Ardhan Husein Zakhori adalah CEO di Millenial Group. Ia mewarisi perusahaan Kakeknya. Pribadinya yang sangat ramah membuatnya disukai banyak orang. Ia memiliki ambisi yang besar diumur yang masih muda. Namun, karena Kakeknya semakin tua dan mulai sakit-sakitan ia harus mencari calon istri dan menikah secepatnya. Saat itu pula cinta masa kecilnya datang.
"Will you marry me?" tanya Ardhan.
"Yes, I do," jawab wanita itu.
Ardhan yang malang. Ia tak tau jika hal itu akan menjadi awal ia mengetahui banyak kenyataan pahit. Akankah Ardhan menerima kenyataan dan mempertahankan cinta masa kecilnya? Atau menikahi orang lain demi mewujudkan keinginan Kakeknya? Dapatkah Ardhan bertahan dengan semua ujian ini? Penuh puzzle yang harus diselesaikan, ikuti perjuangan Ardhan dalam cerita ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daratullaila 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baikan
..."Meminta maaf tidak merendahkan derajat, tapi menunjukkan martabat."...
...✨...
Ardhan menggonceng Key menaiki sepeda mengelilingi komplek. Ardhan tak lagi memikirkan kekasaran Key. Yang ia tau sekarang Key sudah lembut seperti sebelumnya.
"Key kamu mau ke danau?" tanya Ardhan dalam perjalanan.
"Iya mau mau," jawab Key semangat.
Ardhan membelokkan sepeda menuju arah danau. Hangatnya matahari sore menemani perjalanan mereka.
"Ayo ke sana," tunjuk Ardhan ke kebun mawar.
Ardhan dan Key berlari. Sepeda mereka telah terparkir rapi di depan gerbang danau. Mereka melihat hamparan mawar merah di sana. Banyak lebah yang lalu lalang.
"Awas Key," teriak Ardhan saat beberapa lebah menghampiri Key.
Key terlonjak. Ia terjerembap ke tanah. Sikunya sedikit terluka.
"Tangan kamu berdarah," ucap Ardhan panik.
Ardhan merobek lengan bajunya. Melilit siku Key dengan kain dan mengajaknya pulang.
"Ayo pulang Key," ajak Ardhan menarik tangan Key.
"Aku mau lihat bunga Dan," tolak Key.
Ardhan menurut. Ia menuntun Key ke kebun mawar. Mereka berjalan perlahan menyusuri kebun. Key menyentuh mawar-mawar itu. Dihirupnya beberapa mawar untuk merasakan aromanya.
Harum, batinnya.
"Hahh ... hah ...," terlihat Key kesulitan bernapas dan memegangi dadanya.
"Dhann shhaakhiitt Dhhann ...," ucap Key terengah-engah.
Ardhan panik. Ia tak tau harus apa sekarang. Pandangannya menerawang. Ia yakin pasti ada pengawal Key yang mengikuti mereka.
"Paman ... Paman ... Key ... Key ...," teriak Ardhan.
Dua pengawal itu sigap berlari. Salah satu dari mereka menggendong Key yang entah sejak kapan sudah pingsan. Mereka membawa Key ke mobil. Kali ini mereka tidak meninggalkan Ardhan melainkan mengantarkannya pulang.
***
Ardhan terengah-engah. Ia segera menekan tombol lift menuju lantai 80. Dirinya tak tenang. Ia menghentak-hentakkan kaki di dalam lift, merutuki betapa lambatnya lift.
Ting
Ia keluar lift tergesa-gesa, berlari menaiki tangga menuju rooftop. Ia mengedarkan pandangan mencari-cari Key.
Key, batinnya.
Dilihatnya Key di ujung rooftop. Keadaan Key sangat berantakan. Ia duduk dengan memeluk lutut dan membenamkan kepalanya.
"Key," teriak Ardhan sambil berlari.
Tubuh Key bergetar. Ardhan segera menghampirinya. Ia mengelus rambut Key dan memeluknya tulus. Hatinya sakit. Ia telah membuat wanitanya menangis.
"Key, maaf," lirih Ardhan.
Tubuh Key semakin bergetar. Kemeja Ardhan terasa basah sekarang. Ardhan semakin mengeratkan pelukannya dan memberi kekuatan.
"Key, maaf. Jangan nangis lagi Key. Aku gak bisa lihat kamu gini," ucap Ardhan terisak.
Key tak merespon. Ia masih menangis dalam pelukan Ardhan. Ardhan membelai lembut kepala Key, mengelus punggungnya memberi kekuatan.
"Key, maaf, maaf, maaf," ucap Ardhan berkali-kali.
Key semakin menenang. Isakannya sudah mulai mereda. Ardhan merapikan rambut Key yang berantakan.
Ardhan menangkup wajah Key. Ia tak lagi melihat wajah ceria Key. Mata Key sembab, pipinya dipenuhi air mata, dan tatapannya sangat sendu.
"Ar--Dhan ... ma--maaf ...," ucap Key terisak.
Ardhan mengelus pipi Key lembut. Dihapusnya sisa air mata yang ada. Ardhan baru menyadari dahi Key membiru.
"Dahi kamu kenapa?" tanya Ardhan memegang dahi Key.
"Aww ...," ringis Key.
"Kenapa?" tanya Ardhan lagi.
Key menggeleng. Sekilas pandangannya menatap dinding. Ardhan mengerti. Ia tak ingin lebih membebani Key.
"Ayo kita obati," ucap Ardhan.
