tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Suaka yang Terlupakan Waktu
Suara derit logam dari engsel pintu perunggu ganda itu memecah kesunyian abadi di dasar Jurang Hitam. Suaranya melengking tajam, berat, dan dipenuhi oleh keengganan berabad-abad, seolah pintu itu sendiri memprotes gangguan dari dunia luar yang telah lama melupakannya. Saat kedua daun pintu berukir naga itu bergeser terbuka ke dalam, sebuah embusan angin dingin yang luar biasa pekat menghantam wajah Genevieve.
Angin itu tidak membawa butiran salju atau hawa beku yang membunuh seperti badai di luar, melainkan membawa aroma dari waktu yang berhenti berdetak. Ada bau kertas perkamen yang mengering hingga nyaris menjadi debu, aroma logam kuno yang tidak pernah mengenal karat, dan wangi kemenyan samar yang entah bagaimana masih bertahan melintasi era.
Genevieve berdiri mematung di ambang pintu. Dadanya naik turun dengan ritme yang dangkal dan menyakitkan. Tangan kanannya yang terbalut kain kusam masih menggenggam erat *Nightfang*, belati meteorit yang baru saja menjadi kuncinya. Ia tidak langsung melangkah masuk. Di kehidupan masa lalunya, ia telah belajar bahwa tempat yang terlihat paling aman sering kali adalah tempat di mana peti mati seseorang paling rapi dipersiapkan. Matanya yang berwarna kristal biru, kini setajam pedang yang baru diasah, menyapu kegelapan di balik pintu tersebut.
Pendaran cahaya ungu dari urat-urat kristal purba di dinding perlahan menyebar, merespons masuknya udara segar dari balairung. Cahaya itu berdenyut dengan ritme yang lamban, menyerupai detak jantung raksasa yang sedang berhibernasi. Dengan berbekal pencahayaan redup itu, pemandangan di dalam ruangan akhirnya terkuak di hadapan sang Lady yang terbuang.
Ruangan di balik pintu perunggu ini bukanlah sebuah makam atau penjara, melainkan sebuah perpustakaan raksasa sekaligus ruang relikui yang luar biasa megah.
Langit-langitnya melengkung setinggi puluhan meter, disangga oleh enam belas pilar batu hitam yang diukir membentuk sisik naga. Di sepanjang sisi kiri dan kanan ruangan, menjulang rak-rak buku berbahan kayu besi yang nyaris menyentuh langit-langit. Sebagian besar rak itu masih dipenuhi oleh gulungan perkamen, buku-buku bersampul kulit tebal, dan lempengan-lempengan batu bertuliskan rune kuno. Di sela-sela rak buku, terdapat dudukan-dudukan senjata yang memajang pedang, tombak, dan perisai berlambang Naga Berkepala Tiga—faksi bidah yang sejarahnya telah dihapus bersih dari peradaban Aethelgard.
Genevieve melangkah melewati ambang pintu dengan sangat hati-hati. Ujung sepatu botnya menyentuh lantai marmer hitam yang dipoles begitu halus hingga memantulkan bayangannya sendiri, meskipun kini permukaannya tertutup lapisan debu tipis.
Setiap langkah yang ia ambil bergema pelan di dalam ruangan mahaluas itu. Ia menarik mantel bulu serigala putihnya lebih rapat ke tubuhnya. Berat mantel itu kini terasa seperti jangkar timah yang menarik bahunya ke bawah. Adrenalin yang sejak tadi menopangnya melintasi ladang jebakan mulai menguap, meninggalkan realitas biologis yang kejam. Tubuh Lady Genevieve yang kurus kering ini telah mencapai batas absolutnya.
Rasa sakit dari tiga tulang rusuknya yang retak tidak lagi sekadar berdenyut; rasa sakit itu kini terasa seperti ada pecahan beling yang bergesekan langsung dengan paru-parunya setiap kali ia menarik napas. Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya, membekukan anak rambut peraknya yang menempel di dahi. Kakinya yang terkilir, meski masih ditahan oleh efek panas Lumut Darah Beku, mulai mati rasa di bagian ujung jari-jarinya.
Genevieve berjalan terhuyung mendekati salah satu pilar raksasa di dekat pintu masuk. Ia menyandarkan bahu kirinya ke permukaan batu dingin itu, membiarkan batu tersebut menopang sebagian berat badannya. Ia memejamkan mata, menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga rasa amis darah segar kembali memenuhi mulutnya. Ia tidak mengizinkan dirinya untuk merintih. Di tempat antah berantah ini, kelemahan adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli.
