Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:
Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.
Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.
Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.
Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.
Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.
Aku melihat kematianku sendiri.
Dan aku tersenyum.
Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.
Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KONFRONTASI DAN KEJUTAN
Bab 21: Terkunci dalam Gelap
---
Pintu besi itu tertutup dengan bunyi yang tidak pernah bisa kulupakan.
Bukan bam yang keras dan dramatis. Tapi kliik—pelan, pasti, seperti helaan napas terakhir seseorang yang sudah pasrah.
Alea membeku di tengah ruangan yang hanya diterangi satu lampu neon berkedip-kedip di langit-langit. Udara di sini dingin. Bukan dingin biasa, tapi dingin yang merayap masuk ke pori-pori, menggigit tulang, membuat bulu kuduknya berdiri tanpa sebab. Bau apek, tanah basah, dan sesuatu yang manis—tapi manisnya aneh, seperti buah yang membusuk perlahan.
Ia menoleh ke belakang.
Gagang pintu tidak bergerak. Tidak ada suara langkah kaki Damian di luar. Hanya keheningan yang terlalu dalam, terlalu sempurna, sampai Alea bisa mendengar detak jantungnya sendiri berdebar tidak karuan.
Dia mengunciku.
Alea mendorong gagangnya. Terkunci. Ia menekan tubuhnya ke pintu, mengetuk pelan dengan kepalan tangan.
"Damian."
Suaranya hanya bergema di ruangan sempit itu. Tidak ada jawaban.
"Damian!" Alea mengetuk lebih keras, sampai telapak tangannya terasa perih. "Buka pintunya!"
Masih diam.
Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan napas yang mulai memburu. Jangan panik. Jangan panik. Pikir.
Lampu di atas berkedip lagi. Krek-krek-krek. Setiap kali mati, kegelapan total menyelimuti selama dua detik sebelum lampu itu kembali menyala dengan samar. Dua detik. Cukup lama untuk membuat Alea membayangkan ada sesuatu yang bergerak di sudut ruangan.
Ia menggenggam ponselnya. Tidak ada sinyal. Tentu saja tidak. Ruang bawah tanah mansion tua yang terkubur di dasar bangunan—sinyal adalah kemewahan yang tidak akan didapatnya.
"Baiklah." Alea menggumam, lebih pada dirinya sendiri. "Kau bisa keluar dari sini. Kau pernah keluar dari tempat yang lebih buruk dari ini."
Ia menyalakan senter ponsel, menyorot ruangan yang perlahan ia kenali.
Ini ruang hukuman. Tempat Damian kecil pernah dikurung. Tempat ia menemukan buku harian anak-anak dengan tulisan tangan gemetar.
Dindingnya tidak rata, dari bata ekspos yang dicat abu-abu. Lantainya semen, dengan satu saluran air di tengah—seperti saluran pembuangan di kamar mandi umum. Di pojok, ada kasur tipis tanpa seprai, hanya busa kuning yang sudah usang. Di samping kasur, ember plastik biru. Bau amoniak samar masih tercium dari sana.
Alea menahan mual.
Ia menyorot dinding. Coretan kapur merah yang ia lihat sebelumnya masih ada, tapi sekarang ia bisa membaca lebih jelas dalam sorot senter:
"Hari ke 30. Aku masih di sini."
"Ayah bilang aku boleh keluar kalau mau jadi anak baik. Tapi aku sudah baik. Aku tidak mengerti."
"Damian, jangan menangis. Mereka akan semakin marah."
"Aku tidak ingat lagi rasanya matahari."
Tulisan itu berganti-ganti. Ada yang rapi seperti anak sekolah dasar. Ada yang kasar, penuh coretan, seperti ditulis sambil menangis. Dan ada satu baris di paling pojok, ditulis dengan kapur yang hampir habis:
"Aku mati di sini."
Alea merasakan dadanya sesak. Bukan karena takut. Tapi karena ia bisa membayangkan—seorang anak lelaki, seusia Damian Kecil yang ia temui semalam, duduk di pojok ini sambil menggigil kedinginan, memegang kapur merah, menulis harapan-harapan yang perlahan mati.
Tiba-tiba, lampu di atas mati total.
Gelap.
