(Update setiap weekend)
Sungguh pahit hidup Olivia yang selama 4 bulan belakangan ini harus menjadi wanita simpanan dari Adams, pria yang merupakan kekasih sahabatnya yang bernama Alena hanya demi menutupi kesalahan yang dilakukannya.
Hidup Olivia kian menderita saat dirinya dinyatakan hamil. Awalnya ia sempat mengira jika anak yang dikandungnya adalah anak dari Adams. Pria yang selalu memanfaatkan tubuhnya sebagai pelampiasan di saat Alena sibuk dengan rutinitas dan jadwal shootingnya yang padat. Namun, Adams mengungkap bahwa ternyata dirinya mandul hingga membuat Olivia merasa bingung dengan ayah dari bayi yang dikandungnya saat ini.
Bagaimana cara Olivia dapat menemukan pria yang telah menghamilinya? Dan, apakah Olivia bisa menemukan kebahagiaan dengan segala kesedihan dan kemalangan yang dialaminya?
Follow Instagram Author: ekapradita_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengejutkan
Selamat membaca!
Setibanya di apartemen Alena, Adams langsung memacu langkah kakinya menuju lantai 15 di mana unit apartemen milik sang kekasih berada. Ada kekhawatiran yang membuat amarahnya kian menggebu sejak tadi. Ia bahkan sampai mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi dan hanya butuh 15 menit untuk bisa tiba di apartemen Alena.
"Aku harus berhasil merayu Alena. Dia tidak boleh memutuskan hubungan denganku," batin Adams yang mulai memasuki lobi setelah memarkirkan mobilnya di pelataran lobi apartemen.
Setelah menaiki lift dan berada di lantai 10, kini Adams sudah tiba tepat di depan unit apartemen Alena. Ia pun langsung membunyikan bel dan menunggu dengan cemas hingga Alena membuka pintu untuknya masuk.
"Kenapa lama sekali? Bukannya tadi dia memintaku datang? Terus kenapa dia belum juga membukakan pintu?" Adams merasa bingung. Hatinya kian resah karena tanpa terasa sudah 5 menit pria itu berdiri menunggu Alena membuka pintu apartemennya. Bahkan suara sang kekasih sama sekali tak terdengar untuk sekadar menjawab panggilannya yang terus menyebut nama Alena.
Merasa ada hal yang aneh, Adams pun coba menghubungi Alena. Namun sayangnya, panggilan itu harus berakhir dengan voice mail. Membuat Adams semakin kesal sampai menendang pintu apartemen dengan sangat keras.
Di tengah amarah yang kian menguasai dirinya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan Arnold bersama seorang petugas apartemen yang tampak terburu-buru. Ya, Adams seketika menyingkir dari depan pintu karena dua orang yang baru datang itu langsung berada di posisinya semula.
"Ada apa ini Arnold? Kenapa kamu datang ke sini?" tanya Adams merasa aneh atas apa yang terjadi.
Arnold pun tak menjawab pertanyaan Adams. Ia masih terus meminta pada petugas apartemen untuk segera membuka pintu dengan akses card yang dimiliki oleh pihak apartemen. Saat pintu terbuka, Arnold dan petugas itu masuk dengan wajah yang benar-benar terlihat cemas.
"Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi dengan Alena?" tanya Adams merasa bingung akan semua yang terjadi saat ini.
Tak ingin hanya menduga-duga, pria itu ikut masuk ke unit apartemen Alena. Setidaknya Adams masih merasa lebih pantas masuk menemui Alena daripada Arnold.
"Ya Tuhan, Alena. Bangun, Alena." Suara Arnold terdengar hingga membuat Adams semakin memacu langkah kaki untuk masuk. Kedua mata pria itu pun seketika terbelalak saat melihat tubuh Alena dalam gendongan Arnold dan itu langsung membuat amarahnya meledak.
"Ada apa dengan, Alena! Sini biar aku saja yang menggendongnya!" Adams coba mengambil alih. Namun, ia mendapatkan penolakan keras dari Arnold.
"Tidak! Biar aku saja!" Arnold menolak dengan penuh penekanan. Ia pun mengabaikan permintaan Adams dengan terus melangkah keluar dari unit apartemen menuju lift.
