Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Lin Yue
Setelah badai energi dan pembantaian iblis malam itu, Federasi LIN kembali ke pelukannya yang tenang.
Namun, bagi Yan Bingchen, ketenangan bukan berarti berhenti. Tetua Lin Mu tahu bahwa kekuatan tanpa pengetahuan adalah pedang tanpa gagang.
Maka, dimulailah babak baru dalam hidup sang pengembara: menguasai seni Alkimia dan botani purba.
"Kekuatan api dan esmu adalah anugerah langka untuk seorang Alkemis," ujar Tetua Lin Mu suatu pagi di bawah kanopi hijau. "Kau bisa membakar kotoran dengan apimu, dan membekukan khasiat herbal dengan esmu agar tidak menguap. Tapi, kau butuh guru yang detail. Lin Yue, kemarilah."
Dari balik rimbunnya pohon obat, muncul seorang wanita dengan jubah hijau zamrud yang elegan.
Rambutnya diikat tinggi, dan tatapannya setajam belati perak. Ia adalah murid nomor satu di Federasi LIN, jenius alkimia yang dikenal memiliki hati sedingin salju di puncak gunung.
Lin Yue menatap Yan Bingchen dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Wajahnya datar, hampir tidak menunjukkan emosi. "Tetua, apakah aku harus mengajari orang asing yang hanya tahu cara mengayunkan pedang? Alkimia butuh kesabaran, bukan sekadar otot."
"Ajari dia, Lin Yue. Kau mungkin akan terkejut," sahut Tetua Lin Mu sambil tertawa kecil sebelum menghilang di balik kabut.
Lin Yue mendengus pelan. "Ikut aku. Dan suruh temanmu yang berisik itu menjauh dari kebun herbal tingkat tinggi."
Mo Ran yang sedang asyik menyisir bulu Si Hitam langsung cemberut. "Hei, aku juga ingin belajar! Siapa tahu aku bisa membuat pil penumbuh rambut atau pil anti-lapar!" Namun, melihat tatapan maut Lin Yue, Mo Ran segera menarik Si Hitam menjauh. "Ayo Hitam, kita cari buah hutan saja. Nona itu lebih menyeramkan dari iblis kemarin."
Selama beberapa pekan, Yan Bingchen belajar mengenali ribuan jenis tanaman. Ia menghafal tekstur, aroma, hingga aliran Qi pada setiap helai daun.
Lin Yue awalnya bersikap sangat ketat; ia tidak segan-segan menegur jika Yan Bingchen salah menyebutkan nama akar atau suhu api yang tidak stabil.
Namun, sesuatu mulai berubah.
Lin Yue memperhatikan bagaimana Yan Bingchen belajar. Pemuda itu tidak pernah mengeluh.
Ia bisa duduk diam selama dua belas jam hanya untuk mengamati proses fermentasi nektar bunga.
Saat matahari menembus celah daun dan menyinari wajah Yan Bingchen, Lin Yue sering kali tertangkap basah sedang menatap profil samping pemuda itu.
Ketampanan Yan Bingchen yang alami, dipadukan dengan keseriusannya yang mendalam, mulai meruntuhkan dinding es di hati Lin Yue.
Terutama saat Yan Bingchen menggunakan tata kramanya yang sangat sopan.
"Terima kasih atas bimbingannya, Rekan Senior Lin Yue. Tanpa penjelasanmu tentang 'Akar Langit Gemetar', aku mungkin sudah meledakkan tungku ini," ujar Yan Bingchen sambil membungkuk sedikit.
Pipi Lin Yue merona merah tipis, ia segera memalingkan wajah. "Jangan banyak bicara. Fokus pada suhunya. Jika apimu terlalu panas, pil ini akan menjadi racun."
Suatu malam, Lin Yue kembali ke ruang alkimia untuk mengambil catatannya yang tertinggal. Ia tertegun melihat Yan Bingchen masih di sana.
Pemuda itu sedang bereksperimen menggabungkan energi esnya untuk mendinginkan botol-botol ramuan agar nutrisinya terkunci sempurna—sebuah teknik yang bahkan Lin Yue sendiri kesulitan melakukannya.
Yan Bingchen tampak sangat fokus. Rambut merah-putihnya diikat sederhana, dan mata dualitasnya berkilat tajam di bawah cahaya lampu minyak.
Ia tampak seperti dewa yang sedang menciptakan kehidupan.
Lin Yue berdiri di ambang pintu, memendam perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia mengagumi bukan hanya wajahnya, tapi tekad baja pemuda ini.
Yan Bingchen tidak pernah tergoda oleh para wanita klan yang terus mencoba mendekatinya; tujuannya hanya satu: menjadi kuat.
"Dia ... benar-benar berbeda," bisik Lin Yue dalam hati.
Tanpa ia sadari, tangannya meremas ujung jubahnya.
Rasa dingin yang biasanya ia banggakan kini mulai mencair oleh kehadiran pemuda yang membawa api di dalam jiwanya.
Sementara itu, di luar, Mo Ran dan Si Hitam menjadi maskot baru di Federasi LIN.
Mo Ran sering membantu para tabib junior membawakan keranjang, meski sering kali ia lebih banyak makan buah hutan daripada mengumpulkannya.
Si Hitam, dengan ukurannya yang gagah, sering membantu anak-anak klan mengambilkan barang yang tersangkut di dahan tinggi.
Meskipun Mo Ran terus ikut bersama Yan Bingchen saat pelajaran botani, ia sering kali tertidur di bawah pohon raksasa, sementara Yan Bingchen dan Lin Yue terlibat dalam diskusi serius tentang struktur seluler tanaman tingkat tinggi.
"Kau memiliki bakat yang menakutkan, Yan Bingchen," ujar Lin Yue suatu hari saat mereka berhasil membuat sebotol cairan pemurni sumsum. "Jika kau terus begini, kau akan melampauiku dalam hitungan bulan."
Yan Bingchen menatap cairan ungu di tangannya, lalu menatap Lin Yue dengan tatapan tulus. "Aku hanya tidak ingin membuang waktu. Dunia di luar sana tidak akan menungguku untuk siap."
Lin Yue terdiam. Ia tahu Yan Bingchen menyimpan beban besar dari Benua Binghuo.
Ia ingin bertanya, ingin membantu, namun ia tahu Yan Bingchen adalah pria yang menjaga jarak dengan siapa pun demi keselamatan mereka.
Malam itu, Lin Yue tidak bisa tidur. Bayangan Yan Bingchen yang sedang berkonsentrasi pada tungku alkimia terus berputar di kepalanya.
Murid nomor satu yang dulu dingin ini, kini telah jatuh hati pada sang pembawa api dan es.