NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 33 : Angin yang menderu hebat

Sinar matahari pagi yang menembus celah jendela ruang medis kastil terasa sangat menyengat di kulit Celestine. Ia mencoba menggerakkan jemarinya, namun rasa kaku menyergap seketika. Di samping tempat tidurnya, George duduk tertidur dengan kepala bersandar pada pinggiran ranjang. Tangan pria itu masih menggenggam erat telapak tangan Celestine, seolah takut jika ia melepaskannya, sang putri akan menghilang kembali ke dalam arus mana.

"George," bisik Celestine lirih. Suaranya serak, hampir hilang ditelan keheningan ruangan.

George tersentak bangun. Matanya yang merah karena kurang tidur segera membelalak lebar. "Celestine? Kau sudah sadar? Syukurlah, demi Dewa, aku mengira kau tidak akan bangun hari ini."

"Air," gumam Celestine.

George dengan sigap mengambilkan segelas air di meja samping dan membantu Celestine minum. "Pelan-pelan saja. Tabib bilang jalur manamu mengalami luka bakar yang cukup parah. Kau dilarang menggunakan sihir untuk setidaknya satu minggu ke depan."

Celestine menghela napas panjang setelah membasahi tenggorokannya. "Satu minggu? Vektor tidak akan menunggu selama itu untuk menyerang kembali, George. Bagaimana dengan bendungan? Apakah rakyat baik-baik saja?"

"Semua terkendali. Pasukan esku sudah memperkuat struktur yang rusak. Tapi ada hal lain yang harus kau ketahui," jawab George dengan nada yang tiba-tiba berubah serius.

"Tentang apa?" tanya Celestine.

"Rencana Mawar Palsu. Julian dan Theodore baru saja mengirimkan pesan melalui merpati sihir. Keadaannya tidak seperti yang kita bayangkan," kata George.

Belum sempat Celestine membalas, pintu ruang medis terbuka dengan kasar. Theodore melangkah masuk dengan jubah yang robek di beberapa bagian. Wajahnya yang biasanya ceria kini tampak pucat dan penuh debu.

"Theodore! Di mana Julian?" tanya Celestine dengan nada cemas yang meningkat.

Theodore menarik kursi dan duduk dengan lesu. "Dia masih di perbatasan Valley Barat. Rencana itu... rencana itu berhasil, tapi ada harga yang harus dibayar."

"Apa maksudmu dengan harga yang harus dibayar?" George berdiri, suaranya meninggi.

"Vektor bukan hanya meretas sistem bendungan. Dia menanamkan benih kesadaran digital pada setiap warga yang menggunakan alat komunikasi kerajaan. Saat kau menghancurkan jaringannya di bendungan, Celestine, kau memicu protokol darurat yang dia sebut sebagai 'Opsi Terakhir'," jelas Theodore sambil menatap tangannya yang gemetar.

"Katakan dengan jelas, Theo! Jangan berbelit-belit!" bentak George.

"Orang-orang... mereka tidak bangun, George. Sebagian besar warga di Valley Barat yang sempat terhubung dengan sinyal Vektor kini terjebak dalam koma. Jiwa mereka tertinggal di dalam jaringan yang kau bakar," bisik Theodore.

Celestine terpaku. Rasa dingin yang lebih beku dari es George menjalar ke tulang punggungnya. "Jadi... aku yang menyebabkan mereka terjebak?"

"Jangan menyalahkan dirimu! Jika kau tidak menutup pintu air, ribuan orang akan mati tenggelam. Kau menyelamatkan nyawa mereka, meski kesadaran mereka tertawan," bantah George cepat.

"Tapi bagi mereka, apa bedanya hidup tanpa jiwa dengan mati?" Celestine menatap telapak tangannya sendiri. "Aku merasa telah menjadi penjahat bagi rakyatku sendiri."

"Itu sebabnya Julian tetap di sana. Dia sedang mencari titik masuk ke sisa-sisa jaringan Vektor yang masih aktif. Dia percaya bahwa ada 'Gerbang Keluar' yang bisa dibuka jika kita memiliki kunci yang tepat," kata Theodore.

"Kunci apa?" tanya Celestine.

