Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Sore mulai merambat turun, membalut halaman panti asuhan dengan cahaya keemasan yang hangat. Tawa anak-anak masih terdengar riang, berlari ke sana ke mari dengan mainan di tangan. Di salah satu sisi, Quinn duduk santai di bangku kayu, kakinya diayun ringan sambil mengobrol dengan Kael.
Percakapan mereka terasa ringan. Tidak banyak jeda canggung seperti sebelumnya.
Namun—
Suara mesin motor yang berhenti cukup keras di depan gerbang membuat beberapa kepala menoleh.
Termasuk Quinn.
Dan saat matanya menangkap sosok itu—
Napasnya tertahan sesaat.
Ryuga.
Jantungnya berdegup lebih cepat. Bukan karena terkejut… tapi karena rasa yang tak bisa ia jelaskan—rindu, senang, dan sedikit gugup bercampur menjadi satu.
“Ryugaaa~.” sapanya ceria.
Ryuga melangkah masuk dengan aura yang tidak berubah—dingin, tegas, menguasai. Tapi saat matanya menemukan Quinn—
dan Kael di dekatnya—
sesuatu di dalam dirinya langsung menegang.
Rahangnya mengeras.
Tatapannya menajam.
Tanpa memperlambat langkah—
ia langsung menghampiri.
Dan begitu sampai—
tanpa aba-aba—
tangannya melingkar di pinggang Quinn, menarik gadis itu mendekat ke tubuhnya.
Quinn jelas terkejut.
“Eh—?!”
Namun keterkejutannya hanya sesaat.
Alih-alih melepaskan diri—
ia justru menyandarkan tubuhnya lebih dekat.
Seolah nyaman berada di sana.
Di dalam pelukan itu.
Ryuga menatapnya sekilas.
Tatapannya masih dingin.
Namun genggamannya… menguat.
Seolah memastikan Quinn benar-benar di sisinya.
“Aku bilang tunggu.” katanya tenang, tapi mengandung tekanan.
Alis Quinn terangkat, matanya menyipit.
Ia merasa Ryuga sedang cemburu.
Quinn menahan senyum. Kemudian menatap Ryuga dengan tatapan menggoda.
“Kan aku tunggu… tapi sambil ngobrol. Masa diem doang kayak patung sih?”
Ryuga tidak langsung menjawab.
Matanya beralih menatap Kael.
Dan detik itu—
udara di sekitar mereka berubah.
“Apa?” tanya Kael datar.
Nada suaranya tidak memancing. Tapi tidak juga mundur.
Ryuga menyeringai tipis.
Senyum yang dingin.
“Gue nggak suka orang lain nemenin cewek gue terlalu lama.”
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Tanpa basa-basi.
Tanpa ditutupi.
Quinn langsung melirik Ryuga.
Pipinya memanas.
“Ih… apaan sih ngomongnya…” protesnya sambil memukul pelan lengan Ryuga.
Tapi di balik protes itu—
ada senyum kecil yang tak bisa ia sembunyikan.
Kael memperhatikan semuanya.
Cara Ryuga merangkul Quinn.
Cara Quinn tidak menolak.
Cara mereka… saling terbiasa.
Dadanya terasa sedikit sesak.
Namun wajahnya tetap datar.
“Tenang. Gue cuma ngobrol.” katanya singkat.
Ryuga menatapnya tajam.
“Bagus.”
Tangannya makin mengerat di pinggang Quinn.
Bukan kasar.
Tapi jelas.
“Karena gue nggak bakal ngasih kesempatan lebih dari itu.”
Hening.
Ketegangan terasa jelas.
Quinn menghela napas kecil, lalu mencubit pelan pinggang Ryuga.
“Kamu tuh ya… posesif banget sih.” katanya setengah kesal, setengah gemas.
Ryuga menoleh.
Tatapannya turun ke wajah Quinn.
Lebih lembut… tapi tetap dalam.
“Aku cuma menjaga yang jadi milikku.”
Deg.
Jantung Quinn langsung berdegup lebih cepat.
Kalimat itu—
terlalu dalam.
Terlalu jujur.
Ia memalingkan wajah, berusaha menutupi senyumnya.
“Gaya banget sih kamu… sok cool.” katanya gugup, tapi tetap centil.
Namun dalam hatinya—
ia justru merasa hangat.
Sangat hangat.
“Kenapa ya… dia makin posesif… gue malah makin suka…” batin Quinn heran.
Ryuga kembali menatap Kael.
Tatapannya tidak berubah.
