TAHAP REVISI!!!
Viola Larasati Adiwijaya seorang gadis dari keluarga ningrat , tapi entah kenapa dia justru malah memyembunyikan identitas aslinya
memilih menjadi gadis biasa dan mengurusi cafe serta kedai bersama kedua sahabatnya Mona dan juga Cindy
Rayhan Dirgantara terkenal dengan sikap dingin serta cuek , tapi mempunyai masalalu yang cukup kelam hingga membuatnya menjadi lelaki berhati dingin
Akan kah sikap Rayhan berubah ketika keluarga menjodohkan dengan seorang gadis yang baru pertama kali ia temui?
Bagaimana kisah selanjutnya , Mari kita simak di novel ku ini . Pikiran halu ku sepanjang hari akan aku tuangkan di dalam novel ini , apabila ada perkataan yang kurang baik dan tidak nyambung mohon di maaf karna author ini adalah penulis gadungan , hanya untuk mengisi waktu senggang dari pada ngelamun terus ngehayal lebih baik nulis biar gak setreess
Salam sayang dari author Cantik seperti aku ❤ jangan lupa like serta Komen tapi yang positive aja yah , terus kalo berkenan klik Vote 😘
Trimakasih❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Ribet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Karena Violla sudah mengambil cuti untuk 4 hari ke depan, membuat Violla mau tidak mau harus ikut tradisi keluarga yaitu di pingit atau di kurung di dalam rumah tidak di bolehkan keluar rumah
Violla menghela nafas, bosan yang dia rasakan tidak ada pekerjaan apapun yang bisa ia lakukan
Bahkan untuk membuat kue saja tidak di bolehkan oleh sang Mama, sedangkan kanjeng Nyonya dia tengah keluar rumah meninggalkan Violla seorang diri hanya bersama dengan asisten rumah tangga yang sedang sibuk sendiri
"Ini gue udah kaya apaan aja gak boleh ngapa-ngapain, si Cindy sama Mona kenapa juga lagi pada sok sibuk heran gue" ucap Violla sembari terus menggonta-ganti saluran TV
"Ini film kagak ada yang bagus apa, kesel gue lama-lama" sambungnya
Sedangkan di keluarga Dirgantara calon mempelai pria di kunci di dalam kamar karena kedapatan akan keluar rumah secara diam-diam
Membuat Nyonya rumah harus mengambil tindakan tegas untung anak sulungnya
"Mah saya harus ke Kantor ada pekerjaan" teriak Rayhan di dalam kamar
"Enggak yah, 4 hari ke depan kamu di pingit yah Ray gak boleh keluar pamali" jawab Siska ikut teriak
Rayhan berdecak sebal, tapi tetap memilih menurut kemudian memegang kedua saku celana nya mencari dimana ia menyimpan ponsel
Shit!!
Umpat Rayhan menyadari ponselnya pun ikut di sita oleh sang Mama
Siska tertawa senang, karena berhasil menyita ponsel putra sulungnya membolak-balik ponsel tersebut kemudian mengaktifkan untuk mengecek siapa tahu saja anak nya itu punya wanita idaman
"Ah bosen kerjaan doang isinya, kontaknya juga terong semua. Banyak sih nomor baru tapi gak di respon, Cakep. Baru tuh anak gue" Ucap Siska bangga kemudian beranjak untuk menyimpan ponsel Rayhan di laci kamar
Rayhan merebahkan badannya di atas kasur, menatap langit kamar yang hanya di cat warna putih kemudian menghembus kan nafasnya dengan panjang
Bosan yang Rayhan rasakan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa ingin kabur dari dalam kamar pun tidak bisa mengingat semua jendela sudah di lindungi oleh pagar besi
Siska yang berada di ruang tamu tengah di sibukkan menghubungi semua anggota keluarga nya, memberi kabar serta mengundang kerabat jauh dan juga dekat
Kemudian memastikan semua yang ia perlukan, dan mengecek berulang-ulang takut-takut nya masih ada yang tertinggal
"Assallammu'allaikum" salam Panji yang baru pulang dari Sekolah
"Wa'allaikum sallam" jawab Siska tanpa menoleh