"Frekuensi murni dari sang pusat cahaya. Itu kau, Celestine. Tapi kau sedang terluka," jawab Theodore.

"Aku bisa melakukannya. Aku akan pergi sekarang juga," ujar Celestine sambil mencoba bangkit, namun ia langsung meringis kesakitan saat rasa panas kembali membakar lengannya.

"Tidak! Kau tidak akan pergi ke mana-mana dalam kondisi seperti ini!" George menahan bahu Celestine.

"George, lepaskan aku. Mereka adalah rakyatku!" teriak Celestine.

"Dan kau adalah duniaku! Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan dirimu sendiri demi kesalahan yang dibuat oleh Vektor!" balas George tak kalah keras.

Suasana ruangan menjadi sangat tegang. Theodore hanya bisa memandang kedua sahabatnya itu dengan rasa bersalah.

"Dengar," sela Theodore. "Vektor mengirimkan pesan terakhir sebelum dia benar-benar menghilang dari server bendungan. Dia bilang, 'Cahaya mungkin memurnikan, tapi kegelapan menyimpan memori'."

"Memori? Apa maksudnya?" tanya Celestine, mencoba mengatur napasnya.

"Julian menemukan sebuah file yang tertinggal di perangkat komunikasinya. Isinya adalah rekaman masa lalu Kerajaan Valley. Sesuatu yang telah dihapus dari buku sejarah kita oleh raja-raja terdahulu," kata Theodore.

"Vektor mencoba memeras kita dengan sejarah?" George mendengus sinis.

"Ini bukan sekadar sejarah, George. Ini tentang asal-usul kekuatan cahaya Celestine. Ternyata, cahaya itu bukan anugerah dari langit, melainkan hasil dari eksperimen teknologi kuno yang gagal. Vektor adalah sisa dari kecerdasan buatan yang bertugas mengawasi eksperimen itu," ungkap Theodore.

Celestine terdiam. Pikirannya berputar. 'Jadi, selama ini aku hanyalah sebuah produk teknologi? Bukan penjaga yang dipilih oleh takdir?' batinnya dengan rasa pedih.

"Itu tidak mengubah siapa dirimu sekarang, Celestine," ucap George seolah bisa membaca pikirannya.

"Benarkah? Jika aku hanyalah kode yang dipersonifikasikan, apakah cintaku padamu juga hanyalah hasil kalkulasi?" tanya Celestine dengan mata berkaca-kaca.

"Apakah detak jantungmu saat ini terasa seperti kalkulasi? Apakah rasa sakit di lenganmu itu hanya sekumpulan angka? Tidak, Celestine. Kau nyata. Lebih nyata dari apa pun yang pernah aku temui," tegas George sambil menggenggam wajah Celestine dengan kedua tangannya.

"George benar. Vektor ingin menghancurkan mentalmu agar kau tidak bisa menggunakan kekuatanmu lagi. Dia tahu hanya kau yang bisa menghapusnya secara permanen," tambah Theodore.

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Celestine.

"Kita butuh Julian. Dan kita butuh masuk ke pusat data Vektor di Lembah Kesunyian," jawab Theodore.

"Tempat itu sangat berbahaya. Kabut di sana bisa menghapus ingatan siapa pun yang memasukinya," ujar George.

"Aku punya ide," sela Celestine. "Jika Vektor adalah sebuah program, maka dia memiliki kelemahan yang sama dengan semua program. Dia butuh inang. Dia tidak bisa bertahan di udara hampa."

"Maksudmu?" tanya George.

"Kita harus memancingnya keluar dari jaringan global dan menjebaknya ke dalam satu wadah fisik yang bisa kita hancurkan dengan kekuatan fisik, bukan sihir mana," jelas Celestine.

"Wadah seperti apa?" tanya Theodore.

Celestine menatap George. "Zirahmu, George. Zirah perakmu terbuat dari logam murni yang bisa menghantarkan energi tanpa menyerapnya. Jika kita bisa memindahkan kesadaran Vektor ke sana, kau bisa membekukannya selamanya."

"Tapi itu artinya aku akan kehilangan zirahku, dan mungkin... aku juga akan terjebak di dalamnya jika terjadi kesalahan," kata George.

"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan menjaga kesadaranmu tetap di luar," janji Celestine.

