Menikah dengan Aris (28 tahun), seorang bos pertambangan yang wajahnya setampan aktor film tapi sedingin es di kutub utara, seharusnya membuat hidup Maya (24 tahun) tenang. Namun, pindah ke rumah mewah di pinggiran kota justru menjadi awal dari kegilaan hidupnya.
Aris itu aneh. Dia posesifnya bukan main, tapi bukan ke sesama manusia. Dia melarang Maya keluar rumah lewat magrib bukan karena cemburu, tapi karena takut Maya "disapa" oleh penghuni pohon kamboja depan rumah. Dia memasang CCTV di setiap sudut, bukan untuk maling, tapi untuk memantau pergerakan bayangan putih yang hobi duduk di ruang tamu mereka.
Maya yang aslinya penakut tapi hobi ngelawak dan hobi menebar gombalan "maut" ke suaminya yang kaku itu, mulai merasa ada yang tidak beres. Apalagi para tetangga—Geng Gibah Bu RT—mulai nyinyir. Mereka bilang Maya itu tumbal pesugihan Aris karena Aris kaya raya tapi istrinya seperti dikurung di istana berhantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
buk Rt and geng
Meskipun teror hantu dan serangan ibu tiri sudah membuat rumah itu seperti benteng perang, kehidupan di luar pagar kompleks tetap berjalan dengan satu hobi yang tak pernah mati **Ghibah.**
Pagi itu, Bu RT sedang berkumpul dengan "Geng Julid" di tukang sayur. Topik utamanya, tentu saja, rumah Mas Aris.
"Eh, Jeng, kalian lihat nggak? Kemarin mobil mewah ibunya Aris itu kabur dari sana kayak dikejar setan!" bisik Bu RT sambil memilah kangkung.
"Iya, Bu RT! Katanya si Aris itu makin sakti. Masa ada yang lihat tembok rumahnya retak tapi besoknya mulus lagi? Pasti dia piara jin buat nukang!" sahut Bu Lastri, tetangga sebelah yang hobi menguping.
"Hush! Jangan keras-keras, nanti kalau kedengaran suaminya, kita bisa ketiban pot bunga lagi kayak si Mbah Dukun itu!" timpal yang lain sambil bergidik.
Di dalam rumah, suasana justru jauh dari kata mencekam. Setelah trauma hebatnya mereda berkat perhatian Aris yang *over-the-top*, sifat asli Maya yang sedikit konyol dan "ajaib" mulai muncul kembali—efek hormon hamil tua yang tak terduga.
Aris sedang serius melakukan *meeting* lewat Zoom dengan investor tambangnya saat Maya tiba-tiba masuk ke ruang kerja dengan wajah cemberut.
"Mas... aku mau sesuatu," bisik Maya, suaranya terdengar sangat mendesak.
Aris langsung mematikan mikrofon dan kamera laptopnya, mengabaikan para investor yang bingung. "Apa, Sayang? Perutmu sakit? Mau ke dokter?"
Maya menggeleng. "Aku mau... aku mau lihat Mas Aris pakai celemek masak yang warna pink itu, terus Mas harus joget tipis-tipis sambil bawain aku mangga muda yang dicocol sambal terasi."
Aris mematung. Wajahnya yang garang dan penuh wibawa itu mendadak kaku. "Maya... Mas lagi rapat penting."
"Oh, jadi rapat lebih penting daripada permintaan anak kita yang lagi haus hiburan?" Maya mulai mengeluarkan senjata pamungkasnya: bibir dikerucutkan dan mata berkaca-kaca.
Aris menghela napas pasrah. Kekuasaannya sebagai penguasa bisnis runtuh seketika di tangan istrinya.
Sepuluh menit kemudian, di dapur, Aris benar-benar memakai celemek pink bergambar kucing milik Maya. Ia berdiri di depan Maya yang sedang duduk manis di meja makan. Dengan wajah sedatar papan gilesan, Aris melakukan gerakan bahu sedikit—sangat sedikit—sesuai permintaan "joget tipis-tipis" Maya, sambil menyodorkan piring mangga.
"Sudah?" tanya Aris dingin, tapi telinganya memerah.
Maya tertawa terpingkal-pingkal. "Kurang lentur, Mas! Tapi ya sudahlah, kasihan investormu nungguin bosnya lagi jadi koki dadakan."
Tiba-tiba, suara *hihihi* terdengar dari atas lemari. Danu, si penjaga kecil, ternyata ikut menonton dan tampak sedang mencoba meniru gerakan bahu Aris.
"Kamu juga, Danu! Jangan ikut-ikutan!" tegur Aris, membuat Danu langsung menghilang karena malu.
Sore harinya, saat Aris sedang mengantar Maya jalan-jalan sore di teras depan (tentu saja dengan penjagaan ketat), Bu RT lewat dengan gaya pura-pura menyapu jalan.
"Eh, Mbak Maya! Makin besar aja perutnya. Duh, hati-hati lho, biasanya kalau perutnya maju banget gitu, anaknya bakalan mirip banget sama bapaknya yang... galak," sindir Bu RT sambil melirik Aris takut-takut.
Maya yang lagi dalam mode "ajaib" langsung menyahut dengan polos namun pedas. "Iya nih, Bu RT. Kata dokter, anak saya nanti bakal punya hobi baru: suka ngelempar pot ke orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Bakat turunan dari Papanya, katanya."
Wajah Bu RT langsung pucat pasi. Ia teringat tragedi dukun tempo hari. Tanpa pamit, ia langsung lari masuk ke rumahnya.
Aris yang mendengar itu hanya bisa menahan senyum sambil merangkul pinggang Maya secara posesif. "Sejak kapan dokter bilang begitu?"
"Barusan, di dalam kepalaku," jawab Maya sambil nyengir lebar.
Aris menggelengkan kepala, lalu mencium pelipis Maya. "Kamu ini... makin hari makin nakal. Tapi nggak apa-apa, asal kamu bahagia, Mas siap jadi koki celemek pink tiap hari kalau perlu."
Malam itu, meskipun di luar sana para tetangga masih berbisik dan para hantu masih mengintai, di dalam benteng itu hanya ada tawa Maya dan kepasrahan penuh cinta dari sang predator, Mas Aris.
kurang keras bantingnya, butuh parutan gk? ni aq ada
mayan buat marut kuyang🤣🤣🤣🤣