Key menurut. Ardhan membantu Key bangkit dan merangkulnya berjalan. Mereka menuruni tangga dengan hati-hati karena tak ada pembatas tangga. Ardhan menekan tombol lift langsung menuju basement. Ia tak ingin Key mendapat tatapan buruk dari bawahannya. Bukannya Ardhan malu, tapi ia tau itu akan mempengaruhi mental Key.
Ardhan membawa Key masuk mobil. Ia mengambil kotak P3K dan langsung mengobati luka Key. Diusapnya pelan dahi Key agar Key tak kesakitan.
"Sudah selesai," ucap Ardhan bangga.
Key hanya merespon tersenyum. Dari tadi tak ada suara yang ia keluarkan.
Ardhan melajukan mobilnya. Ia berencana mengunjungi butik untuk membeli pakaian Key. Ia tak ingin bertanya lebih dengan Key. Ia tau suasana hati Key belum membaik.
Semoga kamu sehat selalu sayang, batin Ardhan.
Satu jam kemudian mereka sudah sampai. Ardhan membukakan pintu Key dan menuntunnya keluar. Lagi lagi Key hanya menurut.
Mereka memasuki butik bernuansa perak itu. Para petugas menyapa Ardhan dan hanya dibalas senyuman olehnya. Ardhan membawa Key menuju ruang VIP.
"Key, kamu di sini dulu ya," ucap Ardhan.
Key menarik tangan Ardhan. Ia menggelengkan kepala tanpa bicara. Ardhan mengerti. Ia kembali duduk dan memanggil petugas.
"Mbak, bawakan iPad saya," ucap Ardhan pada petugas.
"Baik Tuan," jawab petugas itu berlalu pergi.
Key masih terdiam. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Ardhan. Ardhan sigap merangkul Key dan mengelus lembut rambutnya.
"Nanti kamu ikut aku ke rumah ya," ucap Ardhan yang tak mendapat respon.
Petugas itu datang. Key menegakkan kepalanya. Gelagatnya menunjukkan bahwa ia tak nyaman.
Ardhan yang mengerti menyuruh petugas itu pergi. "Nanti saya panggil lagi kalau sudah selesai memilih."
Petugas itu membungkuk dan pergi. Key kembali menyandarkan kepalanya. Ardhan tersenyum. Walau Key belum mau bicara sekarang ia akan mencoba mengerti Key.
"Kamu mau yang mana Key?" tanya Ardhan yang tetap tak mendapat respon.
"Kamu suka warna apa? Aku suka warna biru. Aku juga sering lihat kamu pakai outfit biru. Kamu suka biru ya? Kalau gitu aku pilihkan yang biru ya. Kamu mau heels atau pakai sendal aja? Sendal aja deh. Aku gak mau kaki kamu sakit. Emm ... tas warna apa ya? Yang mana yang kamu suka? Aku suka ini sih. Oke aku pilihkan ini semua ya," Ardhan mengoceh panjang lebar. Ia tau Key tak akan menjawab jadi dia menjawab pertanyaannya sendiri.
"Mbak," Ardhan memanggil petugas.
Petugas itu datang. Key menegakkan lagi kepalanya.
"Saya pesan semua yang sudah saya list ya," ucap Ardhan.
"Baik Tuan saya segera kembali," jawab petugas itu.
Sesuai perkataan petugas itu, 5 menit kemudian ia langsung kembali. Ardhan segera menuntun Key menuju ruang ganti.
"Key kamu ingat gak kita pertama kali jumpa di sini?" tanya Ardhan mengingat hal lucu itu.
Ardhan tak sengaja melihat Key tersenyum.
"Key kamu senyum, kamu senyum," ucap Ardhan kegirangan sambil memeluknya.
Untungnya ruangan ganti telah dikosongkan jadi Ardhan tak memalukan dirinya sendiri.
"Yaudah kamu ganti dulu ya," ucap Ardhan menyerahkan pakaian Key.
Key masuk ke ruang ganti. Ardhan duduk di sofa dan memeriksa gawainya. Tak ada pesan apapun yang berarti perusahaan aman.
Tak lama Key keluar. Ardhan terpana. Warna biru itu sangat cocok dengan Key. Aura ceria Key kembali lagi. Rambut Key sudah dirapikan dan wajahnya sudah dipoles sedikit make up.
"Ardhan," panggil Key.
"Iya sayang, eh iya Key," ucap Ardhan keceplosan.
Key tersenyum. Ia menghampiri Ardhan dan menggandeng lengan Ardhan.
"Ayo pulang," ajak Key.
Ardhan dan Key berjalan keluar butik. Sebelum itu Ardhan sudah membayarnya saat memilih pesanan. Walaupun itu butik Ardhan, tetap saja ia datang sebagai pembeli yang harus membayar.
Mobil Ardhan terparkir tak jauh dari butik. Ia segera mengendarai mobilnya menuju rumah.
"Kita pulang ke rumah aku ya," ucap Ardhan di sela perjalanan.
Key tersenyum mengangguk. Ardhan menggenggam satu tangan Key dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
mohon dukungannya juga untuk novelku kak....SunFlower. mohon tinggalkan saran, masukan dan kritik kan dariku yang masih belajar ini....🙏🏻😊🤗
semangat terus, ditunggu updatenya
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
💛 Good luck! 💛
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
semangat^^
maaf Cinta dan air mata dan cinta Berlumur Dosa tahap penghapusan gak usah di like ya Thor 🙏🙏