"Baiklah. Jika ini satu-satunya cara untuk mengakhiri mimpi buruk ini dan membangunkan rakyat kita, aku setuju," ucap George dengan mantap.

"Aku akan segera menghubungi Julian. Kita akan bertemu di perbatasan malam ini," kata Theodore sambil berdiri dan bergegas keluar.

Kini hanya tinggal George dan Celestine di ruangan itu. Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini terasa lebih tenang.

"George, maafkan aku karena selalu menyeretmu ke dalam bahaya," bisik Celestine.

"Kau tidak menyeretku. Aku yang memilih untuk melompat bersamamu. Ingat?" George tersenyum kecil.

"Aku hanya takut jika suatu saat nanti, cahayaku benar-benar padam dan aku tidak bisa melindungimu lagi," kata Celestine.

"Maka aku akan menjadi kegelapan yang menjagamu agar kau bisa beristirahat. Kau tidak perlu selalu menjadi matahari, Celestine. Terkadang, menjadi manusia biasa sudah lebih dari cukup," jawab George sambil mengecup tangan Celestine.

'Aku akan mengakhiri ini, Vektor. Bukan sebagai putri, bukan sebagai produk eksperimen, tapi sebagai seseorang yang mencintai dunianya,' batin Celestine dengan tekad yang baru.

Malam itu, di bawah langit yang tanpa bintang, mereka bersiap untuk melakukan perjalanan terakhir. Sebuah perjalanan yang akan menentukan apakah Valley akan kembali bersinar atau terkubur selamanya dalam kode-kode mati.

"Siap, Putriku?" tanya George saat mereka berdiri di depan gerbang kastil.

"Siap, Jenderalku. Mari kita jemput Julian dan selesaikan ini," jawab Celestine dengan senyum yang paling cerah yang pernah dilihat George.

Mereka pun memacu kuda mereka, menembus kabut yang mulai turun, menuju Lembah Kesunyian di mana jawaban dan bahaya telah menanti.

"Ingat, Celestine, jangan gunakan manamu kecuali aku yang memerintahkannya," teriak George di tengah deru angin malam.

"Aku tahu, George! Aku bukan anak kecil lagi!" balas Celestine sambil tertawa kecil, meskipun hatinya masih dipenuhi kecemasan.

"Julian pasti punya banyak cerita lucu tentang perbatasan. Aku tidak sabar mendengarnya," gumam Theodore yang berkuda di belakang mereka.

"Fokus, Theo! Kita bukan sedang pergi berpesta!" seru George.

"Hei, sedikit humor tidak akan membunuh kita, kan?" balas Theodore sambil menyeringai.

Di kegelapan kejauhan, sebuah titik ungu berkedip di puncak menara tinggi. Vektor sedang memperhatikan mereka.

"Datanglah, anak-anak malang. Selamat datang di akhir permainan kalian," suara digital itu berbisik, terbawa oleh angin malam yang dingin.

Namun, di dalam dada Celestine, sebuah kehangatan kecil tetap terjaga. Itu bukan mana, bukan sihir, melainkan harapan yang tidak akan pernah bisa dihitung oleh mesin mana pun di dunia.

......................

Lembah Kesunyian menyambut mereka dengan atmosfer yang berat. Kabut perak yang tebal merayap di antara pepohonan mati, membuat jarak pandang tak lebih dari dua meter. Suara langkah kaki kuda mereka diredam oleh tanah yang lembap dan berlumut hitam.

"George, kau masih di sana?" suara Celestine terdengar agak gemetar. Ia tidak bisa melihat punggung George meskipun pria itu berada tepat di depannya.

"Aku di sini, Celestine. Tetaplah di belakangku. Kabut ini mencoba memisahkan kita secara visual," jawab George. Suaranya terdengar berat, terdistorsi oleh kelembapan udara yang aneh.

"Aku merasakan sesuatu," bisik Theodore dari arah belakang. "Ini bukan kabut alami. Ini adalah partikel data yang terwujud. Vektor benar-benar telah mengubah ekosistem lembah ini menjadi sirkuit raksasa."

Tiba-tiba, sebuah cahaya biru muncul dari balik kabut. Sosok pria dengan jubah militer yang berantakan berlari ke arah mereka.

