Kimberly kembali ke negaranya bersama ke empat anak kembarnya untuk membawa anak sulungnya yang terpaksa dititipkan oleh seorang pria. Di mana pria tersebut adalah seorang CEO yang terkenal dengan kekejamannya dan super dingin.
Kimberly hamil di luar nikah karena melakukan hubungan satu malam dengan seorang pria. Di mana saat itu Kimberly di jebak oleh Ibu tirinya dan adik tirinya demi mendapatkan warisan yang ditinggalkan oleh Ibunya.
Selain ingin membawa putra sulungnya, Kimberly berniat membalaskan dendam terhadap Ibu tirinya dan juga adik tirinya dengan cara menikah dengan pria yang membuat dirinya hamil.
Akankah rencananya berjalan lancar? Apakah pernikahan Kimberly berakhir bahagia atau bercerai? Mengingat banyak orang yang ingin memisahkan hubungan mereka. Ikuti yuk novel terbaruku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayuk Triatmaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mempertimbangkan
"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan." Ucap Kimberly sambil turun dari pangkuan Diego lalu berdiri.
"Aku ingin melihat Arnold dulu." Sambung Kimberly mengalihkan pembicaraan.
Sambil berbicara membalikkan badannya dan meninggalkan Diego sendirian. Sedangkan Diego menatap kepergian Kimberly sambil memegang bibirnya yang habis mencium bibir Kimberly.
"Kimberly, suatu saat nanti Aku pasti akan mengetahui apa yang selama ini kamu sembunyikan dariku." Ucap Diego.
Tubuhnya yang lelah membuat Diego berbaring di ranjang dan tidak membutuhkan waktu lama Diego tidur dengan pulas hingga pagi menjelang.
Jam enam pagi, Kimberly dan Senin berada di ruang makan untuk menikmati sarapan pagi sedangkan Diego berada dikamarnya bersama Asisten Mike.
("Dasar pria mesum, berani-beraninya terang-terangan mencium bibirku." Ucap Kimberly yang mengingat kejadian semalam).
Kimberly yang sedang melamun tiba-tiba disodorkan roti sandwich ke arah mulutnya. Kimberly sempat terkejut dan melihat tangan mungil Arnold yang ingin menyuapi dirinya.
Kimberly kemudian memegang tangan mungil Arnold lalu memasukkan roti sandwich ke arah mulutnya.
"Enak sekali. Terima kasih, Arnold." Ucap Kimberly sambil tersenyum ke arah Arnold.
"Emmm ..." Jawab Arnold.
"Oh ya, Arnold. Bagaimana hubunganmu dengan ke empat adik kembarmu?" Tanya Kimberly penasaran.
Arnold hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dan hal itu membuat Kimberly sangat bahagia.
"Arnold, apakah kamu mau tinggal bersama mereka lebih lama?" Tanya Kimberly.
Lagi-lagi Arnold hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian menunjuk ke arah lantai dua yang merupakan kamar Diego.
"Kita tidak mengajak Daddy. Jadi hanya ada Mommy, kamu dan ke empat adik kembarmu. Apakah kamu mau ikut bersama kami?" Tanya Kimberly penuh harap.
Wajah Arnold yang awalnya terlihat bahagia mendadak menjadi sedih dan langsung menundukkan kepalanya.
("Meski Diego tegas tapi Diego adalah seorang Ayah yang bertanggung jawab. Aku memaksa Arnold memilih salah satu dari kami, apakah Aku terlihat terlalu kejam?" Tanya Kimberly yang tidak bisa melihat Arnold sedih).
"Apa yang Mommy katakan barusan jangan kamu pikirkan karena Mommy sangat sedih jika melihatmu sedih." Ucap Kimberly yang tidak ingin memaksa dan membuat Arnold sedih.
Sambil berbicara Kimberly membelai rambut Arnold dengan lembut. Sedangkan Arnold hanya terdiam sambil memikirkan bagaimana supaya orang tua mereka bisa bersatu dan memiliki keluarga yang utuh.
"Oh ya, Mommy mau pergi ke rumah Mommy untuk bertemu dengan adik-adikmu sekalian ingin melihat kalung berlian milik Nenekmu. Setelah itu Mommy mau pergi ke kantor." Ucap Kimberly.
Arnold hanya menganggukkan kepalanya kemudian Kimberly mencium kening Arnold lalu pergi meninggalkan tempat kediaman Roberto.
Awalnya Paman Albert yang merupakan Kepala Pelayan meminta Kimberly agar di antar sopir yang bertugas mengantar anggota keluarga Roberto.
Namun Kimberly menolaknya dengan alasan dirinya ingin pergi ke kantor agak lama dan juga pergi ke tempat lain.
