Zea pernah diam-diam mencintai Bara, sang kakak kelas di SMA . Namun sebuah kejadian memaksanya pergi, meninggalkan perasaan itu tanpa sempat terungkap.
Sepuluh tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali dalam posisi yang berbeda yaitu Bara sebagai atasan dan Zea sebagai bawahan.
Perasaan lama yang Zea kira telah hilang, ternyata masih tersimpan rapi. Tanpa ia sadari, Bara pun menyimpan hal yang sama selama ini.
Namun waktu telah mengubah banyak hal. Rahasia masa lalu, jarak yang dulu tercipta, dan keadaan sekarang menjadi penghalang yang tak mudah dilewati.
Kini, keduanya harus memilih bertahan dalam diam, atau akhirnya memperjuangkan cinta yang sempat tertinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar duka yang menyedihkan
Hari ini, Zea datang ke kantor dengan hati yang masih berbunga-bunga. Senyum tipis dan rona bahagia masih terukir jelas di wajahnya, sisa kenangan manis dan kejadian romantis semalam bersama Bara.
Ia bahkan sudah bangun lebih pagi, menyiapkan kopi panas kesukaan Bara dan meletakkannya rapi di atas meja kerja sang Bos, berharap pria itu segera datang, lalu kembali menggodanya dengan tatapan dan kata-kata manis seperti biasa.
Namun... harapan itu perlahan berubah menjadi kegelisahan. Jam menunjukkan pukul 9 pagi, lalu bergerak ke pukul 10 pagi, hingga jarum jam hampir menyentuh angka 11 siang... Bara belum juga muncul di ruangannya.
Suasana kantor yang biasanya tenang dan tertib, kini perlahan berubah menjadi heboh dan penuh kecemasan.
Para manajer dan staf tampak berkerumun, berbisik-bisik dengan wajah pucat dan sorot mata yang penuh kekhawatiran, seolah ada kabar buruk yang sedang beredar.
Zea yang duduk diam di mejanya, mulai merasakan gelisah luar biasa yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ia sudah mencoba menelpon nomor ponsel Bara berkali-kali, tapi tak pernah diangkat.
Ia juga sudah mengirim pesan singkat berkali-kali, namun hanya muncul tanda centang satu, tanda pesan belum diterima atau dibaca sama sekali.
"Ada apa sih? Biasanya paling telat jam 8 pagi juga udah ada di sini, bahkan sering datang lebih awal. Kenapa hari ini hilang tanpa kabar sama sekali?" gumam Zea pelan, suaranya bergetar penuh rasa cemas yang makin memuncak.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka agak kasar. Salah satu staf masuk dengan wajah yang tampak sangat sedih dan lesu, lalu berjalan tergesa menghampiri meja Zea.
"Zea... Kamu dapat kabar belum soal Tuan Bara?" ujar staf itu pelan, nadanya bergetar dan berat, seolah susah payah mengucapkan kata-katanya.
Zea langsung berdiri cepat dari kursinya, jantungnya berdegup kencang dengan firasat buruk yang tiba-tiba menyergap dada.
"Belum, Mas! Aku nelpon, nggak diangkat. Aku kirim pesan, nggak dibalas sama sekali! Memangnya ada apa?! Tuan Bara kenapa?! Ada musibah apa?!" seru Zea, suaranya meninggi karena panik dan takut.
Staf itu menghela napas panjang dan berat, lalu menunduk sejenak sebelum menyampaikan berita itu dengan hati-hati.
"Tadi pagi kami dapat kabar dari keluarga besar Wijaya... Ayahanda Tuan Bara meninggal dunia dini hari tadi, akibat sakit yang sudah lama diderita. Tuan Bara sampai sekarang masih berada di rumah duka, mengurus segala hal dan belum bisa masuk kerja. Semua kegiatan kantor, rapat, dan jadwal penting ditunda dulu sampai ada pemberitahuan lebih lanjut." ujar staf itu, lalu menepuk pelan bahu Zea sebagai tanda turut berduka.
BRAAK!
Seolah ada petir besar yang menyambar tepat di kepala Zea. Kakinya terasa lemas tak bertulang seketika, hingga ia harus berpegangan erat pada pinggiran meja agar tubuhnya tidak ambruk jatuh ke lantai.