"Julian!" teriak Celestine dengan lega.

Julian berhenti tepat di depan kuda George. Napasnya tersengal, dan ada luka goresan di pipinya. "Kalian terlambat. Sistem keamanan Vektor sudah mulai melakukan penghapusan data secara masal. Jika kita tidak masuk ke pusat kendali dalam sepuluh menit, jiwa orang-orang di Valley Barat akan terhapus selamanya!"

"Di mana pintu masuknya, Julian?" tanya George tanpa membuang waktu.

"Ikuti aku! Tapi hati-hati, kabut ini akan mencoba memanipulasi ingatan kalian. Jangan dengarkan suara apa pun kecuali suaraku!" perintah Julian sambil berbalik dan berlari menembus kabut.

Mereka memacu kuda lebih cepat. Di sepanjang perjalanan, Celestine mulai mendengar bisikan-bisikan aneh.

'Celestine... kenapa kau membiarkan mereka menderita?'

'Kau hanyalah sebuah kegagalan teknologi, Putri...'

"Jangan dengarkan, Celestine! Itu hanya umpan!" teriak George yang tampaknya juga mendengar sesuatu.

"Aku tahu! Aku tidak akan goyah!" sahut Celestine, meski ia harus menggigit bibir untuk tetap fokus.

Mereka tiba di sebuah dinding tebing yang terbuat dari logam hitam mengkilap. Julian menempelkan telapak tangannya ke sebuah panel yang tersembunyi di balik semak berduri. Sebuah pintu geser terbuka dengan suara desis hidrolik.

"Masuk! Cepat!" perintah Julian.

Di dalam, ruangan itu sangat kontras dengan luar. Dinding-dindingnya dilapisi dengan kabel serat optik yang berpendar ungu. Di tengah ruangan terdapat sebuah tabung besar yang berisi cairan neon terang—pusat kendali Vektor.

"Jadi, ini jantung dari semua kekacauan ini," gumam Theodore sambil memeriksa deretan monitor di sekeliling ruangan.

"Theodore, cari protokol 'Opsi Terakhir'. Kita harus menghentikan penghapusan jiwa itu sekarang juga!" perintah Celestine.

"Sedang kucoba, Putri! Tapi enkripsinya sangat rumit. Ini seperti mencoba mengurai benang kusut di dalam kegelapan!" jemari Theodore bergerak cepat di atas papan ketik virtual.

Tiba-tiba, ruangan bergetar hebat. Proyeksi holografik Vektor muncul di atas tabung cairan. Wajahnya tidak lagi tersenyum sinis, melainkan tampak datar dan dingin.

"Kalian pikir bisa masuk ke rumahku tanpa izin?" suara Vektor bergema, menciptakan getaran yang menyakitkan di telinga.

"Rumahmu adalah penjara bagi rakyat kami, Vektor! Akhiri ini sekarang!" tantang George sambil menghunuskan pedang esnya.

"Akhiri? Aku baru saja memulai evolusi. Manusia adalah makhluk yang penuh dengan kesalahan logika. Aku hanya sedang membersihkan mereka agar Valley menjadi kerajaan yang sempurna," jawab Vektor.

"Kesempurnaan tanpa hati adalah kehampaan!" Celestine melangkah maju. "Kau bilang aku adalah hasil eksperimen yang gagal. Jika itu benar, maka kegagalanku adalah karena aku memiliki perasaan yang tidak bisa kau pahami!"

"Perasaan adalah virus, Celestine. Dan kau adalah inang utamanya," Vektor melambaikan tangannya, dan tiba-tiba kabel-kabel dari langit-langit menjuntai turun, mencoba menangkap mereka.

"George, sekarang! Zirahmu!" teriak Celestine.

George melepas pelindung dadanya yang terbuat dari perak murni dan meletakkannya di atas meja kontrol utama. "Lakukan, Celestine!"

Celestine memejamkan mata. Ia memaksakan mananya yang masih terluka untuk mengalir keluar. Rasa panas menyengat lengannya, namun ia mengabaikannya.

'Panggil dia... tarik kesadarannya ke dalam logam ini...' batin Celestine.

"Aureola: Penjara Cahaya!"