Alea menahan napas. Senter di ponselnya hanya menerangi setengah meter di depan, sisanya tetap pekat seperti jurang.
Krek.
Lampu menyala lagi. Tapi kali ini, ada yang berbeda.
Di pojok kasur, bayangan kecil duduk bersila.
Jantung Alea berhenti sejenak. Ia memfokuskan senter.
Damian Kecil.
Bocah lelaki itu memeluk lututnya, dagu menempel di tempurung, mata hitam pekat itu menatap Alea dengan kosong. Piayama sutra yang terlalu besar untuk tubuhnya basah—atau hanya efek cahaya? Ia tampak pucat, bibirnya sedikit kebiruan.
"Kak." Suaranya pelan, seperti bisikan yang tidak ingin didengar siapa pun.
Alea mendekat perlahan. Tidak lari. Ia sudah belajar bahwa ketakutan hanya membuat Damian Kecil semakin menarik diri.
"Kamu di sini?" Alea bertanya, suaranya sengaja ia buat lembut. "Kamu tahu aku akan masuk ke sini?"
Damian Kecil menggeleng pelan. "Aku selalu di sini. Setiap malam." Ia menunjuk kasur. "Aku tidur di sini. Waktu Damian dewasa tidur, aku bangun. Aku jalan-jalan. Tapi selalu kembali ke sini."
Alea duduk di lantai di hadapannya, menjaga jarak yang tidak mengancam. "Kenapa kamu kembali?"
"Karena ini rumahku." Damian Kecil tersenyum kecil. Senyum yang salah tempat. "Damian dewasa punya kamar besar di atas. Tapi aku cuma punya ruang ini."
Alea menelan ludah. Ia ingin meraih bocah itu, memeluknya, membawanya keluar dari ruang busuk ini. Tapi ia tahu, Damian Kecil bukan anak sungguhan. Ia adalah bagian dari Damian dewasa yang terperangkap di masa lalu.
"Kak, kenapa Damian dewasa mengunci kak?" tanya Damian Kecil polos.
"Apa kamu tidak tahu?" Alea balik bertanya.
Damian Kecil menggeleng. "Aku tidak bisa membaca pikirannya. Aku cuma bisa lihat apa yang dia lihat kadang-kadang. Tapi sekarang dia sengaja tutup matanya. Dia nggak mau aku lihat."
"Tutup mata?" Alea mengernyit.
"Di dalam sini." Damian Kecil menunjuk kepalanya. "Dia punya ruang sendiri. Aku punya ruang sendiri. Tapi kadang kita lihat sama-sama. Sekarang dia nggak mau."
Alea mencerna informasi itu. Kepribadian ganda dengan kesadaran terpisah. Damian dewasa sengaja menutup akses pada Damian Kecil. Mungkin karena ia tidak ingin kepribadian bocahnya tahu apa yang sedang terjadi.
"Kak, kedinginan." Damian Kecil menggigil. "Biasanya aku sudah terbiasa. Tapi sekarang lebih dingin."
Alea melihat ke saluran udara di pojok langit-langit. Ada lubang ventilasi seukuran kepala orang dewasa, tapi terhalang jeruji besi. Udara dingin keluar dari sana. AC sentral? Tidak masuk akal untuk ruang bawah tanah. Kecuali...
Damian dewasa sengaja menyalakan AC di ruang ini.
Alea berdiri, meraih jeruji itu. Dingin. Sangat dingin. Uap tipis keluar dari lubang itu.
"Dia mau membekukanmu?" Alea bergumam.
"Bukan aku." Damian Kecil bangkit berdiri, menggigil hebat. "Dia mau buat kakak kedinginan. Biar kakak nggak bisa berpikir."
Alea menoleh. "Kamu tahu cara keluar dari sini?"
Damian Kecil menggeleng. "Aku nggak pernah bisa keluar. Kalau pintu terkunci, aku cuma bisa menunggu sampai dia buka."
"Ada kunci cadangan? Kunci di luar?"
"Ada." Damian Kecil menunjuk pintu. "Di sebelah kanan pintu, ada kotak besi kecil. Kuncinya di situ. Tapi..." Ia menunduk. "Aku nggak bisa jangkau. Tanganku terlalu pendek."
Alea menghela napas. "Kamu bisa panggil Damian dewasa? Minta dia buka pintu?"
