Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.
Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.
Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.
Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]
[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]
[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]
[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]
Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.
. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23.5--Semangka Harga Selangit
|Hotel Maharta| Pintu Loading Dock.|
Suasana di area belakang hotel bintang lima itu tampak sangat sibuk. Truk-truk pemasok bahan makanan besar silih berganti menurunkan barang.
Chef Junaedi berdiri di sana dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua karena menunggu klien harapannya. Matanya berkantung, sisa-sisa ketegangan menyiapkan jamuan makan malam untuk beberapa Gubernur sekaligus, total ada sekitar 15 termasuk dengan gubernur yang membawa putri dan beberapa anaknya.
Begitu pickup tua Wak Darmo masuk, beberapa petugas keamanan hotel sempat ingin mencegat, tapi Junaedi langsung mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mobil itu lewat.
"Lama banget kamu, Ris!" seru Junaedi begitu Aris turun dari mobil. Suaranya serak. "Mana barangnya? Saya sudah ditagih Manajer Hotel. Katanya menu penutup harus sudah fiks siang ini."
Aris tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memberi isyarat pada Wak Darmo untuk membuka boks pendingin portable di bak pickup.
"Sari, tolong bantu buka peti nomor satu," ucap Aris lembut.
Sari melangkah maju dengan gerakan profesional. Begitu tutup peti kayu itu terbuka, uap dingin tipis mengalir keluar, membawa aroma manis yang sangat segar—seperti perpaduan melon dingin dan embun pegunungan yang jernih.
Chef Junaedi terpaku, bahkan dari kejauhan begini dia bisa merasakan bau harum sedap dari sini. Ia melangkah mendekat, matanya nyaris keluar saat melihat sebuah buah berbentuk bulat sempurna dengan kulit yang transparan.
Cahaya lampu lobi belakang hotel menembus kulit itu, memperlihatkan daging buah merah membara yang tampak seperti magma di dalam kristal hijau.
"I-ini..." Junaedi menyentuh kulit semangka itu dengan ujung jarinya. "Ini asli? Bukan pajangan dari resin?"
"Asli, Chef. Dipetik empat jam lalu, didinginkan di suhu 5 derajat untuk mengunci tekstur di dalamnya," jelas Aris dengan nada datar, seolah-olah barang seperti ini biasa ia temukan di pinggir jalan.
Junaedi mengambil pisau dapur kecil yang terselip di sakunya. Dengan tangan gemetar, ia mengiris secuil kecil bagian pinggir buah itu.
Krak.
Bunyi renyahnya terdengar seperti kristal yang pecah. Texture buah itu juga lembut, saat bersentuhan dengan pisau cairan bening itu terlihat sangat segar, melihat saja membuat leher Junaeda terasa kering. Ia jadi sange—-maksudnya nafsu untuk mencoba walau cuma cairan dikt, naluri chef yang sudah beberapa tahun bergejolak untuk mencari tahu semangka macam apa yang ada di depan dia.
Saat potongan kecil itu menyentuh lidah Junaedi, matanya langsung terpejam.
‘ANJIR!?” Batin dia.
Ekspresi wajahnya yang tadi tegang karena stres mendadak berubah menjadi rileks. Bahunya yang kaku turun, dan ia mengembuskan napas panjang yang penuh kepuasan.
[DING!]
[EFEK RELAKSASI TERKONFIRMASI!]
Target:Chef Junaedi.
Status: Stres berkurang 40%. Mood meningkat drastis.
"Ris..." Junaedi membuka mata, tatapannya kini bukan lagi tatapan meremehkan, melainkan tatapan penuh rasa lapar akan bisnis. "Tadi kamu bilang harganya berapa?"
Aris melihat reaksi itu. Ia tahu umpannya sudah dimakan bulat-bulat. Dia sengaja memberikan satu buah terbaik untuk sang chef.
"Tadinya saya mau jual tiga ratus ribu, Chef," Aris menjeda kalimatnya, membuat Junaedi menahan napas. "Tapi melihat reaksi Chef barusan, sepertinya buah ini punya nilai lebih bagi reputasi hotel ini di depan para Gubernur nanti malam."
