Kisah Jerry, Eza dan Nilo seorang wanita 21 tahun yang sangat suka sekali berdiam diri di Rumah dan memiliki ilusi yang sangat kuat.
Bahkan Nilo bisa menceritakan bagaimana rupa suaminya itu, bagaimana mereka menikah, bagaimana mereka melewati malam pertama dengan begitu detail. Namun itu semua hanyalah khayalan Nilo.
Nilo tersesat antara kehidupan nyata dan imajinasinya.
Akankah Nilo tersadar dan bagaimana Nilo menemukan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marimar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps. 25
Eza mengatakan pada Nilo bahwa semua istri suka di peluk dari belakang saat memasak sambil melingkarkan tangannya di perut Nilo, tapi Nilo terus saja berusaha melepaskan tangan Eza dengan kedua tangannya.
“Jangan terlalu menempel kenapa?” ketus Nilo setelah berhasil melepas tangan Eza dari perutnya.
Namun Eza kembali menempel kepada Nilo dengan melipat tangannya di depan leher Nilo dengan berkata ”Begini aja deh". Nilo memutar bola matanya jengah dengan apa yang terus Eza lakukan.
Terdengar suara Bel, Eza pun segera berjalan ke depan dia tau siapa yang sedang berada di depan gerbang rumahnya.
“Arrghh," Nilo merasa lega saat Eza pergi meninggalkannya, dia membawa piring yang sudah tersaji ikan salmon goreng setengah mateng di atasnya, Nilo berjalan menuju meja makan dengan memikirkan sesuatu di kepalanya, dia merasa ada yang kurang.
Tampak Eza telah kembali membawa sesuatu di tangannya, lalu duduk di meja makan di dekat Nilo. Eza membuka bakso yang ia pesan dengan package exclusive Nilo yakin pasti Eza memesan bakso itu bukan pada pedagang bakso kaki lima.
“ Ini !” Eza memberikan 1 kotak kecil dengan tangan kanannya menyodorkan ke depan Nilo.
“Apa Ini?” tanya Nilo, sembari membuka kotak yang sudah terasa hangat dari luar.
Eza diam saja tidak menjawab Nilo.
“Ahh nasi.” pekik Nilo yang baru tersadar pada sesuatu yang dia pikirkan tadi dan terasa seperti ada yang kurang itu adalah nasi.
“Terimakasih.” tutur Nilo karena suaminya itu telah memesankan nasi untuknya tanpa di minta oleh Nilo.
Eza dan Nilo pun makan malam bersama di meja makan, dengan menu berbeda. Sementara Jerry hanya makan bersama Bibi Nata dan kenangan manis dalam ingatannya.
“Biarkan saja.” kata Eza melihat Nilo berdiri sedang merapikan meja makan, memegang piring di tangan kanan dan gelas kosong di tangan kiri hendak Nilo bawa ke wastafel cuci piring.
Nilo mengabaikan ucapan Eza, dia terus melanjutkan apa yang dia lakukan, melihat Nilo tidak menghiraukannya Eza pun mengangkat gelasnya ke wastafel dan membuang bekas wadah makan baksonya.
Nilo berdiri di depan wastafel menjalankan air dan mengitari sekitar area dengan matanya mencari keberadaan sesuatu yang di gunakan untuk mencuci piring.
“Kau tidak tahu kan?” Seloroh Eza melihat istrinya hanya memandangi 1 piring dan 2 gelas kotor tanpa melakukan apapun dengan keran air yang sudah terbuka sejak tadi.
Mendengar ucapan Eza, Nilo mengerucutkan bibirnya karena apa yang suaminya itu katakan adalah benar.
“Kenapa tidak ada pelayan di rumah ini? kau ingin menyiksa ku?” ketus Nilo berbalik bersandar membelakangi wastafel melipat tangan di depan dadanya.
Seketika Eza menghampiri Nilo merapatkan tubuhnya dengan tubuh Nilo dan menggerayangi leher Nilo dengan bibirnya.
Nilo secepat kilat mendorong tubuh Eza agar menjauh darinya. Eza hanya tersenyum melihat penolakan Nilo.
“Jika memang begitu aku pasti menyuruh mu untuk melakukan semua pekerjaan seorang pembantu!” jawab Eza sebelum meninggalkan Nilo yang masih berdiri di depan wastafel.
Nilo mencerna ucapan suaminya itu yang terlihat sesuai apa yang terjadi mengingat rumah ini tetap bersih walau dalam beberapa hari Nilo tidak keluar dari kamarnya dan juga makanan selalu ada untuk dia makan walau dia tidak memasak.
