NovelToon NovelToon
Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:826
Nilai: 5
Nama Author: SecretPenaa_

Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .

Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takdir Sang Pangeran

Nayan mencoba melangkah keluar dari goa, namun baru dua langkah, ia tersentak. Rasa perih yang asing dan tajam menjalar dari bagian bawah tubuhnya, membuatnya spontan menghentikan gerakan.

"Ahh..." Nayan meringis kecil, tangannya tanpa sadar bertumpu pada dinding goa yang kasar.

Cakra yang sedang merapikan jubahnya seketika menoleh dengan raut panik. "Ada apa? Kau terluka? Apa ada yang sakit ? "

Nayan memalingkan wajah, menggigit bibir bawahnya karena malu yang luar biasa. "Perih sekali..." gumamnya sangat pelan, nyaris seperti bisikan angin.

Cakra terdiam sejenak. Ia memandangi Nayan, lalu perlahan sebuah pemahaman melintas di matanya. Alih-alih merasa bersalah yang berlebihan, senyum tipis yang tulus muncul di wajahnya.

"Tentu saja perih, Nayan ." ucap Cakra lembut, suaranya kini terdengar sedikit menggoda namun tetap hangat. "Karena ini adalah hal pertama bagimu..."

Cakra menggantung ucapannya, ia melangkah mendekat dan berdiri tepat di samping Nayan, membisikkan lanjutannya dengan nada yang sangat rendah.

"Dan juga... bagiku." lanjut Cakra dengan senyum tersipu yang jarang sekali ia tunjukkan.

Mata Nayan seketika membulat sempurna. Ia menoleh ke arah Cakra dengan ekspresi tak percaya. Wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi merah merona , benar-benar seperti kepiting rebus. Jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, tapi karena kenyataan bahwa Cakra pun baru pertama kali melakukannya bersamanya.

"Cakra! Berhenti bicara!" seru Nayan ketus, meski suaranya bergetar karena malu. Ia berusaha berjalan mendahului Cakra dengan langkah yang sedikit dipaksakan meski masih terasa nyeri.

"Sudahlah, lupakan soal itu, Cakra! Sebaiknya kita cepat pulang. Riu dan Ana pasti sudah menunggu kita . Mereka pasti cemas . "

Cakra terkekeh pelan melihat tingkah Nayan yang salah tingkah. Ia segera menyusul dan dengan sigap menawarkan lengannya untuk menjadi tumpuan Nayan.

"Jangan dipaksakan jalan terlalu cepat. Pegang lenganku ! " ujar Cakra.

Nayan sempat ingin menolak karena harga dirinya, namun rasa perih itu memang nyata. Akhirnya, dengan wajah yang masih merah, ia menyandarkan tangannya pada lengan kokoh Cakra. Mereka pun berjalan menembus hutan yang masih basah, meninggalkan goa yang menjadi saksi bisu penyatuan rahasia mereka.

***

Riu yang sedang mondar-mandir di teras langsung menegakkan tubuhnya saat melihat dua bayangan muncul dari balik pepohonan.

"Itu mereka! Ana, mereka pulang!" seru Riu lega.

Langkah Riu yang terburu-buru memecah kesunyian di halaman gubuk. Wajahnya yang tegang seketika mengendur saat melihat sosok Cakra dan Nayan muncul dari balik rimbunnya pohon, meski mereka terlihat sedikit berantakan.

"Akhirnya kalian pulang juga!" seru Riu dengan suara lantang. "Kami benar-benar khawatir semalaman. Badai itu sangat mengerikan, aku hampir saja menyusul kalian kalau Ana tidak menahanku."

Cakra dan Nayan tidak langsung menjawab. Mereka sempat saling melirik sesaat , sebuah tatapan yang singkat namun penuh dengan rahasia yang hanya mereka berdua pahami. Kecanggungan itu begitu kental hingga Riu sempat mengernyitkan dahi.

"Nayan, kau masuklah ! " ujar Cakra, memecah keheningan dengan nada yang jauh lebih lembut dari biasanya. "Bersihkan dirimu dan beristirahatlah. Kau pasti sangat lelah setelah... semuanya."

Nayan hanya mengangguk patuh, ia hanya ingin segera bersembunyi di dalam kamar saat ini, seolah tak pernah ada yang terjadi diantara dirinya dan Cakra .

Ana yang sejak tadi menunggu, langsung meraih jemari Nayan. "Ayo, Kak! Aku sudah menyiapkan air hangat dan makanan untukmu. Paman Riu bilang Kakak pasti kedinginan."

"Terima kasih, Ana." bisik Nayan sembari membiarkan gadis kecil itu menuntunnya masuk ke dalam gubuk.

Begitu pintu tertutup, Cakra segera menoleh ke arah Riu. Ekspresi wajahnya berubah drastis menjadi sangat serius. Sebelum Riu sempat melontarkan pertanyaan yang ada dalam benaknya ,Cakra langsung menarik lengan Riu menjauh ke arah area yang lebih privat.

"Ada seseorang yang menyerangku Riu.." desis Cakra tajam.

Mata Riu membelalak sempurna. Ia langsung berdiri tegak, waspada. "Benarkah? Maksudku... apa sudah ada yang mengetahui penyamaranmu, Pangeran? Tapi siapa ? "

Cakra menggeleng pelan, ia mengeluarkan anak panah yang sempat ia ambil dari pohon kemarin .

"Aku pun masih belum tahu pasti. Dia tidak langsung muncul untuk membunuh, hanya melemparkan anak panah peringatan ini. Tapi lihat ukirannya, Riu. Aku yakin ini bukan berasal dari militer kerajaan."

