Karya ini murni dari imajinasi penulis. Tidak ada unsur plagiat.
🌺🌺🌺
Angga Pratama, seorang pengusaha muda yang sukses. Dia terkenal dengan kedinginannya. Mamanya memaksa Angga untuk segera menikah. Jika Angga tidak menikah juga. Maka, Santi akan menjodohkannya dengan anak dari sahabatnya.
Anastasya, seorang gadis yatim piatu berusia 21 tahun. Ia dibesarkan oleh asisten rumah tangganya. Yang di kenal dengan panggilan Bibi Ratih.
Suatu hari Angga dan Tasya dipertemukan. Namun, bukan pertemuan yang baik seperti pada umumnya.
Penasaran dengan kisah mereka? Jangan lupa favoritkan novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Casilla Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter-24
"Dia Mona, kekasihku!" jawab Angga.
"Baiklah Pak, tahun berapa sekarang ini?" tanyanya.
"Sekarang tahun... 201X Dok!"
Dokter itu menghela nafas, "Sepertinya benar, dugaan saya. Pak Angga mengalami hilang ingatan sebagian. Pak Angga hanya bisa mengingat masa lalunya sampai di tahun 201X saja." Tuturnya.
"Jadi setelah tahun itu, suami saya tidak mengingat apapun?"
Ia mengangguk, "Benar..."
"A-apakah ingatan suami saya bisa pulih?" tanyanya lagi.
"Menurut hasil pemeriksaan, sepertinya begitu Bu. Semoga saja, Pak Angga dapat mengingat semuanya dalam waktu cepat. Namun, Pak Angga juga tidak boleh memaksakan diri untuk mengingat. Karena itu bisa mempengaruhi kondisinya." Tutur dokter itu.
"Kalau begitu, saya permisi!" tambahnya.
Angga menatap Tasya heran, "Apa benar dia istriku Mona?"
Mona memutar bola matanya malas, "Dia memang istrimu. Tapi kamu harus tahu Ga... kalau dia itu cuma wanita yang dijodohkan oleh Mamamu! Kamu pun tidak mencintainya!"
"Benarkah?" tanyanya memastikan.
"Itu tidak benar!" sergap Tasya.
"Kamu mencintaiku Ga. Kamu mencintaiku!" tambahnya.
"Sayang, kamu tahu tidak? Mama kamu menjodohkan kalian, karena dia menghasut Mama!" ujar Mona.
"Bohong! Dia bohong Ga!" bantah Tasya.
"Tuan, yang dikatakan Nona Tasya itu benar. Nona Mona telah berbohong. Semua yang dikatakan Nona Mona tidak benar!" bela Bije.
"Sayang, apa kamu tidak mempercayaiku?" tanyanya dengan wajah sedihnya.
"Apa kamu lebih mempercayai mereka berdua?" tambahnya.
"Aku... aku percaya padamu Mona. Kamu adalah cintaku, kamu tidak mungkin membohongiku."
Tasya segera meninggalkan ruangan itu, disusul oleh Bije.
"Nona, tunggu!"
"Bije, jangan ikuti aku! Aku ingin sendirian!" usirnya sambil menyembunyikan air mata di balik rambutnya.
"Nona, aku akan membantu Tuan Angga untuk mengingat semuanya. Nona tenang saja! Mona tidak akan memanfaatkan keadaan Tuan Angga dalam waktu lama! Percayalah padaku Nona!"
"Aku gak sanggup... aku gak sanggup Bije..." lirihnya, dengan tubuh yang mulai lunglai.
"Baru saja aku merasakan dicintai oleh Angga. Tapi dalam waktu singkat, Angga melupakan semua kenangannya denganku!" Tasya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Nona, aku mengerti perasaan Nona," Bije menghela nafasnya.
Sesungguhnya Bije juga bingung dengan apa yang terjadi sekarang ini. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk mengembalikan keadaan seperti sebelumnya.
"Mona, kamu keterlaluan! Sudah meninggalkan Angga sahabatku, sekarang malah ingin kembali!" Bije mengepalkan tangannya.
***
"Apa? Jadi dia sudah sadar dari komanya?"
"I-iya..."
"Angga! Kenapa kau tidak mati saja sih!" pria itu mengepalkan tangannya.
PLAK!
Pria itu melampiaskan emosinya pada kekasihnya.
"Ke-kenapa kamu menamparku?" wanita itu menundukkan kepala, sambil memegangi pipinya.
"Kau membawa berita buruk padaku! Kau tahu aku tidak suka itu kan?!" bentaknya.
Ia menelan ludahnya, "Ta-tapi, i-itu bukan salahku!" bela wanita itu.
PLAK!
Sekali lagi, dia menampar wanita itu. Wanita itu kini menangis.
"Kamu jahat! Aku cinta sama kamu! Tapi kamu selalu membuatku sakit!" wanita itu berlari meninggalkan kekasihnya.
"Wanita lemah!" umpat pria itu.
"Tapi, dia masih berguna untukku. Aku harus membujuknya!" gumamnya, ia segera berlari mengejar kekasihnya.
Di sisi lain...
