yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Di tengah konflik semakin parah, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk terus bertahan. Tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27 kesepakatan (lagi)
Gejolak amarah perlawanan semakin kentara. Banyak nya aksi nekad para pejuang yang hampir di luar nalar akal manusia.
Jebakan-jebakan bom yang di tanam di sekitar markas penjajah. Peletakan bom jarak dekat untuk menghancurkan tank-tank baja mereka. Tembakan dari para sniper pejuang, berhasil melumpuhkan bahkan menewaskan tentara militer kependudukan.
Itu belum seberapa dengan dampak keberadaan mereka di tanah penuh berkah ini.
Semua mata awam pun tahu bahwa apa yang dilakukan para penjajah itu adalah kriminal, namun kekuasaan mereka membungkam negara-negara tetangga.
Pembunuhan berdarah dingin, dengan tawa mereka menembaki anak-anak yang berkeliaran bermain. Namun semua menulikan telinga. Para pejuang lah yang melawan mereka dan warga yang tak ingin negerinya di kuasai mereka secara brutal.
Berita yang beredar di surat-surat kabar, radio dan televisi, menjadi acuan informasi mereka. Namun televisi atau radio pun tidak semua memiliki nya dengan bebas.
( Dua tentara militan zi*nis tewas terkena ledakan bom yang di tanam di dalam tanah.)
( Satu bus berisi warga zi*nis hangus terbakar karena pelaku bom bunuh diri. Tiga tewas dan belasan luka-luka)
(Bom meledak di area halte bis Yah*di oleh aksi bom bun—
" Itu hanya sebagian dari aksi perlawanan... " Potong tuan Ahmad akan berita yang beredar setelah mematikan televisi kecil di depan mereka.
" Semua aksi kita pasti akan berdampak pada warga juga kan?" Tanya anggota nya.
" Ya pasti. Tapi ini bentuk kontra kita akan perjanjian itu." Balas ketuanya.
" Mereka akan membalas lebih brutal lagi..." Sahut yang lainnya.
" Ini perang. Mereka yang memulai, kita hanya melawan. Kita hanya mengikuti cara mereka kan?"
Ya, para penjajah itu yang memulai. Mereka datang sebagai tamu yang meminta bantuan, maka negara dan rakyatnya menerima mereka sebagai tamu yang ternyata buangan negara lain.
Lihatlah sekarang. Seolah pribumi lah yang tamu tak beradab yang layak di usir dan di binasakan.
" Kerahkan semua pejuang kita dalam perlawanan...!! Kita butuh reaksi mereka untuk mengikuti keinginan kita." Perintah ketua mereka pada anggota nya.
" Baik laksanakan tuan... !"
" Allahu Akbar.....!!!!"
******
Perlawanan semakin sengit. Aksi balasan terus berlangsung. Namun yang perlu digarisbawahi, setiap aksi pejuang itu selalu di balas dengan kekuatan yang berlebihan oleh penjajah.
Pembantaian warga sipil dan penculikan makin gencar dan di sertai penyiksaan tahanan di penjara-penjara Zi*nis.
Penculikan dan pengusiran warga yang terindikasi anggota pemberontak menjadi target utama kekejaman mereka.
" Tuan, ada berita anggota kita tertangkap...!" Lapor Hamid kepada ketuanya.
" Dan mereka terus menyisir ke seluruh kamp-kamp pengungsian untuk mencari pemberontak.." Lanjutnya.
Hening....
Brum....brum....
Suara mobil terdengar tergesa berhenti di depan kemp mereka.
" Diam di tempat...!!!" Seru mereka begitu keluar dari mobilnya.
Suara yang nyaring terdengar ke dalam tenda para lelaki yang memang posisinya di samping dekat jalan utama.
Tuan Ahmad dan anggotanya saling berpandangan. Mereka mengangguk untuk kode keluar bersama.
" Apa mau kalian..!!!" Seru Hamid berdiri paling depan.
" Kami mencari para pemberontak yang bersembunyi di sini..." Balas penjajah itu arogan.
" Siapa yang kau sebut pemberontak. Apakah anggota mu yang berada di sini?" Tantang Hamid mengejek.
