NovelToon NovelToon
Suami Bajinganku Tersayang

Suami Bajinganku Tersayang

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.6
Nama Author: Yoevanca

Suami Bajinganku Tersayang.

Aku tak menyangka pertemuanku yang tak sengaja dengan Leon, lelaki romantis dan super tampan itu adalah awal dari kisah hidupku yang nelangsa.
Betapa tidak, di umurku yang baru menginjak 18 tahun aku sudah di tinggalkan kedua orang tuaku akibat kecelakaan tunggal dijalan tol.
Kedua orang tuaku hangus terbakar di dalam mobil, sedangkan aku bisa diselamatkan dari kecelakaan maut itu.
Dialah Leon Maleva, pahlawan yang menyelamatkan hidupku sekaligus menjadi suamiku kelak.
Dibalik sikapnya yang manis dan romantis tersimpan sejuta rahasia yang terpendam.
Bisakah aku hidup bahagia dengannya?

Karya ini kolaborasi dari Yoevanca, Fery Tamaki, Tiyan Wijayanti & Nenk triska Zeka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoevanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 - Pilihan yang sulit

Sepuluh menit kemudian, mobil Leon dan Adrian berbelok ke halaman parkir rumah sakit yang termahal dan terbaik yang ada di kota mereka.

Adrian berjalan duluan disusul oleh Leon dan Tama di belakang mereka, dengan perasaan gundah hati ketiga lelaki itu masuk ke dalam ruang perawatan Ivanka.

Wanita itu sudah siuman dan kini ia berbaring dengan posisi bed pada bagian punggung hingga kepala yang dibuat lebih tinggi.

Wanita itu sangat kaget, ketika melihat kedatangan Leon bersama Adrian secara bersamaan.

Bagaimana mungkin kedua lelaki yang berseteru itu bisa datang pada saat yang bersamaan?

Dan yang lebih mencengangkan lagi ketika ia melihat wajah Leon yang penuh luka.

Fokus Ivanka langsung tertuju pada luka Leon hingga dia sedikit mengabaikan Adrian.

"Kak Leon, kenapa kamu ada di sini? Dan kenapa wajahmu bisa seperti ini? Kamu bertengkar dengan seseorang?" tanya Ivanka.

Wanita itu langsung melayangkan beberapa pertanyaan sekaligus, meski ada rasa benci tapi jelas Ivanka tetap khawatir melihat Leon yang sudah babak belur, semua karena rasa cintanya untuk Leon yang masih sangat besar.

Hal ini membuat Adrian sedikit cemburu dengan sikap Ivanka yang masih peduli kepada Leon.

"Tidak penting dengan lukaku, Vanka. Yang terpenting adalah dirimu. Apa kamu baik-baik saja?" Leon gantian bertanya.

Lelaki itu merapat ke ranjang inap Ivanka, lalu memegang tangan Ivanka yang dipasangi dengan selang infus dan menggenggamnya. Adrian merasa sakit hati dan tidak terima dengan perlakuan manis Leon pada Ivanka. Tapi dia mencoba menahan diri untuk tidak membuat keributan karena mengingat mereka sedang berada di rumah sakit saat ini.

"Aku? Jangan khawatir kan aku, Kak! Aku jelas baik-baik saja. Aku hanya pingsan jadi tidak perlu berlebihan seperti ini!" jawab Ivanka

seraya menarik tangannya dari genggaman tangan Leon.

"Kak Adrian, kenapa kamu ajak Kak Leon kemari? Apa pentingnya? Lagi pula dia sudah berjanji untuk melepaskan aku. Jadi untuk apa dia datang lagi?" Ivanka gantian melemparkan pertanyaan pada Adrian dan menatap lelaki itu dalam-dalam.

"Cinta, ada sesuatu yang harus kamu ketahui tentang keadaanmu saat ini," jawab Adrian.

Sejujurnya dia bingung harus mulai dari mana untuk mengatakannya. Dia yakin Ivanka pasti kaget dengan apa yang akan dia dengar.

"Keadaan aku? Aku kenapa? Lalu apa hubungannya dengan lelaki ini? Dia tidak perlu tahu lagi apapun yang terjadi denganku!" kata Ivanka dingin.

