update setiap tanggal genap
Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.
Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.
Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lingkungan Kerja - 1
Lin Yinjia baru menyadari betapa lelah tubuhnya ketika bus kota yang ia tumpangi berhenti di dekat rumahnya. Selama perjalanan pulang ia hampir tidak melakukan apa pun selain menatap jendela dan memikirkan hari yang baru saja ia lalui.
Hari pertama magang. Gedung besar. Karyawan yang terlihat sibuk sepanjang hari. Dan kesalahan dokumen yang hampir membuat satu pengiriman internasional bermasalah. Yinjia tidak menyangka dirinya bisa menemukan kesalahan itu.
Ia turun dari bus dengan tas yang terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Jalan kecil menuju rumahnya sudah mulai gelap. Lampu toko-toko kecil menyala, suara orang berbincang terdengar dari warung makan di ujung gang.
Lingkungan ini terasa jauh berbeda dari distrik bisnis tempat ia bekerja. Gedung kaca tinggi digantikan oleh rumah dua lantai yang berdiri rapat. Jalan sempit, sepeda terparkir di pinggir trotoar, dan bau masakan yang keluar dari dapur rumah-rumah.
Namun justru tempat seperti ini yang membuat Yinjia merasa tenang. Begitu pintu rumah dibuka, suara ibunya langsung terdengar dari dapur. “Yinjia? Kamu pulang?”
“Iya, Bu.”
Mei Lan keluar dari dapur sambil mengeringkan tangan dengan lap. Wajahnya langsung berubah hangat saat melihat putrinya. “Hari pertama bagaimana?”
Yinjia meletakkan tasnya di kursi. “Tidak dimarahi.”
Jawaban itu membuat ibunya tertawa kecil. “Itu sudah bagus.”
Ayahnya, Lin Wei, keluar dari ruang kecil yang biasa ia gunakan untuk membaca berita. “Perusahaan besar pasti menegangkan.”
“Lumayan.” Yinjia duduk di meja makan. Ia menceritakan sebagian kecil dari hari pertamanya. Tentang kantor yang besar, tentang magang lain, dan tentang manajer yang terlihat sangat serius.
Ia tidak menyebut tentang keluarga Gu. Tidak menyebut tentang Zhenrui. Dan tentu saja tidak menyebut bahwa perusahaan itu sebenarnya milik keluarga tunangannya.
Mei Lan menyajikan semangkuk sup hangat di depannya. “Makan dulu. Kamu pasti lapar.”
Yinjia baru sadar bahwa ia memang belum makan apa pun sejak siang. Ia mengambil sendok dan mulai makan perlahan. Di tengah percakapan itu, Lin Wei berkata dengan suara lebih pelan. “Kita harus ke rumah sakit besok.”
Gerakan sendok Yinjia berhenti. Ia tahu maksud ayahnya. Adiknya. Lin Yichen. Remaja tujuh belas tahun yang sudah dua bulan terbaring di rumah sakit setelah kecelakaan.
“Kondisinya sama?” tanya Yinjia.
Lin Wei mengangguk pelan. “Dokter bilang masih harus menunggu.”
Ruangan itu tiba-tiba terasa sedikit lebih sunyi. Mei Lan mencoba tersenyum. “Yang penting dia masih stabil.”
Yinjia menunduk melihat mangkuk supnya. Ia tidak mengatakan apa pun, tapi dalam pikirannya satu hal terus muncul. Biaya rumah sakit. Tagihan yang terus datang. Dan alasan mengapa ia tetap mempertahankan perjodohan dengan Gu Zhenrui meskipun hatinya sebenarnya sudah lelah.
Keesokan paginya, Yinjia bangun lebih awal dari biasanya. Ia membantu ibunya menyiapkan sarapan sebelum berangkat ke kampus. Jadwal kuliahnya tidak terlalu padat hari itu, tapi ia tetap ingin datang lebih awal.
