Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.
Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Setelah selesai makan, Jasmine sibuk merapikan bekas makanan mereka. Aksa duduk bersandar di sofa sambil terus memperhatikan gerak-gerik wanita di depannya. hujan masih belum juga mulai dari tadi.
Diam-diaman selama beberapa saat, Jasmine akhirnya memberanikan diri untuk memecah suasana. Ia melirik ke arah ranjang besar yang tertata rapi di sudut ruangan.
"Tuan... Anda silakan tidur di atas, saya bisa tidur di bawah," ucap Jasmine.
Aksa mengangkat alis sebelah, ekspresinya tampak tidak setuju. Ia melirik ke arah jendela yang bergetar karena angin kencang.
"Cuaca di luar dingin, Jasmine. Kamu yakin mau tidur di sana? Nanti kamu masuk angin gimana?" tanya Aksa.
"Tak apa, Tuan. Saya yakin tidak akan masuk angin," balas Jasmine bersikeras. Ia merasa jauh lebih aman tidur di lantai daripada harus berada di satu ranjang dengan pria itu.
Aksa menimang sebentar, matanya menyapu seisi ruangan yang terbatas itu.
"Di sana hanya ada single sofa yang sempit, dan ranjang ini juga luas," ujar Aksa tenang, jemarinya mengetuk pinggiran ranjang.
"Ranjangnya luas. Kita berbagi ranjang saja."
"Ehh... ngga usah! Maksud saya tidak perlu, Tuan!" jawabnya dengan gugup.
Aksa berdiri, melangkah mendekat ke arah ranjang dan menarik selimut tebalnya. Ia menoleh ke arah Jasmine dengan tatapan tegas yang tidak bisa dibantah.
"Sudahlah, Jasmine. Ini sudah mau jam dua belas malam. Jika kita tak tidur sekarang, kita bisa terlambat besok pagi. Ayo," titah Aksa.
"Tenang saja, saya tidak akan macam-macam."
Melihat Aksa yang sudah merebahkan tubuhnya di satu sisi dan menyisakan ruang yang sangat luas untuknya, Jasmine akhirnya melangkah dengan sangat perlahan menuju sisi ranjang yang lain.
Ia berbaring di pinggir sekali, nyaris jatuh ke lantai, dengan punggung membelakangi Aksa.
Jasmine berbaring dengan tubuh kaku, matanya masih terjaga lebar menatap dinding di depannya. Ia berusaha menahan napasnya sesunyi mungkin, telinganya sangat waspada menangkap setiap pergerakan di belakang punggungnya.
Setelah beberapa saat, Ia mulai mendengar suara napas teratur yang keluar dengan ritme yang tenang dan pelan.
Ia menoleh pelan dan mendapati Aksa telah lelap. Wajah dingin pria itu kini terlihat lebih tenang saat tidur.
Rasa lelah akhirnya menyerang. Jasmine memejamkan mata dan baru lah dia tidur dengan nyenyak di samping pria itu.
Ternyata, sedari tadi Aksa tidak tidur. Ia hanya memejamkan mata, menunggu sampai Jasmine benar-benar terlelap. Setelah memastikan napas Jasmine mulai teratur, Aksa perlahan mendekat ke arah wanita itu.
Tepat saat Aksa bergeser, Jasmine juga berbalik dalam tidurnya. Gerakan itu membuat mereka kini berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. Aksa tertegun sejenak menatap wajah mantan istri nya itu.
"Pintar sekali," ucap Aksa pelan.
Tangan Aksa terangkat, merapikan rambut Jasmine yang menutupi sebagian wajahnya dengan gerakan sangat lembut. Ia menatap lekat setiap inci wajah Jasmine di bawah temaram lampu kamar.
"Kenapa kamu sangat keras kepala sih?" bisiknya lirih.
Sorot matanya yang biasa tajam kini berubah menjadi sayu dan penuh kerinduan. Aksa menghela napas panjang, jemarinya masih betah mengusap pelipis Jasmine.
"Apa kamu belum juga bisa memaafkanku?"
Aksa terdiam cukup lama, memandangi wajah yang
Selalu ia awasi dari kejauhan. Sebuah senyum tipis yang tulus muncul di bibirnya.
"Kamu semakin cantik."
Ia menarik tubuh Jasmine perlahan ke dalam pelukannya, menghirup aroma sabun dan lavender yang menenangkan.
