Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.
Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.
Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Turnamen Dimulai
Dua setengah tahun telah berlalu sejak Seol pertama kali menginjakkan kaki di Sekte Pedang Surgawi. Dua setengah tahun penuh keringat, darah, dan air mata yang tak terhitung jumlahnya. Dua setengah tahun yang mengubah seorang pemuda kurus dari desa terpencil menjadi salah satu murid paling menjanjikan di sekte ini.
Dan kini, hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
---
Pagi Hari – Lembah Naga Putih
Matahari baru saja menyentuh puncak gunung saat ribuan pendekar dari berbagai penjuru Murim berkumpul di Lembah Naga Putih. Lembah itu terletak di jantung Benua Murim Tengah, sebuah dataran luas yang dikelilingi oleh pegunungan di empat sisinya, dengan sungai yang mengalir di tengahnya membelah lembah menjadi dua bagian yang simetris.
Arena turnamen dibangun di atas sungai itu sendiri—sebuah panggung batu putih berbentuk lingkaran berdiameter seratus tombak, berdiri di atas pilar-pilar marmer yang menjulang dari dasar sungai. Air mengalir di bawah panggung, menciptakan suara gemericik yang menenangkan, kontras dengan ketegangan yang terasa di udara.
Di sekeliling panggung, tribun batu berundak naik dalam tujuh tingkat, mampu menampung lebih dari sepuluh ribu penonton. Hari ini, tribun itu hampir penuh. Warna-warna jubah dari berbagai sekte dan klan memenuhi setiap sudut—biru tua Sekte Pedang Surgawi, abu-abu Sekte Tulang Besi, hijau Sekte Ular Berbisa, merah darah Kultus Darah yang kini berani muncul secara terbuka setelah perjanjian damai yang rapuh.
Seol berdiri di antara murid-murid Sekte Pedang Surgawi, seragam biru kebesarannya terasa asing di tubuhnya. Ia sudah terbiasa dengan seragam abu-abu murid luar, lalu seragam biru biasa murid dalam. Tapi hari ini, ia mengenakan jubah upacara—biru tua dengan sulur emas di kerah dan ujung lengan, lambang naga dan pedang di dada. Pakaian yang sama dengan yang dikenakan oleh Seol Hwa dan Kang Jin, tanda bahwa ia kini diakui sebagai salah satu murid elit sekte.
Di sampingnya, Baek Ho berdiri dengan dada membusung, bangga dengan seragam barunya. Ia tidak berhasil naik ke murid dalam—bakatnya memang tidak sehebat Seol—tetapi ia tetap menjadi salah satu murid luar terkuat, dan hari ini ia datang untuk mendukung.
“Lihat mereka,” bisik Baek Ho, matanya menjelajahi tribun. “Semua sekte besar ada di sini. Aku bahkan melihat beberapa pendekar legendaris. Itu, di tribun barat, aku pikir itu Pendekar Pedang Sakti dari Gunung Hua!”
Seol tidak mendengarkan. Matanya tidak tertuju pada tribun kehormatan atau pendekar legendaris. Matanya tertuju pada tribun timur, di mana barisan jubah merah darah duduk dalam formasi rapi.
Kultus Darah.
Ia belum pernah melihat mereka secara langsung. Selama ini, ia hanya mendengar cerita—tentang ritual-ritual mengerikan mereka, tentang teknik-teknik terlarang yang mereka gunakan, tentang serangan mereka ke Klan Ryu yang menghancurkan desanya. Tapi melihat mereka sekarang, di bawah sinar matahari pagi yang cerah, mereka tidak terlihat seperti monster. Mereka hanya… orang biasa. Pria dan wanita dengan jubah merah, wajah tenang, senyum sopan. Seperti pendekar biasa.
Tapi Seol tahu. Di balik senyum sopan itu, ada kegelapan yang tidak bisa disembunyikan. Ia bisa merasakannya—qi mereka berbeda. Lebih berat, lebih dingin, dan ada sesuatu yang menggeliat di dalamnya, seperti ular yang tidur di bawah permukaan.
Dan di barisan depan jubah merah itu, seorang pemuda duduk dengan anggun, tangan di pangkuan, senyum tipis menghiasi bibirnya. Rambutnya hitam panjang diikat ke belakang dengan pita merah, jubahnya lebih gelap dari yang lain—hampir hitam, dengan sulur-sulur merah di kerahnya. Di pinggangnya, tersandang sebilah pedang dengan sarung hitam bermotif tengkorak.