" Owh .... Dia masih hidup kah? Hehe...." balas ketua penjajah itu terkekeh.
" Kalian terlalu baik hingga mudah kami peralat..." Cibir ketua itu lagi.
"Sebenarnya kami ingin sekali menyiksanya bahkan membinasakan nya—
Seperti cara kalian—
Dan sepertinya itu menarik, karena kalian pun sudah tak menginginkannya bukan?" Sindir Hamid dengan senyum miring.
" Bunuh saja.... " Tantang ketua penjajah itu.
" Oh baik dengan senang hati. Kami ingin tau seberapa penting tentara kalian bagi kalian sendiri. Ternyata... ckckck..."
" James....!!! Kau dengar sendiri kan?" seru Hamid.
James yang sedang duduk di luar tenda tentu mendengar jelas pembicaraan mereka. Ia pun berdiri dan mendekat pada Hamid.
* Jika kalian ingin aku mati, aku beberkan dulu rahasia misi kita..." Sahut James, si tawanan pengungsian.
" Jangan macam-macam kau..!!!!" Panik ketua penjajah.
" Kenapa kau panik begitu... Bukan kah sudah rahasia umum...?" Cibir Tuan Ahmad dari belakang Hamid berdiri.
" Kita bisa membuat kesepakatan!" Cetus ketua penjajah itu akhirnya.
"Kesepakatan apa lagi?" Tantang tuan Ahmad.
" Kembalikan dia, dan kalian akan dapat bantuan hari ini!"
" Cih.... Apa urusan saya..?—
bantuan apa yang kau maksud?, kami sudah biasa kelaparan "
" Kaulah target kami. Kau otak pemberontak yang banyak membuat kerusuhan...!"
" Hahaha.... dapat info darimana?" Tanya tuan Ahmad mengejek.
" Kami tau!!!" Hardik nya kesal.
" Ok..ok.. Tenanglah... "
" Kau ingin menangkap ku?" tunjuk nya pada dada nya.
" Sebagai gantinya pulangkan warga sipil dari tempat ini !. Aku akan ikut kalian dengan sukarela.." Kesepakatan dari tuan Ahmad.
" Tuan.... ! " Potong Hamid protes.
" Biarkan Hamid. Nyawa kalian lebih berharga.." Potong tuan Ahmad menepuk bahu nya dari belakang.
" Haha .. Lihatlah pemimpin kalian.. Menyerahkan diri hanya karena ingin kalian dikembalikan...!" sarkas ketua penjajah itu.
" Itulah kami. Tak seperti kalian bukan...?" Ejek tuan ahmad, dan itu sukses membuat lawan nya melotot tak suka.
" Sudahlah jangan berlama-lama, kembalikan mereka, aku ikut kalian, atau kami akan buat dia dan, kau semua tentunya akan merasakan seperti cara kalian" Tunjuk tuan Ahmad pada tawanannya dan lawannya satu+satu.
" Kami ada ratusan orang, kami bisa dengan mudah mengepung kalian dan —
" Kau pasti tau..hehe.."
Para penjajah itu mulai waspada. Mereka mengangkat senjata lebih tinggi dari sebelumnya. Ketua mereka pun mundur selangkah kebelakang bergabung dengan anggota nya.
" Kalian hanya enam kepala saja. Sangat mudah bagi kami.. " Provokasi tuan Ahmad santai.
Para penjajah itu bergeming ketakutan. Tuan Ahmad meng kode agar semua pengungsi laki-laki keluar dari tempat mereka.
Beberapa detik kemudian...
Hampir delapan puluh orang laki-laki dewasa dan pemuda seperti Yaseer bergabung mengitari para penjajah itu.
" Kami siap mati demi negara kami...!!!" Seru beberapa dari pemuda pengungsi.
Yaseer merasa takjub akan orang-orang di sekitarnya. Hanya dengan kode singkat saja, mereka berkumpul bersama tuan Ahmad.
Dan di hadapannya kini, sekelompok penjajah berkerumun di tengah-tengah warga pengungsi.
