NovelToon NovelToon
Rahasia Pangeran Pecundang

Rahasia Pangeran Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.



Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.


Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wangsit

Tumenggung Rengga dan Ludaka bergegas meninggalkan tempat pemberhentian rombongan Pangeran Mapanji Wijaya menuju ke asal asap yang membumbung tinggi di tengah-tengah perkampungan.

Begitu sampai disana, mereka berdua melihat pertarungan antara 2 orang tua yang kelihatannya berilmu tinggi. Keduanya melepaskan ilmu kesaktiannya hingga banyak merusak rumah rumah penduduk Wanua Joho.

Ya, dua orang tua ini adalah sesepuh Wanua Joho yakni Ki Buyut Awi dan Ki Sancang. Saat ini keduanya berselisih paham tentang siapa yang akan menjadi Rama ( kepala desa ) Wanua Joho selanjutnya setelah meninggalnya Ki Ajar Bawana yang hanya memiliki putri Rara Wuni.

Para penduduk tidak berani untuk melerai pertikaian kedua sesepuh ini karena tahu bahwa baik Ki Buyut Awi maupun Ki Sancang yang menjabat sebagai jagabaya memiliki kemampuan beladiri tinggi serta takut menjadi korban serangan nyasar hingga memilih untuk menonton saja dari kejauhan. Begitulah keterangan dari seorang penduduk yang Tumenggung Rengga dan Ludaka temui.

"Laporkan apa yang terjadi pada Gusti Pangeran, Ludaka. Aku akan mengawasi mereka sebelum Gusti Pangeran Mapanji Wijaya datang kemari. Cepatlah... ", perintah Tumenggung Rengga.

" Baik Gusti Tumenggung... ", jawab Ludaka sebelum berbalik arah ke tempat pemberhentian rombongan Pangeran Mapanji Wijaya.

Tak butuh waktu lama, Ludaka sampai di tempat pemberhentian rombongan Pangeran Mapanji Wijaya dan segera melaporkan apa yang mereka temui di Wanua Joho.

'Ini butuh kebijaksanaan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Gusti Pangeran, kau jangan mengecewakan aku', batin Nararya Candrawulan sembari menatap ke arah Pangeran Mapanji Wijaya yang sedang mengerutkan keningnya.

Heemmmmmmmmmmmm...

"Kalau begitu adanya, antar aku menemui mereka. Aku pasti akan memecahkan masalah ini dengan seadil-adilnya... ", ucap Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat Ludaka menghormat.

Perjalanan yang terhenti dilanjutkan kembali. Rombongan itu bergerak menuju ke arah Wanua Joho.

Kedatangan rombongan Pangeran Mapanji Wijaya sontak membuat pertarungan antara Ki Buyut Awi dan Ki Sancang berhenti. Melihat bendera yang ada pada kereta kuda itu, mereka tahu itu adalah kereta yang biasa ditumpangi oleh para bangsawan. Tumenggung Rengga sebelumnya sudah bicara dengan mereka tentang rombongan Pangeran Mapanji Wijaya yang melintas di perkampungan mereka.

Dengan perintah dari dua orang tua yang sedang bertikai itu, para penduduk Wanua Joho yang terbelah menjadi dua kelompok berkumpul bersama di depan rumah bekas Rama Ki Ajar Bawana untuk menyambut kedatangan rombongan Pangeran Mapanji Wijaya.

Begitu Pangeran Mapanji Wijaya turun dari kereta kuda, Ki Buyut Awi dan Ki Sancang segera berjongkok menyembah diikuti oleh para pendukungnya.

"Sembah bakti kami Gusti Pangeran.. ", ucap seluruh penduduk Wanua Joho bersama-sama.

Pangeran Mapanji Wijaya mengangkat tangan kanannya.

" Jangan banyak adat jika berhadapan dengan ku. Duduklah kalian semua, sembah bakti kalian aku terima... "

Mendengar ucapan Pangeran Mapanji Wijaya, semua warga Wanua Joho segera duduk bersila dengan tenang sementara Pangeran Mapanji Wijaya duduk pada undak-undakan pendopo Wanua Joho. Warak dan Ludaka berdiri di samping kiri kanan sang pangeran sementara Tumenggung Rengga, Juru Mandhasiya, Ratri, Nararya Candrawulan dan Subadra duduk di undak-undakan yang lebih rendah.

"Aku sudah mendengar laporan dari orang ku tentang apa yang terjadi disini.

Tetapi masih belum jelas apa yang menjadi penyebab pertikaian kalian hingga menghancurkan beberapa rumah penduduk. Aku minta kalian jujur, jangan ada yang disembunyikan", titah Pangeran Mapanji Wijaya sembari menatap ke arah Ki Buyut Awi dan Ki Sancang bergantian.

"Mohon ampun Gusti Pangeran..

Kami berselisih paham tentang siapa yang akan menjadi Rama Wanua Joho selanjutnya setelah mangkatnya Rama sebelumnya. Hamba pribadi berpendapat bahwa Rama haruslah seorang lelaki karena rama memegang jabatan tersebut sebagai pamong praja yang harus cekatan dan bisa bertanggung jawab terhadap para penduduk. Ini sudah sesuai dengan adat yang berlaku di negeri ini Gusti Pangeran ", ucap seorang lelaki tua berjanggut putih yang tak lain adalah Ki Buyut Awi, sesepuh Wanua Joho.

" Mohon ampun jika hamba lancang, Gusti Pangeran..