Seol tidak perlu menebak siapa dia. Ia sudah tahu sejak ia melihat senyum itu.
Ryu Cheonmyeong.
---
Pertemuan Dua Sepupu
Cheonmyeong tidak berubah. Atau mungkin ia berubah, tetapi Seol tidak bisa melihatnya dari jarak ini. Tubuhnya masih tegap, bahunya masih bidang, wajahnya masih tampan dengan rahang tegas yang dulu membuat semua orang di Klan Ryu mengaguminya.
Tapi ada yang berbeda. Qi-nya. Bahkan dari jarak seratus langkah, Seol bisa merasakannya—qi yang tidak bersih, qi yang bercampur dengan sesuatu yang gelap, sesuatu yang menggeliat di dalamnya seperti ular yang lapar. Sama seperti Kwak Jung. Sama seperti yang ia rasakan di ruang bawah tanah.
Dan kemudian, Cheonmyeong menoleh.
Mereka berdua bertatapan.
Seol tidak bergerak. Ia tidak mengepalkan tangannya. Ia tidak mengalihkan pandangan. Ia hanya berdiri di sana, menatap sepupunya yang dulu menghancurkan hidupnya, yang dulu menghinanya, yang dulu hampir membunuhnya.
Cheonmyeong tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu—senyum predator yang tahu ia adalah yang terkuat di ruangan ini. Tapi ada sesuatu yang baru di matanya. Sesuatu yang belum pernah Seol lihat sebelumnya.
Kegilaan.
Cheonmyeong mengangkat tangan kanannya, jari telunjuk dan jari tengah terulur, membentuk simbol yang hanya mereka berdua yang mengerti. Simbol yang dulu selalu ia tunjukkan pada Seol setelah mengalahkannya dalam latihan.
“Kau masih sampah.”
Seol tidak bereaksi. Ia hanya menatap, lalu perlahan, tanpa tergesa-gesa, ia mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Di sampingnya, Baek Ho menarik napas tajam. “Itu dia? Sepupumu?”
“Ya.”
“Dia… menyeramkan. Aku tidak suka qi-nya.”
“Aku juga tidak.”
Seol Hwa, yang berdiri di sisi lain Seol, melirik ke arah Cheonmyeong sebentar, lalu kembali ke depan. “Kultus Darah mengirim wakil terbaik mereka. Ryu Cheonmyeong, mantan jenius Klan Ryu yang kini menjadi algojo paling ditakuti di bawah komandan Doksa.” Suaranya datar, tetapi ada nada peringatan di dalamnya. “Ia membunuh tiga belas pendekar level Geumgang dalam dua tahun terakhir. Termasuk dua murid senior dari sekte kita.”
Seol merasakan darahnya mendidih, tetapi ia menekannya. “Aku tahu.”
“Kau tidak takut?”
Seol menatap Seol Hwa. Matanya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mendengar tentang kekuatan mematikan lawannya.
“Aku sudah lama berhenti takut padanya,” katanya.
Seol Hwa menatapnya untuk waktu yang lama, lalu mengangguk kecil. Tidak ada senyum, tetapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang mirip dengan hormat.
---
Upacara Pembukaan
Genderang bergema di seluruh lembah. Tiga kali pukulan, masing-masing menggema dari ujung ke ujung, membuat ribuan orang terdiam.
Seorang pria tua dengan jubah putih panjang melangkah ke tengah panggung. Rambutnya putih semua, wajahnya penuh keriput, tetapi langkahnya mantap, matanya tajam, dan qi yang terpancar dari tubuhnya membuat seluruh tribun terasa seperti ditekan oleh beban tak terlihat.
Itu adalah Kaisar Bela Diri Hwang, pemimpin Aliansi Orthodoks, pendekar tertua dan terkuat yang masih hidup di Murim. Usianya konon sudah lebih dari seratus tahun, tetapi ia masih berdiri tegak, masih memegang pedang di tangannya, masih menjadi momok bagi setiap musuh aliansi.
“Selamat datang di Turnamen Persilatan Sejati ke-317,” suaranya bergema tanpa perlu pengeras suara, qi-nya membawa setiap kata ke telinga setiap orang di lembah. “Tiga puluh dua sekte dan klan telah mengirim wakil terbaik mereka. Tiga puluh dua pendekar muda akan bertarung di arena ini untuk memperebutkan gelar terkuat di generasi mereka.”
Ia berjalan mengelilingi panggung, matanya menyapu tribun.
