daster Stefani yang bersentuhan dengan kepalanya membuat gejolak di dalam dirinya meledak lebih dahsyat.
"S-stef.... panas.... aku.... nggak tahan...." gumam Erian parau. Tangannya yang gemetar mulai mencari pegangan, dan tanpa sadar ia mencengkeram paha mulus Stefani yang berdiri tepat di samping kursinya.
Stefani tersenyum penuh kemenangan. Ia merasakan cengkeraman tangan Erian yang kuat dan menuntut. Ia tahu, dalam hitungan detik, Erian akan benar-benar menyerah pada "racun" yang ia tebar, tepat di bawah atap yang sama di mana istrinya sedang tertidur lelap menahan sakit.
pdhl Nadya blm punya anak masa gk bisa muasin suami nya terlalu lempeng ya bosen lah.
sdng Nadya wanita gk tau gimana nyenengin suami pdhl blm punya anak. sakit perut saja tinggal minum obat ndadak kluar Kamar oalah manja nya.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