Menjadi pengasuh CEO yang berpura pura menjadi anak berumur 7 tahun?
CEO bernama Halton Felix berumur 25 tahun, tubuh tinggi kekar dan juga berisi.
Menceritakan kehidupan yang sungguh pahit yang di jalani seorang perempuan polos yang bernama Qiandra Januar Putri. Dia berstatus pelajar kelas 2 di sekolah SMA Negeri yang ada di kota nya.
Dia seorang gadis yang cantik, baik dan juga ramah. Dia adalah anak yatim piatu, yang di tinggal orang tua nya sejak dia duduk di bangku kelas 6 SD.
Setiap hari dia berjualan donat di sekolah untuk menghidupi kehidupan dirinya dan juga adik kandungnya.
Di sekolah Qiandra adalah korban perundungan. Karena semua orang membenci dirinya akibat kemiskinan yang dia jalani.
Qiandra juga disukai Rio Dewandaru tuan muda yang terkenal akan kekayaan dan juga ketampanannya di sekolah.
Alih alih melindungi orang yang dia cintai, tuan muda yang terkenal akan kecerdasannya malah menjadi orang pertama yang ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25.
Setiap hari Rio sudah berusaha keras, untuk berubah, agar tidak terus terusan menyakiti hati mau pun fisik Qiandra. Tapi hanya sebuah penyesalan yang menghampiri diri nya, setelah menyakiti Qiandra.
Sedang kan Qiandra, setelah mendengar apa yang baru saja Rio ucap kan. Hanya bisa mematung seraya mencerna ucapan Rio yang mengatakan jika ibu mertuanya itu begitu berbahaya dan juga kejam.
Qiandra pun berdiri, lalu membersih kan rok nya yang berdebu. Dia ingin segera keluar dari gudang kosong ini.
"Pasti aku kena omel lagi, sama Bu Deva (guru psikologi), walau pun kali ini. Aku on time mengerjakan tugas rumah yang di berikan oleh nya, tapi sekarang, aku malah telat untuk masuk ke dalam kelas." Gumam Qiandra.
Diri nya pun lalu keluar dari gudang kosong, tak lupa menutup pintu gudang dan mengunci dari luar dengan kunci yang memang selalu menempel pada pintu gudang kosong itu.
Saat akan berbalik arah, sebuah tamparan keras tiba tiba menghampiri pipi mulus nya.
Plakkkk
"Gue udah peringatkan elo berkali kali! Jauhi Rio jangan coba coba untuk mendekati nya," ucap Mirna dengan wajah yang sangat emosi dan kemarahan pun tercetak jelas dari wajah nya.
"Aku gak pernah mendekati Rio. Dia yang menarik ku dan membawa ku kesini!" Qiandra membela diri nya.
Tapi wajah Mirna malah terlihat semakin marah. "Elo barusan berduaan di sini dengan dia, apa elo bilang? Rio yang membawa elo kesini. Gak usah ngimpi! Kalau elo memang nggak caper sama dia, gak mungkin lah dia membawa elo ke sini!" Ucap Mirna dengan nada meninggi.
Bahkan Mirna membuka kembali gudang kosong itu, lalu menendang tubuh Qiandra masuk ke dalam gudang kosong.
Membuat tubuh Qiandra terjatuh dan dahi nya menghantam lantai. Posisi Qiandra memeluk lantai.
"Gue akan menyakiti elo lebih dari ini, jika elo berani membuat masalah dengan gue lagi!" Ancam Mirna lalu menutup pintu gudang kosong dengan keras. Tak lupa dia mengunci pintu gudang kosong itu. Dia memilih mengakhiri aksi nya karena kelas sudah di mulai sejak tadi.
Air mata terus mengalir dari ke dua kelopak mata Qiandra, dia sampai bingung. Apa kesalahan nya?
"Hiks hiks hiks, Tuhan ini sangat lah sakit, bukan hanya fisik ku yang sakit. Tapi hati ku juga. Apa salah ku sehingga orang- orang yang memperlakukan ku seperti ini, kenapa hidup yang aku jalani begitu menyakitkan," ucap Qiandra parau, dia terus merangkak ke arah pintu.
Qiandra merasa nya kepala nya nyut nyutan, bahkan pandangan mata nya pun mulai kabur.
Akhir nya Qiandra pingsan tak sadar kan diri.
*****
Qiandra yang pingsan, akhir nya sadar sebelum membuka mata nya. Cuman dia yang merasa berada di tempat yang begitu nyaman, bahkan dia merasa tubuh nya enteng dan tidak terasa sakit. Akhir nya dia memilih tidur kembali, tanpa tahu kini diri nya sedang berada di mana.
Qiandra pun perlahan membuka mata nya perlahan, karena tidur nya terasa terganggu. Saat merasa ada seseorang yang kini sedang memain kan puting milik nya. "Mungkin ini hanya sebuah mimpi," gumam Qiandra sembari masih memejam kan mata nya.
Karena seingat nya dia masih berada di gudang sekolah.
"Bangun lah! Aku haus ... mau nenen!" Di telinga Qiandra, suara itu terdengar seperti seorang laki laki, tapi yang membuat Qiandra heran sekaligus bingung.
Kenapa suara laki laki itu terdengar aneh, walau pun cara bicara nya lebih mirip seperti anak kecil. Tapi aneh nya suara itu terdengar ngebass dan juga berat bukan seperti suara anak kecil pada umum nya, tapi lebih mirip suara laki laki dewasa.
Qiandra yang masih di landa kantuk, masih berusaha untuk membuka mata nya. Walau pun itu terasa begitu sulit.