NovelToon NovelToon
Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Reinkarnasi
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: dhanis rio

bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.

Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. REUNI LOGAM KUNO DAN PANAH PEMAKAH UDARA

Pagi di Ibu Kota Aethelgard diselimuti kabut tipis yang membawa aroma kemakmuran sekaligus keangkuhan. Arka berjalan paling depan, jubah abu-abunya tampak kusam di antara jubah-jubah sutra para bangsawan yang lalu lalang. Namun, sebelum mereka mencapai gerbang utama Guild Pusat yang megah, Arka membelokkan langkah ke sebuah kompleks reruntuhan kuil dewa perang yang sudah lama ditinggalkan.

​"Guru? Bukankah pendaftaran ulang ada di arah sebaliknya?" Valen bertanya, tangannya secara insting meraba hulu pedang latihannya yang terasa semakin "ringan" setelah simulasi semalam.

Arka tidak menjawab. Ia berhenti di tengah aula kuil yang atapnya sudah runtuh, membiarkan cahaya matahari pagi menyinari debu yang beterbangan. "Kalian ingat senjata yang kuberi saat melawan Shadow Wolf di Ovelia?"

Jiro, Kael, dan Elara mengangguk. Mereka ingat pedang, busur, dan staf yang mereka pakai saat itu. senjata hebat, namun terasa seperti 'kulit luar' yang belum sempurna.

"Kalian sudah melatih mana kalian agar tidak bergantung pada kualitas logam, tehnik kalian sudah cukup untuk tidak bergantung pada pusaka ini" Arka bergumam. Matanya menatap ruang kosong di depannya. "Sekarang, saatnya kalian memegang beban yang sebenarnya."

Arka mengangkat tangan kanannya. Udara di depannya mendadak berputar, membentuk riak transparan yang memancarkan energi dingin yang sangat pekat. Sebuah lubang dimensi terbuka—hitam kelam dan tak berdasar.

Valen dan Seraphina tersentak mundur. Jantung mereka berdegup kencang, sebuah insting purba memperingatkan mereka bahwa sesuatu yang tidak masuk akal sedang terjadi.

"I-itu... Spatial Inventory?" suara Seraphina tercekat. "Tapi buku sejarah di Perpustakaan Agung menyebutkan teknik itu menghilang seratus tahun lalu bersamaan dengan hilangnya para 'Player'. Itu adalah mukjizat yang hanya dimiliki oleh mereka yang abadi (player)..."

Arka hanya melirik sekilas, tatapannya sulit diartikan. Ia tidak membenarkan, namun tidak juga membantah. Ia merogoh ke dalam kegelapan lubang itu dan menarik keluar sebuah benda yang beratnya seolah mampu menggetarkan fondasi kuil tua tersebut.

"Jiro. Obsidian-mu sudah cukup beristirahat."

Arka melemparkan sebuah pedang raksasa. Greatsword Obsidian. Bilahnya hitam pekat, tidak memantulkan cahaya, dan permukaannya dipenuhi ukiran rune kuno yang berdenyut warna ungu redup. Jiro menangkapnya dengan kedua tangan.

BRAK!

Lantai batu di bawah kaki Jiro retak saat ia menerima pedang itu. Ia tidak meringis; ia justru tersenyum lebar, sebuah senyuman liar yang jarang terlihat. "Ah... berat ini. Aku merindukan rasa sakit di bahu ini, Guru." Jiro mengelus bilah pedang itu, mengingat saat pertama kali Arka melatih Tiga Fajar dan memaksa Jiro mengayunkan logam terkutuk ini sepuluh ribu kali sehari hingga tangannya hancur.

Selanjutnya, Arka mengeluarkan Busur Angin Senyap untuk Kael. Busur itu tampak seperti terbuat dari tulang naga yang dikeringkan dan dipadukan dengan senar dari serat mana murni. Terakhir, sebuah staf yang terbuat dari kayu giok yang seolah masih hidup dan bernapas diserahkan kepada Elara.