"Damian dewasa nggak mau denger aku." Damian Kecil menggenggam ujung piyamanya. "Dia benci aku. Aku cuma bikin dia sakit. Setiap kali aku keluar, Damian dewasa pusing. Kadang dia muntah darah."
Alea terdiam. Ia ingat bagaimana Damian dewasa terlihat lelah akhir-akhir ini. Mungkin karena Damian Kecil mulai sering muncul setelah Alea datang.
"Kak, aku mau cerita." Damian Kecil duduk lagi di kasur busa itu, menepuk tempat di sampingnya. "Duduk sini, Kak. Hangat."
Alea ragu sejenak, lalu duduk. Kasurnya lembab dan dingin, tapi tubuh Damian Kecil di sampingnya justru terasa hangat—seperti anak sungguhan yang masih memiliki suhu tubuh normal.
"Dulu, sebelum dikurung di sini..." Damian Kecil memulai, suaranya seperti anak yang akan bercerita tentang mimpi indah. "Aku punya anjing. Namanya Brown. Bulunya cokelat, suka jilat-jilat pipiku. Ayah bilang, kalau aku nggak mau bunuh Brown, aku harus masuk ke sini. Sampai aku mau."
Alea merasakan ada yang mengganjal di tenggorokannya. "Kamu berapa waktu itu?"
"Delapan tahun." Damian Kecil tersenyum. "Sekarang aku dua puluh sembilan. Tapi aku masih delapan tahun."
"Kamu sudah di sini dua puluh satu tahun?"
"Damian dewasa yang keluar. Aku di sini." Ia menunjuk dinding. "Aku nggak pernah keluar. Yang keluar cuma Damian dewasa."
Alea mengingat kembali teori psikologi forensik yang ia pelajari. Disosiasi identitas akibat trauma berat. Kepribadian asli terperangkap dalam usia trauma, sementara kepribadian baru terbentuk untuk bertahan hidup. Damian kecil adalah host—jiwa asli yang terluka. Damian dewasa adalah protector—yang lahir dari kebutuhan untuk menjadi kuat, kejam, dan tidak kenal takut.
"Kak, aku takut." Damian Kecil tiba-tiba merapat ke Alea. "Damian dewasa marah banget. Aku nggak pernah lihat dia semarah ini. Biasanya dia dingin. Sekarang panas. Kayak api."
Alea menoleh. "Kenapa dia marah?"
"Karena kakak tahu rahasianya. Karena kakak lihat aku." Damian Kecil menatap Alea dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Dia nggak mau ada yang tahu tentang aku. Aku ini kelemahannya. Kalau musuhnya tahu tentang aku, mereka bisa bunuh Damian dewasa."
"Tapi aku bukan musuh."
"Damian dewasa nggak percaya sama orang. Nggak pernah." Damian Kecil menggenggam tangan Alea. Tangannya kecil, dingin, tapi genggamannya erat. "Aku percaya sama kakak. Tapi Damian dewasa nggak. Dia pikir semua orang mau bunuh dia. Kayak ayah."
Alea membiarkan tangan Damian Kecil tergenggam. Ia merasakan sesuatu—visi itu datang seperti ombak kecil, bukan gambar utuh, tapi perasaan: kesepian yang terlalu lama, gelap yang terlalu pekat, dan satu titik cahaya yang datang entah dari mana.
Itu perasaan Damian kecil. Atau Damian dewasa. Mereka berdua, di dalam satu tubuh yang sama, merindukan hal yang sama: seseorang yang tidak akan lari.
"Kak, kakak nggak dingin?" Damian Kecil bertanya.
Alea baru sadar ia sudah menggigil. AC dari lubang ventilasi semakin kencang. Suhu ruangan pasti sudah di bawah 10 derajat. Jari-jarinya mulai kebas.
"Iya, dingin." Alea menggenggam balik tangan Damian Kecil. "Kamu sendiri tidak dingin?"
"Aku sudah biasa." Damian Kecil tersenyum. "Tapi kakak belum. Kakak nanti sakit."
Alea berdiri, berjalan mengelilingi ruangan mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menutup ventilasi. Tidak ada. Ruangan ini sengaja dikosongkan. Damian dewasa sengaja memastikan tidak ada yang bisa digunakan.