Masih penuh kewaspadaan.
Masih penuh klaim.
Lalu tanpa banyak kata—
ia menarik pelan tangan Quinn.
“Kita pulang.” katanya singkat.
Quinn mengerjap.
“Hah? Sekarang?”
“Sekarang.” jawab Ryuga tegas.
Quinn mendengus.
“Aku belum selesai di sini, tau.”
Ryuga mendekat sedikit.
Suaranya merendah.
Hanya cukup untuk Quinn dengar.
“Aku nggak suka kamu lama-lama di dekat dia.” katanya melirik Kael sekilas.
Jantung Quinn kembali berdegup.
Ia menatap Ryuga.
Ada kecemburuan di sana.
Ada ketakutan yang tidak diucapkan.
Dan entah kenapa—
itu membuatnya luluh.
“Ya udah… bentar.” katanya pasrah, setengah menyerah.
Ia menoleh ke Kael.
“Gue duluan ya.”
Kael mengangguk.
“Hati-hati.” katanya singkat.
Namun tatapannya sedikit berbeda.
Lebih dalam.
Lebih sulit dibaca.
Ryuga langsung menggenggam tangan Quinn.
Kali ini bukan di pinggang—
tapi di tangan.
Lebih halus.
Namun tetap tidak memberi ruang untuk lepas.
Quinn meliriknya dengan tatapan menggoda.
“Takut aku diculik ya?”
“Hm.” jawab Ryuga tanpa ragu.
Quinn langsung tertawa kecil.
“Aku ini cewek kuat, tau.”
Ryuga meliriknya singkat.
“Tetap aja.”
Ia menarik Quinn sedikit lebih dekat saat berjalan.
Seolah refleks.
Seolah tidak sadar.
Tapi penuh makna.
Di belakang mereka—
Kael berdiri diam.
Menatap punggung keduanya yang semakin menjauh.
Ada sesuatu yang tertinggal di matanya.
Perasaan yang tidak ia akui.
“…terlambat.” batinnya.
Ia menghela napas.
Lalu kembali berbalik ke arah anak-anak.
Menyembunyikan semuanya.
Sementara itu—
Quinn berjalan di samping Ryuga.
Tangannya masih digenggam.
Hangat.
Nyaman.
Ia melirik Ryuga diam-diam.
Lalu tersenyum kecil.
“Ga…”
Ryuga meliriknya sekilas.
“Apa?”
Quinn tersenyum.
“Kamu kalau cemburu… lucu.”
Ryuga berhenti sejenak.
Menatapnya dalam.
“Aku nggak lucu.”
Quinn terkekeh.
“Iya, iya… kamu serem.”
Ia sengaja mendekat sedikit.
“Tapi aku suka.” bisiknya nakal.
Dan untuk pertama kalinya—
di tengah dinginnya—
Ryuga tersenyum tipis.
Karena satu hal yang ia sadari—
Quinn tidak hanya miliknya…
tapi juga memilih untuk tetap di sisinya.
...----------------...
Keesokan harinya..
Pagi itu terasa sedikit kacau bagi Vexa.
Di tengah jalan yang mulai ramai oleh kendaraan menuju sekolah, mobilnya justru berhenti mendadak seperti kehabisan napas. Mesin yang tadi masih menyala kini hanya mengeluarkan bunyi lemah yang menyebalkan.
“Duh! Jangan sekarang, dong!” keluh Vexa sambil memukul ringan setir. Wajahnya cemberut maksimal.
Ia mencoba menyalakan mesin lagi.
“Ngiiiing… ngiiiing…”
Gagal.
“ASTAGA!” serunya frustasi, lalu menjatuhkan punggungnya ke kursi.
Tanpa pikir panjang, ia langsung meraih ponselnya dan menghubungi Quinn.
Tuuut… tuuut…
“Halo, kenapa pagi-pagi ribut banget sih?” omel Quinn begitu panggilan terhubung.
“QUINN! Tolong gue! Mobil gue mogok!” seru Vexa heboh.
“Hah? Serius?” tanya Quinn kaget.
“Iya! Lo di mana?! Jemput gue, dong! Gue nggak mau telat!”
“Hmm… gue udah di sekolah.”
“…”
Vexa langsung diam beberapa detik. Lalu—
“LO JAHAT!”
“Lah? Kenapa gue jadi jahat?!”
“Lo ninggalin gue sendirian di saat genting kayak gini!”
“Ya salah sendiri bangunnya kesiangan.”
“Gue nggak kesiangan! Ini mobilnya aja yang drama!”