Riu mengambil anak panah itu, menelitinya di bawah cahaya matahari pagi. "Kau benar. Ini terlalu halus untuk standar prajurit biasa. Tapi pangeran, jika bukan militer, maka kemungkinannya hanya dua , pembunuh bayaran atau... orang yang memiliki urusan pribadi denganmu."

Riu kemudian melirik ke arah gubuk, lalu kembali menatap Cakra dengan tatapan menyelidik.

"Tapi, bicara soal urusan pribadi... apa hanya itu yang terjadi semalam pangeran? Kalian berdua tampak... berbeda saat datang tadi."

Cakra terdiam, berusaha mengalihkan pandangannya. "Apa maksudmu?"

"Ayolah, Pangeran. Aku mengenalmu sejak kecil," Riu menyipitkan mata, senyum tipis mulai muncul di sudut bibirnya meski situasinya sedang berbahaya.

"Caramu menatap Nayan tadi... itu bukan tatapan seorang pelindung kepada orang asing yang ia selamatkan di hutan. Ada sesuatu yang berubah di antara kalian.."

Cakra berdeham, wajahnya yang tegas kini sedikit menegang. "Riu, ini bukan saat yang tepat untuk membahas hal seperti itu. Kita punya ancaman nyata di luar sana."

"Justru ini saat yang paling tepat." sahut Riu serius. "Jika seseorang mulai mengincar kalian, perasaanmu bisa menjadi kekuatan atau justru kelemahan terbesarmu pangeran . Jadi jawablah pertanyaan ku ini pangeran, Apa kau benar-benar sudah jatuh cinta pada gadis itu?"

Cakra menatap Riu dengan diam yang sangat lama, sebelum akhirnya ia mengembuskan napas panjang. "Aku sudah berjanji untuk bertanggung jawab padanya, Riu. Dan aku tidak akan menarik kata-kataku."

Riu tertegun. "Bertanggung jawab? Jadi... dugaanku benar?"

Cakra tidak menjawab secara verbal, namun sorot matanya yang mantap sudah cukup menjadi jawaban bagi Riu. Riu hanya bisa menghela napas, menyadari bahwa takdir pangerannya kini telah terikat jauh lebih rumit dari prediksi nya sebelumnya.

Dan mungkin akan lebih rumit lagi , karena Riu sama sekali tidak tahu jika Nayan adalah Sedra, sang pembunuh legendaris yang kepalanya dihargai sangat mahal. Bagi Riu, Nayan hanyalah gadis desa yang bisa merusak masa depan Cakra sebagai calon raja.

Riu masih berdiri di tempat yang sama, memutar-mutar anak panah khusus itu dengan jemari yang gemetar. Pikirannya melayang jauh ke istana Selatan, membayangkan wajah tegas Permaisuri Suhita.

"Pangeran, kau benar-benar gila ! " bisik Riu pada angin. "Kau mencintai gadis yatim piatu yang kita temukan di tengah hutan? Itu sama saja dengan menyerahkan lehermu sendiri ke algojo istana."

Riu tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Raja Indra tahu bahwa putra mahkota yang paling ia banggakan telah menyerahkan hatinya dan kehormatannya kepada seorang gadis tanpa asal-usul.

"Gadis itu... Nayan ." Riu bergumam, menyebut nama itu dengan nada penuh beban. "Dia memang cantik, dia memang berani. Tapi dia tidak punya identitas, tidak punya kasta. Di mata hukum kerajaan kita, dia hanyalah debu. Permaisuri tidak akan segan-segan melenyapkannya demi menjaga nama baikmu, Pangeran."

Riu menatap gubuk itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Di matanya, Nayan adalah ancaman bagi karier politik Cakra, namun di sisi lain, ia melihat Cakra jauh lebih hidup saat bersama gadis itu.

"Apa yang harus aku lakukan?" Riu bertanya pada dirinya sendiri. "Jika aku membiarkan ini berlanjut, mereka berdua akan hancur. Tapi jika aku mencoba memisahkan mereka, Pangeran Cakra pasti akan menebas kepalaku ."

Riu kembali melihat anak panah di tangannya.

"Dan siapa pun yang melepaskan anak panah ini... tidak menutup kemungkinan jika orang itu sebenarnya mencari Nayan dan bukannya pangeran ."

Seketika Riu berpikir keras saat mengingat beberapa kejanggalan yang tak masuk akal pada Nayan beberapa hari ini .

"Jika gadis ini memiliki musuh berbahaya dari masa lalunya, maka membawa Nayan ke sisi Pangeran hanya akan membawa maut bagi mereka berdua."

Riu menghembuskan napas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang kalut. Ia memutuskan satu hal , ia harus menyelidiki siapa Nayan sebenarnya .

Sementara itu di dalam kamar Nayan sedang membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia menatap pantulan wajahnya di permukaan air baskom.

"Kau bodoh, Sedra," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Kau membiarkan seorang pria menyentuhmu. Kau membiarkan dia masuk ke dalam hidupmu. Apa kau lupa siapa dirimu?"

Ia menyentuh belati yang masih ia sembunyikan di balik pakaiannya. "Jika dia tahu siapa aku sebenarnya... jika dia tahu bahwa tangan yang ia genggam semalam adalah tangan yang sudah mencabut ratusan nyawa... apa dia masih akan bicara soal perasaan? "

Nayan memejamkan mata rapat-rapat. "Aku harus segera pergi dari sini . Sebelum Cakra mengetahui segalanya . "

Tanpa sadar bulir bening pun lolos begitu saja di pipi Nayan .

Bersambung....

🐠🐠🐠

1
Rabbella Saputri
cakep 😍
Rabbella Saputri
ceritanya bagus thorr 😍 semangat trus 💪😍
SecretPenaa_: siappp 👍🏻 maksihhh ya udah mau baca 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!