NovelToon NovelToon
Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puing yang menumbuhkan bunga

Pagi di Pesantren Salsabila kini tak lagi terasa mencekam. Suara deru buldoser kecil di kejauhan menandakan dimulainya pembongkaran klinik lama yang menyimpan terlalu banyak memori kelam. Ghibran berdiri di tepi lapangan, mengamati para pekerja, sementara di tangannya ia menggenggam dokumen akta kelahiran asli Aira yang diberikan oleh Mansyur sebelum pria itu mengembuskan napas terakhirnya.

Aira datang menghampiri, membawa dua gelas es sirup markisa yang segar. Ia mengenakan gamis sederhana berwarna biru muda, namun wajahnya memancarkan aura yang jauh lebih tenang dan bersinar.

"Semuanya sedang bergerak maju, ya, Kak?" tanya Aira sembari menyerahkan gelas itu pada suaminya.

Ghibran menerima gelas tersebut, lalu menyesapnya sedikit. "Iya. Setelah semua dokumen ini divalidasi oleh bank pusat, dana cadangan Azlan sudah bisa kita gunakan sepenuhnya untuk renovasi asrama. Tidak akan ada lagi santri yang tidur berhimpitan di kamar yang bocor."

Aira menyandarkan kepalanya di bahu Ghibran, memperhatikan gedung-gedung tua yang mulai dipercantik. "Aku masih sering merasa ini semua seperti mimpi. Sebulan yang lalu kita masih saling asing, terjebak dalam wasiat yang terasa seperti beban. Sekarang..."

"Sekarang, aku tidak bisa membayangkan jika wasiat itu tidak pernah ada," potong Ghibran dengan suara rendah yang menenangkan. Ia merangkul bahu Aira, menariknya lebih dekat. "Mungkin aku akan tetap menjadi pria kaku di Jakarta, dan kamu akan tetap menjadi perajin kain yang menyimpan luka sendirian. Takdir memang punya cara yang aneh untuk mempertemukan kita."

Tamu yang "Berisik"

Momen puitis itu mendadak buyar saat suara klakson motor terdengar nyaring. Azka datang dengan motor trail-nya, meluncur melewati jalan setapak dan berhenti tepat di depan mereka dengan gaya yang sedikit berlebihan.

"Halo, pasangan paling fenomenal se-Jawa Timur!" seru Azka sambil membuka helmnya, menampakkan cengiran lebarnya yang khas.

Ghibran menghela napas, namun kali ini tidak ada kemarahan di matanya. "Azka, sudah berapa kali kukatakan, jangan memacu motormu di dalam area pendidikan. Kamu memberikan contoh buruk pada santri."

"Ah, Ghib, kau ini masih saja kaku seperti kanebo kering," keluh Azka sambil turun dari motornya. Ia melirik Aira dengan tatapan menggoda. "Aira, kau harus sering-sering memberi suamimu ini jamu kuat... jamu kuat sabar maksudku, supaya dia tidak cepat tua karena mengomel terus."

Aira tertawa kecil. "Mas Azka ada-ada saja. Ada keperluan apa sampai datang pagi-pagi begini?"

"Aku membawakan berkas dari notaris untuk butik barumu," Azka menyerahkan sebuah map cokelat. "Dan ada titipan dari kepolisian. Mereka bilang barang-barang sisa di gudang Aminah sudah bisa diambil. Tapi, Ghib... ada satu hal lagi."

Wajah Azka mendadak sedikit serius. "Abrisam terus-terusan berteriak di sel. Dia bilang ada satu kunci lagi yang tertinggal di bawah ubin butik. Dia mencoba negosiasi untuk pengurangan masa hukuman."

Ghibran mengerutkan kening. "Kunci apa lagi?"

"Kunci sebuah brankas kecil berisi surat-surat cinta Sarah," Azka mengangkat bahu. "Sepertinya Aminah menyimpannya sebagai bentuk obsesinya pada ibumu, Aira. Dia ingin memiliki setiap bagian dari kehidupan Sarah."

Menemukan Serpihan Kasih

Siang harinya, Ghibran menemani Aira menuju butik. Sesuai informasi Azka, mereka mencari di bawah ubin kayu di pojok ruangan yang dulu menjadi kantor pribadi Aminah. Benar saja, setelah beberapa ubin dibuka, terdapat sebuah kotak besi kecil yang sudah berkarat.

Saat Aira membukanya, air matanya tak terbendung lagi. Di dalamnya bukan emas atau perhiasan mahal. Hanya ada tumpukan surat lama yang ditulis oleh Sarah untuk Mansyur saat mereka masih muda, serta sebuah buku harian kecil dengan sampul kain batik.

Aira membuka buku harian itu. Di halaman pertama tertulis: "Untuk putriku, Salsabila. Jika suatu saat kamu membaca ini, ketahuilah bahwa kamu adalah harapan terbesarku."

Ghibran berlutut di samping Aira, membiarkan istrinya menangis di pundaknya sembari membaca baris demi baris tulisan tangan ibunya yang rapi. Lewat buku itu, Aira akhirnya tahu bahwa Sarah tidak pernah menyerah. Ia dipaksa bungkam, namun cintanya pada Salsabila ia tumpahkan dalam tulisan-tulisan ini.

"Dia sangat mencintaimu, Aira," bisik Ghibran, ia menghapus air mata di pipi istrinya dengan jemarinya.

"Iya, Kak. Dan sekarang aku merasa dia benar-benar sudah tenang," sahut Aira. Ia menutup buku itu dan menatap Ghibran dengan tatapan yang sangat dalam. "Terima kasih sudah membantuku menemukan semua potongan teka-teki ini, Kak."

Percikan yang Mulai Membara

Malam itu, suasana di ndalem terasa sangat berbeda. Kesedihan yang dirasakan Aira di butik siang tadi perlahan berubah menjadi rasa syukur yang mendalam. Mereka duduk di ruang tengah, ditemani teh hangat dan suara hujan yang mulai turun membasahi bumi Salsabila.

Ghibran sedang membaca buku saat Aira datang membawa selimut tambahan. Aira duduk di samping Ghibran, menyandarkan kepalanya di lengan suaminya.

"Kak Ghibran..."

"Ya?" Ghibran meletakkan bukunya, memberikan perhatian penuh pada istrinya.

"Dulu, saat kita baru menikah, aku sangat takut pada Kakak. Kakak terlihat seperti orang yang tidak punya perasaan," ujar Aira sambil memainkan kancing kemeja Ghibran.

Ghibran tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat jarang ia tunjukkan pada dunia. Ia meraih tangan Aira dan mencium telapak tangannya. "Aku hanya takut, Aira. Aku takut jika aku menunjukkan perasaanku, aku akan terlihat lemah di depan mereka yang ingin menghancurkan kita. Tapi sekarang, aku tidak perlu berpura-pura lagi."

Ghibran merapatkan pelukannya, membuat Aira bisa merasakan detak jantung suaminya yang stabil namun kuat. Ia menunduk, menatap bibir Aira yang merah alami, lalu perlahan mendekatkan wajahnya.

Aira tidak menghindar. Ia justru memejamkan mata, menyambut sentuhan lembut bibir Ghibran di keningnya, lalu turun ke pipi, dan akhirnya berlabuh di bibirnya dengan penuh kelembutan yang memabukkan.

Malam itu, di tengah hujan yang menderu, mereka belajar satu hal penting: bahwa puing-puing masa lalu yang hancur ternyata bisa menjadi pupuk terbaik untuk menumbuhkan bunga cinta yang paling indah.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Kutu Buku
Thor apa2an Ini
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂
Isti Mariella Ahmad: hihi🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!