Aksa mulai mencium kening Jasmine dengan lembut, lalu turun ke hidung, dan berlanjut ke kedua pipinya. Terakhir, ia menempelkan bibirnya di bibir Jasmine dalam sebuah kecupan singkat namun penuh perasaan. Jasmine yang tertidur lelap sama sekali tidak menyadarinya.
Tak berhenti di situ, Aksa memindahkan wajahnya ke samping telinga Jasmine. Ia mengecup pelan leher Jasmine, membiarkan napas hangatnya menerpa kulit sensitif gadis itu.
Aksa berbisik sangat lirih tepat di telinganya, seolah memberikan janji pada malam yang sunyi.
"Secepatnya... kamu akan jadi milikku lagi seutuhnya."
Setelah itu, ia mengeratkan pelukannya, menyandarkan dagunya di atas kepala Jasmine dan ikut memejamkan mata dengan senyum puas yang menghiasi bibirnya.
Pagi harinya, sinar matahari mulai menyeruak masuk ke dalam kamar. Jasmine terbangun duluan dan langsung tersentak saat merasakan beban berat di pinggangnya. Ia menyadari Aksa tidur memeluknya.
Jasmine mencoba untuk melepaskan lengan kekar itu perlahan agar tidak membangunkan Aksa, tapi pelukan itu sangat erat. Semakin ia bergerak, Aksa justru semakin mengeratkan rengkuhannya dalam tidur.
Akhirnya Jasmine pasrah. Ia berhenti berontak dan mulai menatap ke arah Aksa. Dalam jarak sedekat ini, ia melihat wajah Aksa yang tenang tanpa kerutan emosi. Rambutnya yang berantakan membuatnya terlihat jauh lebih muda dan manusiawi.
Jasmine ragu sejenak, namun akhirnya ia mengangkat tangannya dan mengelus rahang Aksa yang kokoh dengan ujung jarinya. Sentuhan itu sangat halus, hampir seperti belaian angin.
"Seandainya dulu kamu menahanku saat itu. Mungkin sampai sekarang kita masih bersama," batin Jasmine.
Pikiran Jasmine mulai melayang, ia mulai membangun rentang masa lalu mereka. Luka lama itu kembali terbuka, namun kali ini terasa berbeda.
Ia membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang telah hilang. Mungkin jika mereka tak bercerai, mereka mungkin sudah punya anak, pikirnya pedih.
Saat Jasmine masih tenggelam dalam lamunannya dan jarinya masih menyentuh wajah pria itu, suara berat tiba-tiba memecah keheningan.
"Sudah puas memandangiku?"
Jasmine membelalak. Tiba-tiba saja Aksa sudah membuka matanya, menatap langsung ke dalam manik mata Jasmine. Ternyata, pria itu sudah bangun sejak tadi.
Aksa menatap Jasmine lekat-lekat, senyum tipis terukir di sudut bibirnya melihat kegugupan wanita itu.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, hm?" tanya Aksa dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Jasmine berusaha mendorong dada bidang Aksa, wajahnya memerah karena malu tertangkap basah.
"Tidak ada. Tolong lepaskan saya, Tuan."
"Tidak akan sebelum kamu menjawab pertanyaanku," bisik Aksa, justru semakin mengeratkan pelukannya hingga tak ada celah di antara mereka. "Apa kamu sedang membayangkan kembali dipeluk oleh mantan suamimu?"
Jasmine mendengus kesal, berusaha memalingkan wajah.
"Jangan pede! Awas, lepas!" serunya mulai tak tahan dengan sikap percaya diri pria itu.
Tok! Tok! Tok!
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar keras. Suara Bara terdengar dari balik pintu. "Aksa, bangun! Sebentar lagi kita akan pulang, cuaca sudah mulai membaik."
"Ya!" sahut Aksa lantang tanpa melepaskan pandangannya dari Jasmine.
Aksa menatap Jasmine kembali, lalu berbisik rendah di depan wajahnya. "Kali ini kamu lolos. Tapi..."
Tanpa peringatan, Aksa mengecup singkat bibir Jasmine, membuat gadis itu mematung seketika.
"Morning kiss, baby," ucap Aksa dengan nada nakal sebelum akhirnya ia melepaskan pelukannya dan bangkit dari ranjang dengan santai, meninggalkan Jasmine yang masih terpaku menahan detak jantung yang menggila.
tuh singanya muaraaah😄😄😄
Suka Ceritax Seruuuuu....