Ia kembali duduk di samping Damian Kecil, menarik lututnya ke dada, menggigil.
"Kak, kalau kakak mau, aku bisa panggil Damian dewasa." Damian Kecil menatap Alea. "Tapi nanti dia marah lagi."
"Kamu bisa memanggilnya?"
"Kalau aku teriak di dalam sini—" Damian Kecil menunjuk dadanya. "Dia dengar. Tapi dia nggak suka. Suaraku sakit buat dia."
Alea menggeleng. "Jangan. Nanti kamu yang sakit."
"Tapi kakak kedinginan."
"Aku masih kuat." Alea memaksakan senyum. "Dulu aku pernah lebih dingin dari ini. Saat kakakku meninggal, aku duduk di kuburannya semalaman. Hujan. Aku nggak pulang sampai pagi."
Damian Kecil memiringkan kepala. "Kakak Alea?"
"Kakak laki-lakiku. Arya." Alea menggigit bibir. Ia tidak pernah bercerita ini pada siapa pun. Tapi di ruang gelap ini, di samping bocah yang juga kehilangan segalanya, ia merasa aman. "Dia dibunuh. Sepuluh tahun lalu."
"Siapa yang bunuh?"
"Aku nggak tahu." Alea menunduk. "Tapi aku yakin Damian dewasa tahu. Atau dia yang melakukannya."
Damian Kecil terdiam lama. Lalu dengan suara pelan, ia berkata, "Aku nggak ingat. Kalau Damian dewasa lakukan sesuatu yang jahat, aku nggak selalu lihat. Dia sengaja sembunyi."
"Itu sebabnya aku di sini." Alea menatap Damian Kecil. "Aku mau cari tahu kebenaran."
"Terus kalau kakak tahu Damian dewasa yang bunuh kakak Alea? Kakak mau bunuh Damian dewasa?"
Pertanyaan polos itu menusuk.
Alea tidak bisa menjawab.
Ia ingat visinya. Damian mati di tangannya. Ditikam istrinya sendiri. Apakah itu sebabnya? Apakah ia akan menemukan bukti bahwa Damian pembunuh kakaknya, lalu ia membunuhnya?
Tapi mengapa di visi itu Damian tersenyum?
"Kak, aku ngantuk." Damian Kecil menguap, matanya mulai sayu. "Aku mau tidur. Kalau aku tidur, Damian dewasa bangun. Mau kakak bicara sama dia?"
Alea mengangguk pelan. "Iya. Aku mau bicara sama dia."
"Kak, kalau Damian dewasa marah, jangan lari." Damian Kecil meraih tangan Alea lagi. "Dia marah karena dia takut. Kalau kakak lari, dia akan makin marah. Terus dia akan sakiti kakak."
"Kamu takut Damian dewasa menyakitiku?"
Damian Kecil menggeleng. "Aku takut Damian dewasa menyakiti dirinya sendiri. Karena kalau kakak pergi, Damian dewasa akan sedih. Aku tahu. Aku di dalam sini, aku merasakan semuanya."
Mata Damian Kecil mulai terpejam. Tubuhnya perlahan lemas, seperti anak yang tertidur di pangkuan ibunya. Alea membiarkan kepala bocah itu bersandar di bahunya. Rambutnya halus, beraroma sabun anak-anak. Kontras dengan ruang busuk di sekitarnya.
Napas Damian Kecil semakin teratur. Lalu berubah.
Tiba-tiba, bobot di bahu Alea menjadi lebih berat. Lebih besar. Suhu tubuh di sampingnya naik drastis, dari hangat anak-anak menjadi panas seperti demam.
Alea menoleh.
Bukan Damian Kecil lagi.
Damian dewasa duduk di sampingnya, dengan kemeja hitam basah oleh keringat, mata tertutup, napas tersengal-sengal seperti baru saja bangun dari mimpi buruk.
Ia membuka mata.
Matanya merah. Bukan karena menangis—tapi karena pembuluh darah di matanya pecah. Damian menatap Alea dengan tatapan yang tidak bisa ia baca. Marah? Takut? Lelah? Semuanya bercampur menjadi satu ekspresi yang membuat Alea ingin menjauh, tapi Damian Kecil—suara di kepalanya—berkata: jangan lari.