“Aturannya sederhana: sistem gugur. Siapa yang menang, melaju. Siapa yang kalah, tersingkir. Tidak ada batasan teknik. Tidak ada batasan senjata. Satu-satunya aturan: jangan membunuh jika tidak perlu. Jika lawan menyerah, hentikan serangan. Jika tidak…” Ia tersenyum tipis. “Maka kematian adalah guru yang kejam, tetapi ia mengajarkan pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan.”
Ia mengangkat pedangnya ke langit. Cahaya matahari memantul di bilahnya, menciptakan kilatan yang menyilaukan.
“Turnamen dimulai!”
Genderang bergema lagi, kali ini lebih cepat, lebih keras, membangkitkan adrenalin setiap pendekar muda di lembah itu.
---
Pengundian Babak Pertama
Seol berdiri di antara para peserta yang berkumpul di belakang panggung. Tiga puluh dua nama akan diundi untuk menentukan lawan di babak pertama. Ia tidak gugup. Ia sudah berlatih selama dua setengah tahun untuk ini. Ia sudah siap.
Seorang juru bicara dengan jubah biru tua naik ke panggung kecil, membuka gulungan kertas besar.
“Babak pertama, pertandingan pertama: Kang Jin dari Sekte Pedang Surgawi melawan Mi Rae dari Sekte Pedang Surgawi.”
Seol menoleh. Kang Jin tersenyum tipis. Mi Rae—perempuan pendiam yang pernah menjadi lawannya di kualifikasi murid luar—hanya mengangguk tanpa ekspresi.
“Pertandingan kedua: Ryu Cheonmyeong dari Kultus Darah melawan… Park dari Sekte Pedang Surgawi.”
Seol merasakan dadanya sesak. Park—pria kekar yang dulu mengganggunya di dapur, yang ia kalahkan di kualifikasi—kini berdiri dengan wajah pucat. Ia tidak siap menghadapi Cheonmyeong. Tidak ada yang siap.
Seol menatap Park. Pria itu menggigit bibirnya, tangannya gemetar, tetapi ia tidak mundur.
“Pertandingan ketiga: Baek Ho dari Sekte Pedang Surgawi melawan… Hwang dari Sekte Pedang Surgawi.”
Baek Ho mengerang pelan. Hwang adalah murid senior yang sering berlatih di area latihan, yang dulu meremehkan Seol. Tapi setidaknya itu bukan Cheonmyeong.
“Pertandingan keempat: Seol Hwa dari Sekte Pedang Surgawi melawan… Yoon Jae dari Sekte Pedang Surgawi.”
Yoon Jae, teman Seol yang membantunya menyelidiki Kwak Jung, tersenyum pahit. Ia tidak punya kesempatan melawan Seol Hwa, tetapi setidaknya ia tidak akan mati.
Undian terus berlangsung. Seol menunggu namanya dipanggil. Pertandingan kelima. Keenam. Ketujuh. Kedelapan.
“Pertandingan kesembilan: Ryu Seol dari Sekte Pedang Surgawi melawan… Baek Ho dari Sekte Tulang Besi.”
Seol mengerjap. Bukan Baek Ho temannya. Baek Ho dari Sekte Tulang Besi. Nama yang sama, tetapi orang yang berbeda.
Ia menoleh ke arah tribun Sekte Tulang Besi, mencari pemilik nama itu. Di barisan depan, seorang pemuda berdiri. Tubuhnya besar—jauh lebih besar dari Baek Ho temannya. Tingginya mungkin dua kepala di atas Seol, dengan bahu selebar pintu gerbang dan lengan sebesar paha orang biasa. Rambutnya pendek, wajahnya persegi, dan matanya—matanya menyala dengan semangat bertarung yang tidak bisa disembunyikan.
Pemuda itu menatap Seol, lalu mengangkat tinjunya ke udara, berteriak dengan suara yang menggema di seluruh tribun:
“HAHAHA! AKU DAPAT LAWAN YANG KOKOH! JANGAN MAIN-MAIN, YA!”
Seol tidak bisa menahan senyum kecil. Pemuda ini sama sekali berbeda dari Baek Ho temannya. Ia kasar, berisik, dan tampaknya tidak bisa diam. Tapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang jujur, tanpa kebohongan, tanpa kepalsuan. Seperti anak kecil yang baru mendapat mainan baru.
“Itu dia,” bisik Baek Ho temannya di samping Seol, suaranya campuran kagum dan takut. “Baek Ho dari Sekte Tulang Besi. Mereka bilang ia bisa menghancurkan batu dengan tinju kosong. Ia belum pernah kalah dalam pertarungan fisik.”
