Tidak mudah bagi Alya untuk membuka hatinya untuk Daffa, seorang CEO muda yang memimpin perusahaan keluarga Pratama Group. Setelah pengkhianatan yang dilakukan mantan kekasihnya. Namun takdir berkata lain, sebuah kecelakaan menimpa Daffa akibat kelalaian Alya.
Alya dihadapkan pada sebuah keputusan yang akan menentukan hidup dan masa depannya.
Akan kah tumbuh cinta di hati Alya? Atau sebaliknya Daffa membenci Alya, dan menyalahkan keadaannya kepada Alya?
Penasaran? Yuk simak kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RisFauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Bos nggak jelas!
Alya memandang ragu halaman berumput hijau yang akan dilewatinya itu, terlihat basah karena tersiram hujan sedari pagi. Ia merasa menyesal karena telah menggunakan sepatu hak tinggi. Berpikir sejenak, dipandanginya bagian kakinya itu, terus memakainya atau melepasnya dan harus berjalan tanpa alas kaki.
"Usahakan agar Kamu tidak terpeleset dan jatuh terjungkal, dan jangan pernah berpikir untuk melepas sepatumu. Kesannya jadi terlihat jelek sekali," Daffa mengulurkan lengannya, menawarkan bantuan.
"Saya usahakan, Pak. Dan terima kasih untuk bantuannya, Saya akan berjalan dengan hati-hati sekali tanpa harus terjatuh dan membuat malu Bapak!" balas Alya sengit tanpa menghiraukan uluran tangan Daffa padanya.
"Good! Sikap yang sangat bagus. Mandiri." Dafalalu berbalik, berjalan di depan terlebih dahulutanpa menghiraukan Alya yang berjalan di belakangnya dan memandangnya dengan kesal.
"Nggak jelas, dari tadi bawaannya sinis melulu. Marah-marah nggak jelas, apa salahku coba? Jelasin kek, menyebalkan," gumam Alya kesal.
Alya melangkah perlahan, menghindari genangan air yang dilewatinya sambil sesekali membungkukkan badannya, mengusap dan berusaha membersihkan kakinya dari kotoran rumput basah yang menempel dengan tisue yang dibawanya.
"Bisa kau percepat langkahmu, Nona?"
"Bisa, Pak," Alya menjawab cepat.
"Good."
Alya menghentakkan kakinya kesal, akibatnya rok yang dikenakannya kotor terkena cipratan air yang diinjaknya dan kakinya pun basah.
Awal yang buruk untuk memulai paginya hari itu, setibanya di kantor tadi pagi Daffa langsung memintanya untuk menemuinya di ruangannya. Memberinya tugas kembali untuk menjadi asistennya hari ini, menemaninya menghadiri meeting peluncuran produk terbaru salah satu rekan bisnisnya.
Wajah datar tanpa senyum, bicara dengan nada yang terkesan tanpa emosi, membuat Alya jadi bertanya-tanya. Apa kesalahan yang sudah diperbuatnya, hingga sikap Daffa berubah dingin padanya. Bukannya setelah perjalanan ke seberang dua hari yang lalu, dan sampai kemaren pun Daffa masih bersikap ramah padanya.
Anehnya lagi, kenapa harus Alya lagi yang ikut dalam tugas kali ini. Seperti tidak ada karyawan yang lain saja, atau itu hanya akal-akalan Daffa untuk mendekatinya. Tapi melihat sikap dingin Daffa padanya pagi itu, Alya tidak yakin dengan semua yang ada dalam pikirannya.
Bodo amat! Pusing gue, dasar bos nggak jelas.
Alya sampai ke beranda dengan selamat, diikuti tatapan mata Daffa yang sudah tiba terlebih dahulu di depan pintu masuk menunggunya dengan tidak sabar. Tanpa banyak bicara lagi, keduanya lalu memasuki ruangan gedung dan duduk di bangku yang telah disediakan.
Sepanjang acara berlangsung, Alya terus saja memperhatikan semua yang diterangkan oleh pemilik produk di depannya itu. Tangannya terus mencatat setiap detail yang penting, dari awal produk masih berupa bahan mentah hingga jadi bahan yang siap dijual ke pasaran.
Keunggulan produk yang diluncurkan, nilai jual yang tinggi dengan segala macam trik dan tehnik pemasaran yang diutarakan, hingga bisa menarik minat konsumen di pasaran. Semua tidak luput dari perhatian Alya, dirinya benar-benar berkonsentrasi sepenuhnya pada catatannya.
"Apa semua sudah Kamu catat, Ay?" tanya Daffa di sela-sela waktu istirahat makan siang berlangsung.
"Sudah, Pak," jawab Alya tanpa ragu. Diperlihatkannya catatannya pada Daffa, rapi dan teratur hingga memudahkan Daffa untuk memeriksanya.
"Bagus, setelah acara di sini selesai Kamu bisa langsung balik ke kantor. Selesaikan laporan mengenai meeting hari ini dan hasilnya taruh di meja Saya," perintah Daffa.
"Saya balik kantor sendirian, Pak? Bukannya tadi kita perginya bareng-bareng, terus Bapak sendiri gimana?"
"Saya masih ada urusan di luar, Nona. Lagipula kamu bukan anak kecil yang harus diantar kesana kemari. Saya sudah pesankan taksi on line buat Kamu pulang," jawab Daffa tenang.
Huh, benar-benar menyebalkan.
🌹🌹🌹
🤗🤗🤗♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