"Guru! Akhirnya!" Elara memeluk stafnya. Energi hijau yang keluar dari staf itu seketika menyembuhkan luka-luka kecil di tangannya akibat latihan semalam.

"Tahan aura kalian," perintah Arka dingin. Ia menyentuh setiap senjata itu, merapalkan mantra Suppression tingkat tinggi. Seketika, aura kuno yang menakutkan itu menghilang, membuat senjata-senjata legendaris itu tampak seperti barang rongsokan yang berkarat di mata orang awam. "Dan untuk kalian berdua... gunakan ini agar kalian tidak mati di babak pertama."

Arka menyerahkan pedang safir dan tombak perak kepada Valen dan Seraphina. Meskipun bukan senjata legendaris seperti milik Tiga Fajar, kualitasnya jauh melampaui apa pun yang pernah diproduksi oleh pandai besi kerajaan saat ini.

...

Aula Guild Pusat dipadati oleh ratusan tim yang sedang mengantre dengan wajah letih. Beberapa tim tampak berdarah-darah, sisa dari babak penyisihan yang brutal. Arka berjalan dengan santai, mengabaikan barisan yang mengular dan langsung menuju meja pendaftaran VVIP.

"Hei! Kau yang memakai jubah kusam!" seorang petualang Peringkat B dengan zirah berat menghalangi jalan Arka. "Antre di belakang seperti petualang lainnya! Siapa kau pikir dirimu bisa langsung ke depan?"

Arka bahkan tidak menoleh. Ia terus berjalan seolah pria besar itu hanya udara kosong.

Saat petualang itu mencoba meraih kerah baju Arka, Valen dan Seraphina bergerak dengan sinkronisasi yang mengerikan. Valen menekan ulu hati pria itu dengan sarung pedangnya, sementara ujung tombak Seraphina berhenti tepat satu milimeter dari pupil mata petualang tersebut.

"Jangan buat aku mengulanginya," bisik Valen. "Mundur, atau kau akan mendaftar ke kuburan hari ini."

Keheningan dingin yang terpancar dari kedua murid bayangan itu membuat aula yang bising mendadak sunyi. Mereka tidak lagi terlihat seperti murid akademi yang manja; mereka adalah pemangsa yang baru saja mendapatkan taringnya.

Arka sampai di meja pendaftaran dan meletakkan sebuah dokumen lusuh dengan segel emas besar di atasnya. Petugas pendaftaran yang tadinya ingin membentak, seketika membeku. Ia mengenali segel itu. Segel milik Baros, Sang Legenda Perang dari Ovelia.

"T-tim Tiga Fajar?" petugas itu tergagap. "Surat rekomendasi emas... kalian... kalian dilewati dari semua babak penyisihan dan langsung masuk ke daftar peserta utama."

Bisik-bisik kebencian mulai merayap di aula. "Siapa mereka? Menyogok jalan masuk?" "Lihat pria pemimpinnya, dia tampak seperti pengangguran!"

...

Karena surat rekomendasi tersebut terlalu istimewa, mereka dipanggil ke ruang pribadi Komandan Kaelo, pengawas tertinggi turnamen. Kaelo adalah pria dengan tubuh sebesar lemari es dan bekas luka bakar di lehernya. Ia menatap Arka dengan pandangan menghakimi.

"Baros tidak pernah memberikan segel ini kepada sembarang orang selama 10 puluh tahun terakhir," suara Kaelo berat seperti gesekan batu. "Aku tidak peduli apa hubunganmu dengan Baros, tapi aku tidak bisa membiarkan tim antah-berantah masuk ke arena utama tanpa bukti. Jika kalian lemah, kalian hanya akan mempermalukan nama Baros."

Arka menghela napas panjang, terlihat sangat lelah dengan semua formalitas ini. Ia melirik ke arah jendela yang terbuka lebar, menghadap ke arah perbukitan gersang yang berjarak sekitar tiga mil dari pusat kota.