“Udah ya, gue mau masuk kelas. Good luck hidup lo.”
Tut—
“QUINN?! QUINN!! ASTAGA, TEMEN MACAM APA LO?!”
Ia mendesah kesal, lalu keluar dari mobil sambil menyilangkan tangan.
“Gue naik ojek juga lama… mana panas banget lagi…”
Ia mengacak rambutnya frustasi.
Dan tepat saat itu—
BROOOM…
Sebuah motor sport merah berhenti tepat di depannya.
Vexa refleks menoleh.
Seorang pria dengan helm full face perlahan melepas helmnya.
Rambut hitam rapi, wajah dingin, rahang tegas.
Vexa langsung membeku.
“Eh… lo…”
Itu Elric.
Elric menatapnya sekilas, datar seperti biasa.
“Kenapa?”
Vexa tersentak, langsung salah tingkah.
“Gue… eh… ini… mobil gue mogok…” katanya sambil menunjuk mobilnya, suara yang biasanya lantang kini malah agak gugup.
Elric tidak menjawab. Ia berjalan mendekat ke mobil, membuka kap, lalu memeriksa mesin dengan tenang.
Vexa hanya bisa berdiri di sampingnya, diam-diam memperhatikan.
"Gila… deket gini makin ganteng…" batinnya terpesona.
Beberapa detik berlalu.
Elric menutup kap mobil.
“Ada yang rusak.”
“Ya jelas rusak, makanya mogok!” seru Vexa gemas.
Elric meliriknya datar. “Gue nggak bawa alat.”
“Terus gue gimana?!” tanya Vexa frustasi.
“Hubungi bengkel langganan lo.” titah Elric.
Vexa menghela napas panjang.
“Masalahnya… gue juga harus ke sekolah. Ini udah telat banget…”
Ia melirik jam, makin panik.
“Sama gue.” kata Elric tiba-tiba.
Vexa membelalakkan mata. “Hah?!”
Elric menaiki motornya. “Naik.”
Vexa masih bengong. “Lo serius?”
“Hm.” jawab Elric sambil memakai helmnya.
Vexa menutup mulutnya, menahan teriakan bahagia.
“Gila… ini mimpi kali ya…” gumamnya pelan.
“Cepet.” titah Elric.
Vexa langsung tersadar.
“Eh iya, iya!”
Ia buru-buru menelepon bengkel.
“Halo, bang! Mobil gue mogok di jalan… iya, iya… alamatnya gue kirim ya… tolong diambil, ya! Makasih!”
Setelah itu, ia langsung lari kecil ke arah Elric.
“Udah!”
Elric mengangguk singkat. “Naik.”
Vexa naik ke motor, sedikit ragu… tapi kemudian—
Ia langsung melingkarkan tangan ke pinggang Elric dan memeluknya erat.
Elric langsung menegang.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
“…lo ngapain?”
“Gue takut jatuh.” jawab Vexa santai.
Elric melirik tangan Vexa yang melingkari perut sixpacknya. “Lepas.”
Vexa menggeleng. “Nggak mau.”
“Gue bawa motornya pelan.”
Vexa makin erat memeluknya.
“Kita udah telat! Lo mau gue dihukum gara-gara lo nyetir pelan?”
Elric terdiam.
Ia tahu Vexa benar.
Beberapa detik kemudian, ia mendesah pelan.
“…pegangan yang bener.”
Vexa tersenyum diam-diam di belakangnya.
“Iya, El.”
Elric sedikit mengernyit.
“Jangan panggil gue gitu.”
Vexa mendekatkan wajahnya. “Kenapa? Lucu, kan.”
“Nggak.”
Mesin motor dinyalakan.
BROOOOM!
Motor melaju cepat.
Vexa refleks makin menempel.
“Jangan terlalu kenceng.” tegur Elric.
“Lah, katanya pegangan yang bener!” seru Vexa kesal.
Elric tidak menjawab.
Ia fokus ke jalan, tapi pikirannya tidak setenang biasanya.
Untuk pertama kalinya…
Ada seseorang yang memeluknya seperti ini.
Hangat.
Dekat.
Dan anehnya…
Ia tidak benar-benar ingin melepaskannya.
Sementara di belakang—
Vexa menyembunyikan senyumnya.
"Fix… gue harus bikin mobil gue mogok lagi besok." batin Vexa bertekad..
...****************...
sikap ryuga ini boleh dingin, tapi haruslah menghormati orngtua jugaa karna dia hidup maih dengan uang orngtuanya😌
hmmm 🤔