Kampus Shanghai di pagi hari selalu ramai. Mahasiswa berjalan cepat menuju gedung kuliah. Beberapa duduk di tangga sambil mengobrol, sebagian lain sudah mengantre di kedai kopi kecil di dekat perpustakaan.
Begitu Yinjia memasuki kelas, beberapa teman langsung menoleh. Gosip tentang magangnya sudah menyebar sejak kemarin. Xu Yara adalah orang pertama yang menghampirinya. “Kamu benar-benar diterima magang di perusahaan itu?”
Nada suaranya terdengar seperti kagum, tapi ada sesuatu di matanya yang terasa sedikit berbeda. Yinjia mengangguk. “Baru hari pertama kemarin.”
Yara duduk di kursi sebelahnya. “Perusahaan keluarga Gu, kan?”
Yinjia mengangkat bahu. “Aku juga baru tahu setelah diterima.”
Beberapa mahasiswa lain ikut mendengarkan percakapan mereka. Salah satu dari mereka berkata dengan nada setengah bercanda. “Enak ya punya tunangan orang kaya.”
Kalimat itu membuat beberapa orang tertawa kecil. Yinjia tersenyum tipis, tapi tidak menjawab. Ia sudah terlalu sering mendengar komentar seperti itu. Beberapa menit kemudian seseorang masuk ke kelas dengan langkah santai.
Chen Luo.
Mahasiswa populer yang hampir semua orang kenal. Ia membawa dua gelas minuman dan langsung berjalan ke arah Yinjia. “Ini.”
Yinjia mengangkat alis. “Apa?”
“Teh susu.”
“Kamu beli dua?”
Chen Luo mengangkat bahu. “Kalau kamu tidak mau, aku minum dua-duanya.”
Yinjia akhirnya mengambil satu gelas. “Terima kasih.”
Dari kursi di sebelahnya, Xu Yara hanya tersenyum tipis sambil memperhatikan mereka. Namun matanya terlihat lebih tajam dari biasanya.
Sore hari, Yinjia kembali ke gedung perusahaan untuk hari kedua magangnya. Kali ini langkahnya tidak terlalu ragu seperti kemarin. Ia sudah tahu di mana harus naik lift.
Sudah tahu letak departemen logistik. Begitu masuk ruangan, Li Wen langsung menyapanya. “Kamu datang lebih awal.”
“Takut terlambat.”
Zhao Ming tertawa dari meja depannya. “Song Jian lebih menakutkan daripada dosen.”
Beberapa menit kemudian Song Jian benar-benar masuk ke ruangan. Ia membawa beberapa berkas besar. “Semua magang ke ruang rapat.”
Mereka segera mengikuti. Di ruang rapat, layar besar menampilkan peta pengiriman internasional.
Song Jian menunjuk beberapa titik di layar. “Kalian akan membantu mengecek dokumen pengiriman untuk bulan depan. Ini lebih banyak dari kemarin.”
Yinjia melihat dokumen yang dibagikan. Jumlahnya hampir dua kali lipat.
Song Jian berkata lagi, “Perusahaan sedang menangani kontrak besar dengan klien Eropa. Kesalahan kecil tidak boleh terjadi.”
Mereka kembali ke meja masing-masing. Saat bekerja, Yinjia mulai merasakan ritme kantor yang sebenarnya.
Telepon berdering. Email datang terus-menerus. Karyawan berjalan cepat membawa berkas. Ini bukan dunia kampus yang santai. Ini dunia kerja yang nyata.
Di lantai paling atas gedung itu. Guo Linghe sedang berdiri di depan jendela kantornya. Ia memegang laporan departemen logistik yang baru saja dikirim oleh sekretarisnya.
Di salah satu catatan kecil di laporan itu tertulis sebuah nama.
Lin Yinjia.
Linghe menatap nama itu beberapa detik. Lalu menutup laporan tersebut. Ia tidak tahu mengapa, tapi ia merasa ingin melihat sendiri seperti apa orang yang menemukan kesalahan dokumen kemarin. Dan kebetulan…
rapat direktur sore ini akan diadakan di lantai dua belas. Tempat departemen logistik berada.