Nilo meraih ponsel pintarnya mengetikan sesuatu di dalam aplikasi YouTube. Setelah beberapa saat Nilo kembali meletakkan telpon pintarnya ke dalam saku celana.
Nilo mengambil spon cuci piring yang sejak tadi berada di depannya namun dia tidak mengetahui fungsinya lalu memberikan sabun pada spon pencuci piring yang terletak tidak jauh di depannya.
Ternyata tidak sulit. Batin Nilo.
Praang....
baru saja Nilo membatin, gelas yang ia pegang sudah jatuh menimpa piring yang berada di bawahnya hingga piring itu pecah.
Eza yang tengah duduk menonton tv mendengar suara piring pecah seketika dia memegang keningnya “Kekacauan apa lagi yang dia buat?” gumam Eza lalu berjalan cepat menghampiri Nilo.
Ouuch...
Jari Nilo tergores beling saat hendak mengumpulkan pecahan piring yang berserah di wastafel.
Eza seketika menyambar jari telunjuk Nilo yang terlihat mengeluarkan sedikit darah dan mengulum di dalam mulutnya.
Sekejap Nilo menatap Eza yang sedang mengulum jari telunjuknya. “Apa yang kau lakukan?” Nilo menarik jarinya dari mulut Eza.
Grep ... Eza menggendong Nilo di depan dadanya berjalan meninggalkan dapur melewati televisi yang sedang menyala, di raihnya remote tv lalu mematikan tv itu dengan kaki kirinya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar mereka.
Nilo terus meronta Agar Eza segera menurunkannya, namun tubuh Eza yang besar tak goyah dengan gerakan kecil dari Nilo.
“Sebaiknya kau di kamar saja! ” ucap Eza sembari membaringkan tubuh Nilo di tempat tidur.
Nilo memandangi Eza dengan mengerucutkan bibirnya kesal dengan suaminya yang terus saja melakukan hal yang dia inginkan semaunya.
Eza keluar beberapa saat sebelum kembali ke dalam kamar.
“Apa lagi?” ketus Nilo melihat Eza mendekat padanya duduk di sebelahnya dan membuka selimut yang menutupi tubuh Nilo.
“Hei apa yang ingin kau lakukan? kamu masih ingat pasal nomor 1 kan!” kicau Nilo yang tidak bisa diam melihat Eza mendekatinya.
“Pikiran mu!” Eza menoyor dahi Nilo dengan tangan kanannya, saat tangan kiri Eza meraih tangan kanan Nilo yang berada di bawah selimut.
Eza memberi plester yang sudah ia beri obat pada jari Nilo yang tergores pecahan piring. Nilo terenyuh merasakan perhatian-perhatian kecil dari suaminya itu.
Nilo menggeleng-gelengkan kepalanya menolak perasaan yang baru saja ia rasakan terhadap suaminya itu saat Eza mencium jari Nilo yang baru saja selesai dia pasangkan plester.
“Tidurlah !” titah Eza, setelah merapikan selimut Nilo dan berdiri dari tempat duduknya, “Oh tidak, kau tidak boleh tidur sebelum aku tidur.” lanjut Eza yang berjalan ke sisi sebelah tempat tidur mereka.
Mematikan lampu yang berlebihan sehingga suasana kamar itu menjadi remang dengan cuaca dingin yang meliputi seluruh kota di karenakan hujan yang turun sejak tadi tak kunjung reda.
Nilo memperhatikan pakaian yang ia kenakan, ia tidak akan bisa tidur memakai baju seperti ini begitu pikir Nilo. Nilo menyelidik ke arah suaminya bertanya-tanya apakah Eza sudah tidur, saat di lihatnya Eza sudah memejamkan matanya Nilo bangun dari tempat tidur dan pergi mengganti pakaiannya yang menjadi pakaian longgar.
Nilo melihat buah melonnya yang tumbuh sangat baik bersama dirinya masih berada dalam tempat. Nilo menghela napas dan kembali ke tempat tidur.
Di sisi Lain, Jerry sedang berada di kamar Nilo berbaring di tempat tidur Nilo dengan memeluk guling.
Jerry terlihat sedang memantapkan hatinya, seakan ia telah mengambil sebuah keputusan, pandangan matanya seakan melihat sesuatu di depannya hingga akhirnya ia tertidur di kamar Nilo.
kangen banget aku Ama Nilo
penasaran aku gak ilang² lho Thor Ama novelmu ini
setiap up adaaaa aja misterinya😁
Jan lama² ya Thor up nya aku setia nunggu lho😚
kelakuan Evan... jadi suka akunya sama doi🤭
Jerry kemana Thor? kangen juga ama cerita si Deddy satu ini😁