Prolog
Ini mencerita kan kisah Kayla putri purnama dan Karel Albert purnama yang bertransmigrasi ke dalam novel "Bucinnya anak SMA ".
Kayla menjadi tokoh antagonis yang akan mati dengan tragis ,sedangkan sang adik menjadi tokoh figuran yang miskin mempunyai hidup yang kelam dan sahabat dari tokoh utama pria.
Adik laki-laki yang sangat menyebalkan nya merupakan pembully di sekolah.dan setiap hari pasti ada peringatan dari guru bk,tentu saja Kayla yang selalu menyelesaikan nya.
Berbeda dengan sifat sang adik yang hiperaktif ,Keyla adalah orang yang cuek dan dingin kecuali bersama adiknya.
Adiknya yang mempunyai trauma membuat Kayla memanjakan nya ,apapun yang Karel mau pasti terpenuhi.namun ,karena Karel seorang pembully.seorang siswa yang pernah menjadi korban mencoba balas dendam kepada mereka berdua dan dengan tragis nya Kayla dan Karel meninggal tertabrak mobil saat ingin pergi ke Alfamart.
Dan entah sial kenapa Kayla terjebak di dalam tubuh antagonis kejam bersama sang adik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nand, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemenang
Kiiik!
Suara gesekan motor terdengar dengan nyaring setelah motor itu melewati garis finis. Penonton bertepuk tangan, menyambut kemenangan sang ketua Balck Lion untuk yang kesekian kalinya.
"Gila hebat bange lo bos," Pekik Erkan.
Erkan, Dava, Teo, Gara dan Farka mulai menghampiri Devano, yang terlihat tengah membuka helmnya.
"Selamat bro!" Ucap Farka, dia ikut bangga dengan teman barunya itu.
Devano berdehem mengiyakan.
"Haha...gw udah deg degan tadi anj*." Ucap Dava, sambil merangkul pundak sahabatnya.
Gara mengangguk, tidak lupa juga dia ikut memberi ucapan selamat untuk sahabat nya.
"Selamat untuk yang kesekian kalinya, lo hebat."
Xion menatap geram Devano yang tampak menyeringai menatapnya. Suara pekikan mulai menyoraki nama Devano terdengar di telinga nya.
"Sial bagaimana bisa, padahal dia sudah tertinggal sangat jauh," geram Xion.
"Ketua Geng motor Balck Lion dari dulu memang tidak di ragukan. Gw kira Lo bakalan kalah kali ini, " ucap Harsa, ketua geng Dragon. Menghampiri sang pemenang.
Harsa mengulurkan tangannya, "Lain kali ayo kita duel lagi?"
Devano mengangguk, tangannya membalas uluran tangan itu. "Ya, kalau gw enggak sibuk."
"Ketua gw emang gak bisa di remehkan bro," Sombong Erka.
Anggota inti Dragon menatap sinis, "Sombong amat ji*** yang menang kan ketuanya bukan dia."
"Apa Lo bilang, iri Lo hah!" Sentak Erka, memancing emosi mereka.
"Wah ngajak gelut ini mah bos..." Triak mereka.
"Gw pengen duel nanti sebagai tanda persahabatan antara Black Lion dan Dragon, gimana?" tanya Harsa.
Devano menjawabnya dengan anggukan, "Gw terima tantangannya."
"Hey, gw akui kalau hari ini kalah. Tapi lain kali, geng motor kami yang akan menaklukan raja jalanan." Ucap Alan, membuat perhatian semua orang melihatnya.
"Maksud lo apa? Kalau kalah ya kalah aja." ejek Dava.
Alan menatap semuanya remeh, "Lihat saja, mungkin kalau ketua gw yang balapan lo gak bakalan menduduki posisi pertama lagi."
"Ketua Lo yang pecundang itu, kalau dia memang ketua geng Silver. Harusnya dari dulu dia mengikuti balapan, bukannya mengirimkan anggotanya." Ucap Teo.
Alan menatap marah, "Ketua kami bukan pecundang si***! Kalian semua yang pecundang."
Alan berbalik pergi, " Lihat aja, lain kami akan memperlihat kan siapa ketua kami."
Erka mencibirnya, "Apa-apaan mereka, dasar gak jelas. Udah kalah, enggak ngaku lagi. Sok nantang juga."
"Dia Alan kan, anggota inti Silver." Tanya Harsa, di anggukan Devano.
"Lo penasaran gak, siapa ketua mereka?" tanya Harsa.
Devano mengangguk dirinya juga merasa penasaran dengan ketua dari geng Silver. Dari dulu ketua mereka tidak pernah menampakan wajahnya. Apa alasan ketua geng Silver tidak menampakkan wajah nya. Menurutnya mereka terlihat misterius, sangat sulit untuk mencari tahu siapa ketua dari mereka.
"Hm gw juga, sedikit penasaran sama ketua mereka yang entah siapa."
"Jangan terlalu dipikirkan, nambah beban yang ada. Cukup kita pikirin diri kita sendiri." Ucap Erka.
