NovelToon NovelToon
Chef And The Doctor

Chef And The Doctor

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Komedi / Enemy to Lovers
Popularitas:39.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hana Reeves

Cerita Chef yang ogah nikah dan Dokter yang juga ogah menikah.

Arletta Peterson, cucu-cicit-buyut chef terkenal dari keluarga Reeves McCloud itu belum kepikiran menikah di usianya yang menginjak 26 tahun. Chef cantik itu sangat menikmati hidup lajangnya. Hingga di bulan Desember, dia melayani pesta natal di sebuah rumah sakit di London Inggris . Disana Arletta bertemu dengan Dokter Jeff Clarke yang 12 tahun lebih tua darinya. Gara-gara sebuah mistletoe dan kecerobohan Arletta, dokter Jeff mencuri dua kali ciuman dari chef cantik itu. Pertemuan kacau mereka, membuat dokter tampan itu jatuh cinta pada Arletta. Bagaimana cara Dokter Jeff bisa meyakinkan chef cantik itu kalau mereka memang berjodoh?

Generasi ke delapan klan Pratomo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita Jeff

"Ka ... kamu muslim?" tanya Arletta bingung.

"Alhamdulillah iya. Kenapa? Tidak tahu? Dokter Rasendriya tidak cerita?" senyum Jeff.

"Oom Rase tidak cerita apapun ...."

"Assalamualaikum Arletta," salam Jeff sambil mencium pipi gadis itu. "Yuk, sholat dhuhur."

Arletta yang masih terbengong-bengong, hanya mengikuti Jeff yang menggandeng tangannya. Mereka menuju sebuah rumah kecil yang dibuat sebagai mushola kecil. Ada beberapa orang disana untuk beribadah berjamaah dan Arletta benar-benar yakin Jeff seorang muslim saat ikut di barisan para pria di depan.

Arletta sungguh tidak menduga jika Jeff seorang muslim meskipun tahu, Islam menjadi agama yang banyak penganutnya di Eropa. Bahkan beberapa gereja akhirnya dijadikan mesjid karena umatnya nyaris tidak ada.

"Excuse me ...."

Arletta yang baru saja membuka mukena mini yang merupakan hadiah dari Selyn Hassan Baum waktu dia di Aussie, menoleh ke arah suara.

"Ya?"

"Apakah anda Chef Arletta Peterson? Juri MasterChef Australia?" tanya seorang wanita dengan aksen Aussie.

"Benar. Anda dari Aussie?" jawab Arletta.

"Benar. Dari Brisbane tepatnya. Saya sangat suka cara anda menghadapi kontestan dan putri saya sangat mengagumi anda." Wanita itu memperlihatkan seorang anak perempuan dengan kondisi down syndrome. "Namaku Odette."

"Senang bertemu denganmu Odette," senyum Arletta.

"Putriku memang down syndrome tapi dia sangat suka memasak. Apalagi saat dia menonton MasterChef Australia dan melihat bagaimana anda membuat apa itu namanya ... Semar mendem?" tanya Odette takut salah.

"Iya, semar mendem. Itu panganan dari Jawa Indonesia. Orang Aussie pasti tahu. Karena buyutku orang Jawa jadi aku belajar membuatnya."

"Putriku sangat suka membuatnya," kekeh Odette.

"Oh, aku sangat tersanjung mendengarnya. Hai, siapa namamu?" sapa Arletta ramah.

"Diane. Aku senang dengan Chef Arletta," jawab anak perempuan yang usianya sekitar sepuluh tahun.

"Senang bertemu denganmu Diane." Arletta menyalami tangan Diane yang malu-malu.

"Kalian tinggal di Glasgow?" tanya Arletta.

"Tidak. Kami tinggal di London. Suamiku, ada pekerjaan disini. Jadi kami sekalian berlibur."

Tak lama Arletta melihat seorang pria berdarah Arab mendatangi mereka bersamaan dengan Jeff juga mendekatinya.

"Chef Arletta?" ucap pria itu terkejut. "Masyaallah, ini suatu hal yang ... Amazing! Namaku Ali, ini istriku Odette dan Diane putri kami."

Arletta bersalaman dengan Ali. "Ini Jeff, temanku." Arletta memperkenalkan Jeff ke mereka semua.

"Diane sangat suka pada anda!" ucap Ali antusias. "Dia selalu suka kalau anda sudah membuat camilan yang unik-unik. Entah dari Indonesia maupun Malaysia."

