NovelToon NovelToon
HOT Duda Itu Majikan Hatiku

HOT Duda Itu Majikan Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Duda
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

WARNING ⚠️
(untuk umur 17 keatas)

...
Arkeas InjitAsmo hidup dalam keteraturan yang mewah. Baginya, hidup adalah tentang estetika dan wangi yang presisi. Namun, dunianya runtuh saat istrinya pergi dan ia harus mengurus Alisya sendirian di tengah kesibukan peluncuran parfum terbaru. Sepuluh pengasuh profesional sudah ia pecat dalam sebulan karena "bau badan mereka tidak estetik."

Masuklah Zollana, melamar pekerjaan. Karena sebuah insiden di mana Zollana tidak sengaja memecahkan Vas bunga kristal itu hingga hancur berkeping-keping, Arkeas justru menyadari satu hal: Alisya anaknya berhenti menangis saat berada di dekat Zollana.

Arkeas terpaksa mempekerjakan Zollana sebagai nanny sekaligus asisten rumah tangga dengan kontrak "Dilarang Ceroboh". Namun, nyatanya? Zollana justru membawa kekacauan yang berwarna di rumah minimalis Arkeas yang dingin.

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24 CEO Tumbang Jalur Flu >_<

...🌹🌹🌹...

...Ketika Gengsi Kalah Sama Ingus...

...🌹🌹🌹...

Senin pagi di penthouse biasanya adalah medan perang paling sibuk. Arkeas biasanya sudah rapi dengan jas custom-made yang wanginya sanggup bikin cewek-cewek di SCBD pingsan berjamaah. Tapi hari ini, suasana hening. Tidak ada suara langkah sepatu pantofel mahal yang beradu dengan lantai marmer.

Zolla, yang sudah siap dengan kemeja oversized dan celana kain—setelan "Asisten Profesional tapi Tetap Gen Z"—mengerutkan kening. Ia melihat pintu kamar utama Arkeas masih tertutup rapat.

"Mas? Mas Arkeas? Sudah jam delapan lewat nih. Investor Prancis kemarin nggak jadi datang kalau Mas masih molor!" teriak Zolla sambil mengetuk pintu.

Hening.

Zolla memberanikan diri membuka pintu sedikit. "Mas? Saya masuk ya? Jangan nuntut saya atas pelanggaran privasi ya, saya cuma menjalankan tugas negara."

Begitu pintu terbuka, hawa panas langsung menyambar wajah Zolla. Di atas tempat tidur king size, Arkeas tergeletak tak berdaya. Selimut tebal membungkus tubuhnya sampai ke dagu. Wajahnya yang biasanya pucat keren kini memerah padam, dan hidungnya... yah, hidungnya sudah seperti tomat matang.

"Uhuk... Zolla... ambilkan... air," suara Arkeas terdengar sangat serak, berat, dan sama sekali tidak ada sisa-sisa wibawa CEO-nya.

"Astaga! Mas Arkeas! Mas kenapa? Kena kutukan karena kelamaan menjomblo?" Zolla langsung berlari ke pinggir tempat tidur, menempelkan punggung tangannya ke dahi Arkeas. "Panas banget! Ini mah bukan demam biasa, ini mah Mas lagi 'rebus' otak sendiri!"

...🌹🌹🌹...

Arkeas membuka matanya sedikit. Matanya sayu, berair, dan tampak sangat menderita. "Jangan berisik... kepala saya mau pecah. Uhuk!"

Zolla langsung sigap. Ia melepaskan handuk kecil yang biasa ia pakai untuk Alisya, lalu merendamnya di air dingin. "Duh, Mas. Makanya, kalau kemarin hujan-hujanan di kolam renang jangan sok jagoan nggak pakai baju. Kena kan batunya!"

"Saya... saya nggak apa-apa. Cukup ambilkan obat... saya mau ke kantor," Arkeas mencoba duduk, tapi baru angkat kepala sepuluh senti, dia sudah limbung lagi ke bantal.

"Kantor, kantor! Mas itu lagi sakit, bukan lagi simulasi jadi mayat! Hari ini Mas off. Biar saya yang urus Alisya dan urus Mas," perintah Zolla telak.

Zolla kembali dengan semangkuk bubur ayam (hasil pesan ojek online karena dia nggak sempat masak) dan segelas air hangat. Ia duduk di pinggir tempat tidur, memaksa Arkeas untuk duduk bersandar.

"Ayo, makan dulu. Sedikit aja," ucap Zolla lembut.

Arkeas menatap bubur itu dengan tatapan jijik. "Saya nggak mau bubur itu. Rasanya kayak kertas basah."

"Dih, banyak mau banget! Mau saya suapin apa mau saya jejeli pakai corong?!" ancam Zolla.