"Kau bicara dengannya." Suara Damian serak, seperti baru saja berteriak dalam diam.
Alea tidak menjawab. Ia hanya menatap Damian, menunggu.
"Kau tahu semuanya sekarang." Damian berdiri, membalikkan badan, punggungnya membelakangi Alea. "Masa kecilku. Tempat ini. Dia."
"Kenapa kau mengunciku di sini?" Alea bertanya.
Damian tertawa. Tawa pendek, pahit, tidak seperti pria yang sama sekali tidak pernah tertawa.
"Karena kau sudah melihat terlalu banyak." Ia menoleh, matanya menyorot Alea dengan intensitas yang membuat dada Alea sesak. "Kau tahu tentang dia. Tentang aku. Sekarang kau punya kekuatan untuk menghancurkanku."
"Aku tidak mau menghancurkanmu."
"Semua orang bilang begitu." Damian berjalan mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Alea tetap duduk, tidak bergerak. Damian Kecil berkata jangan lari. Ia patuh.
Damian berhenti tepat di depannya, menatap dari atas. "Semua orang yang tahu tentang dia, akhirnya pergi. Atau mati. Karena mereka takut. Atau karena mereka mau menggunakan kelemahanku."
"Apakah aku terlihat takut?" Alea menatap balik.
Damian terdiam. Alea tahu ia terlihat menggigil kedinginan, bibirnya mulai membiru, tapi matanya—ia yakin—tidak menunjukkan rasa takut.
"Kau bodoh." Damian menggerutu.
"Mungkin." Alea tersenyum tipis. "Tapi aku tidak pergi. Aku di sini, terkunci di ruang bawah tanah yang dingin ini, dan aku tidak lari."
"Karena kau tidak bisa lari. Pintu terkunci."
"Aku bisa berteriak. Aku bisa memanggil penjaga. Aku bisa menghubungi Rania lewat ponsel walau tanpa sinyal, karena aku psikiater forensik dan aku punya cara untuk mengirim sinyal darurat tanpa jaringan." Alea mengeluarkan ponselnya, menunjukkan layar yang masih gelap. "Tapi aku tidak melakukan itu. Kenapa kau tahu?"
Damian mengerutkan kening.
"Karena aku tidak ingin lari." Alea berdiri, sekarang mereka berhadapan, hanya setengah lengan jaraknya. "Aku ingin tahu kebenaran. Dan satu-satunya orang yang bisa memberitahuku kebenaran adalah kau."
"Kebenaran tentang apa?"
"Tentang kakakku. Arya Anandara." Alea menatap Damian lurus. "Apakah kau yang membunuhnya?"
Keheningan yang terjadi begitu lama sampai Alea bisa mendengar tetesan air dari saluran pembuangan.
Damian tidak menjawab. Ia hanya menatap Alea dengan ekspresi yang tidak bisa Alea tebak.
Lalu ia berkata, suaranya begitu pelan hingga hampir tertelan kegelapan:
"Jika aku bilang iya, apa yang akan kau lakukan?"
Alea merasakan visi itu datang lagi. Damian mati. Ditikam. Ia melihat dirinya sendiri memegang pisau. Tapi kali ini, ia juga melihat Damian tersenyum.
"Jika kau yang membunuhnya..." Alea menarik napas. "Aku akan membuatmu membayar. Tapi bukan dengan membunuhmu. Karena kematian terlalu mudah untukmu."
Damian mengangkat alis. "Lalu?"
"Aku akan menyembuhkan Damian Kecil. Aku akan membuatnya keluar, membuatnya hidup. Dan kau—Damian dewasa—akan menghilang perlahan. Seperti yang kau takutkan."
Alea melihat sesuatu berubah di mata Damian. Bukan marah. Bukan takut. Tapi...
Damian tiba-tiba meraih kerah kemeja Alea, menariknya mendekat. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Alea bisa merasakan napas Damian yang hangat di bibirnya yang dingin.
"Kau pikir kau bisa mengalahkanku?" bisik Damian.
"Aku tidak perlu mengalahkanmu." Alea tidak bergeming. "Aku hanya perlu membuat Damian Kecil memilih untuk hidup. Dan dia akan memilihku."