"Kebetulan aku keturunan dari dua negara itu juga Korea Selatan jadi ya ... Begini jadinya. Semua camilan dari leluhur, aku coba buat semua." Arletta menoleh ke Diane. "Apa kamu mau datang ke RR'S Meals? Kamu buat makanan yang kamu suka buat dan aku mencicipinya seperti di MasterChef?"

Wajah Diane langsung berbinar. "Bolehkah?"

"Boleh! Ini nomor ponselku. Kabari saja kalau kalian sudah sampai di London. Aku menunggu hasil masakan kamu, Diane," senyum Arletta sembari memberikan nomor ponselnya ke ponsel Odette.

"Terima kasih Chef Arletta. Nanti kami kabari!" senyum Odette sumringah.

"Chef Arletta?" panggil Diane.

"Yes?"

"Boleh aku memelukmu?" tanya Diane.

"Tentu saja boleh."

Diane memeluk Arletta lalu setelahnya kembali ke ibunya. "Chef Arletta harum bunga jasmine dan sedikit mawar."

Arletta tampak kikuk. "Kok tahu?"

"Diane selain suka memasak, dia juga suka mencium harum parfum," jawab Odette. "Hidungnya memang sensitif."

"Bagus untuk mencium masakan itu," puji Arletta.

"Emper Legend Femme Blossom. Parfumnya itu," celetuk Diane.

"Lha ketahuan!" gelak Arletta. Jeff hanya tertawa kecil melihat sikap kikuk gadis itu.

Setelah berbasa-basi, Arletta dan Jeff berjalan-jalan lagi sambil melihat pemandangan taman nasional itu.

"Kamu tidak bertanya kenapa aku memeluk Islam?" tanya Jeff ke Arletta yang berjalan di sebelahnya.

"Tidak. Karena bagiku yang namanya agama, itu adalah hak pribadi seseorang dan aku tidak berhak ingin tahu." Arletta menatap Jeff. "Kamu mendapatkan hidayah itu jadi kamu nyaman dengan Islam."

"Aku ceritakan ...."

***

POV Jeff

Sebelumnya, hidupnya terasa jelas, terarah, bahkan bisa dibilang sempurna. Ia punya karier yang stabil, lingkaran pertemanan yang solid, dan seorang tunangan yang selalu menjadi pusat dunianya, Celia, tunangannya. Perempuan itu bukan hanya calon istri, tapi juga tempat pulang, alasan Jeff bertahan di hari-hari berat.

Sampai suatu malam, semuanya runtuh.

Kecelakaan itu datang tanpa aba-aba. Jeff masih ingat bagaimana tangannya gemetar saat menerima telepon dari rumah sakit. Ia berlari, berharap itu hanya kesalahpahaman. Tapi yang ia temukan hanyalah tubuh Celia yang terbujur diam, terlalu tenang untuk seseorang yang biasanya penuh tawa.

Sejak hari itu, Jeff berubah.

Ia menjadi lebih pendiam. Rumahnya yang dulu terasa hangat kini kosong dan dingin. Foto-foto mereka masih tergantung, tapi justru itu yang membuatnya semakin sulit bernapas. Ia mulai mempertanyakan banyak hal, tentang hidup, tentang kematian, tentang apa arti semua ini jika pada akhirnya semua bisa hilang begitu saja.

Rasendriya melihat perubahan itu.

Sebagai rekan kerja sekaligus seniornya, Rasendriya tidak pernah memaksa Jeff untuk bercerita. Ia hanya ada, menemani dalam diam, sesekali mengajak bicara ringan, atau sekadar duduk bersamanya setelah shift panjang di rumah sakit.

Suatu malam, setelah mereka selesai menangani pasien, Jeff tiba-tiba bertanya, suaranya pelan.

“Dokter Bianchi … menurut anda, setelah orang meninggal… mereka ke mana?"

Rasendriya terdiam sejenak. Ia tahu ini bukan pertanyaan biasa.

“Dalam keyakinanku,” jawabnya hati-hati, “hidup itu nggak berhenti di sini. Ada kehidupan setelahnya. Dan setiap orang akan kembali ke Tuhan.”

Jeff menunduk, mencerna.

“Kalau gitu… apa masih ada kesempatan buat ketemu lagi?”

Rasendriya menatapnya, lalu berkata lembut, “Kalau Tuhan mengizinkan… iya.”