"Sistem," panggilnya dalam ruang mental, suaranya terdengar sangat letih namun dipenuhi oleh disiplin baja. "Berapa banyak sisa waktu sebelum kerusakan ototku menjadi permanen?"
Panel biru semi-transparan muncul di depan kelopak matanya yang terpejam.
**[Memindai Integritas Fisik Tuan Rumah...]**
**[Peringatan Kritis: Energi Vital berada di angka 11 Poin. Tubuh Tuan Rumah mengalami defisit kalori dan kelelahan ekstrem tingkat 4. Jika Tuan Rumah tidak memasuki fase istirahat total dalam waktu 40 menit, risiko robekan otot permanen dan gagal jantung ringan meningkat hingga 85%.]**
**[Saran Sistem: Ruangan ini steril dari ancaman biologis (Predator atau Patogen). Tuan Rumah disarankan untuk segera meletakkan beban dan melakukan regenerasi pasif.]**
"Empat puluh menit," bisik Genevieve pelan. Ia membuka matanya. Tatapannya menajam, mengusir kabut rasa sakit dari pikirannya. "Waktu yang cukup untuk memastikan tidak ada kejutan mematikan lainnya."
Ia menolak untuk langsung merebahkan diri di lantai. Ia harus mengetahui di mana persisnya ia berada, dan apa nilai dari tempat ini. Jika Nyonya Besar House Blackwood dan Duke Alistair mengetahui keberadaan tempat ini, mereka pasti telah mengirimkan sepasukan penuh ksatria ibukota untuk menjarahnya. Namun, kenyataan bahwa tempat ini masih utuh membuktikan bahwa Genevieve mungkin adalah manusia pertama yang menginjakkan kaki di sini selama berabad-abad—selain agen rahasia malang yang tewas di luar pintu tadi.
Genevieve memaksakan dirinya untuk melepaskan sandaran dari pilar. Ia berjalan menyusuri lorong tengah ruangan, diapit oleh deretan rak buku kuno. Tangan kirinya sesekali menyentuh pinggiran meja baca dari kayu ek yang telah membatu karena waktu, menggunakan benda-benda itu sebagai tumpuan berjalannya yang pincang.
Di atas salah satu meja baca, tergeletak sebuah gulungan perkamen yang setengah terbuka. Genevieve berhenti sejenak. Ia mengulurkan ujung belati *Nightfang* untuk menyingkap perkamen itu secara perlahan, tidak ingin debu racun apa pun yang mungkin tersisa menyentuh kulitnya. Huruf-huruf di atas perkamen itu ditulis dengan tinta emas yang tidak memudar, namun bahasa yang digunakan sama sekali asing baginya. Bentuk hurufnya tajam dan bersudut, menyerupai cakar naga.
Ini adalah bahasa faksi yang hilang. Bahasa dari mereka yang menolak tunduk pada Gereja Cahaya.
Genevieve melanjutkan langkahnya menuju ujung ruangan. Di sana, lantai marmer hitam sedikit meninggi, membentuk sebuah panggung melingkar (dais) kecil yang diterangi oleh gugusan kristal ungu paling terang di seluruh ruangan. Di atas panggung tersebut, tidak ada singgasana raja atau patung dewa. Yang ada hanyalah sebuah meja altar raksasa yang dipahat dari satu bongkahan batu obsidian murni.
Ia menaiki tiga anak tangga kecil menuju panggung itu dengan sangat pelan, memastikan setiap pijakannya solid. Setibanya di depan altar, matanya langsung tertuju pada dua benda yang diletakkan berdampingan dengan sangat rapi di atas permukaan batu hitam tersebut.
Benda pertama adalah sebuah buku kuno berukuran sangat besar. Sampulnya terbuat dari kulit tebal yang berwarna pucat pasi—hampir menyerupai warna kulit manusia, namun memiliki tekstur bersisik yang keras. Buku itu dikunci oleh sebuah pengait dari besi hitam, dan di tengah sampulnya terukir lambang Naga Berkepala Tiga.
Benda kedua, yang terletak tepat di sebelah buku itu, adalah sebuah kotak silinder kecil yang terbuat dari perak murni. Kotak itu dihiasi oleh tatahan batu rubi sebesar ibu jari, memancarkan aura kemewahan yang sangat kontras dengan kesuraman tempat ini.