Damian melepaskan Alea dengan kasar, mundur selangkah. Dadanya naik turun, seperti sedang berperang dengan sesuatu di dalam dirinya.
"Kau lebih berbahaya dari yang kau kira." Suara Damian bergetar. Bukan karena marah. Tapi karena takut.
Alea tersenyum. "Aku psikiater forensik. Aku dilatih untuk menghadapi orang sepertimu."
"Orang seperti apa?"
"Orang yang membunuh jati dirinya sendiri untuk bertahan hidup." Alea menatap Damian dengan lembut. "Kau tidak jahat, Damian. Kau hanya takut. Dan orang yang takut adalah pasien terbaikku."
Damian membalikkan badan, melangkah ke pintu. Ia mengeluarkan kunci dari saku celananya, membuka gembok, lalu mendorong pintu besi itu terbuka.
Udara dari luar masuk—hangat, kering, terasa seperti surga setelah berjam-jam di dalam dingin.
Sebelum melangkah keluar, Damian menoleh. Matanya masih merah, tapi sekarang ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang rapuh.
"Kau benar. Arya Anandara..." Damian menggenggam gagang pintu hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku tidak membunuhnya. Tapi aku tahu siapa yang melakukannya."
Alea terpaku. "Siapa?"
Damian tidak menjawab. Ia melangkah keluar, meninggalkan pintu terbuka.
Alea berlari mengejar, tapi kakinya kedinginan dan semaput. Ia tersandung, lututnya menghantam lantai semen.
Damian berhenti. Ia berbalik, melihat Alea jatuh di ambang pintu.
Dan untuk pertama kalinya, Damian berlari mendekati Alea—bukan untuk menyerang, tapi untuk membantunya berdiri.
Tangannya menggenggam lengan Alea, mengangkatnya dengan mudah. Tubuh Alea yang menggigil bersandar pada Damian yang hangat.
"Kau menggigil." Damian menggumam.
"Aku bilang aku tidak takut, tapi aku tidak bilang aku tidak kedinginan." Alea menggertakkan gigi.
Damian melepas jaketnya—hitam, tebal, masih hangat oleh suhu tubuhnya—dan melingkarkannya di bahu Alea tanpa bicara.
Alea terdiam. Jaket itu berat, seperti selimut, dan baunya... cendana, keringat, dan sesuatu yang samar seperti susu hangat.
"Makan." Damian menggenggam pergelangan tangan Alea, menariknya keluar dari ruang bawah tanah. "Kau akan sakit kalau tidak makan."
"Damian." Alea menahan langkah. "Siapa yang membunuh kakakku?"
Damian berhenti, tapi tidak menoleh.
"Aku akan memberitahumu. Tapi bukan sekarang." Suaranya pelan, hampir tidak terdengar. "Karena jika aku memberitahumu sekarang, kau akan pergi. Dan aku..." Ia berhenti sejenak. "Aku belum siap kehilanganmu."
Alea tidak bisa berkata apa-apa.
Damian melangkah lagi, kali ini lebih lambat, menyesuaikan langkah Alea yang masih limbung. Tangannya tidak melepaskan pergelangan Alea. Genggamannya tidak keras, tapi tidak akan goyah.
Mereka berjalan dalam diam menembus lorong bawah tanah yang panjang, menaiki tangga batu, hingga akhirnya cahaya matahari pagi menyentuh wajah Alea.
Di luar, langit mulai terang. Alea tidak tahu sudah berapa lama ia di dalam. Tapi saat angin pagi membelai wajahnya, ia sadar bahwa sesuatu telah berubah.
Damian tidak melepaskan tangannya.
Dan untuk pertama kalinya, Damian dewasa tidak terlihat seperti monster.
Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan pertempuran terbesar dalam hidupnya—dan untuk pertama kalinya, ia tidak menyesal kalah.
---
Apakah Damian benar-benar tidak membunuh Arya? Lalu siapa pembunuhnya? Dan mengapa Damian takut Alea akan pergi jika tahu kebenaran?
Klik ★ di pojok kanan atas untuk mendukung The Devil's Wife dengan Follow juga biar nggak ketinggalan update selanjutnya. Cerita ini baru akan semakin menggigit! 🔥
---Bersambung---