Adrian menatap wajah Leon dengan tatapan menusuk, begitu pun Leon yang melempar pandangan tidak suka pada Adrian.

Untuk beberapa saat kedua pasang manik mata lelaki itu saling terkunci, seolah mereka sedang berperang lewat netra mereka masing-masing.

Sedangkan jujur Ivanka sangat kebingungan dengan apa yang terjadi di antara kedua lelaki yang berada di depannya.

Saat ini dia hanya butuh sebuah penjelasan, tapi tak ada satu pun dari keduanya yang bisa memberinya alasan kenapa dua lelaki itu bisa berada di sini.

"Tama, apa kamu tahu apa yang terjadi?" Ivanka memilih bertanya pada Tama.

"Saya tidak berani bicara banyak, Nona. Biarkan mereka yang menjelaskan," jawab Tama.

Karena menurut Tama ia tidak berhak untuk bicara hanya Tuan Leon dan Adrian yang berhak untuk mengatakan yang sebenarnya.

"Apa kalian masih akan diam saja seperti ini?" tanya Ivanka pada Leon dan Adrian.

"Kalau kalian tetap diam, maka aku akan pergi dari sini saja," ancam Ivanka.

Dia sudah hendak turun dari ranjang rumah sakit tapi dengan segera Adrian melarangnya.

"Jangan kemana-mana, Cinta! Aku akan menjelaskan semuanya sama kamu. Tapi aku mohon .... " Adrian menggantung kata-katanya sejenak.

Dia menggenggam tangan Ivanka kuat-kuat lalu menciumnya. Perlakuan manis Adrian justru membuat Ivanka semakin merasa ada hal yang serius dan tidak beres yang terjadi padanya.

"Aku mohon kamu harus bisa mengendalikan emosimu," lanjut Adrian.

"Ada apa ini, Kak? Cepat beri tahu aku, Kak! Apa yang terjadi?" tanya Ivanka dengan nada yang meninggi.

"Ivanka, saat ini kamu ... kamu .... " Adrian nampak ragu untuk mengatakannya.

Belum apa-apa saja emosi Ivanka sudah naik seperti ini.

"Aku apa, Kak? Ayo katakan aku kenapa?" Ivanka semakin menjadi-jadi.

"Tenanglah dulu, Cinta," pinta Adrian.

"Bagaimana aku bisa tenang? Kamu menyembunyikan sesuatu dari aku kak," jerit Ivanka.

"Ivanka, tolong redam emosimu dulu! Kami akan mengatakannya. Tapi tolong jangan emosional, ini tidak baik untuk keadaanmu," sambung Leon mencoba untuk menenangkan Ivanka.

"Oke. Aku akan tenang," ucap Ivanka.

Dia berusaha mengatur napas agar emosinya juga ikut terkontrol.

Belum juga Leon ataupun Adrian mengatakan yang sebenarnya, tiba-tiba seorang dokter datang menghampiri mereka.

Beliau membawa sebuah amplop kecil berisi hasil foto USG yang tertinggal di ruang pemeriksaannya.

"Syukurlah istri anda sudah sadar Tuan Adrian dan ini hasil USG anda nona. Anak dalam kandungan anda sehat dan normal sesuai usianya. Hanya saja kondisi anda lemah nona, anda tidak boleh stress dan harus banyak makan-makanan bergizi. Anda bisa segera pulang bila dirasa sudah kuat. Tapi ingat banyak-banyak beristirahat. Saya permisi tuan dan nona" papar dokter wanita dengan gamblang dan menjawab semua pertanyaan yang bergelayut di benak Ivanka sejak tadi.

Kini sorot mata Adrian, Leon dan Tama terfokus pada reaksi Ivanka.

Mulut mereka terkunci, Ivanka memegang foto USG yang baru saja diberikan dokter dengan tangan gemetaran.

"Aku hamil? Nggak mungkin! Aku nggak mau hamil!" kata Ivanka dengan suara lirih.

Bibirnya bergetar, perlahan air matanya menetes membasahi foto hasil pemeriksaan kandungannya.

"Ujian apalagi iniTuhan?" Pikirnya.