"Mau kemana?" Tanya Diego tiba-tiba ketika melihat Kimberly berjalan menuju ke arah pintu utama.
"Mau pergi ke kantor." Jawab Kimberly sambil membalikkan badannya.
"Aku ikut." Ucap Diego yang ingin mengetahui kantor Kimberly.
"Kapan-kapan saja." Jawab Kimberly yang tidak ingin Diego bertemu dengan ke empat anak kembarnya.
"Kenapa?" Tanya Diego penasaran.
"Sebelum ke kantor, Aku ingin bertemu dengan sahabatku di kafe. Aku tidak ingin kamu nantinya merasa bosan." Jawab Kimberly mencari alasan yang tepat.
"Pria atau wanita?" Tanya Diego dengan nada cemburu.
"Wanita." Jawab Kimberly dengan singkat.
Diego hanya terdiam dan dengan berat hati Diego membiarkan Kimberly pergi. Namun tanpa sepengetahuan Kimberly kalau Diego mengirim seseorang untuk melindungi Kimberly dan ingin mengetahui apa yang dilakukan Kimberly.
Kimberly mengendarai mobil dengan kecepatan sedang namun di pertengahan jalan, tiba-tiba ponselnya berdering. Kimberly langsung menekan tombol earphone yang sengaja di pasang di telinganya.
("Mommy, Daddy mengirim dua orang untuk mengikuti mobil Mommy. Dua orang itu menaiki mobil berwarna hitam dengan nomer polisi xxxxxx." Ucap Amanda tanpa basa basi).
"Ok. Terima kasih." Jawab Kimberly sambil menatap ke arah kaca spion mobil.
Kimberly yang mempunyai keahlian mengemudi di tambah dulunya seorang pembalap membuat Kimberly dengan mudahnya mengelabui mobil hitam tersebut.
Hingga beberapa saat mobil yang dikendarai Kimberly tidak bisa di susul oleh orang suruhan Diego. Kimberly hanya tersenyum penuh kemenangan dan kembali melanjutkan perjalanan menuju ke arah rumahnya.
Kimberly kini sudah berada di tempat kediamannya bersama ke empat anak kembarnya yang terdiri dari Adrian, Alexander, Amanda dan Alma.
Adrian memberikan kotak kayu ke Kimberly kemudian Kimberly membuka kotak kayu tersebut. Hingga beberapa saat Kimberly melihat kalung berlian biru dan benda kecil yang bernama kartu memori.
"Ternyata ada sesuatu yang disembunyikan di dalamnya." Ucap Kimberly sambil memegang benda kecil tersebut.
"Pantas saja Mommy sangat ingin mendapatkannya." Ucap Adrian yang mengerti kenapa Kimberly sangat menginginkan benda itu.
"Kartu memori ini adalah senjata ampuh yang ditinggalkan Oma untuk Mommy. Dengan adanya bukti ini maka Mommy bisa menguasai sepenuhnya Grup Baskoro." Ucap Kimberly.
"Nenek memang sangat hebat." Puji Amanda.
"Benar sekali. Kalau saja Nenekmu tidak sakit parah maka Grup Baskoro tidak akan mungkin jatuh ke tangan Kevin Baskoro." Ucap Kimberly sambil menahan amarahnya terhadap Ayah kandungnya dan juga kedua wanita jahat itu.
"Adrian, kalung ini kamu simpan di tempat semula." Ucap Kimberly.
Sambil berbicara Kimberly memberikan kotak kayu tersebut namun sebelumnya Kimberly menyimpan benda kecil tersebut ke dalam tasnya.
Adrian hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka berlima kembali mengobrol hingga satu jam kemudian Kimberly pamit.
Setengah jam kemudian Kimberly sudah sampai di perusahaan miliknya di mana Ronald sejak tadi menunggu dirinya di ruang kerjanya.
"Ini dokumen perusahaan yang perlu ditandatangani." Ucap Ronald sambil meletakkan semua dokumen untuk ditandatangani oleh Kimberly.
Kimberly hanya tersenyum kemudian mengambil pena untuk menandatangani dokumen. Kimberly menandatangi dokumen tersebut satu persatu tanpa memeriksanya. Hal ini dikarenakan Kimberly percaya Ronald tidak akan membohongi dirinya.
"Oh ya, sudah ada rencana untuk membawa si sulung pergi bersama ke empat anak kembarmu?" Tanya Ronald penasaran.
"Si sulung jelas tidak rela berpisah dengan Diego. Kalau di suruh memilih sekarang maka kemungkinan besar Dia tidak akan ikut denganku." Jawab Kimberly yang tidak bisa pisah dengan Arnold sambil menghentikan pekerjaannya.
"Bagaimana kalau kamu mempertimbangkan Diego?" Tanya Ronald yang ingin Kimberly hidup bahagia.