Aris melirik ke arah sepuluh peti yang berjejer. "Saya tawarkan dua juta untuk satu buah."
Mendengar perkataan itu baik Wak Darmo dan sari terkejut. Buset buah ginia dua juta?! Naluri miskin mereka bergejolak, gak orang normal juga bakal terkejut bagaimanapun.
'Ini bocah tadi bilang 300 ribuan. Up selingnya gak ngotak!’
"DUA JUTA?!" Sari yang berdiri di belakang Aris langsung tersedak ludahnya sendiri sampai terbatuk-batuk.
Namun, Chef Junaedi justru diam seribu bahasa. Ia menatap semangka itu, lalu membayangkan wajah puas Gubernur nanti malam yang pasti akan langsung menaikkan status hotelnya menjadi nomor satu di Indonesia.
Harga jutaan untuk sebuah semangka itu bukan hal aneh, contoh semangka dari jepang bahkan bisa lebih dari itu … bahkan bisa lebih dari sepuluh hingga lima puluh juta rupiah jika dilelang. Junaedi tahu persis pasar barang mewah. Di dunia para pejabat, mereka tidak membeli kalori; mereka membeli sensasi dan gengsi.
Lagian ini berbeda dengan semangka jepang, ini seperti sesuatu yang baru … sesuatu unik dan khas.
Kalau membayangkan kepuasan gubernur maka itu harga sangat layak
"Dua juta?" Junaedi menggumam pelan. Tangannya kembali mengusap permukaan buah yang dingin itu. "Ris, kalau buah ini bisa bikin saya—yang sudah mau mati karena stres—jadi setenang ini dalam satu suapan... dua juta itu kemurahan."
Mendengar itu, Wak Darmo hampir saja terjungkal dari bak pickup. ‘Kemurahan katanya?!’ batin pria tua itu meronta. Dunia orang kaya benar-benar sudah tidak masuk akal bagi logikanya.
"Tapi saya punya satu syarat," lanjut Junaedi dengan tatapan tajam. "Saya beli semua dua puluh. Sepuluh untuk jamuan utama, lima untuk cadangan, dan lima lagi... saya mau simpan sebagai bahan pribadi saya. Total empat puluh juta. Saya bayar transfer sekarang juga. Tapi, kamu jangan kasih barang ini ke hotel manapun di Yogyakarta selama satu bulan kedepan. Saya mau ini jadi menu limited edition Maharta."
Aris menyilangkan tangan di dada, menyembunyikan senyum kemenangannya. "Empat puluh juta untuk kontrak eksklusif satu bulan? Chef, Anda tahu kan satu bulan itu waktu yang lama untuk petani seperti saya menahan stok?"
Junaedi mendengus, ia tahu Aris sedang memerasnya. "Oke, lima puluh juta. Sepuluh juta tambahannya untuk biaya 'tanda jadi' agar kamu tidak melirik hotel sebelah. Gimana?"
Aris menjentikkan jarinya.Ini baru menarik.
"Deal."
Transaksi pun berjalan dalam beberapa menit, sebuah notifikasi muncul di ponsel Aris.
[Anda telah menerima transfer sebesar Rp50.000.000,00]
Melihat angka nol yang berderet itu, Aris merasa dunianya seolah berputar. *Lima puluh juta dari satu kali panen di lahan kecil.’ Ini bahkan lebih besar dari gaji setahun buruh pabrik di kota.
"Ris... ini beneran?" bisik Wak Darmo saat mereka mulai menurunkan peti-peti kayu itu dengan bantuan asisten Junaedi. "Lima puluh juta, Ris? Kita nggak bakal ditangkap polisi karena nipu kan?"
"Tenang Wak, ini perdagangan sah," jawab Aris santai sembari memantau sistemnya yang kembali berbunyi.
Wak darmo ngeri sendiri ini pertama kali dia mendengarkan sebua semangka seharga dua jutaan, edan. Gubernur emang pada ngeri, beli ginian serasa beli bakwan. Udah gitu ini anak gak ngotak juga! Tadi bilang ratusan tiba-tiba naik jadi jutaan! Bagi wak Darmo transaksi ini adalah hal di luar kemampuan dia.
Sari? Dia malah hampir tewas melihat harga yang dijual Aris.