Seol mengangguk. “Aku lihat.”
“Kau tidak takut?”
“Aku sudah berlatih dua setengah tahun untuk ini,” kata Seol. “Aku tidak akan kalah di babak pertama.”
---
Sebelum Pertandingan – Area Persiapan
Seol duduk di sudut area persiapan, memusatkan qi-nya. Pusaran di dadanya berputar stabil, lebih kuat dari biasanya. Dua setengah tahun latihan tidak sia-sia. Ia sudah mencapai level Hwanung—level yang sama dengan Cheonmyeong saat duel di hutan belakang dulu. Tapi ia tahu, level bukan segalanya. Teknik, strategi, dan mental juga menentukan.
“Seol.”
Ia membuka mata. Seol Hwa berdiri di depannya, tangan di belakang punggung, wajahnya datar seperti biasa. Tapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
“Aku sudah melihat lawanmu,” katanya. “Baek Ho dari Sekte Tulang Besi. Ia mengandalkan kekuatan fisik. Tidak banyak teknik. Tapi kekuatannya luar biasa. Satu pukulan darinya bisa menghancurkan tulangmu, bahkan jika kau menangkis dengan qi.”
Seol mengangguk. “Aku tahu.”
“Kau tidak bisa melawannya dengan kekuatan. Kau harus menggunakan kecepatan dan teknik. Pedang Bayangan tingkat dua akan efektif melawannya. Tapi hati-hati—jika ia menemukan bayangan aslimu, ia akan menghancurkanmu dalam satu pukulan.”
Ia meraih sesuatu dari balik punggungnya—sebilah pedang. Bukan pedang kayu latihan, tetapi pedang sungguhan, dengan bilah berkilat dan sarung putih polos.
“Ini,” katanya, menyerahkan pedang itu pada Seol. “Pinjaman. Jangan rusak.”
Seol menerima pedang itu dengan hati-hati. Ia menarik bilahnya sedikit, dan cahaya matahari yang masuk melalui celah atap memantul di permukaannya, menciptakan kilatan biru keperakan. Pedang ini ringan, seimbang, dan ada qi yang mengalir di dalamnya—seperti pedang itu hidup.
“Ini… ini pedangmu?” tanya Seol.
“Pedang cadanganku,” kata Seol Hwa datar. “Tapi cukup bagus untukmu.”
Seol tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya membungkuk hormat. “Terima kasih, Sabeom-nim.”
Seol Hwa tidak menjawab. Ia berbalik dan pergi, meninggalkan Seol dengan pedang di tangan dan rasa terima kasih yang tidak bisa diungkapkan.
---
Pertandingan Dimulai – Seol vs Baek Ho dari Sekte Tulang Besi
“Pertandingan kesembilan! Ryu Seol dari Sekte Pedang Surgawi melawan Baek Ho dari Sekte Tulang Besi!”
Seol melangkah ke panggung. Di depannya, Baek Ho sudah berdiri dengan senyum lebar, tinju kanannya dipukul-pukulkan ke telapak tangan kirinya, menciptakan bunyi dug dug dug yang bergema di seluruh lembah.
“Akhirnya!” teriak Baek Ho, suaranya menggema. “Aku sudah tidak sabar! Aku dengar kau adalah murid baru yang paling berbakat di sekte kalian! Ayo tunjukkan!”
Seol tidak menjawab. Ia mencabut pedang Seol Hwa perlahan, bilahnya berkilat di bawah sinar matahari. Ia mengambil posisi—kaki kiri di depan, kaki kanan di belakang, pedang diangkat setinggi dada, ujungnya mengarah ke lawan.
Posisi dasar. Tapi ada sesuatu di dalamnya—sesuatu yang membuat Baek Ho berhenti memukul-mukul tinjunya.
“Mulai!” teriak wasit.
Baek Ho melesat maju.
Seol tidak punya waktu untuk berpikir. Tubuhnya bergerak dengan refleks yang sudah terlatih selama dua setengah tahun. Ia menghindar, tubuhnya bergeser ke kanan, dan pedang di tangannya berdesis memotong udara, mengarah ke lengan Baek Ho.
Tapi Baek Ho tidak menghindar. Ia membiarkan pedang itu mengenai lengannya.
Crak!
Seol merasakan getaran menjalar dari ujung pedang ke tangannya. Bukan getaran biasa—ini adalah getaran yang terasa seperti memukul batu, bukan daging. Ia mundur selangkah, memeriksa pedangnya. Masih utuh. Tapi lengannya sendiri terasa mati rasa.