Adams kini masih membuntuti Arnold yang tengah menggendong Alena. Ia begitu penasaran atas apa yang menimpa Alena hingga membuat wanita itu tak sadarkan diri seperti sekarang. "Katakan apa yang terjadi, Nold? Kenapa Alena bisa seperti ini dan kenapa kamu sampai mengetahuinya?" Adams begitu penasaran. Ia masih sulit mencerna situasi yang di hadapinya saat ini. Di satu sisi, Adams begitu cemas memikirkan Alena, tapi di sisi lain, ia merasa cemburu dengan Arnold.
Adams mengambil alih dengan paksa. Arnold pun mengalah karena baginya yang terpenting adalah segera membawa Alena ke rumah sakit.
"Ada apa, Nold? Apa yang terjadi dengan Alena?" Adams terus membuntuti langkah Arnold hingga sampai ke depan pintu lift. Langkahnya terhenti saat menunggu lift berhenti di lantai 10 tempat mereka berada.
"Kamu masih bertanya kenapa? Apa kamu lupa dengan perselingkuhan yang telah kamu lakukan? Alena bisa seperti ini karena dia depresi setelah tadi bertemu dengan Olivia. Ternyata kamu bukan hanya telah menidurinya, bahkan kamu sampai membuatnya ...." Baru saja Arnold hendak mengatakan semuanya, pintu lift terbuka dan ia pun menunda apa yang akan dikatakannya.
Arnold segera masuk dan membawa tubuh Alena ke dalam lift. Meninggalkan Adams yang masih mencerna perkataan Arnold yang dengan lantang mempersalahkannya akan kondisi Alena saat ini. "Apa jangan-jangan Alena mencoba untuk bunuh diri?" batin Adams menyimpulkan apa yang baru saja dikatakan oleh Arnold.
Saat pintu lift hendak menutup, Adams melangkah masuk dan pintu lift pun kembali terbuka. Hal itu memancing kemarahan Arnold yang saat ini benar-benar sangat cemas karena ia menemukan jika Alena telah meminum terlalu banyak obat penenang. "Kenapa kau malah memperlama lift ini? Apa kamu ingin Alena mati?" bentak Arnold dengan begitu keras hingga petugas apartemen yang juga berada di sana coba menenangkan pria itu.
"Sudah, Tuan. Sebaiknya masalah di antara kalian selesaikan setelah Nona ini dibawa ke rumah sakit."
Arnold berdecih kesal. Pandangannya masih menatap wajah Alena dengan sorot mata yang menampilkan rasa cemas dan itu dengan mudah dapat terbaca oleh Adams.
"Sepertinya Arnold menyukai Alena. Aku pikir selama ini dia menyukai Olivia. Sepertinya aku salah mengiranya," batin Adams yang tak ingin terpancing, walau ia mulai merasa cemburu karena Arnold tak ingin menyerahkan Alena padanya. Saat ini, bagi Adams yang terpenting adalah Alena bisa selamat karena bagaimanapun semua ini bermula dari kesalahannya dan jauh di lubuk hatinya, melihat Alena seperti ini benar-benar membuat dirinya menyesali semua yang telah dilakukannya.
Sementara itu, Arnold masih terus menyayangkan apa yang dilakukan oleh Alena di dalam hatinya. Tentu saja ia tidak ingin kehilangan wanita itu. Wanita yang sudah sejak 4 bulan ini diam-diam disukainya. Namun, Arnold selalu menutupinya dan seolah-olah bersikap jika dirinya menyukai Olivia hanya agar bisa dekat dengan Alena yang sudah memiliki Adams sebagai kekasih.
"Al, kamu harus kuat! Aku tidak akan membiarkanmu sampai mati karena pria jahat ini! Harusnya kamu tidak perlu melakukan ini. Kenapa, kenapa kamu harus seperti ini?" Arnold begitu menyayangkan keputusan yang diambil Alena untuk mengakhiri hidupnya. Namun, itu semakin mempertegas bahwa Alena ternyata begitu dalam mencintai Adams hingga wanita lebih memilih mengakhiri hidupnya setelah tidak kuat menahan kesedihan atas segala kenyataan yang didengarnya dari mulut Olivia sewaktu bertemu di Cafe bersama Kevin.
Bersambung ✍️
walaupun diajak ngomong cuma anggukan kepala saja .
selama empat bulan bersama kamu hanya kau jadikan simpananmu tak pernah menghargai olive