Arkeas menghela napas pasrah. Ia membuka mulutnya sedikit. Begitu suapan pertama masuk, Arkeas menatap Zolla lekat-lekat. "Zol... tangan kamu... dingin. Enak."

Tiba-tiba, Arkeas meraih tangan kiri Zolla yang bebas, lalu menempelkannya ke pipinya yang panas. Ia memejamkan mata, menggesekkan pipinya ke telapak tangan Zolla seperti kucing besar yang minta dimanja.

"Mas... Mas beneran sakit apa lagi modus sih?" Zolla membeku, jantungnya mulai melakukan koreografi breakdance.

"Saya sakit... tapi saya suka kamu di sini," gumam Arkeas, suaranya sangat lirih. "Jangan pergi. Dinginin saya terus pakai tangan kamu."

...🌹🌹🌹...

Sepanjang siang, Arkeas benar-benar berubah jadi bayi raksasa. Alisya yang sedang dititipkan ke Suster part-time di ruang sebelah malah jauh lebih tenang daripada Papanya.

"Zolla... airnya habis."

"Zolla... ganti kompresnya."

"Zolla... jangan jauh-jauh, saya pusing kalau nggak lihat kamu."

Zolla sampai kewalahan. Ia baru saja mau duduk sebentar di kursi dekat jendela, tapi tangan Arkeas langsung meraih ujung bajunya.

"Zolla... sini. Duduk di sini," Arkeas menepuk sisi tempat tidurnya yang kosong.

"Mas, nanti saya ketularan flu! Terus siapa yang ngurus Alisya?" protes Zolla, tapi kakinya tetap melangkah mendekat.

"Hanya sebentar. Saya merasa kedinginan... padahal badan saya panas," Arkeas menarik Zolla agar duduk di sampingnya. Ia kemudian menyandarkan kepalanya di paha Zolla, meringkuk seperti anak kecil yang kehilangan arah.

Zolla terdiam. Ia mulai mengelus rambut Arkeas yang halus namun sedikit lembap karena keringat dingin. "Mas Arkeas... Mas kalau lagi sakit gini kok jadi clingy banget sih? Mana hilangnya si 'Kulkas Dua Pintu' yang sombong itu?"

Arkeas tidak menjawab. Ia justru mengeratkan pelukannya di pinggang Zolla, wajahnya tenggelam di perut Zolla. "Biarkan saya begini. Lima tahun saya sakit cuma ditemenin botol obat dan keheningan. Baru sekarang... saya ngerasa ada yang beneran peduli sama saya, bukan cuma sama uang saya."

Zolla merasakan tenggorokannya tercekat. Ia terus mengelus rambut Arkeas, sesekali mencium puncak kepalanya dengan sangat lembut. "Iya, Mas. Saya di sini. Saya nggak akan ke mana-mana sampai Mas sembuh."

...🌹🌹🌹...

Malam harinya, demam Arkeas mulai turun setelah dipaksa minum obat dan dikompres berkali-kali. Zolla tertidur di kursi samping tempat tidur karena kelelahan.

Arkeas terbangun pukul satu malam. Tubuhnya terasa lebih ringan, meski kepalanya masih agak berat. Ia menoleh ke samping dan melihat Zolla yang tidur dengan posisi duduk yang nggak nyaman.

Ia teringat smartwatch yang ia berikan pada Zolla. Arkeas mengambil ponselnya di nakas, membuka aplikasi pemantau jantung yang terhubung ke jam tangan Zolla.

Grafik jantung Zolla menunjukkan angka yang cukup tinggi untuk ukuran orang yang sedang tidur.

"Masih deg-degan bahkan pas tidur?" gumam Arkeas dengan senyum miring yang perlahan muncul kembali di wajahnya yang pucat. "Sepertinya dosis cintanya sudah mulai bekerja."

Arkeas turun dari tempat tidur dengan perlahan. Ia mengangkat tubuh Zolla—gendongan bridal style meski badannya masih agak lemas—dan membaringkan Zolla di tempat tidurnya. Ia sendiri memilih tidur di sofa kamar, tidak mau menularkan flunya lebih jauh, tapi tetap ingin berada di ruangan yang sama dengan "obatnya".

Sebelum memejamkan mata, Arkeas mengirim pesan singkat ke ponsel Zolla.

Arkeas: "Makasih buat hari ini, Dokter Pribadi. Besok pagi saya mau hadiah sembuh, Pelukan satu menit tanpa protes. Paham?"

...🌹🌹🌹...

(Bersambung ke Episode 25...)

1
falea sezi
alahh alah mas duda bucenn/Curse//Curse/
falea sezi
lanjooot
kikyoooo: wokey
total 1 replies
Indri
Terlalu berani karakter zolla
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!