"Kael. Target jarak jauh nomor lima. Hancurkan," ucap Arka pendek.

Kaelo mengerutkan kening. "Target nomor lima? Itu ada di luar tembok kota, petualang. Bahkan unit artileri sihir kami butuh waktu lima menit untuk mengunci koordinat—"

Kael melangkah ke depan jendela. Ia mengangkat Busur Angin Senyap. Ia tidak menarik anak panah dari tabungnya, karena memang tidak ada. Ia hanya menarik senar busurnya yang transparan.

Saat itulah, fenomena aneh terjadi. Udara di dalam ruangan itu mendadak menjadi tipis. Oksigen seolah tersedot ke arah busur Kael. Suara bising dari luar gedung Guild mendadak hilang, menciptakan vakum suara yang menyakitkan telinga.

Kael tidak membidik dengan matanya; ia membidik dengan aliran udara.

Syuuu—Syuuu—Syuuu—

Tidak ada ledakan besar. Hanya ada kilatan distorsi udara yang meluncur keluar jendela dengan kecepatan yang melampaui logika.

Kaelo segera berlari ke arah teleskop sihirnya. Di bukit yang berjarak tiga mil, target kayu lapis baja yang dirancang untuk menahan ledakan bola api tingkat tinggi itu tidak hanya berlubang. Target itu lenyap. Bukan hancur karena ledakan, tapi hancur karena seolah-olah udara di sekitar target itu meledak ke dalam, menghancurkan serat kayu dan baja hingga menjadi debu.

"Itu... teknik Vacuum Devourer?" Kaelo berbalik dengan wajah pucat pasi. "Kau tidak hanya memanah... kau menciptakan vakum yang memakan objek di jalurnya. Siapa gurumu, Nak?"

Kael hanya melirik Arka yang sedang sibuk membersihkan kotoran di telinganya. "Pria malas itu," jawab Kael singkat.

Kaelo menelan ludah. Ia memandang Arka dengan rasa ngeri yang mulai tumbuh. Teknik yang baru saja ditunjukkan Kael adalah teknik yang hanya tercatat dalam manuskrip kuno milik para Player legendaris, teknik yang seharusnya sudah punah karena player tidak melatih NPC.

Dengan tangan gemetar, Kaelo membubuhkan stempel resmi Kerajaan pada dokumen mereka. "Tim Tiga Fajar resmi terdaftar. Kalian... kalian akan menjadi mimpi buruk bagi siapa pun yang berdiri di arena besok."

...

Saat mereka berjalan keluar dari gedung Guild menuju penginapan (kediaman Alaric), Arka tiba-tiba berhenti sejenak. Ia tidak menoleh, namun sudut matanya melirik ke arah atap sebuah bangunan tinggi di seberang jalan.

Di sana, berdiri seorang pria dengan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Pria itu memegang sebuah artefak pengukur yang terus bergetar hebat saat diarahkan ke arah Greatsword Obsidian milik Jiro.

"Ditemukan..." bisik pria berjubah itu. "Senjata-senjata dari Era Kehancuran. Dan pria yang membawanya... apakah dia salah satu dari 'Mereka' yang tersisa?"

Arka hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung peringatan mematikan, lalu melanjutkan perjalanannya. "Jiro, Kael, Elara... besok, pastikan kalian tidak membunuh lawan terlalu cepat. Aku ingin melihat ekspresi Raja saat menyadari bahwa standar yang ia banggakan hanyalah mainan bagi kalian."

Valen dan Seraphina saling berpandangan. Mereka baru saja menyadari bahwa babak utama kompetisi ini bukan lagi soal kemenangan atau medali. Ini adalah awal dari kemunculan kembali kekuatan yang seharusnya tetap terkubur di dalam sejarah.

1
dhanis rio
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!