"Pulanglah bersamaku, Sayang! Aku akan bertanggung jawab dan kita akan segera menikah," ajak Leon sambil mengelus-elus rambut hitam panjang Ivanka.

Ivanka meremas foto USG yang ada di tangannya. Dia menatap mata Leon dengan penuh kebencian. Matanya yang merah dan basah berhasil menorehkan kepiluan yang mendalam pada hati Leon.

Ivanka melempar foto itu tepat mengenai wajah Leon Maleva dan emosinya meledak seketika.

"Kamu! Karena kamu hidupku hancur! Apa kamu tahu? Aku masih ingin kuliah! Aku masih mau mengejar cita-citaku. Tapi karena dirimu! Aku harus mengandung di usiaku yang masih delapan belas tahun. Terkutuk kamu, Leon Maleva! Kamu baji*ngan! Aku membencimu! Aku muak melihatmu! Pergilah! Aku mohon pergi dari hadapanku! Aku nggak mau lihat wajah kamu lagi!" amuk Ivanka sambil menunjuk muka Leon dengan jari telunjuknya.

Dia menghujani tubuh Leon dengan pukulan bertubi-tubi, tangis Ivanka semakin histeris dan menjadi-jadi.

Namun Leon tak bergeming, dia membiarkan tubuhnya menjadi sasaran kemarahan Ivanka. Dia sadar atas kesalahannya, ia tidak memungkiri kalau dia telah menghancurkan hidup dan masa depan Ivanka.

"Kamu lelaki yang tidak punya perasaan! Terkutuk kamu, Leon! Aku mau mati saja! Aku malu sekali Tuhan, kenapa aku harus mengandung di luar nikah? Aku mengandung anak karena hasil pemerkosaan, sungguh menjijikan diriku ini," keluh Ivanka.

Hatinya sungguh sakit sekali bak dihujam ribuan belati, jelas dirinya tidak siap untuk memiliki anak. Terlebih Ivanka pasti juga akan menjadi bahan gunjingan banyak orang.

Ivanka tidak pernah menaruh curiga kalau dirinya hamil meski dia tahu sudah hampir dua bulan ini dia tidak dapat tamu bulanan. Dia menduga kalau tamu bulanannya memang menjadi kacau karena efek pikirannya yang stress sejak kematian orang tuanya.

Tapi ternyata kenyataan berkata lain, benih Leon kini tumbuh di rahimnya meski hanya sekali saja mereka berhubungan badan.

Ivanka terus menangis, dia mencengkeram kepalanya kuat-kuat dengan kedua tangan. Kakinya menendang-nendang tak tentu arah hingga selimut yang membungkus tubuhnya berhamburan kemana-mana.

"Tolong tenanglah, Sayang! Semua akan baik-baik saja. Percaya sama aku! Kita akan menikah dan kamu masih bisa melanjutkan kuliahmu meski kamu hamil. Aku janji tidak akan membatasi aktivitasmu dan apapun yang kamu mau pasti akan aku turuti. Kita pulang ya! Ingat kata dokter, kamu nggak boleh stress karena ini tidak baik untuk anak kita," bujuk Leon.

"Ini anakmu! Bukan anak kita! Aku tidak menginginkan anak ini! Aku bilang pergi dari hadapanku, Leon Maleva! Pergi! Pergi!" usir Ivanka dengan lantang.

"Aku mohon kamu pergilah dulu! Dia sudah menolakmu! Jangan buat Ivanka semakin histeris!" sela Adrian.

"Kamu juga pergi, Kak!" Kini giliran Adrian yang Ivanka usir.

"Tapi apa salahku Cinta?" tanya Adrian.

"Kamu nggak salah apa-apa Kak, tapi jangan sia-siakan hidupmu hanya demi aku! Aku kotor! Aku hamil anak lelaki breng*sek sepertinya. Aku nggak pantas untuk siapa pun lagi. Pergilah kalian berdua! Aku nggak mau ketemu sama siapa pun, aku mau sendiri. Tolong! Biarkan aku sendiri!" pinta Ivanka sambil menangis.

"Iya, baiklah aku akan pergi. Tapi berjanjilah! Tenangkan dirimu Cinta. Jangan lupa ada aku yang akan selalu ada di sisimu," ucap Adrian.