Percakapan itu menjadi awal. Jeff mulai bertanya lebih banyak. Bukan hanya tentang kematian, tapi juga tentang makna hidup, tentang Tuhan, tentang kenapa manusia harus melalui kehilangan. Rasendriya menjawab sebisanya, tanpa menggurui, tanpa memaksa. Kadang dia sendiri mengakui kalau tidak semua hal bisa dia jelaskan.

Hari-hari berlalu, dan tanpa disadari, Jeff mulai menemukan ketenangan dalam hal-hal yang sebelumnya asing baginya. Dia sering melihat Rasendriya diam sejenak di sela kesibukan, menenangkan diri, berdoa. Ada sesuatu dalam ketenangan itu yang membuat Jeff penasaran dan perlahan, ingin merasakannya juga.

Suatu sore, Jeff berdiri di luar sebuah masjid.

Ia ragu. Langkahnya terasa berat, seolah ada dua sisi dalam dirinya yang saling menarik.

Tapi ingatan tentang Celia, tentang kehilangan yang belum pernah benar-benar sembuh, mendorongnya maju.

Dia pun masuk. Di dalam, suasananya tenang. Tidak ada yang menatapnya aneh. Tidak ada yang bertanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Jeff merasa … tidak sendirian.

Beberapa minggu kemudian, Jeff membuat keputusan besar.

Ia mengucapkan dua kalimat syahadat dengan suara yang sempat bergetar, tapi penuh keyakinan. Bukan karena paksaan siapa pun, bukan juga karena pelarian semata, melainkan karena ia merasa menemukan jawaban yang selama ini ia cari.

POV End

***

"Jadi karena Oom Rase?"

Jeff menggeleng. "Bukan, karena aku sendiri yang mencari ketenangan itu. Aku bisa hidup seperti ini, juga karena iman aku. Aku tidak menjadi lebih gila karena kehilangan Celia, juga karena imanku. Sejujurnya, ini yang aku cari selama mencari ketenangan batin."

Arletta mengangguk. "Itu namanya hidayah. Aku senang kamu mendapatkan ketenangan batin."

***

Yuhuuuu up malam Yaaaaaaaa

Thank you for reading and support author

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu

1
awesome moment
terhuraaaaaa/Bye-Bye/hidayah mmg hak pemberi hidup. dan...hnya org terpilih yg bisa dpt. jeff adalah salah 1nya. lwt kehilangan dia justru menemukan jalan iman. whoah...mudah n jalan sah utk memiliki letta. udh seiman c
mama_im
eh kok aq baru liat ada buku ini 😱😱😱 ya ampun mana udah sebulan yg lalu lagi 😅😅😅
Yuli Budi
buok ... malah Podo g ngertine nak muslim 🤦
Andriani Rahmi
wow... apakah Jeff muslim???
Andriani Rahmi
syafakillah mbak... ditengah kondisi tidak sehat pun masih tetap menulis... jangan lupa istirahat mbak, manfaatkan previlege dari tuhan, jenengan diaturi leren 🫣🫣
Jenong Nong
semoga cepet sembuh Thor 🤲
Sustika Ekawati
sehat³ mbak hanna...cemungutttt💪💪💪💪💪💪🤗🤗🤗🤗
awesome moment
GWS, mbak. biar makin panjang ceritanya. letta sm jeff lbh pendek jalur sahnya klo udh seiman bgitu
Elsa Fanie
cepat sehat kk🤗,y begitulah para bapak klan Pratomo 🤣🤣🤣,ya Allah JD kangen Semar mendem,😁,eee apakah Jeff jg muslim 🤔
Septi Lahat
syafakillah mbak Hanna, Terima kasih sdh up letta n jeff,, klo jeff muslim adlh suatu kejutan dri semua kejutan😁😍
Dahwi Khusnia
semoga cepat sembuh kak han
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Makasih ya mbak udah luangin waktu buat up😘 semoga lekas sehat dan jangan lupa istirahat..
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Ngeri kalo tetiba tu pisau melayang sendiri🤣🤣🤣
Wings Vit
Ceoat sembuh mba,,, syafakillah 🤗
amilia amel
syafakillah ya mbak
ternyata unpredictable.... Jeff juga muslim
Schyler
Gws,thor...
shinta
Syafakillah Teteh.....
Ria Ariani
sehat sehat mbak han💪
Gita Mitha Pertiwi
sehat2 kak
istri darmayanty
sehat sehat kak hanna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!