Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDK. 25
Di sebuah apartemen mewah yang menjulang tinggi di tengah gemerlap kota, berdiri seorang pria paruh baya di balkon luas yang hanya diterangi cahaya lampu malam. Sorot matanya tajam menembus hamparan gedung-gedung yang membisu di kejauhan, seolah mencari jawaban dari sesuatu yang terus menghantuinya beberapa hari terakhir.
Sesekali alis tebalnya berkerut dalam, lalu kembali menegang. Sebatang cerutu terselip di sela jemarinya, membiarkan asap kelabu menari perlahan di udara dingin malam itu.
Dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa pria itu sedang memikirkan sesuatu yang rumit. Sesuatu yang bahkan selama berhari-hari tak mampu ia pecahkan. Kepalanya terasa sesak oleh berbagai kemungkinan buruk yang terus bermunculan tanpa henti.
Di tengah lamunannya, tiba-tiba sepasang tangan melingkar lembut di pinggangnya dari belakang. Sentuhan hangat itu membuatnya sedikit tersentak.
“Kapan kau datang?” tanyanya pelan sambil menoleh, nada suaranya terdengar terkejut.
“Baru saja,” jawab wanita itu lembut. “Aku sudah memanggilmu berkali-kali, tetapi kau sama sekali tidak menjawab. Jadi aku masuk begitu saja.”
Pelukan wanita itu semakin erat, seolah mencoba menenangkan keresahan yang sejak tadi menyelimuti pria tersebut.
Pria itu perlahan membalikkan tubuh, lalu membalas pelukan itu sambil mengembuskan napas panjang.
“Maafkan aku,” ucapnya lirih. “Pikiranku benar-benar kacau sejak kejadian hari itu.”
Wanita itu mengangkat wajahnya, menatap pria tersebut lekat-lekat dengan dahi sedikit berkerut.
“Untuk apa kau masih memikirkan hal itu?” tanyanya heran.
Pria itu kembali mengalihkan pandangan ke langit malam. Kedua tangannya bertumpu pada pagar balkon, sementara angin malam menerpa wajahnya tanpa ampun.
“Entah kenapa...” katanya pelan. “Beberapa hari terakhir aku memiliki firasat yang tidak enak.”
Ia terdiam sesaat sebelum kembali melanjutkan.
“Aku merasa semua rencana yang sudah kita susun sejauh ini akan berakhir sia-sia.”
Itu bukan sekadar ketakutan biasa. Jauh di dalam dirinya, ada kegelisahan yang terus menggerogoti pikirannya. Seolah-olah sesuatu yang buruk sedang menunggu waktu untuk menghancurkan semuanya. Bahkan, untuk pertama kalinya, ia merasa hidupnya berada di ujung jurang yang tak terlihat.
Namun wanita itu justru tertawa kecil mendengar ucapan tersebut.
“Hanya itu?” katanya santai. “Ayolah, sayang. Itu cuma perasaanmu saja.”
Wanita itu melepaskan pelukannya, lalu berdiri di samping pria tersebut sambil tersenyum tipis.
“Mana mungkin semua yang sudah kita rancang hancur begitu saja? Memang, sempat ada masalah, tetapi lihat kenyataannya—semua ketakutan kita tidak pernah benar-benar terjadi.”
Ia mendekat perlahan, suaranya berubah semakin penuh keyakinan.
“Sekarang kita bahkan punya cara untuk menghasilkan uang tanpa harus bersusah payah lagi.”
Pria itu menoleh bingung. Kerutan di dahinya semakin jelas terlihat.
“Kita hanya perlu duduk manis,” lanjut wanita itu sambil tersenyum penuh arti, “dan uang akan datang dengan sendirinya.”
Ucapan panjang itu justru membuat pria tersebut semakin tidak mengerti.
“Maksudmu apa?” tanyanya penasaran. “Alat? Alat apa yang kau maksud?”
Wanita itu terkekeh pelan. Dengan gerakan santai, ia membuka tas miliknya lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Benda kecil itu tampak sederhana, tetapi sorot matanya menunjukkan seolah benda tersebut jauh lebih berharga daripada emas.
“Lihat apa yang aku dapatkan hari ini,” ujarnya bangga. “Mungkin rencana awal kita memang hancur, tetapi dengan adanya ini... kita tidak perlu lagi membuang tenaga untuk mendapatkan kekayaan.”
Ia menatap pria itu penuh ambisi.
“Tidak masalah kalau kita harus memulai semuanya dari awal. Yang penting, kali ini kita akan mendapatkan jackpot yang jauh lebih besar.”
Senyumnya perlahan melebar.
“Pelan, santai... lalu boom.” Ia menjentikkan jarinya pelan. “Semua akan berada di tangan kita dalam sekejap.”
Mendengar itu, pria tersebut akhirnya tersenyum puas. Tatapan kagumnya tak bisa disembunyikan lagi.
“Pintar...” gumamnya pelan. “Kau memang sangat pintar, sayang.”
Ia menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
“Aku semakin tergila-gila padamu.”
Wanita itu tersenyum manis. Dengan gerakan pelan, ia memainkan ujung jarinya di dada bidang pria tersebut, menciptakan suasana yang semakin intens di antara keduanya.
“Aku merindukanmu,” bisiknya lirih. “Aku ingin kau selalu ada di sisiku.”
Suara lembut wanita itu membuat pria tersebut memejamkan mata sesaat. Angin malam berembus semakin kencang, menambah ketegangan yang memenuhi udara di antara mereka.
Pria itu tersenyum tipis sebelum membelai rambut wanita tersebut dengan lembut.
“Aku juga merindukanmu, Helena,” balasnya pelan. “Hanya bersamamu aku merasa tenang.”
Tanpa banyak kata lagi, pria itu menarik Helena lebih dekat ke dalam pelukannya. Pintu balkon tertutup perlahan di belakang mereka, mereka dikuasai oleh gairah panas yang tak semestinya terjadi diantara keduanya. Sementara malam dingin itu terus berjalan, menyimpan rahasia yang tak seorang pun tahu bagaimana akhirnya nanti.
Malam terus berjalan perlahan, menyisakan dingin yang menggantung di balik dinding kaca apartemen mewah itu. Lampu-lampu kota masih berkelap-kelip di kejauhan, seolah menjadi saksi bisu dari rahasia besar yang tengah mereka sembunyikan.
Helena duduk di tepi ranjang sambil memainkan benda kecil yang tadi ia keluarkan dari dalam tasnya. Tatapannya dipenuhi ambisi, sementara senyum tipis terus terukir di sudut bibirnya.
Sementara itu, pria paruh baya tersebut berdiri tak jauh darinya. Kini sorot matanya tak lagi setegang sebelumnya. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, kegelisahan di dadanya sedikit mereda.
"Sebentar lagi. Sebentar semuanya akan benar-benar berakhir, " gumam Helena pelan tersenyum puas