Dia meninggalkan sebuah ciuman di pucuk kepala Ivanka sebelum akhirnya dia dan Leon juga Tama pergi meninggalkan wanita itu sendiri.

Leon sangat kecewa, lagi-lagi Ivanka menolaknya meski alasan untuk mereka bersatu sangatlah kuat yaitu karena ada anak dalam kandungannya.

Tapi wanita itu tidak serta merta menerima ajakan Leon untuk menikah, justru ia begitu terpukul dengan apa yang menimpanya sekarang.

Adrian pun yang juga turut bersedih karena Ivanka mengusirnya, sebenarnya Ivanka merasa tidak pantas untuk lelaki sebaik dan setulus Adrian.

Adrian bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada dirinya, untuk itulah setelah lama berpikir akhirnya Ivanka memilih untuk pergi diam-diam dari rumah sakit.

Dia tahu Adrian tidak benar-benar pergi meninggalkannya. Lelaki itu menunggu Ivanka tidak jauh dari ruang rawatnya.

Ivanka mencari celah saat lelaki itu terlena dan dia pun akhirnya berhasil melarikan diri.

Ivanka mencabut selang infus yang menancap di tangannya lalu dia buang botol infus beserta jarum dan selangnya di dalam tong sampah.

"Aku tidak butuh obat ini, aku tidak butuh apapun dan kini hidupku sudah hancur," katanya dalam hati.

Ivanka berjalan dengan kondisi tubuhnya yang masih lemah, dia tidak tahu akan pergi kemana lagi.

Dia tidak punya siapa pun di kota ini dan ia berjalan sesuai kata hatinya.

Perlahan langkah kakinya melemah, sudah hampir setengah jam dia berjalan tanpa henti ditemani oleh air matanya yang tak kunjung berhenti menetes.

"Aow ... kepalaku," keluh Ivanka.

Dia merasa kepalanya pusing, terlebih perutnya yang terus mual. Ivanka sempoyongan, tangannya meraba-raba mencari pegangan untuk membantu tubuhnya untuk tetap berdiri.

Namun naas, Ivanka jatuh pingsan di pinggir jalan karena sudah tidak mampu lagi untuk bertahan.

🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴

Jangan lupa buat like, komen, dan vote setelah membaca supaya menulis lebih semangat lagi.

Tombol ❤️ di tekan juga ya ... happy reading.

1
Qillah julyan
bab ini gak asik..
Qillah julyan
lah curang pake ccrtv toh carinya😁
Misar Lakanting
lanjut
Misar Lakanting
lanjut cerita
Diana Susanti
nyimak kak
Meilan Kaluku
gassssd leonnnn
Ita Imus
suka
evayua
keknya nih ya nama Tama emang banyak yg somplak,karna Tama kenalan gw begitu juga,saat Tama ini dapat bonusan kerja dia bilang mau kasih gw kue,dan gw requestlah kue apa aja yg penting di kotak biar gak ribet dan bener sih kotak tapi yg dia kasih kue tart dong dengan krim putih pulak 🤦😆😆, aduhhh bener2 Tama yaa 😆😆😆
Salmah S
cemangat yaa thor😁
🦅HagiaShofia🦘
sumph suka q novel kek gni kocakk abisss,,, 😂🤣🤣🤣🤣
💕febhy ajah💕
""dia pasti sudah gila""
ya iyalah gila, kan kepalanya ngebentur, pasti geser dikit lah.
💕febhy ajah💕
mampir setelah sekian lama difavoritkan
Nani Susanti
invanka sangat anak2 se x...
g ada dewasa2 nya....
Dina A Noor: mood ibu hamil itu. apalagi masih abg plus dpt suami mantan casanova.
total 1 replies
uhuuuyyy
nesu maneeeh
uhuuuyyy
hmmm...jaaan tenan ogh mak juju kiii
uhuuuyyy
wakakakakqkak..tamaaa tamaa...kena dech loe
Nani Susanti
sama aq jg gt
Nani Susanti
ya ampun sampai segitu nya ya si Leon.....
kejam bngt......🤣🤣🤣🤣🤣😂😂
Nani Susanti
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Desy Puspita
Mommy😌
Aku kemari ngapain😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!