Wajahnya berubah menjadi pucat pasi, matanya langsung berkaca-kaca menahan air mata yang siap meluap.
"HAH?! P-Papa Tuan Bara?! Padahal... padahal kemarin sore dia masih tertawa, masih bercanda, masih sangat perhatian sama aku... Kok bisa secepat ini berubah jadi begini?!" seru Zea tak percaya, suaranya pecah dan bergetar hebat.
Rasa sedih, khawatir, dan rasa kehilangan orang yang disayang langsung menyergap dan memenuhi seluruh hati Zea. Ia langsung terbayang wajah Bara yang biasanya selalu tegar, dingin, kuat, dan penuh wibawa.
Ia membayangkan betapa hancur, betapa sedih, dan betapa rapuhnya perasaan pria itu saat ini, saat harus kehilangan sosok ayahnya.
Tanpa sadar, tangan Zea bergerak meraih tas kerjanya. Ia ingin langsung berlari keluar, naik kendaraan, dan menemui Bara secepat mungkin. Namun langkah kakinya terhenti kaku tepat di ambang pintu ruangan, ia menahan diri.
Zea mematung diam di tempat. Ia menunduk dalam menatap lantai, napasnya tertahan di tenggorokan, bertarung hebat dengan perasaannya sendiri.
"Jangan Zea... Jangan bertindak gegabah. Sadar posisi kamu sekarang. Kamu itu siapa?! Kamu cuma Asisten Pribadi dia. Belum ada status apa-apa yang resmi, belum ada ikatan yang jelas. Itu tempat duka cita, itu urusan keluarga besar, hal yang sangat pribadi dan sakral buat mereka..." gumam Zea dalam hati, berjuang mati-matian menahan egonya dan rasa ingin bertemu itu.
Setetes air mata mulai menetes jatuh ke pipinya, tapi Zea buru-buru mengusapnya dengan kasar dan cepat.
"Kata-kata itu benar... Kalau aku tiba-tiba datang ke sana, terus menangis-nangis atau malah memeluk dia di depan banyak orang, nanti malah jadi masalah besar. Keluarganya pasti bakal salah paham, ngomong macem-macem. Dan Bara... dia pasti butuh waktu sendiri, butuh ketenangan, dan butuh ditemani orang-orang terdekatnya saja. Aku belum punya hak buat masuk ke sana." lanjut Zea berbicara dalam hati, berusaha menenangkan diri dengan alasan logis meski hatinya sakit luar biasa.
Zea menarik napas panjang dan berat, mencoba menguatkan sisa kekuatan yang ada. Ia berbalik badan perlahan, kembali masuk ke ruangan, dan duduk tegap di kursinya dengan wajah yang sedih namun berusaha tegar dan mantap.
Tak lama kemudian, Nina masuk dan menghampiri Zea yang masih duduk diam di ruangan CEO itu. Nina tampak bingung melihat perubahan drastis raut wajah sahabatnya itu.
"Zea... Lo nggak mau ke rumah duka Tuan Bara? Kan lo asisten pribadinya, siapa tau dia butuh bantuan, butuh urus ini itu, atau butuh sesuatu kan?" tanya Nina lembut, berusaha memberi saran.
Zea menggeleng pelan, matanya menatap layar komputer yang kosong tanpa berkedip, pandangannya tampak hampa dan jauh.
"Enggak, Nin. Sekarang bukan waktunya urusan pekerjaan. Dan... gue rasa, gue belum punya hak buat datang dan ganggu waktu duka cita keluarga dia. Gue cuma bisa berdiri di sini, dan mendoakan yang terbaik buat dia dan keluarganya aja." jawab Zea pelan namun dengan nada yang sangat mantap dan yakin.
Ia memeluk tubuhnya sendiri erat-erat, merasakan dinginnya kesepian, serta rindu dan kekhawatiran yang luar biasa besar namun harus ia pendam dalam-dalam sendirian.
"Tuan Bara... Kuat ya... Aku tau kamu orang paling hebat dan paling tegar yang pernah aku kenal. Maafin aku ya, kalau sekarang belum bisa ada di samping kamu buat nemenin. Tapi percaya deh, doaku, harapanku, dan hatiku selalu ada sama kamu, di mana pun kamu berada..." gumam Zea pelan, air matanya kembali menetes diam-diam.