" Kalian masih ragu?" Sarkas tuan Ahmad memecah keheningan mencekam diantara mereka.
" Ok baik. Kalian akan kami kembalikan....!!" Putusnya setelah beberapa lama terdiam.
Nyawa mereka di ujung tanduk. Mereka tak akan mau mati konyol di tangan para warga. Pasti akan sangat menyiksa nya. Berbeda dengan sekali tembak langsung mati.
" Apa kalian menjamin akan mengembalikan kami dengan selamat kerumah kami?"
" Iya, kami... akan menjamin nya." jawab nya setengah ragu.
" Kalian dengar semua. Kalian di pulangkan....!!!" Seru tuan Ahmad pada semua penghuni pengungsi.
" Lalu tuan sendiri..?" Tanya Yaseer memberanikan diri
" Kenapa hanya kami, bukan kita semua?" Lanjutnya kritis.
Tuan Ahmad dan yang lainnya serentak melihat pada Yaseer.
" Saya juga akan kembali, tapi tidak bersama kalian. Saya harus memastikan kalian aman dalam perjalanan.." Terang tuan Ahmad mencari aman.
" Kalian bersiaplah, mungkin tidak semua hari ini, tapi kalian akan kembali !" Tegas tuan Ahmad.
" Saya harus mengurus kesepakatan kita dengan mereka.." Kata nya lagi sambil menatap kelompok penjajah di depan nya.
" Hamid kau urus kepulangan kalian. Saya harus menyelesaikan ini.." Pesannya pelan pada orang kepercayaan nya.
" Saya pergi, kalian berhati-hatilah.." pesan terakhir nya sekalian berpamitan pada semua yang ada di situ
Yaseer yang menyaksikan perpisahan itu seolah akan berpisah selamanya. Matanya berkaca-kaca, orang yang sangat di hormati nya, bahkan seperti ayah baginya, kini mereka harus terpisah.
Saat di dekat Yaseer, tuan Ahmad mengelus kepalanya pelan. "Teruskan cita-citamu nak..!"
Tak kuasa Yaseer memeluk tubuh kurus gurunya. Orang yang di kiranya galak dan menyeramkan, ternyata menyimpan sisi lembut dan ke bapak an. Selama di pengungsian Yaseer merasa memiliki ayah dan saudara laki-laki lagi.
" Tuan juga harus kembali...." Kata Yaseer di pelukan gurunya itu dengan suara seraknya.
Tuan Ahmad mengangguk sambil menepuk punggung Yasser untuk lebih tenang.
Tuan Ahmad dan James pergi di giring masuk ke dalam mobil. kepergian nya di lepas dengan perasaan campur aduk anggota nya. Dan Yaseer sendiri, ia tergugu sesak merasa kehilangan lagi.
****
" Ummi tuan Ahmad di bawa para penjajah...!" Seru Abia kepada umminya dan akaknya di dalam tenda.
" Innalilah.... bagaimana bisa ?" Tanya Laila entah pada siapa.
" Aku lihat kerumunan di depan jalan sana. Dan melihat tuan Ahmad naik mobil bareng sama om James." Jelas Abia.
" Kita tunggu info berikutnya, semoga beliau dalam lindungan Allah." Saran Laila pada anak-anak nya.
Tak lama kemudian Yaseer mendatangai tenda umminya. Ia memanggil nama ummi nya, Hania dan Abia.
" Ummi, bersiaplah. Kita akan di pulangkan mulai hari ini.." Kata Yasser tak bersemangat begitu melihat umminya di hadapannya.
" Kamu kenapa nak?"
" Kita dipulangkan tapi sebagai gantinya, tuan Ahmad di tahan mi, dan om James juga ikut.." Terang Yaseer. Ia tahu setelah tadi mendesak tuan Hamid akan alasan sebenarnya gurunya itu di bawa.
" Innalilah... Ya Allah... .." syok Laila membekap mulutnya.
" Yaah.... Kita ga jadi bawa anggota baru... Hah... " celetuk Abia di belakang tubuh umminya membuang nafas.
"
happy reading 💪
happy Ied Mubarak
komen baik nya ditunggu ya.