Baek Ho tertawa. “HAHAHA! Teknik Tulang Besi! Tidak ada pedang biasa yang bisa melukai aku! Aku sudah berlatih selama sepuluh tahun untuk ini!”
Ia maju lagi. Kali ini tinjunya menghunjam ke arah dada Seol dengan kecepatan yang tidak sebanding dengan ukuran tubuhnya. Angin dari pukulan itu sudah terasa seperti pukulan.
Seol tidak bisa menghindar sepenuhnya. Ia hanya bisa mengangkat pedangnya untuk menangkis.
Dug!
Pukulan itu mengenai bilah pedang, dan Seol merasakan seluruh tubuhnya bergetar. Kakinya bergeser mundur dua langkah, telapak tangannya terbakar, dan napasnya terasa sesak.
Satu pukulan. Hanya satu pukulan. Dan ia sudah hampir kehilangan keseimbangan.
“Dia terlalu kuat untuk dilawan langsung,” bisik Gu di kepalanya. “Gunakan kecepatanmu. Jangan biarkan ia menyentuhmu.”
Seol mengangguk. Ia mengalirkan qi ke kakinya, dan dalam sekejap, ia melesat.
Bukan ke depan. Ke samping. Ke belakang. Ke kiri. Ke kanan. Ia bergerak seperti angin, tidak pernah diam di satu tempat, selalu bergerak, selalu berputar, menciptakan ilusi bahwa ada lima atau enam Seol di atas panggung sekaligus.
Baek Ho berhenti. Matanya mengikuti gerakan Seol, tetapi ia tidak bisa menangkap mana yang asli dan mana yang bayangan.
“Teknik yang bagus!” teriaknya, tetapi ada nada frustrasi di suaranya. “Tapi kau tidak bisa terus berlari selamanya!”
Ia mengepalkan kedua tinjunya, dan qi-nya meledak. Gelombang qi menyebar ke segala arah, dan Seol merasakan getaran itu mengganggu keseimbangannya. Ia hampir terjatuh, tetapi ia menahan diri.
“Dia menggunakan gelombang qi untuk mendeteksi posisimu,” kata Gu. “Diam sejenak. Biarkan ia kehilangan jejak.”
Seol berhenti. Ia berdiri diam di tempatnya, menekan qi-nya hingga hampir tidak ada.
Baek Ho mengerjap. Gelombang qinya tidak mendeteksi apa pun. Seol menghilang.
“Di mana—?”
Seol bergerak.
Ia melesat maju dengan kecepatan penuh, pedang di tangannya berdesis. Tapi kali ini, ia tidak menyerang tubuh Baek Ho. Ia menyerang kaki-nya.
Baek Ho menyadari serangan itu terlambat. Ia berusaha menghindar, tetapi tubuhnya terlalu besar, terlalu lambat. Pedang Seol mengenai betis kirinya—bukan dengan bilah, tetapi dengan gagangnya. Pukulan keras yang tepat pada titik saraf.
Baek Ho tersentak. Kakinya terasa mati rasa, dan untuk sesaat, keseimbangannya hilang.
Seol tidak memberi waktu. Ia berputar, pedangnya berkelebat, dan kali ini, tujuh bayangan muncul di sekeliling Baek Ho—tujuh pedang yang menyerang dari tujuh arah sekaligus.
Pedang Bayangan. Tingkat dua.
Baek Ho tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang ilusi. Ia hanya bisa mengepalkan tinjunya, memusatkan seluruh qi-nya ke kulitnya, dan berharap.
Tujuh bayangan itu menghantamnya hampir bersamaan. Enam hanyalah ilusi, tidak meninggalkan bekas. Tapi yang satu—yang asli—mengenai pergelangan tangannya, tepat di titik di mana baju besi tulangnya paling tipis.
Baek Ho menjerit. Bukan jeritan sakit, tetapi jeritan terkejut. Tangannya yang selama ini dianggap tidak bisa ditembus oleh pedang biasa, sekarang berlumuran darah.
Ia menatap tangannya, lalu menatap Seol. Matanya berubah—bukan marah, tetapi kagum.
“Kau… kau melukai aku,” katanya, suaranya tidak lagi berteriak. “Pedang itu… bukan pedang biasa.”
“Pedang ini pinjaman,” kata Seol, napasnya terengah. “Tapi tekniknya bukan pinjaman.”