Panji yang baru datang lantas mengulurkan tangannya pada Siska tanpa melihat terlebih dulu pada sang mama
Siska yang tidak tahu Panji mengulurkan tangan, hanya terdiam dan tetap menunduk seperti padi yang siap di petik
Satu detik, dua detik, tiga detik, uluran tangan Panji belum juga di raih oleh Siska membuat Panji sedikit merasa aneh dan menoleh pada sang mama
"Astagfirulloh mah" ucap Panji geleng kepala
"Apa sih kamu mamah kaget tahu gak" jawab Siska terlonjak kaget
"Aku dari tadi udah minta salim tapi gak di jawab sama mamah, malah lagi nunduk kaya padi udah mateng"
Siska hanya cengir, kemudian dengan cepat menarik tangan anak nya "Maafin deh mamah kan lagi khusu" jawab nya
Panji hanya geleng kepala, setelah dia mendapat kan apa yang dia mau kemudian dengan cepat meninggalkan sang mama sebelum Nyonya rumah menyuruh nya yang tidak-tidak
Namun benar saja dugaan Panji, baru dia akan masuk ke dalam kamar teriakan nyaring sang Mama sudah begitu melengking membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa sakit kuping
Tapi Panji dengan sifat keisengan nya dengan cepat masuk ke dalam kamar kemudian mengunci kamar tersebut dengan cepat
"Panji buka pintunya mamah mau minta tolong" teriak Siska menggedor-gedor pintu kamar Panji
"Nanti aja mah aku mau istirahat, capek" jawab Panji ikut teriak
"Sebentar doang kok, ayok cepetan buka" perintah nya lagi dengan terus menggedor-gedor pintu
"Nanti mah, aku masih capek"
"Mamah gak kasih jatah makan yah kalo gak mau buka pintu" ancam sang mama kemudian
Panji tidak lagi menyahut, dia menutup telinganya dengan bantal tapi teriakan sang mama berikut nya membuat dia terbirit-birit langsung membuka pintu
"Uang jajan kamu mama potong satu bulan" ancam Siska mengeluarkan jurus andalannya
Dengan sedikit kesal dan rasa was-was Panji membuka kunci pintu kamar kemudian berlari mengejar sang mama yang sudah melangkah
"Mamah mau bantuan apa" tawar nya menurunkan harga diri
Siska tidak menyahut dia terus berjalan meninggalkan Panji yang sedang menurunkan harga bawang
"Mah ayok biar Panji bantu, Mamah butuh apa" tawar Panji menggoyang-goyang tangan Siska
Siska menatap malas pada Panji, tapi kemudian menghela nafas
"Bantuin mamah cek ini" ucap nya memberikan 2 buku kecil pada Panji
Dengan senang hati Panji menerima buku tersebut, kemudian tersenyum pada sanga mama "Tapi uang jajan aku jangan di potong" ucapnya berharap
"Iya" jawab Siska "Udah sana, makan dulu terus baru cek tuh buku" sambungnya mendorong tubuh Panji
"Ah siap makasih, kalo bisa tambahin yah uang jajan aku" pinta nya kemudian lari masuk ke dalam kamar
"Astaga anak siapa sih dia" gumam Siska menggeleng
Panji yang berada di dalam kamar tampak mengerutkan keningnya, mengecek kembali buku yang akan ia cek tapi sialnya isinya sama
Membuka kertas selanjutnya, berharap isinya sedikit berbeda tapi tetap saja isinya sama
"Ini sih namanya gue di kerjain" gumam Panji membolak-balik buku tersebut
Terlihat tulisan yang begitu acak-acakan bahkan hampir tidak terbaca. Tapi setiap paragraf terdapat nomor bisa di pastikan bahwa tulisan tersebut adalah nama orang-orang yang akan menerima undangan
"Jelek banget sih tulisannya kayak tulisan dokter, bisa semalam suntuk ini mah gue" kesal Panji melempar buku tersebut
Siska yang mendengar anak bungsunya menggerutu lantas tertawa namun dengan cepat mulutnya ia tutupi agar tidak terdengar oleh sang Anak
"Haha syukurin, biar aku kerjain sekali-kali. Pusing-pusing deh tuh anak gue, padahal itu nama udah di cetak. Undangan juga udah di sebar" gumamnya kemudian pergi meninggal kan pintu kamar Panji
Wah Dima gak sabaran ya..😂😜