Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Peran Yang Tak Terlihat
Sore itu terasa lebih sunyi dari biasanya, namun justru di dalam kesunyian itulah setiap pergerakan menjadi lebih terasa, lebih tajam, seolah seluruh kota tanpa sadar sedang menjadi papan permainan yang perlahan dipenuhi bidak-bidak yang bergerak sesuai dengan kehendak masing-masing, dan Lisa yang duduk di ruang kerjanya hanya memandangi layar laptop tanpa benar-benar fokus pada isinya, karena pikirannya sepenuhnya tertuju pada satu hal—reaksi Clara setelah pertemuan tadi.
Ia tahu.
Sangat tahu.
Clara bukan tipe yang akan diam.
Dan benar saja…
Tidak butuh waktu lama sebelum langkah berikutnya mulai terlihat.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Nomor tidak dikenal.
Namun isi pesannya…
Membuat sudut bibir Lisa terangkat sedikit.
> Kamu tidak akan selalu berada di atas.
Lisa membaca itu tanpa perubahan ekspresi.
Tidak marah.
Tidak terkejut.
Hanya… tertarik.
Ia tidak langsung membalas, justru meletakkan ponselnya kembali ke meja dan menyandarkan tubuhnya perlahan, matanya menatap ke arah jendela dengan sorot yang semakin dalam.
“Sudah mulai…” gumamnya pelan.
—
Di tempat lain…
Clara Wijaya duduk di dalam mobilnya dengan wajah yang tidak lagi menyembunyikan kekesalan, ponsel masih berada di tangannya setelah mengirim pesan anonim itu, meskipun ia tahu itu bukan langkah besar, tetapi cukup untuk satu tujuan—menguji reaksi Lisa.
“Aku ingin lihat sejauh apa kamu bisa tetap tenang…” katanya pelan.
Namun di dalam dirinya…
Ada sesuatu yang mulai tumbuh.
Kegelisahan.
Karena untuk pertama kalinya…
Ia merasa tidak sepenuhnya mengendalikan situasi.
—
Sementara itu…
Di sebuah rooftop bar eksklusif, suasana malam mulai dipenuhi cahaya lampu kota yang berkilauan, dan di salah satu sudut, Luna Priscilla duduk dengan elegan sambil menatap sosok pria yang baru saja datang dan langsung menarik perhatian tanpa perlu berusaha.
Devan.
Ia berjalan mendekat dengan langkah tenang, lalu duduk di hadapan Luna tanpa basa-basi.
“Kamu memilih tempat yang menarik,” kata Luna dengan senyum tipis.
Devan tidak menanggapi itu.
“Apa hasilnya?” tanyanya langsung.
Luna mengangkat alis.
“Kamu langsung ke inti,” katanya.
Devan menatapnya.
“Aku tidak punya waktu untuk permainan kecil,” jawabnya.
Luna tertawa kecil.
“Sayangnya aku justru suka permainan kecil,” katanya, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, “tapi untukmu… aku bisa membuat pengecualian.”
Beberapa detik hening.
Lalu Luna melanjutkan dengan nada yang lebih serius.
“Clara ingin aku mendekatimu,” katanya.
Devan tidak terlihat terkejut.
“Seperti yang aku duga,” jawabnya.
Luna memperhatikannya.
“Kamu tahu semuanya, ya?” tanyanya.
Devan menyandarkan tubuhnya.
“Cukup untuk tidak terkejut,” katanya.
Luna tersenyum tipis.
“Kalau begitu… kamu juga tahu aku tidak benar-benar berada di satu sisi,” ucapnya.
Devan menatapnya lebih dalam.
“Semua orang berada di satu sisi,” katanya pelan, “hanya saja mereka belum menyadarinya.”
Kalimat itu membuat Luna terdiam sejenak.
Namun kemudian…
Ia tersenyum.
“Kalau begitu… menurutmu aku di sisi mana?” tanyanya.
Devan tidak langsung menjawab.
Ia justru mengambil gelas di depannya.
Lalu berkata dengan tenang…
“Sisi yang ingin menang.”
Luna tertawa pelan.
“Jawaban yang aman,” katanya.
Devan menatapnya.
“Jawaban yang benar,” balasnya.
—
Kembali ke kantor…
Lisa akhirnya mengambil ponselnya kembali dan membuka pesan anonim tadi, jari-jarinya bergerak perlahan sebelum akhirnya mengetik balasan.
> Aku tidak perlu selalu di atas… cukup memastikan kamu tetap di bawah.
Pesan itu terkirim.
Dan tanpa perlu menunggu lama…
Balasan datang.
> Kita lihat saja.
Lisa tersenyum tipis.
Permainan mulai terasa lebih hidup.
Ia berdiri dari kursinya, berjalan menuju jendela, lalu menatap ke luar dengan mata yang tajam.
“Semakin kamu melawan…” gumamnya pelan.
Tangannya menyentuh kaca dingin.
“Semakin aku tahu di mana harus menyerang.”
—
Di tempat lain…
Arvin Pratama berdiri di ruangannya dengan wajah serius, sementara di depannya Kevin Hartono sedang menjelaskan sesuatu dari tablet yang ia bawa.
“Ada pergerakan transaksi yang mencurigakan,” kata Kevin.
Arvin mengerutkan kening.
“Lisa?” tanyanya.
Kevin menggeleng.
“Bukan langsung,” jawabnya, “tapi ada beberapa pihak yang mulai mendekat ke perusahaan… dan itu terlihat seperti strategi pengambilalihan secara perlahan.”
Arvin terdiam.
“Dan kamu pikir dia di balik ini?” tanyanya.
Kevin menatapnya.
“Kalau melihat timing-nya…” katanya pelan, “semuanya terlalu kebetulan untuk disebut kebetulan.”
Arvin mengepalkan tangannya.
“Dia tidak mungkin sejauh itu…” gumamnya.
Namun bahkan saat ia mengatakan itu…
Ia sendiri tidak yakin.
—
Kembali ke rooftop…
Luna menatap Devan dengan ekspresi yang kini jauh lebih serius.
“Kamu benar-benar berpihak padanya?” tanyanya.
Devan tidak langsung menjawab.
Ia justru menatap ke arah kota di bawah mereka.
“Aku berpihak pada hasil,” katanya akhirnya.
Luna menyilangkan tangannya.
“Dan kamu yakin dia akan menang?” tanyanya.
Devan tersenyum tipis.
“Bukan soal yakin,” katanya pelan.
Lalu ia menoleh ke arah Luna.
“Dia sudah memulai lebih dulu.”
Kalimat itu menggantung.
Namun jelas maknanya.
Dan untuk pertama kalinya…
Luna mulai menyadari satu hal.
Lisa bukan hanya bermain.
Lisa sudah berada beberapa langkah di depan.
—
Di dalam apartemennya malam itu…
Lisa berdiri sendirian di tengah ruangan yang luas, lampu redup menciptakan bayangan panjang di sekelilingnya, dan di dalam keheningan itu, ia perlahan menutup matanya, mengingat kembali satu hal yang menjadi alasan semua ini dimulai.
Pengkhianatan.
Rasa sakit.
Dan kematian.
Tangannya mengepal perlahan.
Matanya terbuka kembali.
Dan kali ini…
Tidak ada lagi keraguan.
“Sekarang…” katanya pelan.
Suaranya dingin.
“Aku akan mulai menghancurkan kalian… sedikit demi sedikit.”
Dan di luar sana…
Tanpa mereka sadari sepenuhnya…
Perang itu sudah dimulai.
Perang yang tidak terlihat.
Namun akan meninggalkan kehancuran yang nyata. 🔥