Baek Ho terdiam sejenak. Kemudian ia tertawa. Tertawa keras, lebar, tanpa rasa sakit.
“Bagus! SANGAT BAGUS!” teriaknya. “Aku belum pernah dikalahkan dalam pertarungan fisik! Tapi kau… kau tidak melawanku dengan kekuatan. Kau melawanku dengan kecerdasan!” Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat pada wasit. “Aku menyerah.”
Seluruh lembah terdiam.
Wasit mengerjap. “Kau… kau menyerah?”
“Ya! Aku tidak bisa melawannya jika ia terus bergerak seperti itu. Dan lukaku… aku tidak bisa menggunakan tangan kiriku dengan maksimal.” Baek Ho menatap Seol dengan senyum lebar. “Tapi lain kali, aku akan berlatih lebih keras. Aku akan menemukan cara untuk mengalahkan teknik itu. Dan kita akan bertarung lagi!”
Seol tidak bisa menahan senyum. “Aku akan menunggu.”
Wasit mengangkat tangannya. “Pemenang: Ryu Seol dari Sekte Pedang Surgawi!”
Tribun bergemuruh. Tidak semua orang bertepuk tangan—beberapa dari Sekte Tulang Besi terlihat kecewa—tetapi sebagian besar penonton memberikan tepuk tangan yang tulus. Mereka melihat sesuatu yang langka: seorang pendekar muda yang tidak mengandalkan kekuatan, tetapi strategi dan teknik.
Seol berdiri di tengah panggung, pedang Seol Hwa di tangannya, napasnya masih terengah tetapi pikirannya jernih. Ia menoleh ke tribun timur, ke barisan jubah merah.
Cheonmyeong masih duduk di tempatnya, senyum tipis masih menghiasi bibirnya. Tapi ada yang berbeda. Senyum itu tidak lagi terlihat percaya diri. Ada ketegangan di rahangnya, ada kekhawatiran di matanya.
Seol menatapnya sebentar, lalu berbalik dan turun dari panggung.
Satu pertandingan. Satu kemenangan. Masih panjang jalan menuju final. Tapi aku sudah menunjukkan padamu, Cheonmyeong. Aku bukan lagi sampah yang dulu.
---
Setelah Pertandingan – Area Istirahat
Seol duduk di bangku batu di area istirahat, mengatur napasnya. Baek Ho—temannya—duduk di sampingnya, membalut tangannya yang masih gemetar setelah pertarungan.
“Kau benar-benar gila,” kata Baek Ho, suaranya campuran kagum dan takut. “Melawan Baek Ho dari Tulang Besi dengan pedang pinjaman. Dan kau menang.”
“Aku tidak menang dengan kekuatan,” kata Seol. “Aku menang karena ia ceroboh.”
“Kau selalu bilang begitu.” Baek Ho menghela napas. “Tapi aku tahu, kau sudah jauh lebih kuat dari dulu. Aku tidak akan bisa mengalahkanmu sekarang.”
Seol tidak menjawab. Matanya tertuju pada panggung, di mana pertandingan berikutnya sedang berlangsung.
Ryu Cheonmyeong melawan Park.
Seol tidak perlu melihat untuk tahu hasilnya. Ia hanya mendengar teriakan Park yang meminta ampun, lalu keheningan, lalu suara tubuh jatuh. Ketika ia menoleh, Park sudah terbaring di lantai panggung, tidak bergerak. Cheonmyeong berdiri di atasnya dengan senyum tipis, pedangnya masih di sarung, tidak pernah terhunus.
Ia mengalahkan Park tanpa pedang. Tanpa usaha. Dan dari caranya berdiri, dari qi yang terpancar dari tubuhnya, Seol tahu: Cheonmyeong tidak hanya pulih. Ia menjadi lebih kuat. Jauh lebih kuat.
Cheonmyeong menoleh ke arah area istirahat, mencari Seol. Ketika mata mereka bertemu, ia mengangkat tangan kanannya lagi—jari telunjuk dan jari tengah terulur. Simbol yang sama.
Tapi kali ini, Seol tidak hanya menatap. Ia mengangkat pedang Seol Hwa, bilahnya berkilat di bawah sinar matahari, dan menunjukkannya pada Cheonmyeong.
Bukan ancaman. Bukan tantangan.
Janji.
Aku akan menghadapimu di final. Dan kali ini, aku tidak akan kalah.
Cheonmyeong tersenyum. Senyum yang tidak lagi terlihat seperti senyum manusia.
“Aku akan menunggumu, sepupu kecil.”
---