"Nona, bagaimana keadaan Tuan Angga?" tanya Asih, menyambut kedatangan Tasya.
"Dia sudah sadar Bi," jawabnya.
Asih menatap heran pada Tasya, "Kalau Tuan sudah sadar, kenapa Nona terlihat sedih?" tanyanya pada diri sendiri.
Tasya berjalan menuju kamar Santi, lalu mendekati Santi yang tengah menatap ke luar jendela.
"Mama..." lirih Tasya.
"Angga sudah sadar, keadaannya juga sudah membaik." Ujar Tasya, sambil mengusap air matanya.
Tasya membalikkan kursi roda Santi ke arahnya. Tasya menggenggam kedua tangan mertuanya itu, lalu menciumnya.
"Ma," Tasya menelan salivanya.
"Tasya minta maaf..."
"Eemmm..." Santi berusaha untuk berbicara. Namun, rasanya sangat sulit.
"Kamu kenapa Nak? Kenapa menangis?" batin Santi.
"Ma... Angga tidak mengingat Tasya..." lirihnya sedih.
"Apa? Kenapa itu bisa terjadi?" Santi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mama tahu? Tadi Tasya bertemu Mona. Mona itu, anak tiri Paman Tasya." Tasya menarik nafas dalam-dalam.
"Ternyata Mona itu cinta pertama Angga. Angga mengingatnya Ma... Angga ingat kalau dia akan menikahi Mona. Tapi, dia tidak mengingat Tasya sama sekali," suaranya kini semakin terdengar lirih bersama isakan tangis yang ia tahan.
"Apa? Wanita pengkhianat itu datang menggoda anakku lagi?! Ini tidak boleh terjadi! Tidak boleh!"
"Ma, Maafkan Tasya. Tasya pasti membuat Mama sedih ya?" Tasya mengusap pipinya yang basah.
"Apa Mama sudah minum obat?" tambahnya. Santi mengangguk.
"Syukurlah. Nanti sore, Tasya mau ke rumah sakit lagi!"
"Mama jangan telat makan dan minum obat ya?!" ucap Tasya mengingatkan.
***
Beberapa hari telah berlalu, kini Angga tengah siap-siap untuk pulang ke rumah.
"Sayang, ayo pulang. Mama kamu pasti ingin ketemu kamu!" ujar Mona.
"Iya sayang," jawabnya.
"Angga!" panggil Tasya, Angga dan Mona menoleh.
"Aku istrimu, kamu pulang sama aku ya?!" sambungnya.
Angga tersenyum sinis, "Aku gak mau pulang sama orang yang sudah tega memanfaatkan kebaikan Mamaku!"
"Maksud kamu apa?" tanya Tasya terkejut.
"Sudahlah, aku sudah tahu semuanya. Kamu mendekati Mama kan? Dan berpura-pura baik di depannya? Terus Mama jadi suka sama kamu dan menikahkan kita. Terus, kebusukan kamu terungkap! Kamu lihat aku dekat sama Mona, terus kamu panas kan? Lalu kamu maksa Mama untuk memisahkan kami. Tapi, Mama gak mau. Karena kamu diam-diam selingkuh! Mama ingin memberitahuku tentang perselingkuhanmu, tapi kamu mengancam Mama dan sampai membuat Mama stroke seperti sekarang ini! Dasar wanita licik!"
"Semua yang kamu bilang itu nggak benar Ga! Kamu harus percaya sama aku!" Tasya mendekati Mona.
"Mona, kamu jangan memfitnah aku! Kamu tidak tahu apa-apa tentang suami dan mertuaku!" ucap Tasya dengan nada emosi.
"Sayang, lihat dia. Dia marah padaku, padahal kan dia yang salah," rengeknya.
"Mona, ayo kita pergi!" Angga menggandeng tangan Mona dan membawanya pergi.
"Angga! Angga!"
"Sudahlah Nona. Biarkan saja wanita ular itu menang sekarang. Aku yakin, suatu saat Angga bisa menyadari mana yang benar dan mana yang salah. Dan sebagai sahabatnya, aku akan berusaha menjauhkan wanita ular itu darinya."
"Bije, aku gak bisa tenang! Suamiku lebih mempercayainya. Bije, sepertinya Angga tidak akan pernah bisa menyadari itu!" Tasya meninggalkan Bije.
"Nona Tasya! Tunggu!" Bije berlari mengejar Tasya sambil membawa tas berisi pakaian milik Angga selama di rumah sakit.
Keesokan harinya...
Angga turun dari kamarnya untuk sarapan. Sebelum itu, ia melewati Tasya tanpa menyapanya sama sekali.
"Bahkan untuk sekadar melihatku saja dia enggan..." Tasya tertunduk sedih, lalu berjalan menuju meja makan.
Angga menatap Tasya tidak suka. "Mengapa wanita itu ikut duduk di sebelahku? Aku jadi tidak berselera untuk makan!"
"Ma, Angga sarapan di kantor saja!" Angga bangkit dari tempat duduknya.
"Eemmm!!" Santi berusaha mencegah Angga.
.
Happy reading 🥰
.... payyyaahhhhh dahhh😤😤😤😤😤😤