Devano mengangguk, lalau berdehem mengisyaratkan teman-temannya untuk segera mengendarai motor nya, untuk pergi.
Erka, Teo, Gara, Dava dan Farka yang mengerti akan perintah ketua mereka pun segera menaiki kuda besi itu, dan menyalakannya.
"Gw duluan." Ucap Devano.
Harsa mengangguk mengerti, dirinya juga akan segera menyusul untuk pulang.
"Ya, hati-hati di jalan bro."
Devano dkk pergi meninggalkan arena balapan.
Jam menunjukan pukul 02:15. Melihat jam sudah mulai larut. Xion menaiki motor besarnya, dan menyalakan mesinnya. Dia juga harus cepat pergi sebelum ibunya dan ayahnya memergokinya keluar malam.
"Kita pulang!''
Para anggota inti Cobra mengangguk, dan mulai menaiki kendaraannya masing-masing.
Xion mulai menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan, tidak lupa dengan anggotanya yang mengekorinya.
Xion mengeratkan tangannya dan menambah kecepatan laju nya, alisnya menukik dengan tatapan nya lurus ke depan.
"Untuk hari seperti nya sudah cukup, tapi lain kali jangan harap Lo bisa menang dari seorang Xion."
"Gw pastikan Lo kalah sama gw, Devano."
****
Kayla mengerjap kan matanya, tubuhnya seketika menjadi kaku. Dengan jantungnya yang berdetak lebih kencang jauh dari kata normal.
"Maksud lo apa?"
Kayla mencoba terlihat tenang, untuk menutupi rasa terkejutnya.
Kevin melihat reaksi gadis di depannya, Yang terlihat terkejut, meskipun terlihat sedikit.
"Saya melihat kamu terbunuh di dalam mimpi itu."
"Bukankah itu sebuah ramalan, untuk memperingati masa depan mu."
Kayla mengangguk lalu tertawa hambar, pria di depannya itu sedang melawak."Haha..itu hanya mimpi tidur, bagaimana bisa lo menyimpulkan seperti itu."
"Itu enggak masuk akal, lo jangan main-main sama gw ya!"
Kevin menatapnya datar, gadis di depannya itu tidak percaya dengan apa yang di ucapannya. Atau gadis ini memang mencoba menyangkalnya, melihat reaksi terkejut nya saja Kevin mulai menyadari sesuatu. Gadis ini berbeda?
Kayla yang merasa di tatap lekat, mulai merasa tidak nyaman. Kayla mulai mengalihkan pembicaraan. "Apa lo lihat-lihat, awas! Lebih dari 5 menit lo tatap gw, lo bisa saja jatuh dalam pesona seorang Kayla Aurora Robert."
Kevin mendengus, "Jangan terlalu percaya diri."
"Hey, gw gak bercanda. Kecantikan gw itu di atas rata-rata, sekali kedip gw bisa saja dapatin hati lo."
"Tidak mungkin," timpal Kevin.
Kayla mulai mengedipkan sebelah matanya, mencoba menggodanya. "Mau coba?"
Kevin bergidik, saat melihat Kayla mulai mengedipkan sebelah matanya. "Tidak! Simpan saja pemikiran kotor mu itu."
Hening...
Tidak ada lagi yang memulai pembicaraan, Kevin maupun Kayla sama-sama terdiam. Mereka berdua merasa canggung, entah kenapa suasananya jadi seperti ini.
"Sebenarnya..." Kevin menutup mulutnya, ucapan itu tertahan di dalam tenggorokan, ia tidak jadi mengatakannya.
"Saya pergi, sebelum orang tua mu tahu saya berada di kamar gadisnya."
"Soal ucapan saya tadi kamu bisa melupakannya. Seperti yang kamu katakan, mungkin itu hanya mimpi tidur."
Kayla menggaruk tengkuknya, "Ah, iya..."
Sebelum beranjak pergi Kevin mengucapkan selamat malam terlebih dahulu. Dan mulai melangkah pergi, meninggalkan gadis itu yang masih terdiam.
Melihat punggung tegap itu mulai tidak terlihat di gantikan dengan pintu yang tertutup, dan hanya meninggalkan jejak bayangan pria itu saja.
"Setelah ini apa gw harus pura-pura enggak tahu, kematian gw memang sudah di depan mata." lirih nya.
Kevin telah sampai di tempat tidur miliknya, ia mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur yang lembut. Matanya terpejam dengan segala ingatannya yang seperti sekenario di otaknya.
"Sial! Nenek tua itu benar-benar menghukum ku dengan semua kekonyolan ini. Atau ini memang sebuah kemalangan yang ada menimpa diriku."
"Apa ini adalah jalan satu-satunya untuk menembus semua dosa."
Mata yang tengah terpejam itu mulai terbuka dengan tatapan dinginnya, seketika suhu udara di ruangan kamar itu menjadi dingin.
Haruskah dirinya menghancurkan dunia ini kembali?
jgn lpa mampir di PSM ya
Pesona Sang Majjkan
Makasih