Menurut hamba, pikiran kuno Ki Buyut Awi harusnya sudah tidak bisa dijalankan hanya karena adat istiadat. Jaman sudah berubah, wanita juga bisa jadi pemimpin. Buktinya Gusti Ratu Sri Isyana Tunggawijaya, ibunda Gusti Pangeran yang juga Maharani Medang sekarang, adalah seorang perempuan. Kita harus bisa berpikiran maju jika tidak mau terjebak dalam aturan kuno yang bisa saja menghilangkan potensi seseorang ", sanggah Ki Sancang yang juga seorang jagabaya.

" Tapi perempuan tetaplah seorang perempuan, Ki Sancang. Saat ada masalah menimpa penduduk dan dia masih harus menyusui anaknya, apa bisa dia menjalankan tugasnya dengan baik heh?! ", nada suara Ki Buyut Awi mulai meninggi.

" Itu bukan alasan untuk seorang perempuan tidak boleh menjadi pemimpin, Ki Buyut..

Pikiran mu terlalu kolot karena merasa lelaki selalu lebih unggul atas perempuan. Harusnya kau lebih bijak karena kau adalah seorang sesepuh.. ", sergah Ki Sancang tak mau kalah.

" Kau..."

"CUKUP...!!!! "

Ucapan Pangeran Mapanji Wijaya langsung menghentikan perdebatan antara dua sesepuh Wanua Joho ini.

"Aku tahu pendapat Ki Buyut Awi baik tetapi Ki Sancang juga tidak salah. Karena itu aku putuskan... "

Pangeran Mapanji Wijaya menghela nafas dalam-dalam sebelum meneruskan omongan nya. Semua orang menunggu penuh harap apa yang dikatakan oleh putra kedua dari Ratu Sri Isyana Tunggawijaya itu.

"Ki Sancang tetap boleh melakukan apa yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran. Ki Buyut Awi pun juga sama. Karena itu aku memutuskan untuk membagi wilayah Wanua Joho menjadi dua bagian yaitu Wanua Joho yang sekarang dan hutan bambu yang ada di bantaran Bengawan Madiun.

Karena Ki Sancang ingin mempertahankan Rara Wuni sebagai pimpinan kampung ini karena mewarisi dari ayahnya, Joho akan menjadi wilayah Rara Wuni dan Ki Sancang. Sedangkan Ki Buyut Awi, aku tugaskan untuk membuka pemukiman baru di kawasan hutan bambu. Dan kelak dengan ramainya jaman wilayah Ki Buyut Awi akan dikenal sebagai Ngawi... "

Tepuk tangan terdengar dari seluruh penduduk Wanua Joho baik dari kubu Ki Buyut Awi maupun Ki Sancang. Mereka menerima segala keputusan yang diambil oleh Pangeran Mapanji Wijaya karena merasa keputusan ini paling adil dan bijaksana.

"Terimakasih atas kebijaksanaan Gusti Pangeran Mapanji Wijaya... ", ucap Ki Buyut Awi dan Ki Sancang bersama-sama.

Maka hari itu, rombongan Pangeran Mapanji Wijaya dijamu dengan meriah oleh para penduduk Wanua Joho. Mereka menghidangkan pelbagai jenis makanan khas daerah itu sebagai bentuk penghormatan kepada sang pangeran Medang.

Sementara itu, jauh di barat tepatnya di dekat tapal batas wilayah Lwaram dengan Kembang Jenar, berdiri sebuah padepokan yang isinya wanita semua. Padepokan ini adalah Padepokan Gunung Kemukus, sebuah perguruan silat yang memiliki nama besar di kalangan dunia persilatan Tanah Jawa.

Jumlah murid perguruan silat ini lumayan besar untuk ukuran sebuah perguruan silat. Tak kurang 200 orang perempuan menimba ilmu di tempat itu. Mereka hidup dan belajar silat di bawah asuhan seorang pendekar wanita cantik yang bernama Dewi Kembang Sore. Kecantikannya tak kalah dengan seorang gadis muda berusia belasan tahun. Ia mampu mempertahankan kemudaan nya melalui Ajian Peri Suci meskipun sudah berusia sekitar empat setengah windu.

Dewi Kembang Sore memiliki 2 anak gadis yang usianya masing-masing 2 windu dan satunya 2 dasawarsa. Mereka adalah Rara Kuning dan Rara Lembayung. Keduanya cantik bagaikan bidadari yang turun dari kayangan, tak kalah dengan ibunya.

Beberapa hari lalu, Dewi Kembang Sore menerima wangsit yang mengatakan bahwa jodoh untuk putri nya akan melewati perguruan silat nya. Ini membuat nya selalu termenung memikirkan nya. Seperti senja hari ini, pimpinan Padepokan Gunung Kemukus ini duduk di teras kediamannya sembari menatap ke arah jalan yang ada di depan padepokan. Lagi-lagi ia bergumam lirih,

"Siapa sebenarnya orang itu? "

1
🗣Aku 😆🇲🇨🦅
biasa aja dong kagetnya nanti @🐼𝒫𝒶𝓃𝒹𝒶𝓃𝒲𝒶𝓃𝑔𝒾 🏡s⃝ᴿ lagi bobok keberisikan 😅
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Idrus Salam
Ajian yang dahsyat tentu perlu penyelarasan dengan kesiapan tubuh pengguna dan naluri dalam penggunaannya perlu dilatih.
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!