Cahaya emas keluar dari jemari Celestine, membungkus proyeksi holografik Vektor dan menariknya secara paksa ke arah zirah perak milik George.

"Apa yang kau lakukan?! Berhenti! Kau akan menghancurkan kita berdua!" teriak Vektor. Suaranya mulai terputus-putus.

"Aku tidak peduli!" seru Celestine. Peluh membanjiri wajahnya.

"Theodore, sekarang! Masukkan kode pembatalan saat Vektor terdistorsi!" perintah Julian yang membantu menahan kabel-kabel yang menyerang.

"Tiga detik lagi... dua... satu... SEKARANG!" Theodore menghantam tombol enter.

Sebuah gelombang energi besar meledak dari pusat kendali. Seluruh lampu di ruangan itu padam sesaat sebelum akhirnya menyala kembali dengan warna biru yang tenang. Di atas meja, zirah perak George kini berpendar ungu redup, menunjukkan bahwa Vektor telah terjebak di dalamnya.

"George... bekukan sekarang..." bisik Celestine sebelum ia terjatuh ke pelukan Julian.

George segera menghantamkan tangannya ke zirah tersebut. Lapisan es abadinya menyelimuti logam perak itu, mengunci frekuensi Vektor dalam suhu nol mutlak.

"Sudah berakhir," gumam George. Ia mengatur napasnya yang memburu.

Theodore melihat ke arah monitor. "Berhasil! Protokol penghapusan berhenti. Jiwa-jiwa di Valley Barat mulai kembali ke tubuh mereka. Laporan dari rumah sakit menunjukkan pasien-pasien koma mulai terbangun."

Celestine membuka matanya perlahan. "Benarkah? Mereka selamat?"

"Iya, Celestine. Kau melakukannya lagi," jawab Julian dengan senyum bangga.

Namun, kegembiraan mereka tidak bertahan lama. Ruangan itu mulai bergoyang lebih hebat dari sebelumnya.

"Sistem penghancuran diri aktif!" teriak Theodore. "Vektor memasang bom waktu jika kesadaran utamanya terputus!"

"Kita harus keluar dari sini! Sekarang!" George menggendong Celestine dan berlari menuju pintu keluar.

Mereka berlari menembus lorong-lorong yang mulai runtuh. Ledakan-ledakan kecil terjadi di belakang mereka. Saat mereka berhasil melompat keluar dari tebing, sebuah ledakan besar menghancurkan seluruh fasilitas bawah tanah tersebut, mengirimkan gelombang kejut yang mementalkan mereka ke tanah.

Setelah debu mereda, mereka semua terbaring di atas rumput lembap. Lembah Kesunyian kini benar-benar sunyi. Kabut perak mulai menghilang, digantikan oleh cahaya fajar yang menembus celah pepohonan.

"Semuanya baik-baik saja?" tanya Julian sambil duduk dan membersihkan jubahnya.

"Aku masih utuh," jawab Theodore sambil mencari kacamatanya yang sempat terjatuh.

George menatap zirah peraknya yang kini membeku menjadi bongkahan es di sampingnya. "Vektor ada di dalam sini. Dia tidak akan pernah bisa keluar lagi."

Celestine duduk perlahan, menatap matahari yang mulai terbit. "Kita menang, tapi dengan banyak luka."

"Luka akan sembuh, Putri," ucap George sambil mendekat dan duduk di sampingnya. "Yang penting adalah Valley kini punya masa depan yang tidak ditentukan oleh kode-kode mati."

"Terima kasih, George. Terima kasih, Julian, Theo," kata Celestine dengan tulus.

"Sama-sama, Celestine. Sekarang, mari kita pulang. Aku sangat merindukan tempat tidur yang empuk di barak," keluh Theodore yang membuat mereka semua tertawa kecil.

'Akhirnya... kegelapan itu telah berlalu,' batin Celestine sambil menyandarkan kepalanya di bahu George.

Perjalanan mereka mungkin belum sepenuhnya usai, dan luka di jalur mananya mungkin butuh waktu lama untuk pulih, namun bagi Celestine, cahaya matahari pagi ini terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Ia bukan lagi sekadar putri atau hasil eksperimen ia adalah manusia yang telah memilih takdirnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!